Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Cemburu


__ADS_3

Sementara itu Hanan dan Alia berjalan menuju ruangannya. Namun, langkah pasangan itu terhenti saat seorang wanita baru saja selesai mencetak sep di mesin anjungan untuk dibawa ke poli tujuan.


"Hai, Mas Hanan!" sapanya tersenyum manis.


"Mau ngapain kamu?" tanya Hanan menatap malas.


"Tentu saja aku kesini mau bertemu dengan Dokter tampan," jawabnya sembari menunjukkan berkas yang tertulis disana Dr.Hanan. SpOG.


"Ayo, Sayang." Hanan semakin merangkul bahu Alia untuk membawanya pergi. Ia mengabaikan Nova yang masih berdiri disana.


"Mas Hanan, tunggu!" panggil Nova sembari mengejar langkah Hanan dan Alia.


Alia yang sedari tadi hanya diam, tetapi emosinya mulai terpancing oleh gadis itu. Hatinya mulai panas saat Nova masih berusaha menggoda suaminya.


Alia memutar tubuhnya menghadap pada wanita itu. "Mau apalagi kamu?" tanya Alia menyorot tajam.


"Hei, wanita odgj, aku tidak ada urusan denganmu!" balas Nova menantang.


"Tentu saja menjadi urusanku, karena kamu menggoda suamiku," jawab Alia sembari meraih rambut wanita itu.


"Awwhh... Sakit!" teriak gadis itu menahan tangan Alia.


"Dek, sudah lepaskan!" Hanan melerai dengan merengkuh tubuh istrinya.


"Hah! Dasar wanita gila! Akan aku laporkan dirimu ke kantor polisi!" ancam Nova menatap berang.


"Laporkan saja. Hng! Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa aku ini orang dengan gangguan jiwa? Bahkan aku bisa membunuhmu, dan aku tidak akan dihukum," jawab Alia yang membuat hati Nova semakin kesal.


"Dasar gila!" wanita itu segera beranjak dengan dengusan kesal.


Hanan yang memperhatikan hanya bisa tersenyum tipis. Tak menyangka bahwa istrinya mudah sekali kalap. Apakah itu semua bentuk rasa cemburunya?


"Kenapa senyum? Kenapa tadi kamu tidak membiarkan aku menarik rambutnya hingga rontok?" protesnya pada sang suami.


Hanan kembali merangkul Alia untuk membawanya menuju ke ruangan praktek.


"Bukannya tidak setuju dengan idemu itu, Sayang, tapi aku tidak ingin istriku yang cantik ini berurusan dengan hukum," jawab Hanan sembari mengusak rambut istrinya.


"Bukankah dia sendiri yang mengatakan aku ini odgj, jadi biarkan saja."


"Jangan ngaco kamu, Dek. Kamu kira para polisi percaya begitu saja. Emangnya tidak ada serangkaian tes untuk membenarkan ucapan itu."


"Kamu tidak sedang membela wanita itu 'kan?" tanya Alia menatap curiga.

__ADS_1


"Hahaha... Apaan sih kamu mikirnya begitu? Ya nggaklah. Serius, aku hanya memikirkan dirimu, Sayang," jawab Hanan dengan jujur.


"Mas, kamu masih mencintai aku 'kan?" tanya Alia yang membuat Hanan menghentikan langkahnya.


"Kenapa masih bertanya lagi? Bukankah aku sudah puluhan kali mengucapkannya padamu. Bahkan aku yang tidak pernah mendengar darimu. Aku tidak tahu apakah kamu ini mencintai aku atau tidak," jawab Hanan menatap dalam.


"Jika aku tidak mencintaimu, maka aku tidak akan semarah ini pada wanita yang berani menggoda suamiku," jawab Alia yang membuat Hanan tersenyum sumringah.


"Muuaach! Terimakasih, sayangku. Love you more," balas Hanan sembari mengecup kening wanita itu dengan senyum bahagia.


"Aku ingin kamu mengucapkan lagi hingga lima puluh kali," ucap Alia.


"Kamu serius? Tapi malu di dengar oleh orang, Dek," jawab Hanan sembari memperhatikan orang sekeliling mereka yang sedang memperhatikan.


"Aku tidak mau tahu, pokoknya aku ingin dengar," rengek wanita itu sembari mendahului suaminya dengan cemberut.


"Baiklah baiklah. Love you more! Love you more my wife!" seru lelaki itu sepanjang jalan menuju ruangannya.


Alia tersenyum bahagia. Pasangan itu tak peduli lagi dengan pandangan orang-orang yang mendengarnya. Mereka begitu bahagia, sehingga saat Hanan dan Alia sudah sampai di depan ruang praktek, mereka kembali bertemu dengan Nova. Hanan semakin menguatkan suaranya mengucapkan kalimat cinta itu pada sang istri.


