
Pagi ini dikediaman utama, Hanan dan adik-adiknya sedang menikmati sarapan pagi. Terdengar suara ucapan salam dari kedua orangtuanya.
"Selamat pagi..." Sandra menyapa anak-anak dan para menantunya yang sedang di ruang makan.
Mereka menjawab dengan serentak. Namun tatapan mereka tak terlepas dari kedua pasangan matang itu sehingga membuat Sandra menjadi sedikit salah tingkah.
"Ada yang aneh?" celetuk Johan pada anak-anaknya.
"Ah tidak. Ayo Ibu dan Papa sekalian sarapan," jawab Alia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Wanita hamil itu cekatan membukakan piring untuk kedua mertuanya.
Sandra dan Johan segera ikut bergabung dengan mereka. Johan memilih duduk disamping Hanan, sementara itu Sandra duduk disamping Sonya.
"Jangan menatapku seperti itu, apakah kamu melihat ada perubahan signifikan terhadap ibumu? Tenanglah, Papa sangat memperlakukannya dengan sangat lembut," ucap Johan berbisik di telinga Hanan.
"Baiklah, tapi aku tidak ingin mempunyai adik lagi," balas Hanan dengan senyum tipis.
"Soal itu Papa tidak bisa janji."
"Ah dasar tua-tua keladi," balas Hanan dengan cibiran.
Johan hanya membalas dengan senyuman penuh arti. Mereka segera meneruskan sarapan bersama yang penuh kehangatan dan kekeluargaan. Kini keluarga itu sudah utuh dan bahagia dengan hubungan kedua orangtuanya sudah membaik.
Selesai makan, Johan membawa anak-anaknya untuk bicara di ruang keluarga. Seperti katanya pada Sandra semalam. Ia ingin menepi sejenak dari rutinitas sehari-harinya.
"Pa, aku bukan tidak mau mengemban tugas yang Papa berikan, tetapi aku masih belum berpengalaman dalam hal itu. Apalagi aku harus memegang beberapa RS. Bagaimana jika aku fokus dengan RS pusat saja terlebih dahulu, dan selebihnya Papa minta asisten kepercayaan Papa untuk mengurusnya," jelas Hanan dengan serius.
"Apakah kamu masih ingin praktek?" tanya Johan.
"Ya, aku akan tetap praktek. Aku masih nyaman menggeluti duniaku sebagai seorang Dokter," jawab Hanan yakin.
"Baiklah jika itu keputusanmu. Kalau begitu mulai besok Papa akan mengadakan rapat di RS. Papa akan menyerahkan tanggung jawab penuh dalam kepemimpinanmu."
"Oke. Oya, kenapa tidak Febrian dan dan Halim saja yang ikut mengelola RS yang lainnya?" tanya Hanan pada kedua adik iparnya.
"Kami sama sekali tidak ada ilmu di bidang kesehatan, Bang. Kami lebih nyaman untuk terbang berkeliling dunia," jawab Febrian apa adanya. Karena tawaran itu sudah sejak lama diberikan oleh ayah mertua mereka. Namun mereka menolak karena tidak yakin dengan amanah besar itu.
Hanan hanya mengangguk paham apa yang di jelaskan oleh kedua adik iparnya. Setelah bersepakat bersama, Hanan dan Alia pamit untuk pulang ke kediaman mereka.
"Loh, kalian kenapa pulang? Kenapa kamu dan Alia tidak tinggal disini saja?" tanya Sandra tak bila putra dan menantunya harus menempati rumah itu. Ia ingin mereka tinggal bersama.
__ADS_1
"Benar yang dikatakan ibumu. Kamu dan Alia harus tinggal disini. Bila kalian tidak tinggal disini, maka kami akan merasa sepi, karena besok lusa adik-adikmu sudah kembali ke Singapore," sambung Johan.
Hanan menatap istrinya untuk meminta pendapat. Alia hanya mengangguk patuh, apapun keputusan suaminya ia akan menuruti.
"Baiklah, tapi kami akan berberes dulu disana. Mungkin besok kami akan kembali lagi kesini," jawab Hanan menyetujui.
Setelah Hanan pulang, Johan dan Sandra segera masuk kedalam kamar. Sandra segera menyediakan pakaian ganti untuk suaminya yang akan ke RS untuk mengadakan rapat penting.
"Ini pakaian ganti kamu, Jo," ucap Sandra sembari menyerahkan kepada suaminya setelah memilihkan stelan kemeja yang menurutnya cocok di kenakan oleh Pak Dirut.
