
Adanya keringat di dahinya. Namun aku masih tetap tenang dan tidak terbawa emosi.
Di tambah lagi ada bekas makeup yang masih menempel di wajah Rika.
“Sepertinya Rika terburu-buru saat membersihkan wajahnya.” Batinku.
“Aku mau ke kamar dulu, mau bawa si kembar ke kamar.” Aku segera melangkah ke dalam.
Setalah dari kamar aku menuju dapur untuk meminum, tapi mataku melihat ada sebungkus makanan tergelatak di atas meja makan.
“Rika, ini makanan siapa?” teriakku dari dapur.
Karena Rika masih diambang pintu depan.
Rika buru-buru berlari ke arah dapur, ia terkejut melihat diriku memegang bungkus makanan.
“Oh, itu tadi aku pesan gofood lewat online.”
“Tumben banget kamu pesan makanan lewat online? Biasanya kamu paling anti sama yang beginian?”
“Enggak apa-apa, sekali-kali boleh lah pesan makanan lewat online. Sekalian kita bantu orang-orang yang mengantar makanan kita.”
“Hah, masih juga dia berdusta di depaku.” Batinku.
Hebat.
Aku menyipitkan mataku. “Terus, wajah kamu kenapa berantakan begitu?”
“Eh,” Rika menyentuh wajahnya, “maksud Mas?”
“Ada bekas maskara, sama eyeliner di mata kamu. Kamukan di rumah aja. Kok tumben segala pake makeup.”
Ucapanku membuat Rika menjadi kelimpungan, ia terlihat sangat panik. Mungkin dia sedang berpikir untuk mencari-cari alasan agar aku tidak curiga.
“Tadi aku habis liat Youtube, kebetulan ada tutorial makeup baru. Nah aku iseng-iseng coba deh.” Rika berusaha untuk menutupi kebohonganny dengan tenang.
Namun sangat disayangkan dia tidak pandai dalam menutupi kebohongannya.
...****************...
Malam pun aku pun naik ke atas kamar, aku pura-pura tiduran. Sebenarnya aku belum tertidur aku melihat Rika dari balik selimut.
Ia sedang mengetik sesuatu di ponselnya. Mungkin dia sedang berkirim pesan dengan laki-laki selingkuhannya.
Betapa bahagianya dia berkirim pesan dengan selingkuhannya, dengan senyum lebar yang begitu sempurna.
Andai senyuman itu diberikan oleh anak kembarnya, betapa bahagianya aku melihatnya.
Aku terus menahan sakitnya di hati ini, setelah mengetahui istri yang sudah aku nikahi selama 4 tahun. Sudah bermain api di belakangku.
Tapi aku tidak akan membiarkan ini terus berlalu, sebelum aku memergoki Rika dengan selingkuhanya. Terlebih dahulu aku mencari info tentang siapa laki-laki yang kemarin bersama dengan Rika.
Hari ini aku masih mendapatkan jadwal libur. Setiap dua hari sekali aku mencuci baju di mesin cuci.
Rika sudah tidak pernah lagi mencuci baju sendiri, semua pekerjaan rumah tangga aku yang mengurusnya.
__ADS_1
“Mas. Kamu lihat jam tangan aku enggak?” tanya Rika. Yang berada di rungan ksusus mencuci baju.
Sedangkan diriku masih berada di mesin cuci mengamati baju yang kemarin Rika pakai.
“Mas.” Panggil Rika sekali lagi. “Kamu lihat jam tangan—“ ucapan Rika terhenti saat melihat diriku memegang sebuah baju.
Dengan cepat Rika merampas gaun itu. “Kamu lagi ngapain Mas?” ucap Rika ia segera menaruh gaun tersebut ke belakang tubuhnya.
“Aku mau cuci baju. Baju itu kenapa ada di mesin cuci? Sejak kapan kamu pakai baju model kaya gitu? Kok Mas enggak tahu kamu punya baju itu.”
“Ba-baju ini. Aku dapat hadiah dari teman.” Gugup Rika mendapati pertanyaan dariku.
“Hadiah?”
“Iya, hadiah. Kemarin dia habis dari Eropa. Terus aku dibawain oleh-oleh sama teman aku.”
“Hoh. Ya sudah sini dicuci aja sekalian. Kayanya itu masih baru.” Aku menawarkan padanya.
“Enggak usah Mas. Lagi juga gaun ini gak boleh sembarangan dicuci.”
Rika segera pergi membawa baju itu masuk ke dalam kamarnya. Entah apa yang ia lakukan.
Yang jelas hari ini ia akan bersiap-siap untuk pergi.
“Mas, aku pergi dulu ya. Soalnya Mamah minta ditemani sama aku buat belanja.”
