
Hanan tak sanggup untuk meneruskan membaca segala curahan hati ibunya di buku itu. Ia kembali menyimpan di tempat semula. Sesaat lelaki itu menghela nafas pelan.
"Kenapa ibu harus berbohong padaku?" ujarnya dalam keseorangan.
Hanan kembali masuk kedalam kamarnya. Kini ia sudah tahu yang sebenarnya tentang hati sang ibu. Pengorbanan yang dilakukannya bukan sekedar balas Budi saja, tetapi karena dia ingin lelaki yang dicintainya agar selalu bahagia.
Hanan kembali merebah disamping istrinya, lalu mendekap erat tubuh mungil itu. Hanan segera memejamkan mata hingga dalam sekejap ia telah masuk ke alam mimpi.
Pagi ini Sandra bangun lebih awal, walaupun ia dan Johan tidur dalam satu kamar. Namun, lelaki itu memilih untuk tidur di Sofa. Bagi Sandra tak masalah. Ia memahami tidak akan semudah itu untuk Johan menggeser posisi Ratih di hatinya demi wanita yang selama ini ia anggap sebagai sahabat.
Sandra menatap Johan yang tidur bersedekap tangan di dada, posisinya terlihat tidak nyaman. Sandra berjalan dengan pelan, lalu menyangga kepala lelaki itu dengan bantal, dan menyelimuti. Ia tahu bahwa Johan baru beberapa menit yang lalu terlelap, karena semalaman dia tak bisa menemui kantuknya.
Selesai menunaikan ibadah dua rakaat, Sandra segera bergabung dengan para Art yang ada dirumah itu.
"Selamat pagi...," sapa Sandra tersenyum ramah.
"Selamat pagi, Bu Sandra," jawab mereka bersamaan tak kalah ramah. Mereka senang bisa mempunyai Nyonya baru yang tak kalah baik dengan Bu Ratih.
"Masak apa pagi ini?" tanya Sandra sembari memperhatikan bahan-bahan makanan yang sedang mereka persiapkan.
"Kami ingin membuat nasi goreng seafood, apakah Bu Sandra mempunyai menu yang lain?" tanya salah seorang Art.
"Tidak, apakah ini permintaan Bapak?" tanya Sandra.
"Tidak, Bu, ini permintaan Mbak Shella."
"Oh, kalau begitu teruskan masakannya, biar saya yang menyediakan sarapan untuk Bapak," ucapnya sembari menuju lemari pendingin.
"Baik, Bu."
Sandra ingin membuatkan sarapan untuk Johan, ia tahu lelaki itu belum makan dari semalam, maka ia sengaja memaksakan makanan kesukaannya.
"Oya, Bik, tolong masak nasi gorengnya dengan porsi yang banyak ya, karena saya ingin meminta Hanan dan Alia untuk sarapan bersama," ucap Sandra yang ingin mengundang anak dan menantunya untuk sarapan bersama mereka. Ia sengaja mendekatkan Hanan dengan adik-adiknya.
"Baik, Bu."
Sandra menghubungi Hanan untuk meminta pasangan itu sarapan bersama di kediaman ayahnya. Tentu saja Hanan tidak akan menolak bila sang Ibu yang meminta.
Kini semua hidangan telah tersedia di meja makan. Sandra ingin beranjak ke kamarnya untuk memanggil Johan, namun langkahnya terhenti saat melihat Sonya dan Shella menuruni anak tangga. Mereka sudah bersama pasangan masing-masing.
"Selamat pagi, Bu. Perkenalkan ini suami aku Mas Febrian."
__ADS_1
"Dan ini suami aku, Mas Halim," sambung Shella.
"Pagi, Bu," ucap kedua lelaki itu menyalami tangan ibu mertuanya dengan takzim.
"Pagi kembali, Nak. Ibu senang bisa bertemu dengan kalian. Kapan kalian datang? Kenapa tidak datang di acara pemakaman Bu Ratih?" tanya Sandra yang memang lupa untuk menanyakan hal itu kepada kedua putrinya.
"Maaf, Bu, saat Mama meninggal kami tidak bisa meninggalkan tugas, karena kami sedang mengudara," jawab Halim.
"Mengudara? Apakah kalian bekerja di penerbangan?" tanya Sandra.
"Iya, Bu, Mas Halim dan Mas Febrian bekerja sebagai pilot. Mereka juga bekerja di maskapai yang sama di Singapura. Saat Mama meninggal mereka sedang terbang, jadi mereka tidak bisa hadir," jelas Shella pada sang Ibu.
"Oh begitu, kalian pintar sekali mencari suami dengan profesi yang sama. Apakah dulu sudah direncanakan?" tanya Sandra dengan kekehan kecil.
