
" Huh...suami istri sama saja, sok banget, lihat saja nanti, kalian pasti akan menyesal mengabaikan ku!!"
Tika kembali berjalan ke arah cafe untuk menenangkan pikirannya.
Di dalam cafe, ia memesan minuman dan makanan ringan favoritnya.
Sedang asyik menunggu pesanannya datang, Tika tak sengaja mendengar pembicaraan orang-orang di meja di belakangnya.
Sontak Tika menoleh ke belakang ternyata dokter Sabrina sedang berbicara dengan temannya.
" Ada ide gak kamu?" tanya dokter Sabrina.
" Ada, tapi berani gak?" kata lawan bicaranya.
" Hmm... mungkin aku akan minta bantuan salah satu perawat di rumah sakit nanti."
" Asal kamu berani aja, dan pastikan orang yang kamu suruh tak tau, agar tidak menimbulkan kecurigaan, lebih baik sedikit orang yang terlibat."
" Kamu benar, oke.. kamu siap kan saja barangnya, biar aku atur langkah selanjutnya."
" Oke, besok sudah siap, aku akan kirimkan padamu."
" Good."
" Aku duluan ya, trims traktirannya."
" Oke."
Lawan bicara dokter Sabrina pergi meninggalkan cafe.
Tika berdiri dan pindah duduk satu meja dengan dokter Sabrina.
" Kamu!!" ucap dokter Sabrina kaget.
" Ya dok."
" Sejak kapan kamu di sini?"
" Sejak tadi dok."
Dokter Sabrina kelihatan bingung, ia memandang Tika dengan tatapan aneh.
" Maaf dok, kalau boleh tau, ada urusan apa dengan Beno?"
" Beno, ah bisnis biasa aja," sahut dokter Sabrina berusaha menutupi.
" Kalau bisnis biasa kenapa melibatkan rumah sakit?"
" Kamu jangan kepo ya!!" sentak dokter Sabrina.
" Dokter....kita ini bisa jadi lawan tapi juga bisa jadi kawan, sekarang jawab pertanyaan saya, dokter akan mencari perawat di rumah sakit untuk dokter ajak bekerja sama kan? Saya rasa dokter tak perlu mencari lagi, orangnya ada di depan dokter."
" Maksudmu??"
" Dokter paham maksud saya," ucap Tika lalu terdiam karena pelayan mendekatinya.
" Maaf mba nya yang tadi di meja nomor 13?" tanya pelayan itu.
" Iya, letakkan disini mas," ucap Tika.
Setelah pelayan meletakkan pesanan Tika lalu melangkah pergi, Tika meminum milkshake nya dan memotong banana soft cake pesanannya tadi, sambil mengunyahnya sambil memandang ke arah dokter Sabrina yang memandanginya dengan tatapan menyelidik.
" Dokter ragu pada saya? Katakan saja apa yang harus saya kerjakan saya pasti bantu, saya termasuk bagian orang-orang yang tak menyukai pernikahan dokter Vian dan Lea, ini kan yang dokter ingin ketahui?" tebak Tika karena dia tahu kalau dokter Sabrina juga menginginkan dokter Vian, ia ingin membantu dokter Sabrina terlebih dahulu lalu menjatuhkan dokter Sabrina bila sudah sukses.
" Kamu yakin mau bantu saya?"
" Tentu dokter, saya juga tak suka dengan Lea, enak sekali dia belum lama kerja di rumah sakit, sudah menempati posisi sebagai istri dokter Vian."
" Oke, aku akan pakai kamu, kamu tak perlu melakukan hal yang berat, cukup dengan memberikan air minum pada dokter Vian saat dia berada di ruangan istirahatnya di ruang IGD, gampang kan, ingat hanya pada dokter Vian, jangan yang lain."
" Baik dok, besok bukannya jadwal dokter Vian di IGD, kita bisa mulai besok."
" Bagus, segera aku akan berikan botol air tersebut kepadamu, kamu cukup menaruh botol itu di ruangan dokter Vian.".
__ADS_1
" Baik dok," Tika lanjut menyantap makanan dan minuman nya.
" Oke saya duluan, nanti saya yang bayar makanan mu," ujar dokter Sabrina sambil berdiri dan berjalan ke arah kasir untuk membayar makanannya dan makanan Tika.
