
Lea meminta agar mereka menggunakan mobilnya saja agar nanti ia bisa langsung pulang, dokter Vian sempat memaksa agar ia mengantarkan Lea pulang ke rumahnya, namun akhirnya mengalah pada Lea.
Setibanya di rumah keluarga pak Ahmad, setelah memarkirkan mobil milik Lea, dokter Vian mengajak Lea masuk ke dalam rumah.
Rumah direktur rumah sakitnya sangat mewah, ciri khas seorang pemilik rumah sakit besar dan memiliki anak-anak yang sukses.
Lea sempat takjub dengan bangunan rumah itu, interior sangat mewah dan tertata rapi.
" Assalamualaikum bundaa." panggil dokter Vian pada bundanya.
" Wa alaikum salam tuan muda, ibu di belakang sedang menyiapkan makan untuk tuan." sahut art mereka.
Tanpa banyak fikir lagi dokter Vian langsung mengajak Lea untuk ke ruang makan.
"Bunda.." panggil dokter Vian begitu melihat bundanya sedang sibuk menata hidangan di meja makan.
" Hhhmmm....ayo makan, kamu itu ini sudah sore kenapa baru makan sekarang?" tanya bu Elma tanpa menoleh pada anaknya.
" Calon mantu bunda makannya jam segini bun."
" Hah, apaan sih kamu!!" ucap bu Elma sambil menoleh ke arah suara anaknya.
" Lho Lea....??" serunya.
" Assalamualaikum bunda." sapa Lea.
" Wa alaikumsalam." jawab bu Elma, Lea menyalami calon mertuanya dan di sambut dengan dengan pelukan.
" Oh jadi yang mau kamu ajak makan calonmu toh Vian....ah kamu gak bilang-bilang, eh tapi memangnya Lea sudah...." kata bu Elma terpotong.
" Iya bun, sudah bun biar Lea makan dulu ya." jawab dokter Vian sambil menarik tangan Lea dan membantunya menarik kursi makan.
" Alhamdulillah ya Allah, ayo makan dulu kalau gitu."
" Bunda makan juga ya Bun?" ajak Lea.
" Bunda sudah makan sayang, kamu makanlah dulu, bunda tinggal sebentar ke ruang kerja ya, ada beberapa email yang harus bunda cek." ujar bu Elma sambil berjalan ke arah ruang kerja keluarga.
Lea dan dokter Vian pun makan sore bersama, tanpa banyak bicara.
Selesai makan dokter Vian hendak mengajak Lea menyusul bundanya ke ruang kerja, namun Lea hendak.membersihkan meja makan terlebih dahulu.
" Udah biar di urus sama bi Ati aja, ayo kita susul bunda."
Akhirnya Lea menuruti ajakan dokter Vian.
" Sudah makan nya? gimana masakannya suka?"
" Suka bun, enak sekali." jawab Lea.
" Ayo duduk di sini." ajak bu Elma sambil menunjuk sofa di depannya.
Dokter Vian dan Lea duduk di satu sofa yang agak panjang.
" Aduuuuh kalian serasi sekali." kata bu Elma senang.
" Makasih bunda." sahut dokter Vian.
" Kamu sudah cerita semua kan Vian?"
" Iya bun, Vian juga gak menyangka, Lea menerima Vian dengan kekurangan Vian ini."
" Benarkah itu Lea?"
" Iya bunda."
" Kamu yakin nak, kamu harus bersabar karena penyembuhannya tak tentunya memakan waktu yang lama Lea."
" Iya bunda Lea tau, tapi Lea tak mempermasalahkannya, Lea sangat menghargai kejujuran mas Vian, Lea ingin menyempurnakan ibadah dengan mengabdi menjadi istri, tak jadi soal suami Lea kelak punya kekurangan apapun itu."
" Ah tak salah mas mu memilih kamu jadi istrinya, kamu punya jiwa yang tulus Lea, bunda sangat berterimakasih sekali, Lea mau menerima anak bunda."
" Lea juga berterima kasih, sudah memilih Lea untuk jadi calon anggota keluarga bunda."
Mereka bertiga tersenyum senang.
" Jadi kapan rencananya kalian resmikan hubungan kalian?" tanya bu Elma.
" Secepatnya bunda." sahut dokter Vian.
" Oh kalau gitu kita harus segera bersiap-siap, kalau baju pengantin dan wedding organizer kita toh sudah ada, tinggal menghubungi tantemu untuk urusan catering nya."
" Iya bun, nanti Vian hubungi Om Fahrul untuk urusan ke KUA."
" Hhhmmm....acara bisa di gelar sebulan lagi kalau gitu, gapapa kan Lea, nampaknya buru-buru, tapi ini demi kebaikan."
__ADS_1
" Iya bunda, Lea ikut saja."
" Baiklah, semua tinggal di hubungi saja, besok kalau kamu ada waktu, kita ke butik untuk mengukur badanmu ya, biar cepat pembuatan baju-baju nya, ajak keluarga mu biar di bikinkan baju seragam untuk acara baik pernikahannya maupun resepsinya."
