Penipu Hati

Penipu Hati
Bab 14 Kriteria Menantu


__ADS_3

Dikamar dokter Vian menunaikan kewajibannya lalu rebahan.


" Azalea Nuraini binti almarhum Ahmad Alfarizi." sebut dokter Vian lalu tersenyum dan akhirnya tertidur.


***


Ke esokan harinya, seperti biasa kesibukan Lea, mengurusi bunga-bunga di teras lantai atas rumah dan teras lantai bawah, pekerjaan rumah sudah tugas dari bibi Lala.


Lea tak mau mengganggu bibi Lala kalau sedang bekerja karena bibi bisa kaget dan latah bila ada orang lain di dekatnya saat ia bekerja.


Hari ini Lea dinas malam, rencananya hari ini ia akan pergi berbelanja beberaa pakaian dengan kakak iparnya, besok mba Rika sudah aktif mengajar di SDI tempat Ridho bersekolah.


Setelah sarapan, tepatnya jam 8 pagi Lea dan mba Rika sudah berpakaian rapi, sayangnya Ridho tak mau ikut ibunya untuk berbelanja.


" Ridho beneran gak mau ikut?' tanya mba Rika pada anaknya.


" Enggak ma, Ridho mau baca buku-buku koleksi papa yang di berikan tante Lea kemarin."


" Hhmm sifat mu persis papamu, lebih suka berdiam diri di rumah, berkutat dengan buku." kata mba Rika sambil keluar dari kamar Ridho.


" Bagaimana mba Ridho ikut?"


" Mana mau dia kalau sudah ada yang membuat dia lebih tertarik gitu."


" Buku?"


" Iya."


" Hhh...salahku memang mba, aku kasih tau ke dia kalau kamar bekas mas Azka sekarang aku gunakan sebagai perpustakaan, semua buku-buku koleksi ayah dan mas Azka ada di sana."


" Pantas dia dari kemarin turun naik ke lantai atas, rupanya ada yang menarik di sana."


" Ya udah yuk mba, kita pergi sekarang aja, Ridho biar di jaga bibi Lala."


" Ayo kita pergi, tadi mba dah bilang bibi Lala kok."


Akhirnya Lea dan kaka iparnya pergi ke mall, setibanya di mall, Lea mengajak kakak iparnya masuk ke butik langganannya, di butik itu banyak pakaian untuk bekerja khusus untuk muslimah.


Asyik memilih-milih pakaian, Lea mendengar seorang pegawai di marahi oleh salah satu pembeli.


" Saya tadi kan minta ukuran M, kenapa di kasihnya L hah!!!"


" Iya mba, tadi kan sudah coba yang M, tapikan gak muat mba, itupun mba nya nyoba sambil marah-marah karena gak muat tapi kok masih minta yang M?"


" Suka-suka saya dong, yang ini juga, minta nya merah yang di kasih malah orange!!"


" Mba baru bilang minta yang merah setelah yang merah setelah di beli orang, untuk model itu selalu cepat laris mba, jadi kalau mba gak ambil segera pasti bakal di ambil orang."


" Ish gak beres butik ini!!"


" Eeh kalian semua lebih baik keluar dari butik ini, pelayanannya gak bagus, menjengkelkan!" sambung wanita itu sambil berteriak.


" Mba jangan gitu dong, kami sudah melayani mba dengan khusus dari tadi."


" Pelayanan apanya, semua gak cocok sama saya kok!!"


Tak lama masuklah seorang pria ke dalam butik itu.


" Nala, kamu jangan bikin malu, lagian untuk apa kamu beli baju di butik ini, memangnya kamu mau pakai bajunya nanti!!" kata pria itu sambil menarik tangan wanita itu.


Pria itu meminta maaf pada pelayan yang di marahi wanita itu, lalu menarik paksa wanita itu keluar butik.


Untungnya pengunjung di butik itu tak terpengaruh pada ajakan wanita itu untuk keluar dari butik.


" Mohon maaf ibu-ibu dan mba-mba atas ketidaknyamanan nya."


" Tidak apa-apa mba, kami gak terpengaruh kok, lagian dia kayaknya salah masuk butik deh, masa pakaiannya aja kurang bahan gitu, mau beli baju muslimah ya salah alamat." sahut seorang ibu-ibu.


Lea dan pengunjung yang lain hanya tersenyum saja, lalu melanjutkan memilih baju yang mereka inginkan.


Mungkin ada yang melapor atas kejadian tadi hingga pemilik dari butik datang ke butiknya.


" Apa yang terjadi tadi Tantri?" tanya sang pemilik pada manager butiknya.


" Ini ibu lihat di rekaman cctv saja, biar jelas."


" Mana?" tanya pemilik butik itu sambil melihat layar laptop yang memperlihatkan rekaman cctv.


" Nala??"


" Ibu kenal wanita itu?"


