Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 36 Malu Gak??


__ADS_3

Sepulang dari makan sore di restoran bersama istrinya, sambil rebahan dokter Vian masih memikirkan kenekatan dari perawat IGD yang hendak menjebaknya, ia tak habis fikir kenapa perawat itu berani melakukan nya.


" Mikirin apa mas?"


" Soal yang tadi, kok dia berani ya, apa dia tak takut kalau akan di pecat dari pekerjaan nya?"


" Menurut mas? mas bertindaklah profesional, kira-kira apa alasan dengan menjebakmu lantas bisa memecat dia?"


" Itu kurang kuat memang, maksudnya secara kredibilitas pekerjaan dia bagus, namun sikapnya itu yang gak bagus!"


" Kita lihat setelah ini, apa yang akan dia lakukan, dokter Fandi bilang akan melakukan sesuatu yang akan menjadi pelajaran buat dia, entah dia akan terima atau tidak kita lihat nanti, nah jika setelah hari esok dia masih bertindak di luar batas lagi, baru mas bisa pecat dia."


" Oke, aku ikuti pemikiran mu, hhmmm...sepertinya aku gak salah pilih istri," ucap dokter Vian mengelus rambut istrinya yang rebahan di sampingnya.


***


" Semua sudah siap Tika? Kamu sudah pastikan calon tunangan mu akan datang besok? Kamu ini aneh, tak pernah di kenalkan pada orang tua tau-tau tunangan," ucap pak Darijo.


" Tenang ayah kan lebih bagus tanpa pacaran-pacaran langsung bertunangan dan menikah," ucap Tika yang sedang mencoba gaunnya sambil tersenyum, " Tika cantik kan yah?"


" Iya cantik, ibu mu kok belum pulang?"


" Tadi bilang mau mampir ke rumah temannya yah, sekalian mau nambahin kue untuk acara besok,"


" Oh."


Pak Darijo meninggalkan anaknya yang sedang sibuk menyiapkan dirinya untuk acara esok hari.


***


" Jadi begitu tante, apa yang Tika lakukan ini pastinya akan membuat ia kehilangan pekerjaan di rumah sakit, dan kalau namanya cacat maka rumah sakit yang lain pun belum tentu mau menerima dia untuk bekerja disana," ucap Niko anak dari sahabat bu Mina menceritakan rencana busuk anaknya besok.


" Kenapa Tika berani melakukan itu, hal ini hanya akan membuat malu tante, Bu Elma itu teman tante juga, terus butiknya langganan tante, dan Bu Elma juga langganan toko kosmetik tante, kok bisa dia....aduh tante gak bisa ngomong lagi, sedangkan dia mau tante jodoh kan sama kamu malah di tolak, tante bingung Nik!" ucap bu Mina kesal setelah mendengar cerita dari Niko yang merupakan perawat penangung jawab bagian ruang jenazah di rumah sakit yang sama.


" Tante, apa tante mau bantu Niko, apa tante masih ingin Niko menjadi menantu tante?"


" Ya jelas Nik, kamu tanya mama mu, kami sudah lama janjian ingin besanan."


" Kalau begitu besok Niko akan menggantikan dokter Vian untuk menjadi tunangan Tika."


" Kalau Tika tidak mau?"


" Dokter Vian mungkin tak akan datang sebelum acara selesai tante, pasti Tika juga tak akan mau acaranya besok itu batal hanya gara-gara mengira dokter Vian tidak datang-datang, dari pada dia menanggung rasa malu nantinya pasti dia terpaksa bertunangan dengan ku, dan kita akan gelar acara pernikahan bulan depan, jadi lebih cepat lebih baik," ucap Niko.


" Baiklah, kamu atur saja, tante ikuti kemauanmu, untung kamu juga suka Tika, jadi tante bisa lepaskan Tika padamu, walau nampaknya seperti di jodohkan."


