Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Susah tidur


__ADS_3

Setelah makan, Ratih dan Sandra kembali ngobrol. Tak berselang lama Johan masuk kedalam ruangan itu.


"Apakah Ratih sudah makan?" tanya Johan.


"Sudah, Ratih juga sudah minum obat," jawab Sandra.


"Alhamdulillah, terimakasih ya, San," ucap Johan dengan tulus.


"Iya sama-sama. Ratih, kalau begitu aku pulang dulu ya. Sudah ada Johan yang menemani kamu," pamit Sandra pada Ratih.


"Baiklah, tapi besok kamu masih mau menemani aku disini 'kan?" tanya Ratih penuh harap.


"Tapi, aku dan Hanan besok siang akan kembali ke kota Ujung batu," jawab Sandra dengan ragu, sebenarnya ia juga tidak tega. Namun, ia sudah berjanji tidak ingin lagi ada diantara mereka.


"San, aku mohon untuk kali ini saja. Tolong temani aku beberapa hari lagi disini," mohon Ratih.


Sandra menatap Johan untuk meminta pendapat ayah dari anaknya itu.


"Sandra, kalau kamu tidak keberatan, tolong tunda dulu keberangkatan kamu dan Hanan. Tolong temani Ratih hingga kondisinya kembali stabil," ucap Johan meminta pengertian Sandra.


"Baiklah, kalau begitu aku akan bicarakan dengan Hanan nanti. Aku pulang dulu ya. Besok pagi aku akan kesini lagi," pamit Sandra pada Ratih.


"Terimakasih ya, San. Oya, kamu pulang diantar Mas Johan saja," usul Ratih.


"Ah tidak usah, aku diantar supir saja," tolak Sandra.


"Sudahlah, kamu diantar Mas Johan saja, karena ini sudah larut malam. Lagipula jam segini supir sudah istirahat." Ratih masih keukuh agar Sandra diantarkan oleh Johan.


"Mas, kamu antar Sandra sebentar ya," pinta Ratih pada suaminya.


"Ya baiklah. Ayo aku antar kamu pulang."


Sandra tak bisa menolak, ia mengikuti langkah Pria itu untuk mengantarkannya. Di perjalanan pulang, Sandra masih mengingat kata-kata Ratih yang ingin memintanya untuk menikah dengan Johan.


Meskipun Sandra sudah menolak dengan tegas. Namun, Ratih tetap memaksanya, sehingga ia tak dapat menolak dan harus mengiyakan. Seketika hatinya menjadi gamang. Bagaimana jika Johan menolaknya, karena ia tahu bahwa Johan tidak mencintainya.

__ADS_1


Ah semoga saja Allah memberikan Ratih umur panjang dan kembali sehat seperti sedia kala, agar dirinya terlepas dari permintaan wanita itu.


"Maaf sudah merepotkanmu," terdengar ucapan Johan yang membuyarkan lamunan Sandra.


"Ah tidak apa-apa," jawab Sandra menatap sekilas, ia mencoba untuk tetap tenang.


"Ratih bicara apa tadi?" tanya Johan sembari fokus mengemudi.


"Hah? Tidak bicara apa-apa. Dia hanya memintaku untuk menemaninya," jawab Sandra berbohong. Ia tak mempunyai keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya, ia takut bila Johan akan berpikiran buruk padanya.


"Maafkan atas segala kesalahan istriku ya, San. Sebenarnya dia itu wanita yang baik, mungkin karena rasa cemburu dan takut kehilangan sehingga membuatnya menjadi egois," ucap Johan yang membuat Sandra hanya bisa mengangguk.


Sementara itu di sebuah kamar, Alia masih grusak grusuk mencari posisi yang nyaman untuk terlelap, nyatanya wanita itu tak kunjung menemui kantuknya, itu semua disebabkan oleh film horor yang di putar oleh Dokter tampan itu.


Alia mengubah posisi tidurnya menatap wajah Hanan yang sudah tertidur pulas.


"Kenapa kamu cepat sekali tidurnya, Mas? Ini semua gara-gara kamu," kesal wanita itu sembari merapatkan tubuhnya pada tubuh suaminya, tangannya memeluk erat, wajah ia sembunyikan di dada bidangnya.


Hanan yang merasa tidurnya terganggu, ia membuka mata. "Kamu kenapa, Dek? Kenapa belum tidur juga jama segini?" tanya Hanan membalas pelukan istrinya.


"Mas, takut," cicit wanita itu masih menyembunyikan wajahnya.


