Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Ungkapan perasaan Angga


__ADS_3

"Dasar lelaki egois, bisanya berlagak acuh seperti itu setelah apa yang dia lakukan padaku," gumam Sandra dalam hati menatap kesal kepergian Johan.


Setelah jam praktek usai, Sandra segera ingin keluar dari ruangannya. Namun, langkahnya terhenti saat menemui Dr. Angga sudah berdiri disana.


"Kamu?" tanya wanita itu sedikit terkejut.


"Ya, aku sengaja datang kesini untuk menemui Johan. Sepertinya dia mengabaikan perjanjian kemaren. Aku coba untuk menghubungi dr. Iqbal untuk menanyakan alamatnya, tetapi katanya tidak ada perintah dari Johan," jelas Angga.


"Oh, temui saja dia," ujar Sandra ingin segera pergi.


"Apakah kamu bisa mengantarkan aku ke ruangannya?" tanya Angga berharap.


"Tetapi aku sedang buru-buru. Kamu tanya saja pada staf yang ada di lobby," ucap Sandra. Entah kenapa ia tak ingin Johan semakin berpikir buruk padanya.


"Ayolah, hanya sebentar saja. Kenapa kamu tega sekali," ucap Angga dengan wajah melas.


Sandra berpikir sejenak, tidak ada salahnya ia mengantarkan Angga ke ruangan Johan. Lagipula sikap Johan pagi tadi membuatnya kesal.


"Baiklah, aku tidak bisa lama. Ayo aku antar."


Angga tersenyum sembari mengikuti langkah Sandra yang menuju lift untuk naik kelantai tiga.


"San, apakah nanti malam kamu ada acara?" tanya Angga sembari mensejajarkan langkahnya.


"Ya, aku ada acara makan malam bersama dengan keluarga. Emang kenapa?" tanya Sandra sedikit memperlambat langkahnya.


"Ah, lain kali saja. Rencananya aku juga ingin mengajakmu makan malam. Tapi jika kamu sudah punya acara tidak apa-apa," jawab Angga paham.


Sandra menghentikan langkahnya, ia menatap Angga dengan seksama. "Ngga, bukannya kamu sudah menikah dan mempunyai anak? Apakah kamu kira aku mau menjadi pengganggu rumah tangga orang?"


"Hahaha..... Sandra Sandra, jika istriku masih ada maka aku juga tidak akan berani mengatakan hal ini padamu. Istriku sudah meninggal empat tahun yang lalu saat mengalami kecelakaan," jelas Angga dengan wajah sendu.


"Ah, maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud membuatmu sedih," sesal Sandra.

__ADS_1


"Its Oke. Dan kamu sendiri kenapa belum menikah?" tanya Angga berbalik menanyakan status Sandra.


"Siapa bilang aku belum menikah. Bahkan aku sudah mempunyai anak," jawab Sandra dengan serius.


"Tetapi dua bulan yang lalu aku pernah bertemu dengan Nora, saat aku menghadiri sebuah seminar yang ada di kota ujung batu. Dan Nora mengatakan bahwa dirimu masih betah hidup sendiri. Apakah itu benar?"


"Kamu bertemu dengan Dr.Nora?" tanya Sandra merasa kaget.


"Ya, kami banyak bercerita tentang dirimu, akhirnya kita bisa bertemu. Dan aku juga benar-benar tidak menyangka bahwa RS ini adalah milik Johan. Ah, waktu begitu cepat berlalu ya, rasanya baru kemarin kita sama-sama menjadi mahasiswa, dan sekarang tak terasa aku sudah menjadi rektor untuk memberi bimbingan pada mereka," ucap Angga panjang lebar.


"Kamu dosen juga?" tanya Sandra yang belum mengetahui profesi teman lamanya itu.


"Ya, selain Dokter, aku juga mengajar di salah satu universitas yang ada di kota ini. Dan perusahaan farmasiku saat ini di kelola oleh putraku yang pertama," jelasnya kembali.


"Tapi, kenapa harus kamu yang datang menemui Johan? Kenapa tidak putramu saja?"


"Karena aku sengaja ingin bertemu denganmu," jawab Angga yang membuat Sandra menjadi sedikit tidak nyaman saat mendengar jawaban dari lelaki itu.


"Untuk apa kamu menemui istriku?"


"Istrimu?" tanya Angga sedikit mengerutkan keningnya.


"Ya, dia istriku. Apakah dia masih mengaku sendiri denganmu?" balas Johan menatap tajam.


