Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Berusaha tegar


__ADS_3

Hanan menatap sang Mama untuk meminta penjelasan. "Apakah itu benar, Ma?" tanya Hanan dengan suara tercekat.


Evi menggelengkan kepala sembari memegang kedua tangan Hanan. "Tidak, Nak, kamu anak Mama. Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi anak Mama," jawab wanita itu dengan isakan.


Jawaban Evi membuat Hanan paham. Ternyata benar, dirinya bukanlah anak dari pasangan itu. Hanan menatap wajah wanita yang selama ini begitu menyayanginya layaknya seorang ibu kandung. Berbeda dengan Bimo yang memang sedari dulu tetap keras dalam mendidiknya. Namun, Hanan tak pernah berpikir bahwa Bimo bukanlah ayah kandungnya, karena bagaimanapun lelaki baya itu tetap memenuhi segala kebutuhannya dan bertanggung jawab layaknya seorang ayah yang tegas dalam mendidik anak.


Selama ini Hanan selalu mengikuti keinginan kedua orangtuanya, hingga menyetujui rencana pernikahannya dengan Nova. Namun, kejadian waktu itu membuat Hanan harus membatalkan rencana yang telah di setujui. Hanan tak bisa mengabaikan Alia sehingga memutuskan untuk mencari dan bertanggung jawab.


Kini lelaki yang berusia tiga puluh tahun itu harus menelan kenyataan pahit saat Bimo mengatakan yang sebenarnya bahwa dirinya bukanlah anak kandung mereka.


"Terimakasih sudah merawat dan membesarkan aku. Maaf bila aku tak bisa seperti yang kalian inginkan. Dan sekali lagi terimakasih atas kejujuran Papa sehingga aku mengerti yang sebenarnya," ucap Hanan sembari menggengam tangan sang Mama seakan meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Hanan, kamu tidak marah sama Mama kan, Nak? tolong maafkan Mama, kamu masih mau pulang untuk tinggal bersama kami 'kan?"


"Tidak! Aku tidak mengizinkan mereka untuk tinggal bersama kita. Jika dia mau menceraikan wanita itu maka aku izinkan," potong Bimo lantang.


"Papa! Apa yang kamu katakan?" bentak Evi sangat kesal.


Hanan tersenyum menatap Bimo yang memasang wajah angkuhnya.


"Jangan terlalu yakin bahwa aku akan kembali lagi kerumah itu Pak Bimo yang terhormat. Aku memang berhutang budi, tapi jangan berharap aku akan mengikuti mau Bapak untuk meninggalkan istriku," ucap Hanan tegas.


"Hng! Aku tidak menyangka rupanya kami membesarkan seekor anak singa," balas Bimo dengan senyum sinis.


"Terserah anda mau bicara apa. Tapi anda harus ingat bahwa selama ini aku tidak pernah menentang keinginan anda terkecuali tentang perjodohan itu. Aku rasa sudah saatnya aku memilih jalan hidupku sendiri. Meskipun aku berhutang budi pada anda, tapi aku juga berhak untuk bahagia," sanggah Hanan mengingatkan bahwa dirinya bukanlah manusia yang tidak tau balas Budi. Rasanya sudah cukup selama ini ia menjadi anak yang berbakti.


"Hanan, tolong jangan bicara seperti itu, Nak. Tolong jangan tinggalkan Mama," ucap Evi memohon.


"Ma, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan Mama. Tapi, aku tidak bisa lagi untuk tinggal bersama Mama. Aku tidak bisa tinggal bersama orang yang telah mencelakai Istriku. Dan aku cukup sadar diri bahwa aku bukan lagi bagian dari keluarga itu," jelas Hanan yang membuat tangis Evi semakin keras.

__ADS_1


"Hanan, jangan bicara seperti itu, Nak. Hiks..."


"Ayo pulang sekarang! Jangan merendahkan dirimu di depan mereka!" bentak Bimo menarik paksa tangan sang istri untuk keluar dari ruangan itu.


"Tidak, Pa! Mama belum selesai bicara dengan Hanan!" seru wanita itu pada suaminya yang tetap menariknya untuk keluar.


Hanan menghela nafas dalam. Pria itu menatap Hendra sesaat, lalu mengalihkan pandangannya ke langit-langit ruangan itu. Ia mencoba menahan sesak di dadanya. Kenyataan ini bagaikan sebuah pukulan tepat pada jantungnya sehingga terasa sulit untuk memasok udara.


Hendra yang sangat memahami perasaan sahabatnya segera mendekat dan memeluk Hanan untuk memberikan kekuatan.