Lalu bergegas keluar dari cafe, sambil melambaikan tangan ke arah Tika. Tika membalasnya sambil tersenyum, lalu menikmati kembali makanannya sambil tersenyum licik.
Ia tak tahu kalau kelakuannya dan pembicaraan nya dengan dokter Sabrina di dengar oleh dua orang yang duduk di meja belakangnya lagi.
Sedari awal dokter Sabrina berbicara dengan Beno lalu berbicara dengan Tika mereka sudah mendengarnya.
Kedua orang itu menggunakan jaket couple dengan penutup kepala. Keduanya tetap fokus menghabiskan makanan mereka tanpa menoleh ke belakang.
Tika sudah selesai dengan makanannya lalu beranjak dari kursinya dan melangkah pergi keluar cafe.
Kedua orang yang berada di meja yang bersebelahan dengan mejanya tadi saling pandang.
" Coba kamu cek rekaman video tadi jelas gak suaranya?"
Orang yang ia suruh mengecek ulang video rekamannya membuka videonya dan mendengar nya dengan menggunakan headset.
" Cukup jelas, aku kirim sekarang pada Lea." ucapnya sambil mengirimkannya langsung pada Lea.
Setelah itu pasangan itu meninggalkan cafe dan pulang.
***
Dokter Vian sudah sampai di rumahnya, ia langsung menuju dapur karena pasti jam segitu istrinya sedang sibuk di dapur.
Setibanya di dapur ia tak mendapati istrinya.
" Lea kemana bi?" tanya nya pada art mereka.
" Oh pamit sholat Ashar tadi mas Vian."
" Oh," ujar dokter Vian sambil melangkah kembali ke depan dan pelan-pelan membuka pintu kamarnya, ia melihat di sudut kamar istrinya sedang menunaikan ibadah sholat ashar.
Tak ingin mengganggu istrinya, dokter Vian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Selesai mandi dan berganti pakaian, ia lihat istrinya sudah tak ada di kamarnya, lalu ia keluar kamar dan menyusul istrinya ke dapur.
" Masak semur mas, mas suka?"
"Suka dooong, aku masih hapal rasa semur dari restoran almarhumah ibumu, karena bunda suka beli banyak di sana untuk di bawa pulang."
Lea tersenyum mendengar nya," kalau masakan ku kali ini gak sama dengan masakan mendiang ibu bagaimana?"
" Percaya aja sayang, aku lihat kamu selalu menggunakan catatan menu almarhumah ibu, terutama lagi filling mu selalu tepat."
" Mas bisa aja."
" Kamu masak banyak lagi?" ucap dokter Vian melihat panci besar yang di pakai oleh Lea untuk memasak semur.
" Iya, sebagian mau di antar ke ruko, para chef harus bisa menyamakan rasanya mas, ini nanti buat makan malam mereka, jadi semua menu nanti mengikuti resep lama almarhumah ibu, mereka yang lama bekerja pada ibu, jadi mereka yang hapal ciri khas cita rasa masakan ibu, kalau aku kan tukang makan aja, itupun tiap hari dengan menu berbeda-beda sedang para chef tiap hari nyicip menu yang sama," ujar Lea.
Dokter Vian hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan istrinya.
" Itu apa?" tanya dokter Vian menunjuk panci kecil di sebelah panci yang besar.
" Oh, itu ramuan yang di berikan padaku oleh pak haji saat pertama kita pergi ke sana, mas ingat?"
" Oh iya, ingat... baru kamu bikin?"
" Iya di suruh begitu selesai haid baru di minum."
" Oooh, sudah matang belum semurnya? Aku laper."
" Iya sudah matang kok," jawab Lea lalu menyendok semurnya dan memasukkannya ke dalam mangkok, lalu membawanya ke meja makan.
" Hhhmmm wanginya benar-benar sama dengan masakan ibumu sayang," ucap dokter Vian sambil mendekatkan hidung nya ke mangkok berisi semur.
Lea kembali ke dapur mengambil semua hidangan dan peralatan makan, lalu menatanya di meja makan.
Setelah semua tertata lalu ia mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan semur, lalu meletakkannya di depan suaminya, kemudian ia mengambil nasi untuknya sendiri, lalu duduk di samping suaminya.
