Penipu Hati

Penipu Hati
Ingat, jangan dibaca


__ADS_3

"Ayah."


"Ada apa?" ucap Aska tanpa menoleh ke arah Brian.


"Apa Ayah yakin dengan keputusan Ayah? Membiarkan Rosa mencari pekerjaan di luar kota?" ucap Brian.


Mendengar ucapa Brian, seketika tanganya berhenti menulis berkas "apa kau menguping pembicaraan kami berdua?" ucap Aska menajamkan matanya.


"Maaf Ayah, aku bukan bermaksud untuk menguping pembicaran kalian berdua. Aku tidak sengaja mendengar saat aku ingin ke sini," ucap Brian menjelaskan pada Ayahnya.


"Mau apa kau ke sini?" ucap Aska melanjutkan pekerjaanya.


"Aku ingin meminta suntikan dana dari Ayah. Karena perusahaan ku sedikit bermasalah."


"Bukan perusahaanya yang bermasalah, tetapi dirimu lah yang tidak bisa mengerjakanya dengan baik," ucap Aska ia kesal dengan putra pertama yang tidak becus mengurus beberapa perusahaan yang sudah Aska berikan padanya termasuk perhotelan. Itulah sebabnya Aska memilih Rosa untuk menjadi pewaris tunggal untuk perusahaanya.


Di bandingkan dengan anak yang lain, hanya Rosa lah yang mampu membuat perusahaanya menjadi lebih maju. Walaupun umur Rosa masih terbilang muda. 28 tahun. Namun dia bisa membuat 1 perusahaan mendapatkan keutungan besar bagi Ayahnya.


Semenjak ibu Rosa meninggal ia tidak mau lagi manjadi seorang CEO di perusahaanya. Karena dirinya terlalu sibuk dengan pekerjaanya, mambuat ia menjadi jauh dari ibunya. Rosa sangat menyesal ia tidak bisa melihat wajah ibunya untuk yang terakhir kalinya. Waktu ibunya Rosa telah meninggal dia sedang berada di luar Negri untuk melakukan kerjasama.


Ayah Rosa sengaja tidak memberitahukan info ini pada Rosa, jika Ayahnya memberitahukan maka Rosa akan pulang ke negaranya. Dan membatalkan perjanjian kerjasamanya dengan perusahaan di luar negri. Ayahnya takut akan merugi hingga ratusan juta Dollar.


Dari kajadian itu Rosa jadi sangat membenci Ayahnya dan juga semua kakaknya. Ayahnya lebih takut kehilangan uang di bandingkan kehilagan istrinya.


Mereka semua tidak ada yang peduli dengan kematian ibu mereka.


Mereka semua hanya mementingkan urusan masing-masing dan juga uang.


Kini Rosa sudah bersiap-siap berangkat ke luar kota, Rosa sudah menyiapkan segalanya dari baju hingga uang.


Setalah semua perlengkapan selesai Rosa segara keluar dari rumah tanpa adanya pengawal di sisinya.


"Rosa," panggil Brian berlari ke arah Rosa.


Rosa menoleh ke arah kakaknya, "ada apa kak?" tanya Rosa.


"Apa kau yakin ingin bekerja di luar kota sendirian?" ucap Brian ia khawatir dengan keadaan Adiknya ini.


"Kakak tahu dari mana kalau aku mau bekerja di luar kota? Dan Aku yakin."


"Hemm, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian berdua di ruang kerja ayah. Kakak tahu kau bisa menjaga dirimu apalagi dengan penampilan mu seperti seorang cewek tomboy. Tapi tetap saja kau itu seorang perempuan aku takut jika terjadi sesuatu dengan dirimu,"ucap Brian sangat mengkhwatirkan Adiknya. Ia tidak rela jika Rosa pergi dari rumah ini.


Rosa menatap kakaknya dengan wajah datarnya, "Sejak kapan kakak jadi peduli pada ku? Aku baru tahu jika kakak sangat mengkhwatirkan diriku," ucap Rosa ia sangat membenci kakaknya ini. Karena dia ibunya telah meninggal dunia, andai Brian lebih peka dan perhatian terhadap ibunya. Rosa yakin ibunya tidak akan meninggal.


"Maafkan kakak, ini semua adalah kesalahan kakak. Andai kakak tidak mementingkan diri sendiri mungkin ibu masih hidup hingga sekarang,"lirih Brian dari awal Rosa sudah mengatakan padanya agar menjaga ibunya dan merawatnya saat ia tidak berada di sisi ibunya. Namun Brian lupa akan janjinya itu hingga ia mengabaikan kesehatan ibunya hanya untuk berfoya-foya dengan teman-temannya.


