Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 32 Poliklinik.


__ADS_3

Lea sudah tiba di rumah sakit di sambut oleh tatapan para karyawan rumah sakit yang kebetulan melihat kedatangannya. Ada yang ramah kemudian menyapa Lea sebagaimana mestinya karena Lea menantu direktur mereka, ada juga yang sinis.


Lea tak memperdulikan yang memandang sinis, dia anggap semua sama, dia tetap ramah sama seperti yang ia lakukan sebelum pernikahan, Lea langsung berjalan ke arah poliklinik khusus anak untuk menggantikan posisi Anya yang sedang cuti melahirkan.


Suasana ruang poli masih sepi baru dia yang pertama datang. Lea melihat sekeliling ruangan berpikir apa yang harus ia lakukan, untungnya ketika kuliah dulu ia pernah di tempat kan di bagian poli anak jadi sedikit banyak pasti tau apa hal pertama yang di lakukan.


Lea merapikan apa yang tampak berhamburan, ruangan tak perlu lagi di sapu karena sudah ada petugas kebersihan yang mengerjakannya.


Tak lama bu Laras datang.


" Assalamualaikum."


" Wa alaikumsalam, selamat pagi Bu," balas Lea.


" Selamat pagi, aduuuh kalah cepat saya," ucap bu Laras sambil tersenyum.


" Hehehe...bisa aja ibu ini."


" Saya harus panggil apa ya? Sama mantu pak direktur ini?" tanya Bu Laras.


" Lea aja Bu, memangnya nama saya berubah ya Bu?"


" Hhmmmm enggak cuma sungkan aja."


" Ya panggil aja tuan puteri Bu!!" sahut salah seorang perawat yang masuk dan sedikit mendengar obrolan Bu Laras dan Lea.


" Mulut kamu belum pernah sekolah ya, atau mau aku sekolahin?" ucap bu Laras dengan tegas.


Perawat itu diam dan melirik tajam pada Lea, kemudian menaruh beberapa lembar kertas di meja bu Laras, dan berlalu pergi.


" Jangan kamu pedulikan Lea, sirik banget jadi orang,"


" Gapapa bu sudah sudah resiko saya menikah dengan dokter Vian."


" Siapapun bisa dalam posisi kamu itu Lea, siapa aja bisa, tinggal siapa yang di inginkan dokter Vian dalam hidupnya, kalau pilihannya jatuh padamu siapa yang bisa menyangkal, kamu jalani aja sebagaimana mestinya, ini hidupmu dan suamimu tak perlu ada orang lain yang ikut campur, ya kan? "


" Iya bu," kata Lea sambil mengangguk.


" Saya tau banyak tentang orang-orang yang menginginkan dokter Vian, makanya saya beritahu Anya untuk menyampaikan padamu,...." ucapan bu Laras terputus karena ada dokter dan beberapa perawat yang lewat di depan ruangan mereka, " nanti saja kita sambung," ucap bu Laras.


Lea mengangguk, paham akan maksud bu Laras.


Saat melintasi ruangan poli anak salah satu dari dokter itu melihat Lea berbalik ke depan pintu ruangan poli anak.


" Selamat pagi nyonya Vian," ucapnya sambil tersenyum.


" Selamat pagi dokter Sabrina," balas Lea sambil menurun naikkan kepalanya memberi hormat.


Lalu dokter Sabrina pergi dengan tatapan anehnya pada Lea.


Bu Laras memberi kode pada Lea dengan gerakan mulutnya, Lea paham dan mengangguk.


" Selamat pagi," ucap dokter spesialis anak dan satu orang perawat yang masuk ke ruang poli anak.


" Selamat pagi dok," balas bu Laras.


" Maaf telat bu, sepeda ku bannya bocor, untung ketemu dokter Fandi," kata kak Vino.


" Gapapa namanya juga musibah," sahut bu Laras.


" Kamu sudah masuk dik?" tanya kak Vino pada Lea adik kelasnya saat kuliah.


" Iya kak."


" Wah kita kerja dengan mantu direktur ni ceritanya?" kata dokter Fandi.


Lea hanya tersenyum mendengarnya.


" Bagaimana rasa nya jadi menantu direktur, Lea?"


" Biasa aja dok, kan saya menikah dengan manusia juga, sama kayak dokter."


" Hahaha...iya juga..eh hati-hati banyak yang gak suka lho, nanti saja kita cerita-cerita, makan siang nanti kita rayain khusus untuk poli anak aja menyambut bergabungnya kamu dengan tim kita bagaimana?"


" Deal dok... oke-oke aja, kamu gak ada janji makan siang dengan suamimu kan Lea?" tanya bu Laras.

__ADS_1


" Gak ada sih bu, nanti Lea bilang sama dokter Vian akan makan siang bersama tim poli anak," ucap Lea sambil mengangkat jempolnya.


" Suami kamu gak batasin pergerakan kamu kan Lea?" tanya dokter Fandi.


