Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Menjelaskan


__ADS_3

Johan dan Sandra memasuki hunian mewah itu. Namun, langkah mereka terhenti saat berpapasan dengan Hanan dan Alia yang hendak ziarah ke makam putri mereka.


"Bu Dokter!" sapa Hanan tersenyum ramah.


"H-hanan, kamu mau kemana, Nak?" balas Sandra dengan wajah sendu penuh kerinduan.


Hanan dan Alia menatap mereka dengan wajah bingung. Kenapa sikap mereka mendadak begitu manis dan penuh kasih sayang.


"Saya dan Alia mau ziarah ke makam bayi kami," jawab Hanan bersikap sewajarnya saja. Ia tak begitu menghiraukan sikap aneh mereka di pagi ini. Anggap saja dirinya sedang beruntung karena di sukai oleh kedua Dokter senior itu.


Hanan segera membimbing tangan Alia melewati pasangan itu. Namun, Sandra tak kuasa menahan gejolak hatinya. Wanita paruh baya itu memeluk Hanan dari belakang.


"Hanan, putraku. Ibu sangat merindukan kamu, Nak," ucap Sandra dengan deraian air mata.


Hanan yang mendapat perlakuan sedemikian, dan mendengar ucapan dari wanita itu, tentu saja ia menjadi bingung. Alia sedikit menjarak. Ia juga masih bingung. Ada apa sebenarnya?


Hanan melepaskan lilitan tangan Sandra, lalu memutar tubuhnya menghadap padanya.


"Maaf, apa maksud Bu Dokter?" tanya Hanan meminta penjelasan atas apa yang di ucapkan oleh wanita yang ada dihadapannya.


"Hanan, aku adalah Ibu kandungmu. Dan dia, dia adalah ayah biologismu," ucap Sandra dengan suara tercekat sembari menunjuk Johan.


"Hng! Cerita konyol apa ini?" balas Hanan dengan seringainya.


"Hanan, dengarkan penjelasan kami terlebih dahulu," potong Johan yang ikut menjelaskan.


"Tidak! Kalian sedang bercanda, bukan? Aku itu seorang anak yatim-piatu, aku tidak mempunyai orangtua!"

__ADS_1


"Tidak Hanan! Kami adalah orangtua kandungmu," jawab Sandra meyakinkan putranya yang masih dalam kebingungan.


"Sudah cukup, Bu Dokter! Kejutan ini benar-benar tidak lucu. Apakah kalian sedang mentertawakan nasibku? Kalian sedang mengejekku?" sarkas Hanan yang merasa sedang di kerjai oleh mereka.


"Tidak Hanan! Aku benar-benar ibumu!" sentak Sandra masih berurai air mata. Rasanya sakit sekali saat putranya masih tak mempercayai.


"Omong kosong!" balas Hanan dengan mata yang sudah memerah. "Jika kalian adalah orangtuaku, kenapa baru sekarang mengakuinya? Selama ini kalian kemana saja?! Katakan!"


"Mas, tenanglah," ucap Alia berusaha menenangkan suaminya yang sedang emosi.


"Hanan, kamu harus mendengarkan penjelasan kami terlebih dahulu. Kami benar-benar tidak berniat untuk menelantarkanmu apalagi membuangmu. Ayo sekarang kita duduk dulu. Kita harus bicara," ucap Johan. Pria itu masih tampak begitu tenang dan bijak menyikapi masalah ini, meskipun tak bisa ia tampik ada rasa takut yang begitu besar. Namun, ia tahu apa yang sedang dirasakan oleh putranya.


Hanan hanya menatap Sandra dan Johan silih berganti. Hatinya masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Sementara Sandra masih menangis sesenggukan. Alia berusaha menangkan Ibu mertuanya.


"Hanan, ayolah. Kamu tidak boleh bersikap seperti ini tanpa memberi kami kesempatan untuk menjelaskan yang sebenarnya. Jika kamu sudah mendengarkan penjelasan Papa dan ibumu, maka kamu berhak mengambil sikap. Papa tidak akan protes lagi," ucap Johan memohon pengertian dari lelaki itu.


Hanan menghela nafas dalam, ia mencoba menetralkan perasaannya yang sedang membuncah. Namun, ia tak boleh egois. Ia harus mendengarkan penjelasan mereka. Apa salah Dan dosanya sehingga mereka membuangnya.