"Terimakasih, Sayang," jawab Johan sembari mencuri sebuah kecupan di pipi Sandra. "Oya, tolong diganti panggilannya dong," ucap Johan merasa tidak nyaman oleh panggilan Sandra yang tak berubah pada dirinya setelah menjadi suaminya.
"Aku mau panggil apa?" tanya Sandra bingung.
"Panggil senyaman kamu saja," jawab Johan sembari membuka pakaiannya, lalu mengenakan pakaian yang telah disediakan oleh wanita itu.
"Baiklah, kalau begitu aku panggil Mas Johan, gimana?" tanya Sandra yang seketika membuat Johan menatap kepadanya.
"Kenapa? Apakah itu panggilan khusus untuk Ratih? Baiklah, kalau begitu biarkan aku memanggilmu dengan yang biasanya," ucap Sandra segera beranjak untuk keluar dari ruangan itu.
"San, tunggu!" Johan meraih pergelangan tangan sang istri.
"Kamu boleh memanggilku dengan panggilan "Mas," ucapnya dengan serius.
"Nggak usahlah, nanti aku cari panggilan yang nyaman," jawab Sandra sudah tak mood lagi.
"Kamu marah?"
"Nggak. Yasudah, aku mau bersiap dulu." Sandra mengakhiri pembicaraan mereka. Ia segera masuk kedalam kamar mandi untuk mengenakan pakaian dinasnya.
Sembari menunggu, Johan membuka layar MacBook nya untuk memeriksa agenda hari ini. Pria matang itu tampak begitu serius mengamati segala file yang masuk ke emailnya.
"Ayo berangkat sekarang," ucap Sandra yang telah siap.
"Sudah siap?" tanya Johan sembari menatap penampilan istrinya yang terlihat sangat cantik di pagi ini.
Pria itu segera menutup layar tipis yang untuk penunjang pekerjaannya. Johan menggandeng wanitanya dengan mesra.
Sementara itu Alia juga sedang sibuk melayani suaminya yang akan bersiap ke RS untuk menyandang status sebagai Dirut RS pusat tempat Pria itu praktek.
__ADS_1
"Mas, nanti pulang jam berapa?" tanya Alia sembari membantu mengenakan kancing kemeja satu persatu di tubuh suaminya.
"Belum tahu, Dek, soalnya banyak yang harus aku pelajari. Mungkin agak sorean," jawab Hanan sembari mengecup bibir Alia dengan spontan.
"Mas, aku boleh datang ke RS nanti siang?" tanya Alia penuh harap.
"Tentu saja, aku sangat senang menunggumu."
"Terimakasih suamiku sayang," ucap wanita itu dengan nada manja sembari memeluk suaminya penuh cinta.
"Baiklah, aku pergi sekarang ya. Baik-baik sayang. Jangan mengerjakan yang berat-berat. Nanti aku minta Bibik sama Pak Joko untuk mengemasi barang-barang kita yang akan dibawa ke rumah utama," pesan Hanan sembari mengecup kening dan bibir Alia sebelum ia beranjak.
"Oke, semangat Paksu!" balas Alia sembari menyalami tangan Hanan dengan takzim.
Sementara itu di perjalanan ke RS, Sandra meminta Johan untuk berhenti di sebuah apotek.
"Jo, berhenti di apotek sebentar," titah Nyonya Johan itu.
"Mau ngapain?" tanya Johan sembari menepikan kendaraannya tepat di depan sebuah apotek.
"Aku mau beli pil kontrasepsi darurat," jawabnya santai.
"Kenapa harus repot-repot beli di apotik? Kamu bisa mengambilnya di RS," jawab Johan.
"Aku tidak mau, bagaimana dengan tanggapan mereka jika tahu bahwa aku mengkonsumsi pil itu," jawab Sandra yang membuat Johan tersenyum.
"Niat banget untuk menggagalkan usahaku," jawab Johan dengan senyum gaje.
"Ck, nggak usah bahas itu lagi. Aku malu, Johan," ucap Sandra menatap malas.
"Ya, baiklah. Kamu tunggu disini, biar aku saja yang membelikan," ujarnya penuh pengertian.
"Kamu serius? Kamu tidak malu beli yang begituan?" tanya Sandra tak percaya dengan kesungguhan lelaki itu.
"Kenapa aku harus malu? Percayalah, aku ini suami siaga untukmu."
"Hehe... Terimakasih ayah dari anak-anakku," ujar Sandra tersenyum bahagia sembari mencubit pipi lelaki itu dengan gemas.
Bersambung...
__ADS_1
Happy reading 🥰