
Keluarga Dokter itu makan dengan tenang. Johan terlihat makan begitu lahap. Sudah beberapa hari ini lelaki baya itu tak berselera makan karena banyaknya masalah yang sedang ia hadapi.
"Lahap banget Papa makannya? Sudah bisa move on?" tanya Hanan di sela-sela makan.
Johan menghentikan suapannya saat mendengar pertanyaan dari putranya. Ia menatap Hanan dan Sandra silih berganti.
"Masih belajar, tidak akan semudah itu melupakan orang yang telah puluhan tahun hidup bersama kita. Ya, meskipun dipisahkan oleh maut, tetapi semua butuh waktu dan proses. Kamu juga akan merasakan suatu saat nanti, Han. Jadi, Papa harap kamu dan ibumu bisa memahami sedikit saja apa yang sedang Papa rasakan saat ini. Papa sama sekali tidak bermaksud untuk mengabaikan Ibumu. Tapi, jika kamu dan ibumu kecewa dengan segala sikap Papa, maka Papa minta maaf," ucap Johan yang membuat Hanan dan Ibunya saling pandang.
"Aku tahu, maka dari itu aku memutuskan untuk kita berpisah. Karena juga tidak mudah bagimu menerima jodoh yang bukan dari pilihan hatimu sendiri," jawab Sandra sembari menyudahi makan siangnya.
"San, bukan begitu maksudku," ujar Johan yang ikut beranjak mengejar langkah wanita itu.
"Mas, kamu kenapa suka sekali membuat Ibu dan Papa berselisih paham?" ucap Alia yang merasa suaminya sudah terlalu banyak mengurusi masalah hubungan kedua orangtuanya.
"Sayang, aku tidak bermaksud seperti itu."
"Tapi apa yang dikatakan Papa itu memang benar. Aku tahu kamu menyayangi Ibu, dan kamu ingin Ibu bahagia. Tapi, kamu juga harus memikirkan perasaan Papa. Bagaimana jika posisi kamu saat ini ada di posisi Papa? Dan apakah kamu bisa menerima Nova dengan mudah? Kamu juga tahu bahwa Nova sangat mencintai kamu 'kan?"
Kata-kata Alia menyentil hati Pria itu. Mungkin ada benarnya. Sepertinya mulai sekarang ia harus mencoba untuk mendamaikan kedua orangtuanya.
Alia segera merapikan meja makan, lalu membawa peralatan kotor itu ke wastafel yang ada di dapur. Hanan masih duduk disana. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Dokter kandungan itu.
Malam ini tak seperti dibayangkan oleh Johan, lelaki yang bergelar sebagai profesor itu harus tidur di ruang tamu, dikarenakan Sandra tak ingin satu kamar dengannya.
"San, jangan seperti ini dong. Mana mungkin aku tidur di ruang tamu," protesnya tak terima saat Sandra memberikan bantal padanya.
"Kalau kamu tidak mau, silahkan pulang ke kediamanmu. Karena disini hanya ada dua kamar," ucap Sandra ketus.
"Ck, tega sekali kamu." Pria itu berdecak kesal sembari berjalan menuju ruang tamu.
Sementara itu Hanan baru saja pulang dari acara pesta pernikahan temannya. Pria itu melupakan janjinya pada sang istri, yaitu waktu yang dijanjikan terlewatkan karena asyik konkow dengan teman-teman sejawatnya yang lain.
Hanan melintasi ruang tamu. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sang Ayah tiduran di sofa sembari memainkan ponselnya.
"Papa! Kenapa tidur disini?" tanya Hanan dengan heran.
"Biasalah, ibumu tidak mau satu kamar denganku," jawab Johan dengan wajah datar.
"Kamu sendiri darimana jam segini baru pulang? Tadi Alia tanyain kamu terus, dan ponselmu juga tidak aktif?"
__ADS_1
"Ha! Masa sih ponselku tidak aktif." Hanan segera merogoh benda pipih itu di saku celananya.
"Astaghfirullah, ternyata benar habis daya. Kenapa aku tidak memeriksanya sedari tadi. Kalau begini bisa jadi masalah besar. Ah dasar bodoh!" Hanan berlalu pergi dengan merutuki diri sendiri.
Johan tersenyum tipis. "Semoga nasibmu tak seburuk diriku malam ini," ujarnya sembari merebahkan tubuhnya kembali di Sofa.
