Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Kedatangan Evi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Alia sudah membangunkan suaminya, karena mereka harus bersiap untuk acara yang akan di selenggarakan hari ini.


"Mas, bangun," ucap Alia dengan suara pelan.


"Hmmm... Masih ngantuk, Dek," gumam lelaki itu masih enggan membuka matanya.


"Mas, ayo bangun! Kita harus bersiap!" ucap Alia dengan nada sedikit keras sehingga Hanan dan Johan segera duduk.


"Ah maaf, Pa. Aku cuma mau bangunin Mas Hanan," ujar Alia merasa tidak enak pada ayah mertuanya karena sudah terganggu tidurnya.


"Tidak apa-apa, Nak. Apakah Ibumu sudah bangun?" tanya Johan sembari mengusap wajahnya.


"Sudah, Pa. Ibu sedang minum teh bersama Sonya dan Shella," jawab Alia.


"Baiklah, kalau begitu Papa ke kamar dulu. Ayo segera bersiap Hanan. Sebentar lagi para tamu akan datang," titah Johan pada anaknya yang masih bermalasan untuk bergerak.


"Baiklah," jawab Hanan lesu.


"Ayo, Mas. Nggak semangat banget wajahnya," omel wanita hamil itu.


"Ya iyalah nggak semangat, semalam aku tuh nggak bisa tidur. Lagian kamu tega banget suruh aku tidur diluar," protes lelaki itu dengan wajah cemberut.


"Ini bukan diluar, Mas. Kamu tidur di ranjang yang tak kalah nyaman," jawab wanita itu dengan nada santai tanpa dosa.


Hanan hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban sang istri. "Nggak merasa bersalah apa?" Hanan segera mengikuti langkah Alia yang berjalan mendahului.


Sementara Johan menghampiri istrinya yang sedang ngobrol bersama kedua anak perempuannya. Kehadiran lelaki itu membuat mood Sandra kembali rusak.


"Kok masih santai disini. Kalian nggak siap-siap?" tanya Johan sembari menduduki kursi bagiannya. Netranya menatap wajah sang istri masih cemberut.


"Iya, bentar lagi, Pa. Kami lagi nunggu MUA datang," jawab Sonya.


"Mana nih kopi buat Papa?" tanyanya yang mencari perhatian istrinya.


"Bikin sendiri," jawab Sandra acuh.

__ADS_1


Tentu saja membuat kedua wanita muda itu saling pandang saat mendengar jawaban sang ibu. Mereka belum menyadari bahwa kedua orangtuanya sedang tidak akur.


"Ibu kenapa? Apakah Papa membuat masalah?" tanya Shella yang mendapat sikut dari Sonya.


"Ah, maksud aku apakah Ibu sedang bad mood?" Shella memperbaiki ucapannya.


"Ya, kehadiran Papamu membuat mood Ibu buruk," jawab Sandra menatap malas pada Pria matang itu.


"Oh, bawaan dedek bayi ya, Bu. Hahaha... Kasihan banget Papa," sambung Shella dengan kekehannya.


Johan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagaimana ia harus menjelaskan kepada kedua putrinya bahwa kemarahan ibu mereka diakibatkan oleh kecurangannya.


"Sudahlah, Ibu ingin bersiap dulu ke kamar," jawab Sandra yang semakin malas duduk berlama-lama disana. Kedatangan ayah anaknya itu membuatnya neg saja.


"Papa juga mau bersiap." Johan mengikuti langkah istrinya.


"Lucu banget ya, Kak. Melihat tingkah mereka," celoteh Shella sembari menghabiskan teh hijau miliknya.


"Kita kapan ya bisa hamil seperti Ibu dan Kak Alia?" tanya Sonya dengan wajah sendu. Sudah tiga tahun menikah, tetapi belum juga di berikan kepercayaan untuk di karuniai seorang anak.


"Sabar Kak. Apa mungkin kita harus meminta Mas Febri dan Mas Halim untuk berhenti sebagai pilot?" tanya Shella.


"Iya sih, Kak. Menjadi pilot adalah impian mereka. Kita berdo'a saja semoga Allah mempercayai kita untuk segera di beri keturunan. Tapi aku belakangan ga pa-pa. Yang penting Kakak dulu. Karena sebentar lagi kita akan mempunyai adik dan keponakan. Jadi aku bisa banyak menghabiskan waktu bersama mereka," ucap Shella yang tampak senang membayangkan hadirinya kedua malaikat kecil itu di tengah-tengah keluarga Johan Lesmana.