"Love you too my husband!" balas Alia dengan lantang. Mereka segera masuk kedalam ruangan itu.


"Dasar pasangan norak!" rutu Nova menatap kesal. Namun, dibalas dengan senyum bahagia oleh Alia.


Jika Alia dan Hanan sedang bahagia, berbeda dengan pasang setengah abad ini. Siang ini sekitar jam dua. Johan mengadakan pertemuan dengan rekan bisnisnya yang baru, yaitu direktur utama perusahaan farmasi yang baru beberapa bulan bergabung dengan rumah sakitnya.


"Eh, Pa. Ada apa?" tanya Hanan sembari menumpuk berkas-berkas yang ada di atas mejanya.


"Papa ingin memintamu untuk menemani Papa bertemu dengan klien. Apakah kamu punya waktu?" tanya Johan.


"Apakah lama?"


"Tidak, mungkin sekitar tiga puluh menit," jawab Johan sembari menilik jarum jam yang ada di tangannya.


"Baiklah, tapi aku tidak ingin ikut campur dalam urusan bisnis. Aku hanya menemani saja," jawab Hanan tak keberatan.


"Oke, tidak masalah. Setidaknya kamu bisa mempelajari dulu."


Ayah dan anak itu segera melangkah menuju parkiran dimana mobil Pak Dirut terparkir. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat ada pasangan yang sedang berjalan menuju parkiran yang sama dengan mereka.


"Sandra!" seru Johan dengan wajah memerah saat melihat istrinya berjalan dengan seorang lelaki yang masih menggunakan jas dokternya. Dan terlihat wanita itu selalu tersenyum tersipu. Entah gombal dan rayuan apa yang sedang di ngiangkan ketelinga istrinya.


"Wow, ternyata Ibu pintar juga memilih pasangan. Lihat, Pa. Mereka begitu serasi, bukan?" ucap Hanan menambah bumbu amarah di dada sang Ayah.

__ADS_1


"Jangan gila kamu, Hanan. Dia itu masih menjadi istri sah aku!" ucapnya sembari mengurak langkah menyongsong pasangan baya itu.


"Sandra!" panggil Johan sehingga pasangan itu menghentikan langkahnya.


"Johan!" ucap Sandra dengan wajah datar.


"Erlangga! Kamu?" tanya Johan menatap dengan lekat.


"Hai, Kawan! Ternyata benar kamulah orang yang akan aku temui? Wah wah... Ternyata kamu benar-benar sudah sukses ya," jawab lelaki itu, yang tak lain adalah teman lama mereka juga saat di panti asuhan dulu.


"Sandra, kenapa kamu tidak cerita bahwa rumah sakit ini adalah milik Johan teman kita?" protesnya pada wanita yang ada disampingnya.


"Ah maaf, aku..."


"Kenapa? Apakah kamu tidak berani mengatakan yang sebenarnya?" potong Johan menatap tajam.


Hanan yang memperhatikan dari kejauhan hanya bisa tersenyum. "Ternyata Pria baya itu bisa juga cemburu. Selamat berjuang, Papa," ucap Hanan sembari menunju mobilnya. Ia sudah firasat bahwa pertemuan ini pasti gagal, di karenakan masalah asmara yang membuat bisnis terabaikan.


"Hei, apa ini? Kalian ada hubungan?" tanya Erlangga sembari menatap pasangan itu silih berganti.


"Ya!"


"Tidak!"


"Hei, ayolah. Ada apa ini? Kenapa sikap kalian membingungkan sekali," ucap lelaki baya itu.


"Erlangga, pertemuan kita aku tunda beberapa hari lagi, karena aku dan Sandra masih ada urusan. Aku akan mengirimkan alamat rumahku nanti melalui Dokter Iqbal," ucap Johan sembari meraih tangan Sandra untuk berlalu dari hadapan Dr. Angga.


"Johan, lepas!" ucap Sandra menghempaskan tangan suaminya dengan kuat. "Kamu apa-apaan sih?"


"Kamu yang apa-apaan! Berani sekali kamu bermain di belakangku. Kamu itu istriku!" tegasnya menyorot tajam.


"Hng! Istri? Ya, istri pengganti yang tak diinginkan lebih tepatnya," jawab Sandra tersenyum sinis.


"Sandra, mau kemana kamu?" Johan meraih tangan ibu dari anaknya itu.


"Lepas, Johan! Aku ingin pulang!"


"Ayo pulang denganku!"


"Tidak mau!"


"Harus mau!"

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2