Rosa menatap Brian dengan tatapan kebencianya, semakin ia berada dekat dengan kakaknya. Semakin muak ia melihatnya, "hentikan rasa penyesalan mu di depan ku, semua itu sudah terlambat. Ibu sudah tidak ada di dunia ini," ucap Rosa segara pergi meninggalkan sang kakak sendirian. Dengan rasa hancur di hatinya Rosa terus berjalan kedepan sambil meneteskan air matanya yang sudah jatuh di pipinya.


Mila yang dari tadi menguping pembicaraan mereka berdua, merasa sangat puas dan juga senang.


Akhirnya apa yang ia inginkan telah terkabul, kini Mila tidak perlu mengeluarkan tenaganya hanya untuk mengusir Rosa dari rumah ini, dan menjauhkanya dari suaminya.


Tanpa ia mengeluarkan tenaganya Rosa sudah pergi dari rumah ini dengan sendirinya. Mila bisa bebas untuk menguashi harta suaminya untuk berfoya-foya. Dengan teman-teman sosialitanya.

__ADS_1


Akhirnya Rosa bisa terbebas dari zona yang membuatnya terkekang. Kini ia bisa pergi sesuka hati tanpa harus di ikuti oleh pengawal ayahnya.


Sebelum ia pergi ke luar kota, ia terlebih dahulu mampir ke sebuah kosan kecil untuk mengajak temanya. Yang dulu pernah menolong Rosa saat ia kabur dari rumah.


.


.


.


Tok..tokk..tokk...


"Tunggu sebentar,"ucap seorang wanita muda membuka pintu.


Ceklek!


"Dinda," Rosa segara memeluk temannya yang bernama Dinda Lestari. Sudah lama sekali Rosa tidak bertemu dengan Dinda.


"Rosa," Dinda membalas pelukan temanya itu.


"Sudah lama kita tidak bertemu, aku sangat merindukan dirimu."


"Aku juga," ucap Dinda, "ayo kita masuk kedalam, aku akan menyiapkan makanan untuk mu."


Rosa segera masuk ke dalam kamar kosan Dinda yang tidak terlalu luas itu. Pertama kali Dinda bertemu dengan Rosa saat ia baru saja pulang dari tempat kerjanya. Di malam hari.


Ia tidak sengaja bertemu dengan Rosa yang sedang duduk di pinggir trotoar jalan. Karena tidak tega melihat Rosa sendiria di jalan, akhirnya Dinda memberikan sebungkus makanan dan juga minuaman untuk dirinya.


Dinda mengira Rosa adalah anak jalanan yang tidak mempunyai rumah, di tambah lagi dengan penampilan Rosa yang seperti seorang laki-laki walau rambutnya tidak pendek seperti laki-laki.


Itulah yang di pikirkan oleh Dinda, Dinda tidak tahu jika sebenarnya Rosa adalah anak konglomerat. Tetapi Rosa tidak memberitahukan indentitasnya pada Dinda. Ia mengatakan pada Dinda bahwa ia kabur dari rumah.


Tanpa pikir panjang lagi Dinda mengajak Rosa untuk tinggal bersamanya dan memberikan baju serta makanan untuk Rosa.


Selama beberapa hari Rosa tinggal dengan Dinda di tempat kosanya. Ia lebih senang tinggal bersama dengan Dinda di bandingkan tinggal dengan keluarga besarnya.


Tanpa di duga pengawal Ayahnya menemukan Rosa, dengan sangat terpaksa Rosa pergi dari kosan Dinda tanpa berpamitan dengan Dinda.


Karena saat kejadian berlangsung, Dinda masih berada di tempat kerjanya. Saat Dinda sudah pulang ke rumahnya betapa kagetnya ia tidak mendapati Rosa berada di rumahnya.


Semenjak kajadian itu Rosa tidak pernah lagi bertemu dengan Dinda. Sebelum Rosa di bawa pergi oleh pengawal Ayahnya. Rosa terlebih dahulu menulis no ponselnya di secarik kertas, dan menaruhnya di atas meja kamar. Agar Dinda bisa menghubungi dirinya lagi.


"Bagaimana kabar dirimu Rosa?"tanya Dinda.


"Aku baik-baik saja."


"Syukurlah, aku senang jika dirimu baik-baik saja. Walaupun kita masih terus berhubugan lewat ponsel," ucap Dinda.


