
Setelah makan sore bersama, Lea dan suaminya masuk ke ruang kerja mereka, untuk mengecek beberapa email yang masuk.
Masakan semurnya sudah di ambil oleh para chef di restoran nya, jadi sudah tak ada yang Lea tunggu lagi.
Lea mengambil telpon genggamnya lalu mengaktifkannya.
Ada beberapa pesan dari teman-temannya, ia buka salah satu pesan di aplikasi yang menurutnya menarik, karena berupa video.
Ia melihat video itu sedikit lalu duduk mendekati suaminya agar sama-sama menyaksikan video itu.
" Sabrina?? Laki-laki itu siapa? Lho Tika??" lalu keduanya melihat video itu sampai selesai.
" Jadi mereka merencanakan sesuatu? Kirimkan videonya padaku, nanti aku akan kirimkan lagi pada Sharmila."
" Iya mas," Lea menuruti perintah suaminya, lalu dokter Vian mengirimkan lagi video itu pada Iptu Sharmila.
Iptu Sharmila merespon pesan yang di kirim dokter Vian, ia menyarankan agar dokter Vian menaruh kamera pengawas di ruangannya lalu setelah minuman itu di letakkan jangan di pegang dengan tangan langsung namun dengan menggunakan sarung tangan, ambil botolnya untuk sebagai alat bukti.
" Sayang kamu ada ide, ini kalau di biarkan mereka akan merajalela, aku yakin dengan berbagai cara mereka akan hancurkan hubungan kita."
" Tidak usah terlalu di pikirkan mas, atau kita pergi liburan aja ya mas?"
" Ide bagus, kita kan belum sempat bulan madu, aku akan atur besok, untuk barang bukti yang mereka akan berikan padaku, biar di urus Asrof saja."
" Terserah mas aja, kita lebih baik menghindari kalau dengan pergi liburan kan tak terlihat menghindar."
" Sip, cerdas istriku," ucap dokter Vian sambil mengecup kening istrinya.
***
Malam hari tiba, dokter Sabrina sedang menunggu kedatangan Beno, lelaki yang ia temui di cafe siang tadi.
Tin...tin...suara klapson sepeda motor, bergegas dokter Sabrina keluar dan membukakan pintu pagar agar Beno bisa masuk.
Setelah Beno masuk dan memarkirkan sepeda motornya, dokter Sabrina mengajak nya masuk ke dalam rumah.
" Duduk lah."
" Thanks dok."
" Kamu mau minum apa?"
" Gak usah dok, saya baru minum tadi."
" Oke," dokter Sabrina lalu ikut duduk di sofa ruang tamunya.
" Ini barangnya dok, hampir tak terlihat seperti di beri obat kan?"
" Iya bener, bening banget, seperti tidak ada apa-apa di dalamnya," ujar dokter Sabrina sambil mengangkat botol air mineral itu," segelnya pun masih ada jadi benar-benar tidak mencurigakan.
" Hahaha....Beno gitu lhoh.... sudah super lihai urusan ini, jangan lupa di transfer ya dok."
" Oke," dokter Sabrina mengambil telpon genggamnya dan membuka aplikasi Mobile Banking lalu mentransfer sejumlah uang ke rekening Beno.
" Thanks dok, sudah masuk," ucap Beno sambil mengecek notifikasi uang masuk ke rekening nya.
" Itu aku lebihkan, nanti kalau sukses aku akan kasih bonus."
" Oke dok, oh ya sesuai perjanjian dok, tolong jangan libatkan saya, saya sudah membantu dokter dengan mempertaruhkan karir saya sebagai apoteker."
" Tenang, setelah semua sukses aku bahkan akan lupakan kamu, pokoknya bantu aku sampai sukses, oke."
" Tapi kita harus antisipasi sebelumnya dok, andai tidak berhasil atau ketahuan bagaimana?"
" Kalau aku gagal mendapatkan Vian, aku bersedia menjadi istri kamu," ucap dokter Sabrina.
" Hmmmm....oke, janji ya dok."
" Iya janji, aku pikir gak ada ruginya menikah denganmu walau kamu hanya seorang apoteker."
"Oke dok, saya langsung pulang, harus mengecek pemasukkan hari ini dari toko-toko obat saya," ujar Beno sambil beranjak pergi.
" Iya Ben, hati-hati."
Dokter Sabrina mengantarkan Beno keluar lalu mengunci pagar rumahnya dan kembali masuk ke dalam rumah.
Ia tersenyum melihat satu dus botol air mineral hasil racikan Beno, lalu berjalan ke kamarnya dan beristirahat.
Saat merebahkan diri, dokter Sabrina berpikir sambil menatap langit-langit kamarnya.
" Sebenarnya lebih baik menjadi istri Beno, dia juga pria yang ulet bekerja, tapi aku butuh posisi tinggi di rumah sakit, ck... pusing ah, apa kata nanti, usaha dulu aja," ucapnya sambil memiringkan tubuhnya lalu tertidur.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Lea dan suaminya sudah siap-siap untuk pergi ke rumah orang tua dokter Vian.
