Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Mencobanya 2


__ADS_3

Hanan hanya terpaku, ia mencoba mencerna ucapan sang istri yang mengajaknya tidur satu ranjang. Apakah ini angin surga?


"Dek, kamu tidak bercanda 'kan?" tanya Hanan memastikan sekali lagi bahwa dirinya tak sedang berkhayal.


"Tidak, Mas. Tidurlah disini temani aku," jawab Alia tampak serius.


Seketika senyum lelaki yang berusia tiga puluh tahun itu mengembang sempurna. Hanan segera menjatuhkan bokongnya di atas ranjang.


Kini tatapan dua insan itu telah bertemu, dan irama jantung mereka mulai berdegup tak beraturan. Hanan menggengam tangan Alia dengan lembut.


Jangan ditanya bagaimana perasaan wanita itu saat ini. Keringat dingin membasahi dahinya, wajah terasa panas, telapak tangan bagaikan es batu. Alia berusaha membuang rasa takut dalam hatinya.


Hanan mengecup kening Alia dengan penuh kelembutan. "Ayo sekarang kita tidur ya," ucapnya membawa Alia berbaring.


Alia hanya mengangguk mengikuti pergerakan lelaki itu yang membawanya merebah bersamaan. Hanan berusaha mengendalikan hasratnya yang telah menggebu. Ia tidak ingin membuat Alia takut, biarkan semua mengalir semestinya.


Kini pasangan itu berbaring saling berhadapan. Senyum tipis membingkai di bibir ranum Alia. Tentu saja membuat tangan Hanan refleks mengusap bibir itu.


"Tidur, Dek, jangan membuat jantungku tidak aman," ucap Hanan menatap sayu.


"Memang itu mauku, Mas," jawab Alia masih dengan senyum menggoda.


Hanan begitu gemas mendengar ucapan istrinya. "Kamu sedang menggodaku?" tanya Hanan merangkum kedua pipi Alia.


"Hmm, bisa jadi begitu."


"Jangan memulainya jika hatimu tidak siap," timpal Hanan meraih tangan Alia, lalu mengecupnya.


"Aku sudah siap, Mas. Aku ingin kita menjalani hubungan pernikahan ini semestinya. Aku sudah siap lahir dan batin," jawab Alia serius.


Kembali jantung lelaki itu berdegup kencang saat mendengar pernyataan sang istri.


"Apakah kamu serius, Sayang?" tanya Hanan memastikan.


Alia tak menyahut, tetapi ia segera duduk. Dengan perlahan wanita cantik itu membuka bathrobe yang ia kenakan.

__ADS_1


Hanan terpaku melihat pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. Matanya tak berkedip sedikitpun saat tubuh seksi sang istri hanya di balut dengan pakaian tipis yang terbuat dari sutera itu.


Alia berusaha membuang segala rasa takutnya. Ia meyakinkan hati, entah keberanian dari mana ia dapatkan dihadapan Pria itu.


Alia melemparkan handuk mandi itu kesembarang arah, rambutnya yang masih terikat ia lepaskan hingga tergerai indah. Hanan meresapi aroma rambut wanita itu, dan aroma tubuhnya yang sudah membuat sesuatu dibawah sana berdiri sempurna.


"Kenapa bengong, Mas? Apakah aku terlihat jelek menggunakan pakaian ini? Apakah aku terlihat seperti wanita nakal? Ini bukan aku yang membelinya, tapi..."


"Aku bengong karena terpesona melihat pemandangan surga dunia yang ada dihadapanku, Sayang. Jadi, berhenti mengatakan dirimu jelek. Sungguh dirimu adalah bidadari surgaku, kecantikanmu tak ada yang bisa menandingi," potong Hanan yang membuat wajah Alia merah merona.


Hanan ikut duduk, kini wajah mereka sudah saling berhadapan. Hanan meraih pinggang Alia sehingga mengikis jarak. Kini wajah mereka sudah begitu dekat.


Hanan mengecup bibir Alia dengan lembut. Wanita itu hanya membatu menerima kecupan hangat nan manis. Sungguh terasa begitu memabukkan.


Sentuhan yang diberikan Hanan saat ini sangat berbeda dengan sentuhan paksa yang dilakukannya dulu saat menggagahi Alia secara paksa.


Berawal kecupan itu biasa saja. Namun, lama-lama menjadi luar biasa. Hanan *****4* semakin dalam. Alia hanya membalas semampunya saja, sungguh ini adalah pengalaman pertama baginya tanpa paksaan.


"Mmmh..." Alia memukul dada Pria itu saat merasakan oksigen di rongga dadanya mulai habis.