"Sabar ya, Bro. Aku yakin kamu adalah lelaki yang kuat selama ini. Mungkin ini cara Tuhan menjawab pertanyaan yang selama ini sering kamu keluhkan. Itulah sebabnya sikap kamu dan keluarga itu sangat berbeda. Ambil hikmahnya dari segala kejadian yang telah kamu lalui hingga detik ini," ucap Hendra menguatkan Hanan.


Hanan menghapus air matanya dengan kasar. Ia tidak ingin lemah. Ia harus kuat menghadapi kenyataan ini.


"Ya, kamu benar Hen, aku harus kuat dan ikhlas menerima segalanya. Tapi, jika aku bukan anak mereka, lalu siapa orangtuaku? dan dimana mereka sekarang?" tanya Hanan pada Hendra.


"Kalau soal itu mana aku tahu, Han. Sekarang jangan pikirkan itu, untuk saat ini kamu fokuslah pada hubungan kamu dan Alia. Nanti jika suasananya sudah kondusif, kita akan mencari tahu bersama. Aku janji akan bantu dirimu," ucap lelaki itu yang begitu pengertian dengan masalah sahabatnya.


"Sama-sama. Tugas kamu sekarang adalah meyakinkan wanita polos itu agar tak pergi darimu, karena jika dia pergi meninggalkanmu, maka aku tidak akan mengizinkan Resha untuk menjadi doktermu," kelakar Hendra yang membuat Hanan menatap tajam.


"Kamu menyumpahiku gila? Dasar teman tak berakhlak," rutu Hanan menatap malas.


"Hahaha... Ya, aku tidak yakin jika otakmu masih waras bila di tinggalkan oleh Alia. Secara dari dulu kamu begitu mencintainya," bisik Hendra di telinga Hanan.


"Hei, jangan jabir ya kamu, awas saja kalau kamu berani mengatakan yang sebenarnya pada Alia," ancam Hanan yang kembali membuat Hendra terkekeh.


"Alia dan Resha hanya memandangi kedua lelaki itu yang sedang tertawa, tapi melainkan hanya Hendra saja, sementara Hanan menatap jengkel pada sahabatnya itu.


Hanan turun dari ranjangnya, ia lebih baik bicara pada sang istri daripada harus menjadi bahan tertawa oleh Hendra.

__ADS_1


"Eh eh, mau kemana kamu?" tanya Hendra menahan langkah Hanan.


"Aku ingin bicara dengan Alia. Sekarang kamu dan Resha pulanglah. Jangan mengkhawatirkan aku, karena aku bisa mengurus diriku sendiri dan Alia," ucap Hanan meminta Hendra dan Resha untuk pulang.


"Kamu yakin?" tanya Hendra memastikan.


"Yakinlah. Sana kamu pulang, jangan ganggu waktu aku dan Alia," sahut Hanan mengusir sahabatnya.


"Baguslah, ini waktu yang aku tunggu-tunggu, dan jangan menghubungiku bila aku dan Resha sudah sampai di rumah. Kamu tahu maksud, bukan?" ucap Hendra tersenyum penuh arti.


"Yaya, aku tahu isi pikiranmu itu. Udah sana pergi."


Hendra segera membawa Resha untuk pulang. Tentu saja membuat wanita itu sedikit ragu untuk meninggalkan pasangan yang masih sama-sama mabok racun.


"Kamu serius ingin meninggalkan mereka, Mas?"


"Serius, Sayang, udahlah jangan pikirkan. Lagian disini banyak dokter dan perawat yang lainnya yang akan membantu," jawab Hendra yang mendapat anggukan patuh dari Resha.


"Alia, aku dan Mas Hendra pulang dulu ya, besok pagi kami akan datang lagi. Kamu tidak perlu takut, Mas Hanan pasti akan menjagamu dengan baik," ucap Resha meyakinkan Alia.


"Tapi, dia masih marah padaku," jawab Alia yang membuat Resha tersenyum.


"Kamu tidak perlu takut, dia tidak marah sama sekali. Percaya sama aku ya."


Alia hanya mengangguk, ia juga tak bisa menahan Resha, karena Resha juga butuh istirahat. Sudah cukup dari tadi pagi hingga larut malam seperti ini mereka mendampinginya dan Hanan.


Setelah Resha dan Hendra pergi, kini tinggal pasutri itu disana. Hanan mendekati tempat tidur Alia. Wanita itu tampak cemas sedikit menggeser tempat duduknya.


"Boleh aku duduk disini?" tanya Hanan sedikit ragu.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2