Kesempatan hari libur mereka manfaatkan dengan baik untuk bertemu dengan keluarga.
Dokter Vian sudah mengeluarkan mobilnya dari garasi sambil memanaskan mesin mobilnya, ia menunggu istrinya keluar rumah.
Tak lama Lea keluar rumah dan langsung masuk ke dalam mobil.
" Kamu sudah bilang sama bibi kalau kita mau pergi?"
" Iya mas, tadi bibi juga pamit mau lihat anaknya di pesantren mungkin izin 3 hari sekalian mau bersihin makam suaminya di kampung."
" Oh ya udah gapapa, masih ada Gino dan Kimin yang jagain rumah selama kita pergi."
" Ayo jalan, bunda sudah nelpon dari tadi."
" Oke."
Dokter Vian melajukan mobilnya menuju rumah orangtuanya.
[ Oke, kamu pastikan yang aku suruh tadi ya]
[......]
[ Trims bro, aku tutup ya, assalamualaikum]
[......]
Sambungan telpon di putus, rupanya sedari tadi dokter Vian sedang menghubungi dokter Asrof.
" Aku sudah suruh Asrof untuk menggantikan ku, nanti dia akan gantian dengan Amrin."
Lea mengangguk mendengar kata-kata suaminya.
Tak memakan waktu lama mereka tiba di rumah orang tua dokter Vian, setelah memarkirkan mobilnya mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
" Assalamualaikum bunda."
" Wa alaikumsalam, ayo kita langsung ke ruang makan saja," ujar bu Elma sambil menggandeng tangan menantunya.
" Hm...ehm....ehm... di cuekin lagi...??" gerutu dokter Vian.
" Iya..iya..." ujar dokter Vian berjalan mengikuti kedua wanita di depannya itu.
Mereka langsung duduk di kursi, di atas meja makan sudah terhidang beberapa masakan.
" Bunda masak seadanya aja tadi, semoga kamu suka."
" Suka lah bun, lagi laper gini," ucap Lea sambil mengambil piring kemudian mengisinya dengan nasi dan lauknya lalu memberikannya pada suaminya, lalu mengambil piring lagi untuk nya.
" Hehe...bunda gak pede, soalnya kamu lebih jago masak sama kayak mendiang ibumu, bunda malah sering beli aja di resto ibumu."
" Iya mas Vian sudah cerita, alhamdulillah kalau bunda cocok dengan masakan ibu, oh ya tim Chef sudah siap bunda, bunda sudah ketemu mereka kan?"
" Iya sudah, mungkin 15 hari lagi kita sudah bisa buka restoran nya, semua sudah siap, sampe ke calon konsumennya pun sudah siap, mereka sudah gak sabar menunggu restoran kita di buka."
" Alhamdulilah."
Lalu mereka sarapan pagi bersama-sama.
Usai sarapan pagi, bu Elma mengajak anak dan menantunya untuk duduk santai di ruang tamu.
" Bun, kami mau pergi liburan, ya mungkin lima sampai seminggu lah paling lamanya," ujar dokter Vian pada ibunya.
" Wah bagus itu, kemana rencananya?"
" Belum tau bun, mungkin ke luar negeri."
" Ya udah terserah kalian, bunda juga mau nyusul ayah ke daerah, ya mungkin lima hari saja, nanti pulang bareng sama ayah kalian, jadi ketika peresmian klinik pembantu di daerah kalian gak bisa datang ya?"
" Iya bun, tapi kami pastikan paling lama satu Minggu bun, karena mba Rika juga mau lamaran terus persiapan pembukaan restoran juga, jadi sebelum di sibukkan dengan kegiatan lebih baik berlibur dulu bun, biar semangat," jawab Lea.
" Iya, kalian berlibur lah, semoga cepat dapat kabar baik," ujar bu Elma sambil mengelus perut menantunya.
" Aaaamiiiin," sahut dokter Vian dan Lea berbarengan.
" Jadi kapan kalian mau berangkat?"
" Mungkin siang ini bun," jawab dokter Vian.
__ADS_1
" Oke, lebih cepat lebih baik."
" Tolong sampaikan pada ayah ya bun, dan jangan cerita pada siapapun kecuali ayah ya bun, makin dikit yang tau makin baik."
" Ada apa to? Kok aneh?"
" Nanti saja Vian ceritakan bun, lebih baik bunda tak tau sekarang."
" Oh ya udah, persiapan kalian untuk pergi gimana?"
" Udah semua bun, nanti kami berangkat dari sini, jadi mobil kami tinggal di sini bun, nanti minta antar mamang ke bandara pake mobil bunda aja ya."
Bu Elma agak bingung mendengar nya namun ia tak mau banyak bertanya, karena percuma, anaknya pasti tak mau menjelaskannya sekarang.