"Sejak kapan kalian menikah? Bukankah istrimu baru meninggal? Jangan katakan bahwa kalian berkhianat saat istrimu dalam keadaan sakit?" tuding Angga yang membuat Johan geram.


"Ternyata itu alasanmu mengatakan pada semua teman-teman bahwa kamu masih sendiri, karena kamu sudah menjadi istri simpanan oleh temanmu sendiri. Aku benar-benar tidak menyangka ya, San. Apakah karena dia seorang Pengusaha sukses yang memiliki banyak RS, sehingga kamu rela untuk dijadikan simpanan?"


Kembali kata-kata Angga membuat Sandra tak percaya. Sementara itu Johan menyongsong lelaki itu dan memberikan hadiah beberapa kali dengan kepalan tangannya.


BUGH! BUGH!


"Jangan sekali-kali kau mengatakan hal itu pada istriku jika kau tidak tahu yang sebenarnya!" bentak Johan sembari meraih kerah baju Angga untuk membawanya berdiri. Johan kembali ingin memberi pukulan.

__ADS_1


"Johan, hentikan!" Sandra meraih tangan lelaki itu.


"Hng! Kenapa Sandra? Biarkan saja suamimu melakukannya. Aku akan membawanya ke hotel prodeo, dan setelah itu aku bisa menikahimu secara resmi!" balas Angga dengan senyum sinis sembari menghapus lelehan darrahh yang ada di sudut bibirnya.


"Brengsekk! Berani sekali kau!"


"Johan, sudah hentikan!"


"Tapi dia sudah kurang ajar, Sandra? Biarkan aku menghabisinya!"


"Jangan, Johan! Ayo kita pergi sekarang. Biarkan dia mau bicara apapun." Sandra membawa Johan untuk beranjak dari tempat itu.


"Kenapa, Sandra? Kenapa kamu lebih memilih dia daripada aku? Apakah aku kurang kaya? Aku yang sedari dulu mencintaimu. Aku akan melakukan apapun untuk membahagiakanmu. Tinggalkan dia, dan menikahlah denganku!"


Seketika Sandra dan Johan menghentikan langkahnya. Kata-kata Angga membuat Sandra tidak percaya. Sandra memutar tubuhnya menghadap pada Angga. Dengan perlahan wanita itu mendekatinya.


"Angga, aku rasa aku perlu meluruskan masalah ini padamu. Aku dan Johan memang sudah menikah. Dan semua tuduhanmu tidaklah benar. Kami menikah atas permintaan Mendiang Ratih. Dan pernikahan kami secara resmi. Tolong jangan mengatakan hal buruk lagi tentang aku. Dan maaf untuk perasaanmu itu. Karena kamu datang sudah terlambat," ucap Sandra merasa entah dengan perasaannya saat ini.


Sandra meninggalkan kedua lelaki itu yang masih terpaku disana. Andai saja Angga datang disaat dirinya belum menikah dengan Johan, mungkin ia akan mencoba untuk membuka hati. Tetapi sekarang ia tidak tahu bagaimana perasaan Johan terhadap dirinya.


Lelah mengejar cinta secara sepihak. Namun, ia sulit untuk mengurak janji pada almarhum Ratih. Ia sudah berjanji untuk tidak meninggalkan Johan, tetapi apakah ia mampu mendapatkan cinta lelaki itu?


Sandra memilih duduk di taman yang ada di belakang RS. Wanita yang berumur empat puluh delapan tahun itu menepi sesaat untuk menenangkan perasaannya.


"Aku tahu bahwa Sandra menikah denganmu hanya karena memenuhi permintaan Mendiang istrimu. Tetapi dia tidak mencintaimu. Jika dia tidak bahagia dengan pernikahan itu, maka lepaskan dia. Aku siap memberinya kebahagian yang hakiki!"


Kata-kata Angga membuat Johan tersenyum tipis. "Kamu kira aku akan membiarkan itu terjadi? Kebahagiaan Sandra hanya ada bersamaku. Jadi jangan bermimpi bahwa aku akan melepaskan Sandra untuk dirimu!" tekan Johan dengan senyum sinisnya.


Johan segera berlalu untuk mengejar langkah sang istri. Ia tidak akan membiarkan wanita itu jatuh dipelukan lelaki lain.


Bersambung....


NB. Hah, capek mikirin hubungan ABG tua ini🤭 tapi tinggal beberapa episode lagi tamat ya. Jangan lupa dukungannya 🙏🤗🥰

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2