"Ini semua gara-gara kamu, aku bilang nggak mau nonton film horor, kamu masih aja ngotot. Sekarang aku nggak bisa tidur karena teringat terus," jelasnya merenggangkan pelukannya.


"Astaghfirullah, Dek, kenapa harus takut? Tidak ada apa-apa. Ayo sekarang tidur, sini peluk aku." Hanan kembali memeluk wanita, dan mengecup berulang kali puncak kepalanya.


"Jangan di lepas pelukan kamu ya, Mas," ucap Alia dalam dekapan Pria itu.


"Iya, Sayang, aku akan selalu memelukmu. Sekarang tidur ya, maaf sudah membuatmu insomnia," ujarnya mendekap erat.


"Mas, temani aku nonton dulu yuk," tetiba wanita itu melepaskan pelukan suaminya, ia segera duduk, dan mengambil ponselnya yang ada di nakas.


Hanan yang melihat perangai istrinya sedikit aneh, segera ikut duduk. "Nonton apa, Dek?" tanya Hanan bersandar di kepala ranjang, ia menilik layar ponsel istrinya.


"Kita nonton drama Malaysia, aku suka banget dengan cerita ini," ucap Alia tersenyum manis sembari menggeser duduknya untuk merapatkan tubuhnya pada sang suami. Kini posisi mereka begitu intim, Alia menjadikan bahu Hanan sebagai bantalan.

__ADS_1


Hanan tak bisa bicara apapun, ia hanya bisa mengikuti keinginan sang istri, meskipun sebenarnya ia tidak suka drama, ia lebih ke film action atau horor. Tapi, demi wanita kesayangannya, maka ia harus mengalah.


Alia tampak menghayati drama itu, sedikit mengalihkan rasa takutnya. Sementara Hanan berusaha menahan kantuk, karena sedari tadi mendapat ultimatum dari sang istri agar tak tidur.


"Mas, jangan tidur, temani aku," ucap Alia menengadah menatap wajah lelaki itu.


"Nggak, Dek," ucap Hanan mengecup bibir wanita itu dengan gemas.


"Ish, aku sebel banget sama lelaki ini, jahat banget. Istri udah baik begini masih saja di selingkuhi," celoteh Alia begitu kesal dengan pemeran laki-lakinya.


Hanan sedikit tertarik, ia menatap layar ponsel istrinya yang sedari tadi ia abaikan, karena ia sibuk dengan ponselnya sendiri.


"Mungkin lelakinya pengen coba rasa baru, Dek," timpalnya sembari menatap adegan pasangan yang sedang berada di sebuah kamar hotel.


"Apaan sih, kamu membenarkan perbuatan tercela seperti ini, Mas?" ucap Alia menatap tajam.


"Hah? Nggak," jawab Hanan dengan cepat. Pria itu tersenyum gemas melihat ekspresi wajah sang istri.


"Halah alasan aja, jangan-jangan kamu juga ada keinginan untuk selingkuh?"


"Astaghfirullah, Dek. Kenapa pikiran kamu jelek begitu sama aku. Ya nggak mungkinlah aku selingkuh, karena tak ada yang kurang darimu," jawab Hanan mencubit hidung istrinya.


"Walaupun tidak ada yang kurang, tadi kamu bilang bisa saja lelaki ini ingin mencoba rasa yang baru. Bisa saja suatu saat kamu juga melakukan hal yang sama, karena kamu sudah bosan dengan rasa itu-itu saja," ucap Alia menatap tajam.


"Masya Allah. Hahaha... Kenapa kamu samakan aku dengannya, Sayang, tidak semua lelaki itu mempunyai pemikiran yang sama. Bagiku, kamu sudah cukup sempurna. Jadi, percayalah bahwa aku tidak akan pernah menyakiti perasaanmu, apalagi menduakanm," jawab Hanan dengan serius.


"Daripada kamu mikir yang tidak-tidak, sini ponselnya." Hanan mengambil ponsel yang ada di tangan Alia, lalu mematikannya.


"Mas, kenapa di matiin? Aku belum selesai nontonnya," protes wanita itu.


"Nontonnya besok saja dilanjutkan, sekarang lebih baik kita yang membuat adegan panas itu," ucap Hanan sembari tersenyum nakal.


"Eh kok jadinya begini, Mas? Ish rusuh banget sih," rengek wanita itu saat Hanan sudah membalikkan tubuh Alia. Kini posisinya Alia telah berada dibawah kungkungannya.


Alia tak bisa protes lagi saat lelaki itu telah membuatnya melayang. Akhirnya ia pasrah dalam buaian cinta sang Dokter.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2