" Tapi setelah menikah tante ikhlas kan kalau aku mengajak Tika untuk pindah ke kota lain? aku ingin ada kemajuan tante, sudah lima tahun di ruang jenazah, sebenarnya bisa minta pindah ke ruangan lain hanya saja ingin ada penyegaran aja tante di kota lain."


" Terserah kamu Nik, terus bagaimana dengan pekerjaan Tika?"


" Itu sudah Niko atur tante."


" Oh baiklah kalau begitu, pokoknya tante pasrahkan semua padamu, tolong bahagia kan anak tante itu saja."


" Baik tante, insyaallah."


Dirasa sudah cukup pembicaraan mereka, Bu Mina pamit untuk pulang.


Setibanya di rumah Bu Mina diam saja, ia bersikap seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa. Padahal ingin sekali rasanya memarahi kelakuan tak wajar yang akan di lakukan anaknya.


" Sudah kamu coba gaunmu Tik? Bagus gak?" tanya Bu Mina pada anaknya yang masih asyik dengan dekorasi pestanya.


" Bagus Bu, gaun buatan Bu Elma sangat bagus."


" Hm...." gumam Bu Mina sambil berjalan meninggalkan anaknya, takut tak bisa menahan emosinya.


Tika tak memperdulikan ibunya, ia tetap melanjutkan memperhatikan pada semua persiapan pestanya esok hari, ia ingin agar semuanya tampak sempurna sesuai keinginannya.


***


[ Kamu yakin dengan keputusan mu Nik?]


[ Yakin, aku memang sudah incar dia sejak SMA, dan orang tua kami pun memang ingin menjodohkan kami, jadi aku rasa tak akan ada kendala.]


[ Bagaimana kalau dia menolak mu?]


[ Aku hapal dengan kelakuan Tika, tenang saja, serahkan padaku.]


[ Oke, aku ingin lihat apa yang terjadi besok, ya udah aku mau istirahat dulu.]


[ Oke bro.]

__ADS_1


[ Assalamualaikum.]


[ Wa alaikumsalam.]


Tara mengakhiri pembicaraannya di telpon dengan Niko untuk memastikan acara esok agar tidak menjadi masalah yang tidak di inginkan.


" Bagaimana?" tanya Nilam istrinya.


" Sudah di handle oleh Niko, kita cukup datang saja besok dan menyaksikan acara besok."


" Oke, sekarang kita istirahat."


" Oke."


Pasangan itu pun beristirahat setelah memastikan kalau tak ada yang akan menggangu hidup pemilik rumah sakit di tempat mereka berdinas.


***


Keesokkan harinya Lea tetap bekerja seperti biasa seolah memang tak terjadi apa-apa hari itu, beberapa karyawan yang mengetahui akan rencana Tika hanya memandang pada Lea, mereka seolah tak sabar untuk menyaksikan apa yang akan terjadi nanti, mereka saling memberi kode satu sama lain melihat sikap Lea yang tetap ramah pada mereka.


Dokter Vian tidak menampakkan batang hidungnya, tugasnya di gantikan oleh dokter Asrof karena ada yang harus ia urus di kantor dinas kesehatan.


[ Assalamualaikum mas]


[ Wa alaikumsalam, sayang nanti setelah pelayanan poliklinik selesai kita ke klinik dokter Bayu ya.]


[ Oh iya mas]


[ Oke aku tutup, assalamualaikum.]


[ Wa alaikumsalam.]


Lea menaruh kembali telpon genggamnya dan melanjutkan pekerjaannya melayani pasien-pasiennya.


Ia dan rekan satu ruang poli nya tak banyak bicara, mereka memang tak membicarakan nya secara langsung karena khawatir di dengar oleh orang-orang yang tak sepemikiran dengan mereka.


Berbarengan dengan selesainya jam pelayanan poliklinik dan tiba saatnya acara di gelar, beberapa karyawan yang mendapatkan undangan itu mulai berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, mereka ingin menghadiri acara tersebut.