__ADS_1
Dokter Vian menyuap makanannya, sambil mengunyah ia tersenyum.
" Kenapa?" tanya Lea.
" Persis banget dengan semur buatan ibumu, ini benar-benar sama seperti yang bunda beli kalau ke resto itu."
" Alhamdulilah, sudah bisa launching kan?"
Dokter Vian mengangkat jempolnya, lalu mereka berdua menikmati makan sore mereka tanpa banyak bicara.
***
[ Ben, aku sudah dapatkan perawat yang bisa bantu aku, kamu segera siapkan barangnya ya, besok dokter Vian dinas malam, aku mau segera melakukan rencana ku]
[ Oke, aku antarkan nanti malam, sekarang aku racik dulu]
[ Oke aku tunggu]
Dokter Sabrina menutup sambungan telpon nya sambil tersenyum licik.
" Vian dan Lea, bersiap-siap lah, sampai kapan kalian terus sok mesra di depan ku, dan kau Vian berkali-kali kamu menolak aku, sekarang sudah tidak bisa lagi, jika aku tidak mendapatkan kamu, maka orang lain juga tidak akan mendapatkan mu!!" gumam dokter Sabrina.
Tak lama kemudian telpon genggamnya bergetar.
" Tiffany?"
[ Ya Fan]
[ Gawat Na, Arnita di gerebek di apartemen nya, huuh untung aku pas gak di sana, sial banget tu anak!]
[ Hah!! Terus?]
[ Gak tau deh]
[ Kamu tau dari siapa?]
[ Om Vikram yang menghubungiku, menanyakan apa aku sedang bersama Arnita juga, entah apa maksudnya]
[ Terus kamu jawab apa?]
[ Ya aku bilang tidak lah, ngapain aku bilang kalau aku bersama Arnita, mau ikut di tahan juga, ih sorry, bisa hancur karir ku]
[ Kamu gak setia kawan banget Fan]
[ Lah kan emang fakta kalau aku gak lagi bersama Arnita.]
[ Terus waktu kejadian dia di tangkap sendirian aja?]
[ Enggak, sama mama angkatnya, ternyata yang membuat Arnita seperti itu ya mama angkatnya itu, mama angkatnya kayak trauma sama lelaki gitu, entah gimana cerita sebenarnya, sudah lah, selagi kita gak di cari, kita gak usah ikut campur dulu, aku kasian sih sama Nita tapi mau bagaimana lagi, karir kita di pertaruhkan di sini.]
[ Ya udah kalau gitu, aku juga akan melakukan seperti yang kamu lakukan, lagian aku kan memang gak pernah bersentuhan dengan Nita]
[ Sesuka mu lah Na, ya udah aku tutup dulu, nanti kalau ada info baru aku kabari.]
[ Oke] sambungan telpon di putus.
" Apa lagiiii ini ck!!" ucap dokter Sabrina sambil meletakkan telpon genggamnya di atas meja di ruang tamu rumahnya.
Tak lama ia letakkan telpon genggamnya bergetar lagi.
[ Halo]
[ Na, kamu sudah tau kalau Arnita di tangkap?] ucap orang di seberang telpon sambil terengah-engah.
[ Iya, kamu dimana kok nafasmu kayak orang berlari?]
[ Ups Sorry, aku lagi...aku lagi]
[ Kurang ajar kamu Ren!! Kamu sedang bersama calon suamimu? Mbok selesaikan dulu baru kamu hubungi aku!! Sudah aku gak mau ngomong kalau kamu lagi main, berisik tau!!] Tut..sambungan telpon di putus sepihak oleh dokter Sabrina.
" Gila ini anak ck, Aaaaargh.. aku jadi ragu meneruskan rencana ku kepada Vian, kalau gagal habis sudah hidupku, tapi tak ada salahnya di coba, setidaknya kalau Vian hancur, aku hancur juga tak apa-apa yang penting aku puas!" ucapnya dengan bangga.
Dia tak menyadari kalau kabar tentang rencananya itu informasinya sudah di terima oleh Lea.
__ADS_1
" Tinggal menunggu Beno datang, aku mau mandi dulu."
Bersambung yaa.....