
"Tapi, Prof?" jawab Hanan benar-benar tidak mengerti dengan segala perlakuan baik Pria baya itu padanya.
"Hanan, jangan panggil aku Prof lagi, panggil Papa," potong Johan.
"Ah maaf, tapi, Pa..."
"Tapi apa, Hanan? Kamu dan Alia butuh refreshing untuk menyegarkan otak. Dan kamu perlu meyakinkan hati istrimu agar bisa menerimamu seutuhnya, bukan? Nah, gunakan waktu itu sekarang. Kamu tidak perlu memikirkan pekerjaan, karena pekerjaanmu sudah ada yang menghandle," ujar lelaki baya itu.
Hanan benar-benar masih merasa canggung dengan segala sikap Pak Dirut yang berubah seratus delapan puluh derajat. Apa spesialnya dirinya dari dokter-dokter yang lain, sehingga dirinya di istimewakan? Ah entahlah, mungkin memang suratan takdirnya sedang baik. Atau nasibnya yang menyedihkan sehingga lelaki itu merasa iba.
Hanan masih bengong tanpa menanggapi ucapan Pak Dirut. Dihatinya juga merasa tidak enak. Mungkin Prof Johan memang mengangkat dirinya sebagai anaknya, tetapi, bagaimana dengan istri dan anak-anaknya? Bahkan mereka belum tahu bahwa dirinya dan Alia telah menempati kediaman mereka.
Ah banyak sekali yang sedang di pikirkan oleh Dokter tampan itu. Sejak mengetahui bahwa dirinya tak mempunyai orangtua, maka jiwa perasa Hanan sedikit mencolok di relung hatinya. Ia merasa sungkan dan tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga orang kaya. Hanan takut segala kebaikan yang mereka berikan harus ia bayar seperti yang diinginkan keluarga Bimo padanya.
"Hanan, kenapa bengong? Kamu dengar Papa bicara 'kan?" tanya Johan membuyarkan lamunan Pria itu.
"Ah ya, akan saya pikirkan kembali," jawab Hanan yang segera beranjak kembali masuk kedalam kamarnya.
"Beri kabar Papa bila kamu sudah mempunyai rencana!" seru Johan yang masih berdiri disana.
"Baiklah!" jawab Hanan sembari menapaki anak tangga.
"Maafkan Papa, Nak. Semoga kamu mengerti hal yang sebenarnya. Andai Ibumu tak menyembunyikannya, mungkin nasibmu tidak akan seperti ini," ujar Johan dalam keseorangan.
Johan segera meninggalkan kediamannya untuk menemui Sandra. Ia masih bingung harus berbuat apa.
Hanan masuk kedalam kamarnya, ia mendapati sang istri baru saja selesai mandi. Seketika Alia terjingkat melihat kehadiran suaminya.
"Mas Hanan, kamu tidak jadi ke rumah sakit?" tanya Alia sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Hanan tak menjawab, ia mengambil handuk yang ada di tangan Alia. "Ayo duduk disini, Sayang," ucapnya meminta Alia duduk di depan meja rias. Pria itu membantu mengeringkan rambut panjang wanitanya dengan telaten.
Alia hanya bisa memperhatikan raut wajah suaminya yang tampak begitu serius dari pantulan cermin.
"Sayang, apakah kamu punya keinginan untuk liburan?" tanya Hanan di sela aktivitasnya.
"Liburan?" tanya Alia mengulangi.
__ADS_1
"Ya, katakan kamu mau liburan kemana," timpal Hanan serius.
"Hmm, aku tidak punya rencana. Tetapi, aku hanya ingin ziarah ke makam bayi kita. Apakah kamu mau mengantarkan aku?" tanya Alia menatap dari pantulan cermin yang ada dihadapannya.
"Tentu saja, Sayang. Sekarang kamu siap-siap ya," ucap Hanan sembari mengusak rambut sang istri.
"Kamu tidak jadi ke RS hari ini?" tanya Alia kembali.
"Nggak, Dek. Pak Dirut melarangku."
"Yasudah, kalau begitu aku siap-siap bentar ya. Nanti sehabis ziarah, kita ke rumah Resha ya, Mas."
"Baiklah, Sayang. Aku akan mengantarmu kemanapun kamu mau," jawab Hanan manis sekali.
