Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Bicara


__ADS_3

"Ayo kita pulang," ajak Johan yang sudah berada di belakang wanita itu.


"Pergilah, aku butuh waktu sendiri," jawab Sandra tanpa menoleh pada sosok lelaki itu.


"Kalau begitu aku akan menemanimu disini." Johan segera duduk disamping sang istri.


"Jo, aku ingin sendiri."


"Aku tidak akan membiarkanmu disini sendiri. Bisa-bisa kamu di temani oleh Angga," sahut Johan yang membuat Sandra menatap malas.


"Berhenti bertingkah seperti anak remaja, Johan!"


"Siapa yang bertingkah seperti anak remaja? Jadi aku harus membiarkan istriku duduk dengan lelaki lain, begitu?"


"Ck, apaan sih kamu." Sandra segera berdiri, dan di ikuti oleh Johan.


Johan mensejajarkan langkahnya dengan sang istri untuk menuju parkiran. Sandra masih enggan untuk diantarkannya. Tetapi karena Hanan sudah pulang terlebih dahulu, maka mau tidak mau perempuan itu terpaksa pulang dengannya.


"Masuk, Sandra!" titah Pria itu saat pintu mobi telah ia bukakan.


Sandra hanya diam mematung, sehingga membuat Johan semakin gemas.


"San, masuklah. Jangan bertingkah seperti anak remaja yang sedang merajuk. Ingatlah sebentar lagi kamu akan menjadi seorang nenek," kelakar Johan yang membuat Sandra semakin jengkel.


Perempuan baya itu segera menduduki bangku bagiannya. Johan tersenyum melihat tingkah sang istri. Ia juga menduduki bangku kemudi, lalu menjalankan mobilnya.


Di perjalanan pulang, kedua insan itu saling diam. Mereka larut dengan pikiran masing-masing.


Johan menepikan mobilnya di sebuah restoran. Ia ingin membawa Sandra untuk makan siang terlebih dahulu sebelum mengantarkan pulang.


"Kenapa berhenti disini?" tanya Sandra tidak berminat untuk turun.


"Kalau berhenti di sini, itu tandanya kita mau makan. Kecuali aku berhentikan mobil ini di sebuah hotel. Itu tandanya kita akan berbulan madu," jawab Johan yang membuat wajah Sandra merona.


"Nggak usah mikir yang aneh-aneh kamu, Johan," protes wanita itu.


"Itu bukan aneh, tapi hal yang wajar. Karena selama kita menjadi pasangan halal, kita belum pernah malam pertama, bukan?" Lelaki itu masih saja menggodanya.


"Johan!" seru wanita itu semakin merona.


"Hahaha... Ayo kita makan dulu, agar energimu kembali pulih untuk memarahiku," ucapnya sembari mengusak rambut sang istri dengan lembut.


Sandra tak mampu bicara lagi, sungguh perlakuan lelaki itu membuat hatinya hampir saja lumer. Ah, diperlukan dengan manis oleh lelaki yang amad dicintai sungguh membuat hormon kebahagiaan meluap-luap. Tapi, tak ingin terlalu berharap, karena ia tidak tahu bagaimana perasaan Johan yang sebenarnya kepadanya.


Sandra tak lagi membantah, ia mengikuti langkah Johan untuk masuk kedalam restoran. Lelaki itu segera memesan makanan dan memesan sebuah meja yang sedikit berada di pojokan. Sepertinya disitu lebih nyaman untuk bicara.

__ADS_1


Cukup lama mereka duduk tanpa bicara apapun. Sandra mengalihkan perhatiannya dengan memainkan ponselnya. Sementara Johan hanya menatap dengan seksama.


"San, aku ingin kita memperbaiki masalah ini. Tinggallah kembali bersamaku," ucap Johan membuka percakapan.


"Aku tidak mau," jawab Sandra acuh. Wanita itu masih fokus dengan ponsel yang ada di tangannya.


Merasa diacuhkan, Johan meraih benda pipih yang ada di tangan sang istri, lalu menyimpannya di dalam saku celananya.


"Johan, kamu apa-apaan sih? Kembalikan ponselku," pinta wanita itu menatap kesal.


"Ambil saja jika kamu tidak berani. Aku tuh ingin bicara serius denganmu."


"Aku dengar apa yang kamu bicarakan, Johan."


"Tapi aku tidak ingin diacuhkan," jawab Johan yang membuat Sandra mendengus kesal.


"Emangnya kamu mau bicara apa sih?" ucapnya sembari menatap malas.


"Aku ingin kita akhiri masalah ini. Aku ingin kamu dan anak-anak kembali tinggal bersamaku. Kita akan memulai kehidupan baru," ungkap Johan dengan serius.


"Aku tidak mau, karena aku tidak ingin hanya menjadi orang asing dirumah itu olehmu. Jika hatimu belum siap menerima kehadiranku, maka lebih baik kita hidup terpisah seperti ini. Aku sangat menyadari bahwa aku tidak pernah mempunyai tempat khusus di hatimu," ujar Sandra sembari memalingkan wajahnya.