Lea pun sudah bersiap untuk pulang, ia berjalan menuju parkiran mobil khusus karyawan rumah sakit.


Setelah masuk ke dalam mobil lalu ia melajukan mobilnya menuju rumahnya, sesampainya di rumah ia berganti baju lalu menunggu kedatangan suaminya yang dalam perjalanan pulang.


Tin...tin


" Sudah berganti baju?"


" Iya mas," ujar Lea setelah duduk di sebelah suaminya.


" Setelah ke klinik dokter Bayu kita lanjut ke rumah pak Haji Darman ya," ucap dokter Vian sambil kembali melajukan mobilnya menuju klinik dokter Bayu.


" Iya mas, oh ya nanti bisa mampir ke rumah lama juga gak? Mau ketemu mba Rika, kata mba Rika ia akan segera di lamar."


" Alhamdulilah, oleh pak ustadz yang kemarin itu?"


" Iya,"


" Oke, nanti kita mampir," ujar dokter Vian, sambil memberikan telpon genggamnya pada Lea.


" Ada apa mas?" tanya Lea bingung sambil menerima telpon genggam suaminya.


" Kamu matikan, aku tak mau di ganggu hari ini,"


" Oke," Lea menuruti perintah suaminya,ia paham apa yang di maksud suaminya, pasti Tika akan menghubungi suaminya nanti.


" Apa rencana mas untuk kak Tika?"


" Aku tak perlu memecatnya, karena tadi kata pak Diro, Niko mengajukan pindah dinas di kota lain, ya aku tau dia masih punya saudara di kota itu, Niko juga mengajukan pindah atas nama Tika, aku tak paham maksudnya namun aku suruh pak Diro untuk menuruti saja kemauan mereka."


" Apa hubungan kak Niko dan kak Tika ya?"


" Entah sayang, aku gak mau ikut campur masalah itu, yang penting bagiku, rumah tangga kita tidak ada yang berani mengusik itu saja."


" He ehm."


Tak lama sampailah mereka di klinik dokter Bayu, setelah memarkirkan mobil, dokter Vian dan Lea langsung masuk ke dalam dan menemui dokter Bayu.


" Siang dok," sapa dokter Vian.


" Siang, kalian sudah datang, baik silahkan duduk."


" Terimakasih dok."

__ADS_1


" Ini hasil pemeriksaan medis nya, dan hasilnya sangat bagus, apa kalian mau langsung program kehamilan?"


" Insyaallah langsung dok, kami tak ingin menundanya."


" Baik, untuk percobaan pertama saya rasa tak membutuhkan vitamin ya, kita lihat dulu, nanti kalian langsung saja menemui dokter spesialis kandungan untuk konsultasi lebih lanjut."


" Baik dok, terimakasih."


" Oke saya rasa itu aja, apa ada yang ingin di tanyakan?"


" Sementara belum ada dok."


" Baik, semoga kalian segera mendapatkan momongan."


" Terimakasih dok, kami langsung pamit dok, masih ada acara lagi."


" Oke."


" Selamat siang dok"


" Selamat siang."


Dokter Vian dan Lea meninggalkan klinik laboratorium milik dokter Bayu lanjut menuju rumah pak haji Darman.


Setibanya di sana Lea dan suaminya di sambut oleh pak haji, lalu dokter Vian memperlihatkan hasil pemeriksaan laboratorium nya pada pak haji.


" Alhamdulilah sudah bagus, kita lakukan terapi satu kali ya supaya lebih mantap lagi," ujar pak haji.


Dokter Vian kembali menjalani terapi untuk yang terakhir kalinya, setelah selesai mereka langsung pulang karena pak haji sudah tak memberikan ramuan lagi. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke rumah lama yang sudah Lea berikan pada mba Rika.