Sementara itu di sebuah Cafe, Sandra sudah datang terlebih dahulu, ia benar-benar tidak sabar mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Johan.
"Hai, kamu sudah dari tadi? Maaf ya, jalanan agak macet," ucap Johan yang baru saja sampai, dan segera menduduki bangku bagiannya.
"Ya, tidak apa-apa," jawab Sandra sembari menatap penampilan lelaki matang itu, masih terlihat tampan di usianya yang sudah tak lagi muda. Entah kenapa jantungnya masih saja berdegup tak karuan bila berhadapan dengannya.
"Ah belum," jawab Sandra segera mengalihkan pandangannya.
Setelah memesan minum, Sandra segera menanyakan hal yang ingin di sampaikan oleh Johan.
"Jo, apa yang kamu ketahui tentang putraku?" tanya Sandra tak sabar.
"Dia juga putraku, Sandra. Jangan lupakan itu," protes Johan.
"Yaya, aku minta maaf. Sekarang katakan. Apakah kamu sudah mendapatkan informasi tentangnya?"
"Ya, bahkan sekarang dia tinggal bersamaku," jawab Johan dengan serius.
DEG!
Jantung Sandra berasa ingin lompat seketika saat mendengar penjelasan Johan.
"Johan, kamu tidak sedang membohongi aku 'kan?" tanya Sandra masih belum percaya dengan pernyataan lelaki itu.
__ADS_1
"Apakah wajahku seorang pembohong?" timpalnya menyorot tajam.
"B-bukan begitu maksudku. Jika itu memang benar. Ayo sekarang bawa aku bertemu dengannya. Aku benar-benar rindu padanya, Jo," lirih Sandra. Tanpa terasa wanita itu telah menjatuhkan air matanya.
Johan menatap Sandra dengan dalam dengan kedua tangannya bertumpu pada meja.
"Sandra, apakah kamu yakin dia akan menerima kita dengan mudah? Setelah selama tiga puluh tahun tanpa pengasuhan kedua orangtua kandungannya?" tanya Johan tanpa mengalihkan tatapannya.
"Aku, aku tidak tahu, Jo. Tapi aku akan berusaha untuk menjelaskannya. Dia harus tahu bahwa aku tidak pernah berhenti mencari keberadaannya," jawab Sandra tampak pasrah.
Johan menghela nafas pelan. "Baiklah, kalau begitu mari ikut denganku." Johan membawa Sandra ke kediamannya. Wanita itu tampak begitu antusias mengikuti langkah Johan. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan putranya yang sudah puluhan tahun tak ia temui.
"Johan, darimana kamu yakin bahwa dia adalah putra kita?" tanya Sandra di perjalanan.
Johan mengeluarkan ponselnya, lalu menyerahkan pada Sandra. "Kamu baca hasil tes DNA itu," ucap Johan
Sandra mengamati dengan teliti. Seketika matanya membulat sempurna. Saat membaca nama yang tertera.
"Hanan! Johan, apakah ini benar?" tanya Sandra benar-benar tak percaya
"Ya, dialah putra angkat Bimo Handoyo. Saat kamu memberitahuku, maka aku segera mencari tahu," jawab Johan sembari fokus mengemudi.
"Ya Allah, ternyata dia putraku. Hanan, maafkan Ibu, Nak," cicit Sandra kembali menjatuhkan air mata.
Tak berselang lama mobil yang dikendarai oleh Johan telah menepi di halaman rumahnya. Kembali jantung Sandra berdegup kencang, nafasnya tak beraturan Membayangkan saat ia bertemu dengan anak yang selama ini ia rindukan.
"Ayo, Sandra," ajak Johan.
"Jo, kenapa aku segugup ini. Aku takut jika dia akan membenciku, karena aku merasa menjadi Ibu yang tak berguna," ucap Sandra dengan bibir bergetar.
"Sandra, jangan bicara seperti itu. Semua yang kamu lakukan ada alasannya, kamu tidak berniat membuangnya. Sudahlah, bukankah kamu sendiri mengatakan ingin menjelaskan yang sebenarnya?" Johan berusaha meyakinkan wanita itu.
Sandra menghapus air matanya. Ia keluar dari mobil dengan perasaan yang bercampur baur. Dengan mengucapkan bismillah, ia memantapkan hati. Apapun konsekuensinya akan ia terima. Ia berharap Hanan dapat memahami situasinya saat itu.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1