Hanan mengikuti langkah Johan menuju ruang keluarga untuk membicarakan masalah ini. Sekilas ia menatap Sandra yang masih menangis.


Kali ini Johan yang mencoba untuk menjelaskan, ia tahu Sandra belum bisa menguasai perasaannya.


"Hanan, aku dan Sandra adalah teman sedari kecil. Kami di besarkan di sebuah panti asuhan yang sama. Bahkan kami sama-sama mendapatkan beasiswa di universitas terbaik di luar negeri dari seorang pejabat ternama. Yaitu ayah mertuaku. Orangtua Ratih. Suatu ketika aku baru saja menyelesaikan studi strata duaku. Malam itu aku dan teman-teman yang lain merayakan hari kelulusanku. Namun, aku dan Sandra sama-sama mabuk sehingga suatu peristiwa yang tak diinginkan terjadi. Aku sudah berniat ingin bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi, tetapi Sandra menolak, karena saat itu aku dan Ratih telah bertunangan."


Johan menjabarkan berawal peristiwa itu terjadi hingga hadirnya seorang anak diantara mereka.

__ADS_1


"Terus, setelah aku lahir? Kalian membuangnya, begitu?" sambung Hanan masih menyorot tajam.


"Tidak, Nak. Ibu tidak pernah berniat membuangmu. Ibu tahu mungkin ibulah yang salah dalam hal ini. Ibu sengaja menyembunyikan kehamilan Ibu dari ayahmu, Ibu tidak ingin merusak kebahagiaannya. Karena hari dan tanggal pernikahan mereka telah di tentukan. Dan ibu tidak tega membuat kekacauan di keluarga yang telah begitu baik memberikan Ibu beasiswa hingga ibu bisa melangsungkan pendidikan tinggi. Ibu menitipkan kamu di sebuah panti asuhan, karena Ibu harus menyelesaikan kuliah yang tinggal satu semester lagi. Setelah lulus, Ibu kembali menjemput dirimu, tetapi, saat mereka mengatakan telah memberikanmu pada orang lain, sungguh hati ibu hancur, Hanan. Ibu selalu mencari orang yang telah mengadopsi dirimu hingga saat ini," jelas Sandra berurai air mata.


Hanan terdiam, ia tak tahu siapa yang salah dalam hal ini. Sungguh otaknya belum bisa berpikir, hati belum mampu berdamai dengan kenyataan. Hanan tak bicara apapun, ia segera beranjak meninggalkan mereka.


"Hanan, mau kemana kamu?" panggil Johan, namun, tak dihiraukannya.


Hanan merasa entah, ia butuh menepi sesaat untuk mendamaikan hati dan pikirannya. Sungguh ini adalah hal yang sulit untuk ia terima.


"Maaf, Pa, Bu. Aku pergi dulu ya. Ibu dan Papa jangan risau. Aku akan mencoba bicara dengan Mas Hanan," ucap Alia sebelum beranjak menyusul suaminya.


"Alia, Ibu mohon, tolong bicara dengan Hanan. Tolong jangan membenci Ibu," ucap Sandra menggengam tangan Alia dengan erat.


"Baik, Bu, aku akan bicara dengannya. Ibu tidak perlu khawatir, aku percaya Mas Hanan tidak akan mungkin membenci Ibu dan Papa. Mas Hanan hanya butuh waktu saja." Alia berusaha meyakinkan pasangan itu.


Alia segera beranjak mengikuti langkah suaminya yang telah terlebih dahulu keluar dari rumah mewah itu.


Sementara itu Sandra masih menangis terisak. Ia begitu takut jika Hanan akan membencinya.


"Sandra, tenanglah. Kamu jangan menangis lagi," ucap Johan merasa iba.


"Johan, bagaimana jika Hanan benar-benar membenciku? Aku tidak sanggup harus di benci oleh anakku sendiri. Aku hanya punya dia, aku tidak punya siapapun di dunia ini, Jo. Hiks...." Tangis wanita itu pecah.


"Ssshhtt... Tenanglah Sandra, kamu tidak boleh berpikiran seperti itu. Percayalah, Hanan tidak akan seperti itu," ucap Johan kembali membawa Sandra dalam pelukannya.


Bersambung.....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2