"Maaf, Sayang," ucap Hanan tersenyum gemas sembari memeluk istrinya dengan penuh kebahagiaan. "Dek, apakah aku sudah boleh melakukannya malam ini?" tanya Hanan dengan lirih di telinga Alia.


"Oh Sayang... Terimakasih." Hanan kembali memeluk erat.


Hanan melerai pelukannya, lalu merebahkan tubuh wanita itu dengan perlahan. Kini posisi Alia sudah berada dibawah kungkungannya. Wanita itu sudah tampak pasrah menerima segala sentuhan dari sang suami.


Hanan kembali mengecup kening, mata, hidung, hingga berhenti di bibir ranum itu. Kembali lum4tan ia berikan. Kini tangannya sudah mulai aktif menyentuh bagian sensitif wanita itu.


Alia mulai terbawa arus gelombang cinta sehingga ia lupa akan trauma yang selama ini bersarang dalam hatinya. Des4h4n kecil mulai keluar dari bibirnya saat bibir Hanan terus menyentuh bagian-bagian tertentu yang bisa membuatnya melayang.


Mendengar suara keramat yang keluar dari bibir sang istri, maka hasrat lelaki itu semakin menggebu. Hanan semakin gencar melakukannya sehingga tubuh indah Alia tak ada yang terlewatkan dari sapuan lidahnya.


Kini kedua insan itu sama-sama telah polos tanpa sehelai benangpun. Alia benar-benar malu saat menatap tubuh perkasa itu. Kembali wajahnya terasa panas memandang benda keramat yang memukaunya.


"Kenapa, Sayang? Apakah kamu takut? Tenanglah, dia tidak akan menyakitimu, malah sebaliknya, yaitu memberimu kenikmatan yang tiada tara,"

__ADS_1


"Mas Hanan..." Alia memeluk dengan rengekan manja saat dirinya tak mampu digoda.


"Apakah sudah bisa kita mulai sekarang?" bisik Hanan sembari menggigit kecil telinga wanitanya.


"Ah.., pelan-pelan, Mas."


"Baiklah, Sayang, aku akan melakukannya dengan pelan."


Hanan mulai membuka kedua paha Alia untuk melakukan penyatuan. Wanita itu hanya memejamkan mata dengan jantung berdebar. Ini kali kedua benda asing itu memasuki dirinya.


Hanan kembali memberi sentuhan-sentuhan kecil untuk merilekskan Alia agar tak terlalu tegang. Saat merasa sudah cukup tenang, ia segera meneruskan misinya untuk mencapai sebuah kenikmatan dunia.


Alia sedikit terkejut saat benda asing itu telah menyatu di tubuhnya. Tangannya refleks mencengkeram pundak Pria itu begitu kuat. Sungguh rasanya luar biasa.


Hanan tersenyum lega setelah cukup lumayan usaha memasukinya. Ia menatap wajah sang istri sembari mengecupnya berulang kali.


"Apakah sakit, Sayang?" tanyanya begitu lembut.


Alia hanya menggelengkan kepala. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Hanan semakin dalam.


"Apakah aku boleh melanjutkan?" tanya Hanan kembali dengan hembusan nafas hangatnya.


"Ya, pelan-pelan ya, Mas," jawab Alia dengan senyum malu.


Hanan mengangguk paham, ia segera menuntaskan hasrat yang telah berada di ubun-ubun. Namun, sebelum mencapai puncaknya, Hanan terlebih dahulu membuat sang istri menuntaskan hasratnya.


Dengan gerakan yang beraturan, Alia merasakan nikmat yang luar biasa. Ia merasakan ada sesuatu yang baru kali ini rasanya sungguh membuatnya mabuk kepayang.


Alia kembali memeluk Hanan dengan erat, bertanda bahwa dirinya telah mencapai puncaknya. Hanan tersenyum bangga karena dapat membuat istrinya terpuaskan.


Kini giliran dirinya yang sudah tak mampu menahan sesuatu yang rasanya ingin meledak. Hanan menambah gerakan sehingga ia mengerang dengan suara klim4ks. Kini tubuh kekar itu sudah ambruk di samping Alia dengan nafas yang belum beraturan.


Hanan tersenyum puas menatap Alia, tangannya meraih tubuh itu untuk masuk kedalam pelukannya. "Terimakasih ya, Sayang," ucapnya sembari mengecup wajah cantik sang istri.


Alia membalas dengan senyuman bahagia karena telah berhasil mengalahkan segala rasa takutnya yang selama ini sehingga membuat mereka menjarak.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2