" Iya bun, maaf bunda sudah sore mba Rika takut mba Rika khawatir Lea belum pulang." kata Lea karena sudah mulai risih masih berbaju dinas.
" Ah iya, besok kita sambung lagi, anggaplah semua persiapan sudah selesai, kamu tinggal ikuti acaranya aja ya Lea."
" Iya bunda, Lea pamit dulu bun." ucap Lea sambil menyalami lagi calon mertuanya, lalu memandang ke arah dokter Vian di balas anggukan oleh dokter Vian.
Bu Elma dan dokter Vian mengantarkan Lea ke depan rumah, saat hendak keluar rumah tiba-tiba di depan rumah ada tamu tak di undang.
" Vian....!"
" Hhhmmmmh....mau apa orang satu ini." gerutu bu Elma.
" Kamu kemana aja, aku cariin kamu." ucap dokter Nala berjalan mendekati Vian sambil melirik ke arah Lea.
" Selamat sore dokter." sapa Lea, ia pernah bertemu dengan dokter Nala saat praktikum dulu di salah satu rumah sakit.
" Kamu, mau apa kamu di sini?"
" Kenalkan Nala, dia calon istriku, kamu pernah bertemu dengannya?"
" Calon istrimu, dia?? gak salah kamu??"
" Enggak."
" Heh kamu...!!" sentak dokter Nala sambil menunjuk wajah Lea.
" Kamu....kamu apa?? hormati calon istriku ya!!" kata dokter Vian sambil menyingkirkan tangan dokter Nala yang menunjuk wajah Lea.
Lea dan dokter Vian lanjut berjalan ke arah mobil Lea.
" Jangan hiraukan dia, dimana kalian pernah bertemu?" kata dokter Vian saat Lea menaiki mobilnya.
" Panjang ceritanya mas, aku pulang dulu ya."
Dokter Vian senang Lea sudah tak formal lagi berbicara dengannya.
" Baiklah lain kali aja ceritanya ya, hati-hati nyetirnya."
" Iya mas, aku pamit, assalamu alaikum."
" Wa alaikumsalam."
Dokter Nala masih terlihat tidak senang akan apa yang dia lihat.
" Apa maksudnya ini Vian?? Kamu menghindari aku demi Lea?? Yang hanya seorang perawat??"
" Aku nyari istri, bukan nyari wanita yang sok berderajat! Kalau kamu gak terima aku gak peduli, memang siapa kamu?? Sudah jangan temui aku lagi, jangan bikin aku alergi dengan mu, aku undang kamu untuk datang nanti di pernikahanku, tapi terserah padamu mau datang atau enggak, gak penting bagiku." kata dokter Vian sambil meninggalkan dokter Nala yang masih kesal.
" Vian...Vian dengar dulu....Alvian..!!" panggil dokter Nala namun tak mendapat respon dari dokter Vian, bu Elma yang melihat itu hanya menggeleng saja lalu mengikuti anaknya masuk ke dalam rumah.
Kesal tak di tanggapi, akhirnya dokter Nala berjalan ke arah mobilnya dan melajukan nya pergi meninggalkan rumah dokter Vian.
" Sial....sial...sial...ada pengganggu itu lagi, aaaaargh....jangan sampai dia merebut Vian dari ku...kenapa anak itu hadir lagi di depanku..!! makinya sambil memukul-mukul setir mobilnya.
***
Lea telah tiba di rumahnya, setelah memasukkan mobilnya ke dalam garasi lalu ia masuk ke dalam rumahnya.
" Assalamualaikum."
" Wa alaikumsalam, tumben telat pulangnya?" tanya mba Rika.
" Tadi di ajak ngobrol sebentar oleh mas Vian dan ayahnya mba, lalu diajak pulang ke rumahnya, makan sore di sana."
" Ooooh, kamu sudah berikan jawaban untuk dokter Vian?"
" Iya mba, Lea mandi dulu ya mba."
Lea tak akan menceritakan apa yang di alami oleh calon suaminya, cukup dia saja yang tau, sudah ia niatkan untuk menerima segala kekurangan pria yang akan menjadi suaminya.
Dia pergi kekamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.
Setelah berganti pakaian ia lihat layar telpon genggamnya berkedip, pasti ada yang menghubungi nya.
" Anya?"
[ Assalamualaikum.]
[ Wa alaikum salam Lea, aku mau tanya sama kamu.]
[ Ya Nya ada apa?]
__ADS_1
[ Tadi pas pulang dinas, di rumah sakit pada rame bisik-bisik tentang kamu sama dokter Vian, ada apa?]
[ Hah?]
[ Kamu gak tau, apa gak merasa Lea? Mereka bilang kamu jalan seperti pasangan gitu, pulang bareng naik mobil kamu, terus mobil dokter Vian malah di tinggal di rumah sakit, benarkah Lea?]
[ Ya gimana ya...aku gak bisa cerita sekarang, tapi nanti kamu juga akan tau Nya.]
[ Kamu gak percaya aku Lea?]
[ Bukan gitu, kami memang berencana menjalin hubungan serius, tapi tunggu beberapa hari lagi lah, ya please.]