Tok! Tok!
"Sayang, buka pintunya!" panggil Hanan sembari mengetuk pintu kamarnya. Lama ia berdiri disana, tetapi Alia tak kunjung membukakan pintu.
"Dek, aku minta maaf!" serunya kembali. Tak berselang lama pintu kamar itu terbuka. Seketika senyum lelaki itu mengembang. Namun, ekspektasi tak sesuai realita.
Wanita hamil itu berdiri diambang pintu sembari memegang sebuah bantal. Tatapannya begitu tajam.
"Nih, sekarang kamu tidur diluar. Malam ini aku tidak mau tidur dengan kamu, Mas, dasar lelaki ingkar janji!" ujarnya sembari menyodorkan bantal pada Hanan.
"Sayang, aku minta maaf. Sungguh aku benar-benar lupa. Soalnya tadi aku bertemu dengan teman lama, kami asyik ngobrol," ucap Hanan mencoba menjelaskan.
"Aku tidak mau tahu alasanmu. Yang paling aku kesalkan, kenapa ponsel kamu tidak bisa aku hubungi? Kamu sengaja menonaktifkannya 'kan?" tuding Alia begitu kesal.
"Dek, dengarkan aku dulu."
"Ya Allah, apes banget. Hah, kenapa nasibku harus sama dengan Papa," ujarnya sembari mengayun langkah menuju ruang tamu.
Johan yang mendengarkan sedari tadi hanya bisa tersenyum senang melihat nasib putranya tak jauh berbeda dengannya.
"Nggak usah melas begitu wajahmu. Anak muda saja cengeng. Lihat Papa, masih tetap aman walaupun di kacangin sama Ibumu," ujar Johan sembari duduk dari baringnya.
Hanan tak menyahut, ia menjatuhkan tubuhnya di Sofa yang berhadapan dengan sang Papa.
"Papa kenapa tidak pulang saja?" tanyanya merasa kasihan melihat Pria baya itu terlantar.
"Nanti kalau papa sudah berhasil mendapatkan maaf dari ibumu."
"Makanya jadi lelaki itu harus amanah dengan janji," ucap Johan menasehati.
"Bukan tidak amanah, Pa. Aku cuma lupa saja," jawab Hanan dengan wajah melas.
"Yasudah, daripada kita bengong, mending kamu buat kopi sana," titah Johan.
__ADS_1
"Ah lagi tidak mood minum kopi, Pa," jawab Hanan segera merebahkan tubuhnya diatas Sofa.
"Tapi Papa tidak ngantuk, kamu tolong buatin Papa kopi dulu."
Hanan kembali duduk sembari menatap ayahnya dengan dalam. "Pa, aku boleh tanya sesuatu?"
"Hmm, tanyakan."
"Apakah dulu Papa tidak pernah ada rasa suka pada Ibu walau sedikit saja?" tanya Hanan mengorek informasi tentang masalalu ayahnya.
"Papa akan jawab, tapi buatkan kopi dulu untuk Papa," jawab Johan dengan senyum tipis.
"Ah baiklah. Tapi Papa harus janji jawab yang jujur."
"Ya tentu saja."
Hanan segera beranjak menuju pantry untuk membuatkan sang Ayah kopi hitam. Tak berselang lama Pria tampan itu sudah kembali membawa dua cangkir kopi.
"Silahkan diminum, Prof," kelakar Pria itu sembari menyerahkan cangkir kopi itu pada sang ayah.
Johan menerima, dan segera menyeruput minuman yang berwarna hitam legam itu.
"Gimana, Pa? Sudah sama dengan buatan Ibu?" tanya Hanan.
"Lebih mantap buatan Ibumu, tapi lumayanlah daripada tidak ada sama sekali," ucap Johan yang membuat Hanan mencibir.
"Baiklah, sekarang ayo ceritakan tentang perasaan Papa pada Ibu." Hanan menuntut jawaban Johan.
"Kenapa kamu ingin mengetahuinya? Bukankah sekarang Papa dan ibumu sudah menikah?" tanya Johan.
"Tapi, aku penasaran dengan perasaan Papa. Sejak kejadian yang mengakibatkan hadirnya diriku di rahaim Ibu, apakah perasaan Papa tidak berubah sedikitpun?"
Johan menatap putranya dengan seksama, lalu menghela nafas dalam untuk memasok udara sepenuh dada.
"Sebenarnya..."
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1