
"Ibu yakin?" tanya Hanan menatap wajah sang ibu dengan dalam.
Sandra mengangguk. "Ya, ibu yakin."
"Baiklah, jika nanti Ibu tidak bahagia, maka beritahu aku. Meskipun ibu dan ayah adalah orangtuaku, tapi aku juga tidak ingin diantara kalian tidak bahagia, karena aku tahu kehadiranku di dunia ini bukanlah karena kalian saling mencintai satu sama lain, tapi karena insiden yang tak di duga," ucap Hanan yang kembali membuat hati Sandra sedih.
Sandra berdiri dari duduknya, lalu menghadap pada putra semata wayangnya. Ia tak sanggup menahan rasa perih dihatinya. Dengan tubuh bergetar ia memeluk dengan erat.
"Tolong jangan katakan hal itu lagi, Nak, Ibu sangat menyayangimu, jangan membuat Ibu selalu merasa bersalah. Sungguh Ibu tidak pernah menyesali kehadiranmu di dunia ini. Karena ibu sangat bersyukur bisa memilikimu. Hanya kamu harta Ibu yang paling berharga dalam hidup ibu," ucap Sandra dengan isakannya.
Hanan segera menghapus air matanya yang tetiba jatuh. "Aku juga bersyukur bisa memiliki Ibu. Aku sangat menyayangi Ibu, maka dari itu aku tidak akan membiarkan Ibu menderita," ucapnya sembari mengusap punggung wanita baya itu dengan lembut.
"Ayo sekarang kita berangkat, Ibu jangan sedih lagi, aku akan selalu ada untuk Ibu."
Sandra mengangguk sembari mengusap kedua pipi putranya dengan senyum tipis.
"Ibu senyumnya jangan begitu, biar terlihat semakin cantik," celoteh Alia membuat ibu dan anak itu terkekeh kecil.
Sandra memeluk anak menantunya yang begitu baik dan selalu setia ada di samping putranya.
"Terimakasih ya, Nak, kamu sudah mau menerima anak Ibu dengan tulus," Sandra mengusap kepala Alia penuh kasih sayang.
"Jangan berterima kasih, Bu, seharusnya aku yang berterima kasih, karena telah memiliki suami yang begitu mencintai aku, dan Ibu mertua yang baik seperti Ibu," jawab Alia sembari menghapus air matanya.
"Sudah, jangan menangis lagi ya. Ayo sekarang kita ke RS. Tadi Papa menghubungiku bahwa mereka sudah menunggu disana," timpal Hanan yang berdiri di tengah-tengah kedua wanita kesayangannya dengan merangkul mereka.
"Baiklah, ayo kita jalan sekarang," sahut Alia yang di ikuti anggukan oleh Sandra.
Keluarga kecil itu segera menuju rumah sakit, dimana tempat itulah yang akan menjadi saksi saat ikrar di tepati.
Kini mobil yang dikendarai oleh Hanan telah memasuki perkarangan RS itu. Sandra kembali di Landa rasa gugup saat kakinya akan melangkah masuk kedalam ruangan itu.
Saat mereka masuk, terlihat diruangan itu Johan telah duduk di samping ranjang Ratih. Dan kedua putrinya juga duduk di sofa. Seorang wali hakim dengan kedua saksi nikah telah duduk di kursi yang tersedia. Dan disana juga ada Resha dan Hendra.
__ADS_1
"Kamu cantik sekali," gumam Ratih tersenyum lembut menatap penampilan sederhana Sandra.
Sandra tak menyahut hanya senyum tipis ia ukirkan untuk menghilangkan sedikit rasa gugup di hatinya. Sementara Johan hanya menatap biasa saja tanpa ekspresi apapun. Penampilan Pria baya itu terlihat sangat biasa saja. Dia hanya menggunakan kemeja dan celana bahan, tak ada yang spesial, sangat terlihat bahwa dirinya sangat tak menginginkan pernikahan itu.
"Apakah sudah bisa kita mulai?" tanya wali hakim pada pasangan itu.
Johan menatap Ratih seakan ia berharap jika wanita itu mencabut kembali keinginannya. Namun, Ratih tersenyum dan mengangguk bahwa dirinya mengizinkan dan sangat menginginkan mereka bersatu.
"Ayolah, Mas, jangan membuat mereka menunggu," ucap Ratih meyakinkan suaminya.