[ Oh ya udah, jadi hubungan serius ya, selamat deh, tapi hati-hati Lea, kamu ingat dokter Nala kan? kemarin dia mencari dokter Vian, aku harap jangan sampai kamu kena masalah dengannya, ingat kejadian dulu kan?]
[ Iya Nya, tadi aku juga bertemu dengan dokter Nala di rumah mas Vian.]
[ Mas?? woooooooh..!!]
[ Apaan sih Nya ah....]
[ Hahahaha....ya dah aku mau istirahat, aku tunggu undangannya ya, kalau gak ada tetep aku akan datang.]
[ Ih kamu itu.]
[ Oke aku tutup, assalamu alaikum.]
[ Wa alaikumsalam.]
Lea duduk di pinggir ranjangnya, sambil membayangkan pertemuan dulu dengan dokter Nala, ada seorang dokter yang di gandrungi oleh para perawat dan dokter-dokter wanita waktu itu, salah satunya dokter Nala, Lea bukan tipe wanita yang suka bergaul tak jelas, jadi dia tak ikut dalam perebutan dokter ganteng itu.
Namun hal yang tak di duga terjadi, dokter itu malah mengejar Lea, namun Lea tau kalau dokter itu playboy, jadi ia tak menanggapi rayuan yang di lancarkan dokter itu padanya, sampai suatu ketika Lea memergoki dokter itu dan dokter Nala sedang berduaan di salah satu kamar dokter, dan sayangnya tak hanya Lea yang melihat tapi ada satu orang dokter dan juga Anya.
Karena kejadian itu kedua dokter yang berbuat tak senonoh itu langsung di keluarkan dari rumah sakit itu.
Dokter Nala sempat menduga kalau Lea lah yang mengadukan dia ke pihak pimpinan rumah sakit, karena ia fikir Lea juga ikut mengejar-ngejar dokter ganteng itu.
" Ish gila aja kalau aku mengejar-ngejar kayak dokter Nala" gumamnya sendirian, ia tak sadar kalau pintu kamarnya sedikit terbuka dan mba Rika mendengar kata-katanya.
" Siapa dokter Nala?"
" Hah??"
" Iya dokter Nala siapa?"
" Ish mba ini ngagetin aja."
" Lagian kamu kok ngelamun, terus ngomong sendiri lagi."
" Itu mba, tadi ketemu dokter yang dulu pernah ketemu pas aku uji praktek di rumah sakit, kayaknya dia mengejar mas Vian."
" Terus apa kamu mau mundur setelah tau calon suamimu ada yang ngejar?"
" Yah kalau yang ngejar mas Vian sih gak cuma dokter Nala aja mba, banyak.... kalau niat gak mau nerima mas Vian gak pakai alasan karena dia banyak yang ngejar, toh kalau itu alasannya yang ngejar aku juga banyak." jawab Lea.
" Ya yang penting kamu hati-hati aja Lea, kelak bila kamu sudah menikah jangan pernah ada dusta di antara kalian, harus terbuka walau untuk hal sepele sekalipun."
" Iya mba, Oh ya mba, tadi kata bunda mas Vian, mereka ingin pernikahan di laksanakan sebulan lagi, bagaimana menurut mba?"
" Secepat itu? Ya gapapa sih Lea lebih cepat lebih baik kalau menurut mba."
" Mba sendiri kapan nikah?"
" Sebelum bulan Ramadhan Lea, ustadz Fajar masih sibuk dengan skripsinya dalam dua bulan ini, mungkin tiga bulan lagi baru mba akan nikah."
" Alhamdulillah kalau gitu, dah hampir magrib mba." kata Lea sambil melihat jam yang ada di telpon genggamnya.
" Iya mba mau lihat Ridho dulu di kamarnya."
Lea menutup pintu kamarnya setelah kakak iparnya keluar.
Malam hari Lea hendak bersiap-siap untuk beristirahat, tiba-tiba telpon genggamnya bergetar, ada pesan dari calon suaminya.
[ Assalamualaikum calon istriku, besok pagi jam 8 aku jemput kamu ya, kita mau ukur badan untuk pembuatan baju untuk acara kita nanti, sekalian ada yang mau aku bicara kan masalah dokter Nala.]
[ Wa alaikum salam, baik mas, tapi jangan lama-lama ya, aku dinas malam besok.]
[ Oke, sampai ketemu beso, selamat tidur, mimpi indah ya, assalamu alaikum.]
[ Iya mas, terimakasih, wa alaikum salam.]
***
" Sial....bagaimanapun aku harus membuat pernikahan Vian dan Lea batal, siapa yang bisa aku mintai bantuan ya?" ujar dokter Nala, ia sedang jaga malam di klinik dokter Roy.
" Hmmm....iya si Toni...dia kan tergila-gila sama Lea, dia aja yang ku suruh mengganggu Lea nanti, tak masalah walau harus membayar dia, oke aku akan cari dia besok."
__ADS_1
Apa intrik licik yang dokter itu lakukan yaa...???
bersambung lagiiii....