" Dia seorang dokter yang mengejar-ngejar anakku."


" Tunggu." sambungnya sambil memperhatikan tangkapan kamera cctv.


" Ada apa bu?"


" Ini gadis ini sudah keluar butik belum?" tanya pemilik butik pada managernya.


" Belum kayaknya bu, tadi di deretan pakaian untuk kerja."


" Oh saya kesana." kata pemilik butik itu lalu berjalan ke arah tempat khusus pakaian kerja.

__ADS_1


" Lea." panggilnya begitu menemukan gadis yang ia maksud.


" Ibu." ujar Lea kemudian mendekat lalu menyalami dan mencium punggung tangan si pemilik butik, namun Lea masih belum tau kalau butik itu milik ibu itu.


" Kamu mencari apa?"


" Ini bu, mba Rika akan bekerja besok, jadi butuh beberapa pakaian untuk kerja bu."


" Ooh."


" Ibu juga mencari pakaian?"


" Oh iya, tapi sudah ketemu yang ibu inginkan, ibu duluan ya, di tunggu ayah mas mu, tadi ibu pamit cuma sebentar, kamu gak dinas hari ini? Masmu tadi semangat sekali waktu berangkat kerja."


Lea tersenyum mendengar ucapan ibu dari dokter Vian itu.


" Lea dinas malam nanti bu."


" Ooh ya udah, ibu pulang ya?!"


" Iya bu, salam untuk pak direktur."


" Ayah Lea....aayah.." kata bu Elma menegaskan panggilan untuk suaminya.


" Iya bu, ayah." kata Lea sambil menunduk.


" Hehe, yuk ibu pamit, assalamu alaikum."


" Wa alaikumsalam."


Sepeninggal bu Elma, Lea kembali fokus memilih pakaian.


" Dengerin tu kata camer mu, aaayaaah." goda mba Rita.


" Ish mba ini, tadi kemana tau-tau ilang, tau-tau muncul."


" Aku di balik baju-baju itu." tunjuk mba Rita ke arah depan deretan baju dimana mereka berdiri.


" Sudah ketemu yang mba cari?"


" Sudah tuh lima baju aja dulu, untuk senin sampai jum'at, hari sabtu kan libur, kamu gak beli?"


" Ini mba, dua aja."


" Ya udah, ayo ke kasir."


Mereka berjalan ke kasir untuk membayar baju yang mereka pilih, namun oleh kasir baju mereka langsung di bungkus tanpa menscan label harga terlebih dahulu.


" Ini belanjaannya bu, terimakasih atas kunjungannya." kata kasir butik itu.


" Maaf bu, sudah di bayar oleh ibu pemilik butik."


" Ibuu?? ibu yang mana?"


" Oh sudah pulang tadi bu."


" Oh." sahut Lea dan kakak iparnya bingung.


" Ya udah mba, terimakasih ya."


Lean dan mba Rika akhirnya keluar butik karena uang mereka tak di terima oleh petugas kasir.


" Apa jangan-jangan butik itu milik camer mu Lea?"


" Ish mba ini, camer..camer.."


" Lah terus?"


" Au ah, ayo jadi nyari snack pesanan Ridho gak?"


" Jadi dooong."


Mereka berdua turun ke lantai bawah mall itu lalu masuk ke dalam salah satu mini market dan berbelanja makanan ringan yang di minta oleh Ridho, selesai belanja, mereka langsung pulang.


***


Sementara di apartemennya dokter Nala masih marah-marah.


" Kurang ajar pegawai butik itu, huhh kesal aku." makinya sambil melempar bantal sofa.


" Hahaha, lagian kamu ngapain mau beli baju-baju model itu, kamu sudah tobat hah!" sahut Albert kekasih gelap dokter Nala.


" Heh aku juga gak mau beli baju lebar-lebar seperti itu, sudah panas trus kepanjangan, aku gak bisa pamer high heels ku tau!! Lagian kriteria menantu idaman keluarga direktur Ahmad itu kok ribet sekali sih!!"


" Terus buat apa kamu beli baju begituan? Ooh aku tau, buat naklukkin Vian dan orang tuanya?"


" Nah itu kamu tau!!"


" Hahaha.....Nala...Nala, jangan naif kamu!"


" Bodo amat, pokoknya tujuan ku untuk menjadi menantu direktur rumah sakit itu harus tercapai, aku harus menangkan taruhan ku dengan Mila and the genk itu."


" Kamu taruhan? Jadi kamu gak beneran cinta sama Vian?"

__ADS_1


"Cih siapa yang mau dengan laki-laki gak normal kayak dia?"


" Apaa?? Gak normal bagaimana?"


" Ya gak normal, masa iya aku yang seksi gini sama sekali tak membuat dia bernafsu."


" Selera orang beda-beda Nalaaa....."