“Iya, pulangnya jangan lama-lama.”
Akhirnya Rika pergi meninggalkanku dan kedua anaknya. Ia tidak pernah mau bermain atau menjaga anakknya.
Aku begitu sedih saat Aqila ingin dekat dengan ibunya, tapi sayangnya Rika segera menjauh.
Alhasil Aqila menangis. Ia seperti mengerti perasaan ibunya yang tidak mau didekati olehnya.
Seperti biasa aku bermain dengan kedua anakku.
Tok..tok..
“Kaya ada yang ketuk pintu.” Gumamku, aku segera berjalan ke arah pintu untuk memastikan siapa pagi-pagi bertamu.
“Papah?” ucapku melihat ada mertuaku datang ke rumahku seorang diri.
Aku segera mencium tangan mertua yang sudah berumur setengah abad, “Kok Papah enggak bilang kalau mau main ke sini?” tanyaku. Aku sudah terbiasa memanggil mertuaku dengan sebutan papah.
Karena beliaulah yang menyuruhku untuk memanggilnya papah.
“Bagaimana kabar cucuku? Sekarang di mana cucuku.” Tanya papah bernama Indra.
“Ada lagi main di rung tv. Ayo Pah masuk dulu ke dalam.”
Papah Indra segera masuk ke dalam dan melihat cucunya sedang bermain dengan mainanya.
“Aduh cucuku yang tampan dan cantik, ini kakek sayang.” Papah Indra merentangkan tangannya.
Anakku Adnan dengan riang menghampiri kakeknya dan berlari kepelukan kakeknya.
__ADS_1
Adiknya Aqila ia masih sibuk bermain dengan boneka kesukaannya.
“Lihat nih, kakek bawa apa? Bawa mainan buat Adnan dan Aqila.” Ucap papah Indra memberikan sebuah mobil truk.
Adnan sangat senang sekali menerima hadiah mainan yang diberikan oleh kakeknya.
Aku yang melihat itu merasa senang dan beruntung memiliki mertua yang baik seperti papah Indra yang sangat perhatian dengan cucunya.
“Fahmi.” Panggil papah Indra. Aku dan mertuaku sedang duduk di ruang tv sambil memperhatikan Aqila dan Adnan bermain.
“Iya, Pah.”
“Bagaimana hubunganmu dengan Rika?” tanya papah Indra membuat jantungku berhenti berdetak.
“Untuk saat ini. Masih baik-baik saja kok.” Ucapku berbohong pada mertua.
Aku belum ingin menceritakan yang sebenarnya pada mertuaku tentang anaknya.
“Jika kamu lagi ada masalah. Kamu bisa meminta bantuan sama Papah. Sebisa mungkin akan Papah bantu.”
“Iya, Pah. Papah tenang saja.” Ada rasa sakit di hatiku saat mendengar perkataan martuaku.
Bagaimana bisa Rika tega melakukan ini semua, padahal masih ada orang tuanya yang selalu memperhatikan dirinya.
Aku juga bingung. Kenapa aku bisa menikahi Rika. Padahal yang aku tahu Rika anak yang baik dan juga penurut.
Bahkan Rika sangat suka sekali dengan anak kecil. Tapi entah kenapa dia tidak bahagia setelah melahirkan anaknya sendiri.
Mungkin karena kedua anaknya terlahir cacat ia sulit untuk menerimanya.
“Ngomong-ngomong Rika ke mana? Kok enggak kelihatan?”
“Rika pergi sama Mamah, kata dia Mamah mau minta ditemani belanja.”
"Hah? Maksud kamu apa ya?” tanya papah Indra terheran.
“iya, Rika pergi sama Mamah.”
“Sejak kapan Mamah Rika minta ditemani belanja sama Rika? Sedangkan Mamah Rika hari ini aja lagi ada di Bandung buat ikut arisan makanya Papah main ke sini.” Jelas papah Indra membuat kedua alisku terangkat.
Aku sudah menduganya jika Rika tidak pergi dengan mamahnya, aku yakin jika Rika sedang pergi bersama dengan selingkuhannya.
Hari ini mertuaku bermain di rumahku, ia masih belum mau pulang karena masih ingin bermain dengan cucunya.
Jam sudah menujukan pukul 5 sore, sedangkan Rika belum juga pulang.
“Mi, kok Rika belum pulang? Hubungi dia gih. Ada Papah di sini.”
“Iya,” aku segera mengambil ponsel dekat meja. Baru saja aku ingin menghubungi Rika.
Tiba-tiba saja Rika masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa tas belanjaan yang cukup banyak.
Rika tidak tahu jika papahnya ada di sini.
“Sayang kamu habis dari mana saja? Lama banget pulangnya.”
__ADS_1