***


" Kenapa putra bu Elma tak datang juga Tika? Ini sudah jam berapa?" tanya pak Darijo karena sudah 1 jam berlalu dokter Vian tidak datang juga.


Tika mulai kelihatan gelisah karena semua orang yang dia undang sudah datang dan mulai saling berbisik.


Berkali-kali dia hubungi nomor kontak dokter Vian namun tidak aktif, sedang nomor kontak Lea dia tidak memilikinya, dia tahu beberapa tamu yang datang pasti punya nomor kontak Lea namun dia sungkan untuk memintanya.


Hingga 2 jam sudah tak ada juga tanda-tanda kedatangan dokter Vian, beberapa tamu undangan sudah mulai berpamitan karena mereka masih ada acara di lain tempat.


" Tika, apa maksudnya ini?" tanya Bu Mina seolah-olah tidak paham akan apa yang terjadi.


" Tika ayah tidak mau tau, acara pertunangan mu harus terlaksana, walau tidak dengan dokter Vian," bisik pak Darijo dengan nada menyentak.


" Tap....tapi ayah dengan siapa? Aku maunya dengan dokter Vian," bisik Tika juga dengan mata mulai berkaca-kaca khawatir rencananya akan gagal.


" Kamu tunggu, ayah akan lakukan sesuatu," ucap ayahnya sambil berdiri.


" Ayah mau ngapain? Ayah...ayah...!!" panggil Tika melihat ayahnya berjalan ke arah kerumunan rekan sejawatnya.


" Niko ikut om sebentar," kata pak Darijo sambil menarik tangan Niko.


" Iya om."


Pak Darijo mengajak Niko ke ruang kerjanya lalu menutup pintu.


" Nik maaf, om mau meminta bantuan mu."


" Iya om apa yang bisa Niko bantu?"


" Kamu kan tau kalau rencananya kamu akan kami jodohkan dengan Tika, om harap kamu mau bertunangan dengan Tika sekarang juga."


" Memang nya kenapa om? Calon tunangan Tika tidak datang? Apa dia tidak akan marah kalau aku gantikan?" tanya Niko pura-pura tidak mengerti dan seolah takut.


" Sudah dia mau tak terima atau bagaimana terserah!! Siapa suruh datang terlambat , ini sudah lewat dari dua jam dan tidak bisa di hubungi, kemungkinan dia tak mau datang atau tak mau bertunangan dengan Tika, om tak paham maksudnya, sudah lah kamu bantu kami ya, daripada kami harus malu," ucap pak Darijo kesal lalu setengah menghiba meminta bantuan Niko.


" Baiklah om, Niko bersedia."


" Oke, kita keluar dan segera langsungkan acaranya."


Pak Darijo mengajak Niko keluar dan berdiri di samping Tika, sontak Tika bingung dan memandang tajam pada ayahnya lalu pada Niko.


" Kak Niko? Maksudnya apa yah?"


" Sudah kamu jangan bicara sekarang, kalau sampai acara pertunangan hari ini gagal karena masalah calon tunangan tak datang pasti kita semua malu, kamu lihat itu banyak sekali teman-teman ayah, mau di taruh di mana muka ayah ini hah!" ucap pak Darijo pelan namun tegas.


Tika menunduk takut akan apa yang di katakan ayahnya dan dengan terpaksa dia melakukan pertunangan dengan Niko.


Bu Mila tersenyum karena apa yang dia inginkan tercapai, ia pun menarik tangan calon besannya ke depan agar ikut bergabung dengan anak-anak dan suaminya, acara berlangsung dengan lancar tanpa ada kendala, walaupun ada yang berbisik-bisik kenapa calon suami Tika berubah menjadi Niko.


Namun semua itu tak menyurutkan kelancaran acaranya. Acara tetap berlangsung hingga sore hari, dan dokter Vian tetap tidak datang juga.

__ADS_1


Bersambung ya....


__ADS_2