"Tidak, Bu, lebih dulu Kak Sonya menikah dengan Mas Febrian. Setelah itu aku di kenalkan oleh temannya."
"Tapi pertama kenal kamu sudah jatuh cinta 'kan?" sambung Halim.
"Ish, apaan sih kamu sok tahu," Shella tersenyum malu.
Mereka tertawa melihat tingkah pasangan itu. Sandra juga ikut tertawa sembari mengusak rambut putri bungsunya.
"Sudah sudah, ayo kalian duduklah. Ibu akan panggil Papa dulu," ucap Sandra mengakhiri perbincangan singkat mereka. Ia segera beranjak menuju kamarnya.
"Ayo kita sarapan, aku sudah masak makanan kesukaan kamu," ucap Sandra tersenyum manis.
"Terimakasih," jawab Johan sembari menyisir rambutnya di depan cermin.
Sandra menatap penampilan lelaki baya itu yang masih terlihat tampan dan berkarisma.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apakah ada yang salah?" tanya Johan membuyarkan lamunannya.
"Ah tidak, kamu terlihat tampan," jawabnya jujur sekali.
"Kenapa sekarang sikapmu berubah seperti ini, Sandra? Dulu kamu tidak pernah memujiku?" tanya Johan menatap curiga.
"Karena dulu kamu bukan milikku, sekarang aku berhak memujimu," jawab Sandra yang membuat Johan sedikit ternganga.
"Sudahlah, aku tidak ingin membahas hal yang tidak penting," jawab Johan segera beranjak dari hadapan wanita itu.
"Tapi ini sangat penting bagiku, Mas Johan!" seru Sandra yang membuat langkah lelaki baya itu berhenti.
__ADS_1
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu!" sanggah Johan tak terima.
"Kenapa? Apakah panggilan itu hanya dikhususkan untuk almarhum?" tanya Sandra dengan dada terasa sesak.
"Ya, hanya Ratih yang boleh memanggil dengan sebutan itu! Sampai kapanpun aku akan tetap menganggapmu sebagai sahabatku!" tegasnya yang membuat hati Sandra semakin nelangsa.
Sandra tak menyahut lagi, ia segera masuk kedalam kamar mandi untuk menumpahkan tangisnya. "Ya Allah, kenapa sakit sekali rasanya. Dulu aku berdo'a agar diberikan kesempatan untuk menjadi istrinya, dan Engkau telah mengabulkan doaku itu, tetapi kenapa kini aku merasakan sakit yang teramat saat mendengar pernyataannya," ucap wanita itu sembari menghapus air matanya.
Sandra memperbaiki wajahnya yang tampak sedikit kusut karena menangis. Lagi-lagi wanita itu menekankan rasa sabar di relung hatinya. Ia tetap optimis, masih berharap suatu saat nanti lelaki itu bisa menerima kehadirannya.
Saat Sandra sudah berada di ruang makan, ia melihat Hanan dan Alia sudah duduk bergabung dengan mereka.
"Pagi, Sayang," ucapnya tersenyum semanis mungkin. Ia tak ingin putranya mengetahui apa yang sedang ia rasakan saat ini.
"Pagi, Bu. Aku kangen banget sama Ibu," sahut Alia sembari menyalami dan memeluk wanita baya itu.
"Hei, kenapa kamu manja sekali?" tanya Sandra mengusap punggung anak menantunya dengan lembut.
"Apakah aku tidak boleh manja sama Ibu?" tanya Alia dengan cemberut.
"Hahaha... Tentu saja. Ayo duduklah, kita sarapan bersama." Alia kembali duduk disamping Hanan.
Sementara itu Sandra bersiap untuk mengambilkan makanan untuk suaminya. Namun, Johan menolak perhatian dari wanita itu.
"Tidak perlu, San. Aku bisa ambil sendiri," ucapnya datar.
"Tidak apa-apa, sini aku ambilkan."
"Tidak, Sandra!" Johan mengelakkan piring yang ada ditangannya.
Hanan yang menatap tajam sedari tadi segera bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju dimana Ibunya sedang berdiri dan menjadi bahan perhatian oleh semua orang yang ada di ruang makan itu.
"Ayo, Bu, kita pulang!" serunya sembari meraih tangan wanita baya itu.
"Hanan, duduklah. Ibu tidak apa-apa!" jawab Sandra berusaha menahan rasa sabarnya.
"Cukup, Bu! Sudah cukup membohongi diri Ibu sendiri. Kita memang tidak pantas ada di tengah-tengah keluarga ini!" tegas Hanan.
"Hanan, apa yang kamu katakan? Papa tidak pernah berpikir seperti itu," jawab Johan.
"Benarkah? Tapi kenapa Papa tidak memperlakukan ibuku layaknya seorang istri!"
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