Dokter Vian keluar rumah mencari sopir pribadi ibunya, lalu menyuruhnya untuk memindahkan koper miliknya ke mobil ibunya, setelah semua sudah di pindahkan dokter Vian masuk lagi ke dalam rumah dan bergabung dengan istri dan bundanya di ruang kerja orang tuanya.
" Lagi bikin apa?"
" Ini ngedesain baju untuk acara lamaran mba Rika, kalau di ajakin bikin mba Rika pasti gak mau, jadi di bikinin aja gak usah kasih tau mba Rika."
" Oh.... sekalian bikin untuk kita kalau gitu."
" Iya, bunda bikin untuk semua anggota keluarga, termasuk art rumah mereka juga, jadi biar merasa ada dukungan dari keluarga, maklum mba Rika kan sama kayak aku, tak punya orang tua lagi."
" Hmmm...bagus...bagus," ucap dokter Vian sambil duduk di sofa ruang kerja ayahnya.
Tak lama telpon genggamnya berdering, dokter Vian langsung menerima panggilan telpon itu.
[ Assalamualaikum]
[ Wa alaikumsalam, Vian aku mau kabarin kalau dokter Arnita di tahan, dia kedapatan sedang berbuat mesum dengan ibu angkatnya sendiri, atas laporan dari penghuni sebelah apartemennya juga.]
[ Oh terus yang lain?]
[ Karena saat kejadian mereka tidak ada, ya untuk sementara mereka aman, tapi mungkin akan di mintai informasi saja, karena tim keamanan apartemen memegang bukti kalau mereka sering ke sana.]
[ Oke, terimakasih informasinya, kalau Sabrina juga terlibat ini akan menjadi pertimbangan rumah sakit, apa masih mau memakai tenaganya untuk bekerja di rumah sakit kami, berbahaya kalau mempertahankan seorang dokter yang tak bisa menjaga nama baiknya sendiri.]
[ Iya benar.]
[ Oh ya mengenai benda yang mau mereka berikan padaku nanti Asrof yang akan antarkan padamu, aku akan bepergian dengan Lea, jadi untuk selanjutnya aku serahkan padamu ya, siapa tau selama seminggu ini aku tak bisa di hubungi, jadi apapun keputusan mu, itu berarti keputusan ku juga.]
[ Oke, selamat menikmati acara kalian, berhati-hati dan waspada selalu.]
[ Terimakasih]
[ Aku tutup ya, assalamualaikum.]
[ Wa alaikumsalam] sambungan telpon pun di akhiri.
" Sharmila," ucap dokter Vian sambil meletakkan telpon genggamnya ke atas meja ketika melihat Lea yang sedang memandang nya saat menerima sambungan telpon.
Lea.hanya membulatkan bibirnya, lalu lanjut membuat desain baju untuk acara lamaran kakak iparnya.
" Bagus juga kamu menggambar," ujar dokter Vian melihat hasil coretan tangan istrinya.
" Hehe....kalau menggambar aku sering juara dulu," ujar Lea sambil menunjukkan beberapa foto saat dia ikut lomba di galeri telpon genggamnya.
" Wah, jadi selain bisa masak kamu juga bisa melukis?"
" Aslinya hobiku melukis, kalau memasak ya karena keseringan melihat cara mendiang ibu masak aja, terus kan kita wajib makan jadi ya wajib bisa masak."
" Bener juga ya."
" Aku lebih dominan ngikut ayah kalau hobi, hobi ayah juga melukis, nah almarhum mas Azka yang hobinya sama kayak bunda, malah mas Azka lebih cenderung ke kue-kue gitu, ketemu sama mba Rika kan ketika ada pameran kuliner gitu, sama-sama penyuka kue-kue."
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit.
" Sayang ayo kita istirahat dulu sebentar, nanti jam satu kita harus segera ke bandara, supaya gak terlalu capek di perjalanan nanti."
" Iya, ayo," ujar Lea sambil beranjak mengikuti langkah suaminya menuju kamar tidur lama suaminya.
Mereka istirahat sejenak, sementara bu Elma sedari tadi sibuk di taman belakang rumah nya.
Adzan dhuhur berkumandang Lea dan suaminya menunaikan kewajibannya terlebih dulu lalu bersiap-siap untuk berangkat ke bandara.
Usai menunaikan sholat Lea mencari ibu mertuanya untuk berpamitan.
Setelah berpamitan Lea dan suaminya langsung berangkat ke bandara di antarkan oleh sopir pribadi ibunya.
Setibanya di bandara, Lea pasrah saja mengikuti kemana suaminya melangkah, bahkan saat mengambil tiket dari kenalan suaminya pun Lea tak bertanya kemana mereka akan pergi, toh nanti ia akan tau sendiri pikir Lea.
__ADS_1
Tepat jam 14.00 mereka memasuki pesawat lalu pesawat pun terbang meninggalkan Indonesia.
Bersambung yaa...