" Sejauh ini enggak dok."


" Hhmmm....ya udah, sudah ada pasien belum bu Laras? Kalau sudah ada langsung panggil aja," perintah dokter Fandi.


" Ada dok, baik dok."


" Saya panggilkan bu," kata Lea mengambil berkas pasien-pasien mereka.


Pasien di panggil satu persatu, mereka melayani pasien mereka bersama-sama, suasana yang tadinya canggung karena kehadiran Lea mulai mencair, Lea juga senang di tempat kan di ruangan dimana mereka menerima Lea dengan senang hati.


Hal itu pastinya ada ikut campur tangan dari dokter Vian yang sebelumnya menyelidiki dimana ruangan yang secara total mendukung pernikahan mereka.


***


Di ruang poli penyakit kulit dan kelamin masih sepi belum ada pasien yang datang.


" Di tempatin di poli anak, huh enak sekali hidupnya," gerutu dokter Sabrina, yang terlihat kurang nyaman dengan baju agak sopan yang terpaksa ia pakai saat dinas.


" Lea ya dok?" tanya perawat asisten dokter Sabrina.


" Iya."


Perawat itu hanya tersenyum, tak berani berkomentar karena ia tau posisi nya akan serba salah dan ia tak ingin kehilangan pekerjaan di rumah sakit itu.


Karena tak ada yang di kerjakan dokter Sabrina menyempatkan untuk menelpon rekan sejawatnya.


[ Iya (......) enak sekali kan hidupnya (......) maka itu (.....) sudah kamu kirim? (.......) oh oke (......) pokoknya harus sukses (.....) oke nanti siang aja (.....) oke di tempat biasa? (....) ngapain lagi kesana? (.....) terus aku di suruh nonton kalian gitu (.....) gak ah ntar kecanduan (....) kamu yakin? (....) oke kalau gitu, sampai ketemu nanti (....) hhmm, aku tutup.] sambungan telpon di putus.


Salah satu perawat di ruangan itu memperhatikan dokter Sabrina namun sambil pura-pura sibuk.


" Belum ada pasien ya?" tanya dokter Sabrina.


" Belum dok, kemarin aja cuma satu."


" Sepi banget sih, aku ke ruangan sebelah ya, nanti kalau ada pasien panggil aja, " kata dokter Sabrina sambil beranjak ke luar ruangan.


Kedua perawat yang menjadi asisten dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin hanya saling pandang.


" Iya, kapan dokter Lexy kembali ya?"


" Aku dengar tiga hari lagi."


" Syukur lah, kalau seminggu lagi bisa-bisa berjamur otakku pasien makin dikit."


" Hahaha..kamu berjamur aku makin pusing,"


" Kok bisa?"


" Ya tiap hari kerja dengan dokter nyinyir yang selalu kegatelan karena memakai baju sopan."


" Iya aku lihat dia gampang gerah...hahaha...eh dia tadi ngomong sama siapa? Kok mencurigakan, jangan-jangan lagi merencanakan sesuatu untuk dokter Vian."


" Bisa jadi."


" Aku penasaran yang di katakan Tara, bagaimana kalau kita ikut selidiki juga? Mumpung dokter gatel itu masih di sini."


" Hhmm.... boleh-boleh tapi diam-diam aja jangan kasih tau yang lain, kata Tara kita harus hati-hati soalnya gak tau mana yang pro mana yang kontra."


" Sip!!" ucap temannya sambil mengacungkan jempol.


" Permisi," kata karyawan bagian administrasi masuk dan menaruh berkas pasien di meja mereka.


" Terimakasih."


" Aku panggil dokter Sabrina ya, kamu panggil pasiennya."


" Oke."


Ada tiga pasien yang datang lalu mereka melayani pasien mereka satu persatu.


***

__ADS_1


Siang hari poliklinik bagian administrasi sudah tutup otomatis pelayanan juga sudah berakhir karena hanya sampai jam 1 siang saja.


" Kita makan siang di resto sebelah mesjid ya," ajak dokter Fandi.


" Baik dok."


Mereka keluar ruangan bersama-sama.


" Kalian mau kemana?" tanya perawat dari poliklinik penyakit kulit dan kelamin.


" Mau makan siang di resto *Restu Bunda* kenapa?" jawab kak Vino.


" Boleh ikut? Ada yang mau kami ceritain."


" Bagaimana dok?" tanya kak Vino pada dokter Fandi.


" Oh boleh ayo, cepat nanti yang lain tau mereka juga ikutan, kita jadi gak bebas."


" Iya dok, ayo..ayo."


Mereka bergegas keluar dari rumah sakit dengan berjalan kaki menuju restoran yang berada di sebelah mesjid dekat rumah sakit mereka.


