Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Sudah boleh pulang


__ADS_3

"Apa maksud kamu, Johan?" tanya Sandra menghentikan langkahnya.


"Hahaha... Tidak ada apa-apa. Kenapa wajahmu begitu serius?" jawab Johan dengan kekehannya.


"Ck, apaan sih kamu. Nggak lucu tahu!" sarkas Sandra sembari mendahului Johan.


"Aku akan menyelidikinya terlebih dahulu, Sandra. Semoga Firasatku tidak salah," ucap Johan dalam hati.


"Selamat pagi, Dokter Hanan, Alia," ucap Sandra menyapa pasangan itu.


"Loh, Dokter Hendra tidak jadi menggantikan saya?" tanya Sandra karena masih melihat Hendra disana.


"Tidak, Bu dokter, sudah digantikan oleh Dr lain," jawab Hendra yang masih duduk di samping Hanan.


"Bagaimana kondisi Hanan dan Alia?" tanya Dr Sandra pada Hendra.


"Alhamdulillah sudah lebih baik, BuDok," jawab Hendra.


"Benar, saya dan Alia sudah lebih baik. Apakah kami sudah di perbolehkan untuk pulang, Bu Dokter? Karena kata Hendra saya masih harus di rawat. Padahal saya sudah tidak merasakan apapun," keluh Hanan pada dokter senior itu, netranya menatap kesal pada Hendra yang melarangnya untuk pulang.


"Menurut saya ikuti saja, karena dia Dokter yang merawat kamu, maka dia tahu yang terbaik untuk pasiennya," jawab Sandra yang mendapat senyum kemenangan dari Hendra.


"Tapi, BuDok?"


"Sudahlah, Hanan. Kamu ikuti saja saran Dr Hendra," potong Prof Johan.


"Dokter Hendra, mari ikut ke ruangan saya sebentar," ucap Johan yang membuat Hendra segera beranjak mengikuti langkah Pria baya itu.


"Ada apa, Prof?" tanya Hendra.


"Ayo duduklah." Johan mempersilahkan Hendra untuk duduk terlebih dahulu.


"Hen, kamu teman dekat Dr Hanan. Saya ingin tahu tentang masalah Hanan dan kedua orangtuanya. Coba kamu jelaskan pada saya," tutur Johan tampak serius.


"Ah, kalau masalah keluarganya, rasanya saya tidak berani untuk ikut campur, Prof. Lebih baik Prof Johan saja yang langsung menanyakan," jelas Hendra.


"Dr Hendra, saya bukan tidak mau menanyakan secara langsung, tetapi saya mempunyai alasan tersendiri. Maka dari itu saya meminta kerja sama kamu untuk menjelaskan yang sebenarnya kepada saya. Kamu tenang saja. Rahasia ini sangat aman. Saya akan menyimpannya dengan rapat."


Prof Johan masih meyakinkan sehingga Hendra tak dapat menolak dan merasa sungkan. Ia begitu menghargai dan menghormati Dirut RS tempatnya bertugas itu.


"Baiklah kalau begitu, Prof. Saya harap masalah ini hanya kita yang tahu," jawab Hendra sedikit ragu.


"Baiklah, sekarang ceritakan."


"Kejadian yang menimpa Hanan dan Alia di sebabkan oleh orangtuanya. Kedua orangtua Hanan berniat ingin melenyapkan Alia, karena mereka ingin menikahkan Hanan dengan wanita lain. Dan kemarin saya baru mendengar secara langsung bahwa ternyata Hanan bukanlah anak kandung mereka."

__ADS_1


DEG!


Kembali jantung Johan berasa ingin jatuh. Seketika tubuhnya bergetar. Berarti dugaannya memang benar bahwa Bimo Handoyo yang dimaksud Sandra adalah orangtua angkat Hanan. Itu berarti Hanan memang putranya bersama Sandra.


"Hen, kamu lakukan tes DNA. Kamu ambil sampel darah saya, dan Hanan. Tapi ingat. Jangan sampai Hanan tahu dulu soal ini. Saya percaya padamu," titah Johan yang membuat Hendra tak percaya.


"Maksud, Prof Johan?" tanya Hendra memastikan sekali lagi bahwa telinganya tidak salah.


Johan menghela nafas pelan, lalu menceritakan masalah yang sebenarnya pada Hendra. Ia yakin hanya Hendra yang dapat ia percaya untuk hal ini.


"Sungguh saya masih sulit untuk percaya dengan semua ini, Prof, ternyata dunia ini benar-benar sempit ya," balas Hendra.


"Jangan terlalu yakin, Hen. Saya tidak mau nanti kecewa. Lakukan saja perintah saya," titah Johan.


"Baik, Prof, saya akan melakukan tes DNA."


"Baiklah, terimakasih atas kerja samanya."


"Sama-sama, Prof."