"Ya, semoga saja Do'a kita di kabulkan oleh Allah SWT."


"Aamiin..."


Kakak beradik itu mengakhiri obrolan, mereka juga harus bersiap untuk menjadi Tuan rumah dia cara Abang dan Kakak iparnya.


***


Kini acara sudah di mulai. Sesuai tradisi yang ada. Yang pertama siraman dari tujuh kerabat dekat, dilanjutkan acara Brojolan, untuk bertujuan agar bayi lahir dengan selamat. Kemudian prosesi Angreman, yaitu mecah kelapa. Dan di tutup dengan dodol rujak, yaitu menjual rujak.


Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar tanpa ada kendala apapun. Semua kerabat dekat datang menghadiri. Meskipun sekarang istri Johan bukan lagi Ratih anak konglomerat terkaya di kota itu. Namun, keluarga bisa menerima Sandra dengan baik, karena semua permintaan dari almarhum putri mereka.

__ADS_1


Semua datang memberikan Do'a keselamatan untuk Ibu dan janin yang akan lahir nanti. Mereka begitu menyayangi Alia sebagai menantu perempuan di keluarga Johan. Dan ini adalah cucu pertama buat mereka.


Alia begitu terharu atas kasih sayang dari keluarga suaminya yang dapat menerima kehadirannya dengan baik.


Saat mereka sedang menjalani prosesi penutup, terdengar suara seseorang memberikan Do'a tulus untuk Alia dan Hanan.


"Selamat ya, Nak. Semoga diberikan kelancaran saat lahiran nanti," ucapnya dengan suara bergetar.


Alia segera berdiri dengan raut wajah cemas. Masih terbayang bagaimana sadisnya wanita itu saat memberinya racun di makanan dan minumannya.


"Bu Evi!" ucap Alia sembari sedikit bergeser ke belakang tubuh suaminya.


"Alia, Hanan, Mama tahu kalian sangat marah dan kecewa pada Mama. Tapi sungguh Mama minta maaf atas segala kesalahan yang pernah Mama perbuat. Tolong jangan benci pada Mama, Nak," ucap Evi berderai air mata.


Hanan membimbing Alia dengan kepala mengangguk pelan, lelaki itu berusaha untuk meyakinkan sang istri bahwa semuanya baik-baik saja.


"Dek, jangan takut ya. Mama datang kesini dengan niat yang baik. Percayalah, Mama ingin meminta maaf atas segala kesalahannya," ucap Hanan meyakinkan.


Alia berusaha untuk mempercayai, ia berjalan mengikuti langkah Hanan untuk menghampiri wanita yang telah merawat dan membesarkan suaminya.


Evi menatap dengan uraian air mata. Ia segera ingin bersimpuh di kaki anak dan menantunya.


"Mama, apa yang Mama lakukan," ucap Hanan segera meraih kedua bahu wanita baya itu agar kembali berdiri.


"Hanan, Alia. Maafkan Mama... Hiks." Tangis wanita itu pecah dihadapan semua orang yang menyaksikan.


"Mama, aku dan Mas Hanan sudah memaafkan Mama dan Papa," ucap Alia yang tak kuasa menahan air matanya.


"Apa yang dikatakan Alia benar, Ma. Mama jangan seperti ini. Aku dan Alia sudah lama memaafkan Mama," timpal Hanan yang membuat tangis wanita itu semakin pecah.


"Kenapa kalian begitu baik, kalian benar-benar mempunyai hati yang lapang. Sungguh Mama merasa malu, Nak," ucapnya masih tergugu.


Hanan segera memeluk ibu angkatnya yang telah merawatnya penuh kasih sayang seperti Ibu kandungnya sendiri, bahkan ia tak menyadari bahwa wanita itu bukanlah orang yang melahirkannya. Namun, kasih sayangnya begitu tulus.


Evi menangis dalam dekapan putra yang selama ini ia sayangi. Karena ambisi dan keserakahan membuatnya dan suami menjadi gelap mata. Kini wanita itu menangis dalam penyesalan.

__ADS_1


Bersambung...


Happy reading 🥰


__ADS_2