Setibanya di sana, dokter Fandi mengajak ke lesehan yang posisinya menyendiri di pojok resto, posisi lesehan itu sangat memudahkan mereka untuk melihat ke arah pintu resto jadi bisa melihat siapa yang masuk, hingga apabila mereka sedang membicarakan hal yang rahasia mengira-ngira untuk menghentikan pembicaraan bila yang masuk orang-orang yang tak seharusnya tau apa yang mereka bahas.


Setelah memesan beberapa menu masakan sambil menunggu pesanan datang, mereka sibuk dengan telpon genggam masing-masing.


Lea pun sudah menghubungi suaminya kalau ia akan makan siang bersama tim poli anak. Dan dokter Vian membolehkannya karena dokter Fandi adalah sahabat baik kakaknya yang pertama.


" Vian gak kamu ajak makan juga Lea?"


" Sudah dok, tapi mas ada keperluan di kantor dinas kesehatan, mungkin makan siang di sana."


" Oh.....ooooh iya aku lupa ada rapat hari ini."


Pesanan datang, pelayan menyajikannya di meja, lalu mereka menikmati makan siang mereka tanpa banyak bicara.


Selesai makan siang meja sudah di bersihkan oleh pelayan.


Mereka tidak langsung pulang namun masih berbincang-bincang santai.


" Bagaimana, kalian ada yang punya info penting?" tanya dokter Fandi membuka pembicaraan.


"Tadi saya dengar dokter Sabrina seperti akan melakukan hal di luar nalar dok, berbicara dengan dengan temannya via telpon," ucap Nara perawat poli penyakit kulit dan kelamin yang di ikuti dengan anggukan kan teman satu ruang nya.


" Hhmmm.... kamu bisa nebak apa yang hendak dia lakukan?"


" Belum dok, tapi kayak janjian di suatu tempat gitu," sahut Dian teman satu ruang poli dengan Nara yang juga mendengar pembicaraan dokter Sabrina.


" Jangan-jangan di apartemennya Arnita, mereka suka kongkow-kongkow di sana," ujar dokter Fandi.


" Siapa kira-kira yang bisa memantau apartemen itu dok, kita sih gak ada yang punya kenalan di sana," sahut bu Laras, " oh iya saya lupa teman suami saya ada yang punya apartemen disana, coba nanti saya minta bantuan, ya setidaknya ada alasan kita untuk ke apartemen itu untuk memantau kegiatan para dokter itu."


" Se apartemen dengan dokter Arnita?"


" Iya dok, pernah suami saya tanya ke saya, apa ada dokter cewek yang penampilannya kayak cowok, ya saya jawab dokter Arnita tapi tidak satu rumah sakit dengan kita, suami pernah ketemu di dalam lift pas ngantar berkas ke apartemen temannya saat itu, dia bingung karena body cowok tapi suara cewek tulen kan aneh katanya."


" Saya curiga Arnita itu punya skandal dengan temannya lho, habisnya mereka berteman tapi kayak mesra gitu, ya aneh aja walau mereka sesama cewek."


" Masa dok?" tanya Bu Laras.


" Kalau kata dokter Ryan dia pernah mergokin dokter Arnita dengan dokter Rena berciuman, katanya sih gak jelas juga infonya, nah mereka ini, Arnita, Mila, Rena, Tifanny dan Sabrina ini satu Genk gitu, katanyaaaa.... saya tau info dari dokter Asrof."


" Kok mengerikan gitu dok, padahal mereka dokter lho." sahut kak Vino.


" Kabarnya lagi, mereka taruhan untuk mendapatkan dokter Vian, entah bagaimana caranya, saya gak pernah dengar info tentang dokter Nala, dia ini yang paling nekat mendekati suamimu Lea, walau bukan teman dari dokter Arnita," Kata dokter Fandi pada Lea.


" Saya dengar info terakhir dokter Nala pindah ke luar negeri dok," kata Lea tak menyebutkan negara mana.


" Tunggu-tunggu dia punya sugar daddy yang tinggal di Australia, apa dia ke sana? Wah gawat, sugar daddy nya itu mafia obat-obatan terlarang, namun licin sekali gak bisa di tangkap," ujar dokter Fandi, " saya punya kenalan dokter di sana, nanti saya cari info sama dia."


" Terus kita sekarang harus ngapain dok?"


" Kalian fokus cari info di dalam aja, siapa-siapa orang yang kontra dengan hubungan Lea dan dokter Vian, jangan sampai keduluan mereka untuk bertindak, ini demi kelangsungan rumah sakit kita, jangan sampai ada intrik di dalam yang membahayakan, beritahu semuanya pada saya, nanti saya yang sampaikan pada direktur bila sudah dapat informasi yang akurat," intruksi dokter Fandi.


" Baik dok," sahut semua nya berbarengan kecuali Lea yang di suruh bekerja seperti biasa oleh dokter Fandi.

__ADS_1


Setelah lumayan lama mengobrol, mereka membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing.


Bersambung yaa.....


__ADS_2