Hendra segera keluar dari ruangan Direktur utama RS itu. Dalam benaknya masih bertanya-tanya apakah benar Hanan anak Dokter Sandra dan prof Johan?


"Hah, takdir ini benar-benar tak ada yang bisa menebak," gumam Hendra sembari menuju ruang rawat Hanan.


Hendra melihat Dokter Sandra masih berada di sana sedang berbincang dengan Resha dan Alia. Terlihat wanita baya itu menyukai kedua wanita itu.


"Aku, aku tidak tahu, Bu dokter," jawab Alia bingung menjawab pertanyaan wanita itu. Karena dia tidak tahu pasti kapan mereka menikah dan dimana, karena saat itu kejiwaannya sedang terguncang.


"Belum lama, baru beberapa bulan ini," sambung Hanan, ia tahu bahwa sang istri sulit untuk menjawab pertanyaan itu.


"Yaya... Semoga kalian selalu bahagia ya," Do'a Sandra dengan tulus.


"Aamiin..." Mereka mengaminkan Do'a wanita baya itu.


Saat mereka sedang asyik ngobrol, Hendra masuk membawa peralatan medis untuk mengambil sampel darah Hanan.


"Eh, kamu mau ngapain?" tanya Hanan menjauhkan tangannya dari pegangan Hendra.


"Aku mau periksa darah kamu, Han," jawab Hendra acuh.


"Eh, tumben banget kamu repot-repot ngambil darahh aku, biasanya petugas labor?" tanya Hanan curiga.


"Hmm, baiklah. Sayang, tolong dibantu ambil sampel darah dia, karena dia ingin orang Labor yang melakukannya, maka aku yakin istriku yang cantik ini pasti bisa melakukannya," seru Hendra pada Resha.


"Baiklah. Sebentar ya, Bu," ucap Resha meninggalkan Sandra dan Alia, ia segera menghampiri Hendra dan Hanan.

__ADS_1


Hanan tak bisa bicara apa-apa, ia hanya pasrah saat jarum suntik itu mengambil cairan merah dari urat nadinya.


"Oke, selesai," ucap Resha menyerahkan satu suntikan penuh pada Hendra.


"Baiklah, terimakasih atas kerjasamanya Boss besar," ucap Hendra dengan senyum manis.


"Kesambet darimana kamu? Manggil aku Boss besar," rutu Hanan menatap malas.


"Hehe... Lagi berhayal saja suatu saat nanti kamu menjadi pemilik RS ini," jawab Hendra sembari cengengesan.


"Hah, omong kosong. Udah sana, nggak sekalian Alia di periksa darahnya?" tanya Hanan.


"Nggak, Alia kan sudah sering di periksa. Jadi, dia sudah aman dan tak ada masalah," jawab Hendra yang begitu pandai hingga tak nampak curiga.


Hendra segera membawa sampel darah Hanan untuk di lakukan tes DNA. Ia berharap semoga saja dugaan mereka benar.


Setelah dua hari menjalani rawat inap, akhirnya pasangan itu sudah di perbolehkan untuk pulang. Hanan masih bingung ia harus membawa Alia kemana.


"Dok, kita mau pulang kemana?" tanya Alia sembari memasukkan barang-barang milik mereka kedalam tas ransel sedang.


"Sayang, kita cari rumah kontrakan untuk sementara waktu tidak apa-apa 'kan?" tanya Hanan tampak ragu.


Alia tersenyum. "Tidak apa-apa, Dok. Kenapa wajahmu begitu?" jawab Alia terlihat begitu tenang.


"Apakah kamu tidak keberatan?" tanyanya kembali.


"Tidak sama sekali. Aku ini sudah terbiasa hidup susah. Jadi, kemanapun kamu bawa aku tidak akan pernah canggung," jawab Alia yang membuat Hanan bernafas lega.


"Terimakasih ya, Sayang." Hanan ingin segera memeluk Alia, namun suara batuk seseorang membuatnya urung.


"Prof Johan!" ucap Hanan dengan sungkan. Sedikit heran, karena selama mereka di RS, Johan selalu mengunjungi mereka.


Rasanya sangat aneh bila melihat sikap prof Johan yang tampak begitu perhatian terhadap dirinya dan Alia. Begitu juga Dokter Sandra yang sering membawakan mereka makanan dan membawa Alia ngobrol, sehingga Hendra dan Resha mempunyai waktu banyak untuk berduaan.


Sungguh hal yang langka seorang Dirut RS mempunyai banyak waktu luang demi membesuk salah satu dokternya.


"Kalian sudah mau pulang?" tanya Johan menghampiri mereka.


"Iya, Prof, kata Hendra dan Bu Sandra, kami sudah tak ada masalah lagi, semua hasil pemeriksaan sudah baik," jawab Hanan jujur.


"Baiklah, kalau begitu ayo ikut saya."


"Ikut, Prof?" tanya Hanan tak mengerti.


"Ya, mulai sekarang kamu dan Alia tinggal di rumah saya."

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2