" Ah kamu gak asyik, harusnya kamu paksa dia minum minuman yang aku kasih waktu itu, malah kamu kasihkan sama Leonard, mana pergi ke Inggris lagi tu anak, aku kan gak bisa minta pertanggungjawaban nya...ck!!"


" Aku gak kasihkan ke Leonard, ya kebetulan aja tau-tau Vian pergi dan Leonard yang datang, lalu tanpa bertanya dia langsung main minum aja itu minuman."


" Ya harusnya kamu singkirkan itu minuman!!"


" Heh....aku kan cuma naruh aja, terus pergi, mana aku tau kalau Leonard yang minum, aku baru tau itu dari Cika ketika aku tanya minuman yang di meja siapa yang minum."


" Ah bikin kesal saja."


" Ya sudah, aku dengar kabar Leonard sudah nikah, meski kamu bertemu lagi gak mungkin minta pertanggungjawaban nya kan."


" Ck....besok aku mau ke rumah sakit Vian, aku harus lakukan sesuatu, setidaknya membuat seluruh karyawan rumah sakit mengganggap aku calon menantu direktur mereka."


" Terserah padamu, tapi Nala aku mau tau, perasaanmu sebenarnya, siapa yang kamu cintai?"


" Saat ini belum ada." sahut dokter Nala sambil menyeruput minuman keras, hari itu dia tak ada jadwal dinas jadi bebas melakukan hal yang ia sukai, walau tau kalau itu tak boleh karena ia seorang dokter.


" Aku??"


" Hahaha....kalaupun aku cinta kamu, apa kamu mau ceraikan Cika? sadar woii!!" kata Nala sambil melempar sebiji kacang ke kepala Albert.


" Ish kamu, aku nikah dengan Cika juga karena kecelakaan, Cika menjebak ku dengan minuman berisi perangsang seperti yang kamu lakukan untuk Vian, kurang ajar!!!"


" Oooh??"


" Iya, makanya aku ancam dia, aku mau nikah dengannya, tapi dengan catatan dia tak boleh melarang aku main dengan cewek lain."


" Gilaaaaa!!"


" Sudah lah malas aku bahas itu, hhhhmmm.....boleh kan??" tanya Albert sambil menaik turunkan alisnya dan mengelus paha dokter Nala.


" Hhhhmmm.....ayo lah." sambut dokter Nala


Lalu mereka ke kamar dan....***....


***


Jam 8 malam, Lea bersiap-siap untuk pergi dinas malam.


Ia mengeluarkan mobilnya lalu berpamitan pada kakak iparnya.


Setelah berpamitan, ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


" Huuufff sampai." gumamnya lalu memarkirkan mobilnya.


Lalu dia keluar dari mobil dan berjalan ke dalam rumah sakit dan berhenti di depan pintu lift yang masih tertutup.


" Haaaiii....." sapa Fico.


" Haaaiii....baru datang juga?" tanya Lea.


" Ho oh, eh dokter Vian ganteng ya?" kata Fico sambil tersenyum.


" Iya teruuuus?" tanya Lea sambil mengernyitkan keningnya.


" Hehe..." tawa Fico dengan gaya gemulainya.


Lea hanya nyengir melihat tingkah temannya itu.


Tak lama pintu lift terbuka lalu mereka berdua masuk ke dalam lift.


Di lantai kedua pintu lift terbuka ada seseorang yang hendak ikut naik ke lantai atas.


" Malam dokter." sapa Fico, sedang Lea asyik menunduk melihat ke telpon genggamnya hingga tak memperhatikan siapa yang masuk.


" Malam." sahut dokter Vian sambil melihat ke arah Lea.


Fico melihat dokter Vian melihat ke arah Lea lalu menyenggol lengan Lea.


" Duh." ucap Lea yang hampir saja telpon genggamnya terlepas dari genggaman nya, namun dengan sigap dokter Vian ikut menangkap telpon genggam Lea, karena Lea sempat menangkap telpon genggamnya juga jadilah kedua tangan mereka bertemu.


" Hihi..." tawa Fico melihat kejadian di depannya.


Spontan dokter Vian dan Lea melepaskan tautan tangan mereka.


Lea berbalik dan memelototi kelakuan Fico.


Ting....pintu lift terbuka di lantai 3, Lea dan Fico keluar tak lupa menyapa dokter Vian lagi.


" Kamu itu main senggol-senggol orang, kalau telpon genggam ku jatuh dan rusak mau gantiin baru haah!!"


" Am...ampun ibu kepala ruangan." sahut Fico sambil berlari mendahului Lea.


Lea ikut berjalan cepat menyusul temannya, di dalam ruangan kembali rutinitas aplusan dengan perawat yang dinas sore, tak lama dua temannya datang, mereka melanjutkan dinas malam merawat pasien-pasien sampai pagi.

__ADS_1


Bersambung yaaa....


__ADS_2