
Hanan menerima Johan sebagai ayahnya. Namun, ia tak ingin Johan memberikan harta yang bukan haknya.
"Pa, aku tidak bisa menerima pemberian Papa. Biarkan aku menjadi diriku sendiri tanpa melibatkan papa dalam usahaku. Papa cukup memperkerjakan aku sebagai Dokter di RS Papa, itu sudah lebih dari cukup," ucap Hanan.
"Tapi, Nak?"
"Pa, aku mohon tolong penuhi keinginan aku. Percayalah, sampai kapanpun aku akan tetap menjadi anak Papa, tanpa harus memberikan jabatan dan harta. Kehadiran kedua orangtua yang lengkap sudah cukup membuat aku bahagia," ucap Hanan begitu tulus.
Johan tak mampu menahan rasa haru, ia kembali memeluk sang putra. Sungguh anak itu tak tergiur akan harta dan kekayaan yang di milikinya.
"Baiklah, Nak, tapi berjanjilah padaku bila suatu saat kamu membutuhkan pertolongan, maka jangan pernah sungkan mengatakannya," balas Johan melerai pelukannya.
"Baik, Pa." Hanan dan Johan saling melempar senyum. Johan mengusak rambut putranya.
Setelah mendapat persetujuan, Sandra dan Hanan akan kembali ke kota Ujung batu. Rencananya lusa mereka akan bertolak.
"Aku akan mengurus semuanya. Kamu dan Hanan tidak perlu memikirkan apapun. Jika ada kendala kalian bisa hubungi aku," ucap Johan pada Sandra.
"Baiklah kalau begitu, terimakasih. Aku pamit pulang untuk bersiap-siap," pamit Sandra pada lelaki baya itu.
Siang itu juga Hanan dan Sandra pulang untuk berkemas. Ibu dan anak itu sudah berniat untuk melupakan masalalu yang banyak menyimpan kenangan pahit.
"Loh, Ibu dan Mas Hanan sudah pulang?" tanya Alia mendapati suami dan Ibu mertuanya.
"Hmm, kita harus berkemas-kemas, karena besok siang kita akan pulang ke kediaman Ibu," jawab Sandra.
"Oh begitu, baiklah."
Alia dan Hanan segera menuju kamar mereka. Sementara Sandra masuk kedalam kamarnya untuk mem packing barang-barangnya.
Sementara itu di RS, Ratih tak ingin makan dan minum obat. Wanita itu hanya tiduran. Johan merasa cemas melihat keadaannya. Ia mencoba untuk membujuk.
"Ayolah Ratih, makan sedikit saja, karena kamu harus minum obat," ucap Pria itu pada sang istri.
"Aku tidak mau makan apapun, Mas. Aku hanya ingin Sandra yang menemani aku disini," ucap wanita itu masih mogok makan.
"Tidak bisa, karena besok Sandra dan Hanan akan kembali ke kotanya," jelas Johan.
__ADS_1
"Kalau begitu biarkan saja aku mati dengan cepat," timpalnya.
"Astaghfirullah, kenapa kamu bicara seperti itu? Ayo makan sedikit saja." Johan masih menyodorkan sendok yang berisi makanan itu. Namun, wanita itu tetap menolak.
Tak ada pilihan lain, akhirnya Johan terpaksa menghubungi Sandra. Ia sangat khawatir melihat keadaan Ratih, karena kondisinya langsung drop.
Saat Sandra sedang makan malam bersama anak dan menantunya, ia mendapat telpon dari Johan. Wanita itu tak bisa menolak saat Johan mengatakan kondisi Ratih menurun. Mungkin Ratih banyak pikiran sehingga berdampak buruk pada kesehatannya.
"Dari siapa, Bu?" tanya Hanan di sela-sela makannya.
"Dari Papa kamu, katanya kondisi Bu Ratih menurun. Kalau begitu Ibu ke RS sekarang ya, kamu dan Alia teruskan saja makannya," ucap Sandra yang segera menyudahi makannya.
"Biar aku antar, Bu," tawar Hanan.
"Tidak perlu, kamu temani saja Alia. Ibu di jemput supir."
"Baiklah, Ibu hati-hati."
Sandra segera beranjak ke kamarnya sebentar untuk mengambil tas dan menukar pakaian, setelah itu ia segera menuju RS.