"Kenapa kamu tega sekali, aku tidak ingin menikah lagi," ucap Johan dengan pelan, tetapi masih bisa di dengar oleh Sandra. Wanita itu mencoba untuk tetap tenang menahan segala rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Andai saja bukan Ratih yang memintanya, maka ia akan pergi saat itu juga dan menjauh dari kehidupan mereka.
"Mas, jangan bicara seperti itu. Jangan mengingkari janjimu."
"Tapi janji ini kamu yang buat, bukan aku." Johan masih keukuh dengan pendiriannya.
"Oke, memang aku yang memintamu untuk menikah lagi. Tapi, kamu sudah mengiyakan. Please, menikahlah dengan Sandra," ujar wanita itu memohon dengan wajah melas.
"Baiklah, tapi kamu harus ingat. Aku tidak akan mungkin mencintai wanita lain selain dirimu!" tegas Johan sehingga di dengar oleh semua orang.
"Jangan, Nak," larang Sandra.
Hanan menghela nafas dalam untuk memasok udara sepenuh dada, ia menekankan rasa sabar dalam hatinya.
Johan melepaskan pegangan tangan Ratih, lalu melangkahkan kakinya menuju kursi yang berhadapan dengan Pak penghulu, sementara Sandra juga bergerak perlahan, dengan perasaan tak menentu ia duduk disamping Pria itu.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Pria yang akan mengesahkan pernikahan pasangan itu.
"Siap!" jawab Johan yakin. Namun, tatapannya masih tertuju pada Ratih yang terbaring memperhatikan mereka. Kembali wanita itu tersenyum padanya.
Dengan sekali sentak Johan mengucapkan kalimat sakral itu dengan lancar.
"Bagaimana saksi?" tanya Pak penghulu.
__ADS_1
"Sah!
"Sah!"
"Alhamdulillah..."
Semua yang ada diruangan itu mengucapkan rasa syukur. Sandra menyalami tangan Johan dengan tangan bergetar. Ia tak tahu apa yang ia rasakan saat ini.
Johan hanya memberikan tangannya tanpa membalas kecupan layaknya pasangan suami istri yang baru saja ijab qobul. Sikap Pria itu terkesan menjadi dingin.
Selesai akad nikah, penghulu dan saksi sudah meninggalkan ruangan itu. Kini tinggal keluarga dari Pak Dirut yang masih ada diruang rawat itu. Hendra dan Resha telah dianggap sebagai keluarga olehnya, maka mereka masih bergabung disana.
Sandra menghampiri Ratih yang masih berbaring. Meskipun hatinya terasa sedih dan kecewa atas sikap Johan. Namun, ia mencoba untuk berlapang dada, ia memahami tidak akan mudah bagi pria itu untuk mencintai wanita lain selain wanita yang amad dicintainya.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Sandra.
"Sedikit lebih baik," jawab Ratih sembari mengulurkan tangannya pada Sandra. "Selamat ya, San. Semoga kalian selalu bahagia. Aku titip kedua putriku. Tolong sayangi mereka seperti putrimu sendiri. Aku tahu kamu adalah wanita yang baik dan penuh kasih sayang. Kamu pasti bisa menjadi tempat mengadu dan berkeluh kesah untuk kedua putriku," ucap Ratih dengan nafas sesak.
"Ratih, jangan bicara seperti itu. Kamu pasti bisa sembuh kembali, dan aku tidak akan bisa menjadi ibu sebaik dirimu untuk kedua putrimu," ujar Sandra sembari menggengam tangan Ratih dengan erat.
"K-kamu pasti b-bisa, Sandra. A-aku percaya padamu," jawab Ratih dengan nafas tersengal.
"Hiks, tidak Ratih, aku tidak bisa," tangis Sandra pecah saat melihat wanita itu sudah menghadang sakaratul mautnya.
Johan dan kedua putrinya segera menghampiri diamana istrinya akan meninggalkan mereka untuk selamanya.
"Sayang, kamu pasti bisa sembuh. Tolong bertahanlah demi aku dan kedua putri kita," ucap Johan mengecup tangan ringkih wanita itu.
"Mama, tolong bertahanlah, jangan tinggalkan aku dan kak sonya. Hiks... " Tangis kedua wanita itu pecah.
"M-maafkan aku, sungguh a-aku t-tidak mampu lagi." Seketika detak jantung wanita itu berhenti denyut nadi telah hilang.
Seketika mereka mengucapkan istirja. Itu menandakan bahwa Ratih telah menghadap sang khalik.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