"Aku punya satu permintaan."


"Apa itu?"


"Ikutlah dengan ku, bekerja di luar kota,"pinta Rosa ia ingin sekali mengajak temanya untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


"Keluar kota!" ucap Dinda terkejut mendengar ajakan Rosa.


"Iya, ikutlah dengan ku. Kita berdua akan mencari pekerjaan di sana, kau tenang saja untuk biaya hidup biar aku yang menaggungnya."ucap Rosa meyakinkan Dinda agar ia mau ikut bersamanya.


"Tapi kenapa? Di sini aku sudah mendapatkan pekerjaan di tambah lagi dengan pendapatan hasil jualan online kita berdua. Untuk apalagi kita mencari pekerjaan di luar kota?"ucap Dinda


"Aku tahu itu, tapi aku butuh pekerjaan."


"Hoh, kamu mau bekerja? Bilang dong dari tadi. Di tempat ku kebetulan lagi ada lowongan,"ucap Dinda, Dinda tidak mengerti apa yang di maksud dengan perkatan Rosa barusan.


"Bu-bukan seperti itu, maksud aku kita pergi ke luar kota dan mencari pekerjaan lain," jelas Rosa ia tidak mau jika bekerja masih di area kota tempat tinggalnya.


Rosa ingin pergi jauh dari kotanya, agar Ayahnya tidak bisa mengawasinya.


"Tapi, apa kau yakin dengan keputusan mu?"tanya Dinda sekali lagi ia masih ragu jika keluar dari pekerjaanya.


"Aku yakin, percayakanlah semuanya padaku." jelas Rosa.


Dengan rasa ragu Dinda pun mau mengikuti saran dari Rosa walaupun ia melepas pekerjaanya. Sebenarnya Dinda juga sudah lelah bekerja di sebuah pabrik plastik yang bayaran hanya cukup untuk memenuhi kebutuhanya setiap hari, di tambah lagi masih ada adik yang butuh biaya yang cukup besar untuk sekolahnya.


.


.


.


Tiga hari kemudian Rosa dan Dinda telah sampai di kota surabaya. Mereka berdua pergi menggunakan kereta kelas bisnis semua ongkos sudah Rosa tanggung.


Tugas Dinda hanya menuruti perkataan Rosa. Sesampainya di kota bandung Rosa pergi ke sebuah hotel berbintang 5.


Yang mana semua orang yang berada di hotel ini semuanya dari kalangan atas.


"Permisi," ucap Rosa pada Resepsionis hotel.


Melihat penampilan Rosa membuat wajah Resepsionis itu berubah, "Iya ada yang bisa saya bantu."ucap Resepsionis dengan wajah datarnya.


"Tolong siapkan kamar VVIP untuk ku,"ucap Rosa.


Karyawan Resepsionis ini langsung menaikan satu alisnya. Mendengar permintaan Rosa sikap Resepsionis ini berubah total. Ia tidak percaya dengan permintaan Rosa barusan.


Dari pandagannya pun sudah berubah ia seperti meremehkan Rosa. Bagaimana bisa Rosa b menyewa kamar VVIP yang harganya lumayan mahal ini. Apalagi kamar yang ia pesan hanya untuk kalangan atas dan juga penjabat saja.


"Mohon maaf sepertinya pihak hotel tidak bisa menyediakan kamar VVIP pada anda."ucap karyawan hotel.


"Kenapa?" tanya Rosa heran.


"Saya takut anda tidak senggup untuk membayarnya."ucap Resepsionis blak-blakan meremehkan Rosa, tanpa peduli dengan perasaaan Rosa. Karyawan hotel ini telah memandang rendah Rosa.


Karena tampilan Rosa tidak seperti orang kaya pada umumnya.


Mendengar hal ini Rosa berdesis, "cih, betapa sombongnya karyawan satu ini. Memandang rendah orang lain hanya dari tampilanya saja." batin Rosa.


Karyawan hotel ini tidak tahu, bahwa hotel yang di datangin oleh Rosa adalah milik keluarganya. Walau Rosa telah berhenti menjadi CEO di perusahaan Ayahnya. Namanya masih tercantum di perusahaan Ayahnya. Yang secara langsung perusahaan itu sudah menjadi milik Rosa. Termasuk perhotalan yang ia datangi.

__ADS_1


"Baiklah, panggil manajer mu,"perintah Rosa pada karyawan hotel.


__ADS_2