Setibanya di RS, Sandra segera menuju ruangan Ratih. Ia melihat wanita itu meringkuk di atas bad pasien itu. Terlihat wajahnya begitu pucat.
"Ya, aku memang bodoh, Sandra, karena kebodohanku membuatmu menderita selama puluhan tahun. Aku tahu kamu adalah wanita yang tegar, kamu tidak pernah menyerah," jawab Ratih menatap sedih pada sahabatnya itu.
"Ayo buka mulut kamu," ucap Sandra menyuapi Ratih makan. Wanita itu tak membantah, ia segera memakannya.
"Sandra, apakah kamu masih marah padaku?" tanya Ratih sembari mengunyah makanannya.
Sandra menatap wanita itu sesaat, lalu kembali mengaduk bubur ayam yang ada di mangkok. "Apakah dengan marah padamu akan mengembalikan momen yang telah hilang itu?" jawab Sandra tersenyum tipis.
"San, aku mohon tolong maafkan aku," lirihnya dengan susah payah menelan makanannya.
"Aku sudah memaafkanmu, aku hanya kecewa saja. Tapi, sudahlah, semua sudah berlalu. Mari lupakan semuanya, sekarang aku sudah menemui putraku. Terimakasih karena kamu telah menjaganya dalam diam," jawab Sandra dengan wajah tenangnya.
"Tidak, jangan berterima kasih padaku, karena tidak banyak yang aku lakukan untuknya. Sebenarnya dulu aku ingin mengadopsinya. Namun, aku takut bila Mas Johan akan mengetahui yang sebenarnya. Tolong maafkan aku, Sandra. Hiks..."
Kembali wanita itu menangis dalam penyesalan. Ia merasa telah menjadi orang yang jahat karena telah tega menyembunyikan anak dari suaminya dengan sahabatnya.
__ADS_1
"Sudahlah, Ratih. Jangan menangis lagi," ucap Sandra mencoba menenangkan Ratih.
"Sandra, berjanjilah padaku bahwa kamu tidak melakukan hal yang sama kepada anak-anakku nanti. Tolong sayangi mereka seperti kamu menyayangi Hanan," ucap Ratih yang membuat Sandra tidak mengerti.
"Hei, kamu ini bicara apa? Apa maksud kamu?" ucap Sandra tak paham.
"Sandra, setelah aku meninggal nanti, menikahlah bersama Mas Johan."
"Apa! Kamu sudah gila? Tidak tidak. Jangan bicara ngawur kamu, Ratih. Jangan sok tahu dengan umurmu. Kamu harus semangat untuk sembuh, dan jangan pernah berpikir bahwa aku akan mengambil posisimu. Aku tidak pernah memikirkan hal itu. Jadi, mulai sekarang kamu harus fokus dengan kesembuhanmu," ucap Sandra dengan tegas.
"Sandra, aku sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit ini, maka dari itu aku ingin menyerahkan segala tanggung jawabku padamu. Tolong menikahlah dengan Mas Johan setelah aku pergi nanti."
"Sudahlah aku tidak ingin membahas hal konyol ini. Aku tidak akan menikah dengan siapapun. Titik."
"Sandra, apakah kamu wanita tidak normal?" tanya Ratih yang membuat Sandra membesarkan matanya.
"Hei, jaga bicaramu. Aku ini normal," balas Sandra menatap jengkel.
"Hahaha... Maaf, aku hanya meragukanmu, karena di usiamu segini masih hidup sendiri," ucap Ratih terkekeh karena melihat ekspresi wajah Sandra.
"Ayo suapan terakhir, setelah itu kamu harus minum obat," ucap Sandra menyodorkan satu sendok terakhir.
"Sandra, kamu tidak memberi jawaban," ucap Ratih masih berceloteh.
"Aduh Ratih, ucapan kamu yang mana lagi yang harus aku jawab."
"Kamu bersedia untuk menikah dengan Mas Johan 'kan?"
"Bukankah sudah berulang kali aku menjawabnya bahwa aku tidak mau."
"Kenapa kamu tidak mau, bukankah kamu juga mencintainya? Bukankah kalian dulu saling mencintai?"
"Kenapa kamu sok tahu begini. Aku tidak pernah ada perasaan apapun dari dulu padanya. Jadi, stop untuk membahas itu lagi."
Sandra bicara begitu yakin agar Ratih percaya. Walau hati kecilnya tak bisa menampik kebenarannya.
Bersambung.....
__ADS_1
Happy reading 🥰