"San, aku sedang berusaha untuk itu. Tolong bantu aku agar dirimu menjadi wanita satu-satunya penghuni bilik hatiku setelah kepergian Ratih. Mari kita memulai mengisi hari-hari selalu bersama," ujar Johan dengan serius.


"Aku butuh waktu untuk meyakinkan hatiku kembali. Karena rasa kecewaku begitu dalam. Aku masih ragu dengan ucapanmu. Aku hanya tidak ingin kecewa yang kedua kalinya," jawab Sandra menatap sendu.


"Baiklah, aku akan memberimu waktu untuk memikirkan hal itu. Kalau begitu mari kita makan." Johan menghentikan pembahasan mereka. Ia mengajak Sandra untuk makan.


Selesai makan, Johan mengantarkan Sandra pulang ke kediamannya. Ada yang berbeda, biasanya Johan akan ikut masuk kedalam rumah itu. Tetapi sekarang ia membiarkan wanita itu turun dari kendaraannya sendiri.


Sandra sempat menatap sesaat sebelum kakinya melangkah masuk kedalam hunian yang dikhususkan sebagai rumah dinas oleh suaminya. Sementara Johan hanya menatap dari dalam mobil. Setelah memastikan Sandra masuk, ia kembali menjalankan kendaraannya meninggalkan pekarangan rumah itu.


"Ibu baru pulang?" sapa Hanan yang berpapasan dengannya.


"Ya, kamu sudah dari tadi pulang?" tanya Sandra sembari melepaskan snelli Dokternya.


"Sudah. Oya, Papa mana?" tanya Hanan sembari celingukan mencari keberadaan sang Papa.


"Dia langsung pergi," jawab Sandra datar. Wanita itu segera menuju kamarnya.


"Apakah Ibu dan Papa benar-benar ingin berpisah?" tanya Hanan yang membuat langkah Sandra terhenti.


"Jika itu jalan yang terbaik, kenapa tidak?" jawabnya berusaha bersikap tenang, meskipun hatinya sangat menolak.


"Apakah Ibu sudah memikirkan semuanya? Bukankah selama ini Papa sudah berusaha untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahannya?"

__ADS_1


"Entahlah, ibu tidak ingin membahas hal itu. Ibu mau istirahat dulu," jawab Sandra yang membuat Hanan tersenyum tipis.


"Hmm, baiklah Ibu. Kita lihat saja nanti," gumam lelaki itu sendiri.


Malam ini Alia dan Sandra sudah menyajikan menu hidangan untuk mereka makan malam bersama. Kedua wanita beda generasi itu terlihat kompak dan sudah cantik. Mereka tinggal menunggu kedatangan Johan dan anak-anaknya.


"Sudah siap semuanya?" tanya Hanan yang menghampiri ibu dan istrinya.


"Sudah, Papa dan yang lainnya sudah datang?" tanya Alia pada suaminya.


"Sedang di perjalanan," jawab Hanan sembari mengambil sebuah apel yang ada di meja makan itu, lalu menggigitnya.


"Ibu cantik sekali malam ini," ucapnya sembari mengunyah buah segar itu.


"Kenapa kamu memperhatikan Ibu? Seharusnya Alia yang kamu puji," sangkal Sandra sedikit malu.


"Kalau istriku setiap detik aku puji, Bu. Tapi melihat penampilan Ibu malam ini sangat berbeda. Apakah karena ingin menyambut kedatangan Papa?" goda Hanan dengan menaik turunkan halisnya.


"Sandra hanya menggelengkan kepala, dan segera beranjak dari tempat itu. Ia tak ingin selalu digoda oleh putranya.


"Assalamualaikum...."


Terdengar seruan salam dari luar, Alia dan Hanan segera menjawab salam itu dan menyambut kedatangan kedua adik dan adik iparnya.


"Ibu mana, Kak?" tanya Shella


"Ada didalam, ayo masuklah." Alia membawa pasangan itu masuk.


"Kalian sudah datang?" sapa Sandra segera menghampiri anak-anaknya.


"Ibu, aku kangen sekali," ucap Shella yang segera berhambur masuk kedalam pelukan Sandra.


"Ibu juga kangen sama kalian." Sandra membalas pelukan putri bungsunya.


"Ayo kita makan sekarang. Oya, Papa mana?" tanya Hanan yang mewakili hati Sandra, karena ia tak melihat kehadiran lelaki baya itu.


"Hmm, Papa..."


"Kenapa dengan Papamu?" sambung Sandra begitu kentara.


"Papa tadi mengalami kecelakaan, dan kakinya mengalami cedera. Jadi, Papa tidak bisa ikut," ujar Sonya dengan wajah sedih.


"Apa! Kecelakaan?" ucap Sandra begitu syok mendengar kabar tak mengenakkan itu.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2