Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Di ruang praktek


__ADS_3

Johan segera turun dari kendaraannya, dan menyambangi sebuah apotek cukup besar dan lengkap, dan apotek itu juga menerima resep dokter. Sementara itu Sandra duduk manis menunggu Pria kesayangannya untuk memenuhi keinginannya.


"Ah, ternyata bahagia banget punya suami yang penuh pengertian seperti dia," ucap wanita itu dalam keseorangan dengan senyum sumringah.


Tak berselang lama Johan telah kembali dengan sebotol air mineral di tangannya. Pria itu segera menyerahkan pada Sandra.


"Nih, kamu minum sekarang," ucapnya sembari menyerahkan dua butir pil yang telah ia buka kemasannya terlebih dahulu.


"Ini pil apa? Mana kemasannya?" tanya Sandra curiga.


"Ya pil kontrasepsi emergency lah. Kan kamu sendiri yang mau. Kemasannya sudah aku buang ke tong sampah. Buat apa juga kamu tanya itu, yang kamu butuhkan isinya 'kan?" ucap Johan dengan senyum penuh arti.


"Kamu serius?" tanya wanita itu menatap tajam.


"Ya ampun, aku serius, Sayang. Ayo minum sekarang. Jangan sampai terlambat, nanti benih-benih cinta itu bisa tumbuh sempurna," ucap Johan sedikit menakuti agar sang istri segera meminumnya.


Sandra segera memasukkan pil itu kedalam mulutnya, lalu menelan masuk kedalam lambungnya.


"Done," seru wanita itu sembari meneguk air minum yang diberikan oleh suaminya.


"Ok, beres. Besok-besok biar aku saja yang pake pengaman," sambung Johan tersenyum nakal sembari menjawil hidung mancung Sandra.


Hanya lima belas menit pasangan itu sudah tiba di RS. Sandra ikut menemani Johan menuju ruang rapat. Karena segala dewan direksi dan para Dokter-dokter RS itu harus mengikuti rapat penting itu.


Karena ada rapat mendadak, maka para dokter harus menunda jam praktek selama tiga puluh menit. Karena mereka harus hadir dalam rapat penting itu.


Johan memasuki ruang rapat yang ada di lantai tiga di bagian utara. Saat masuk, ternyata semuanya telah menunggu kehadirannya.


Johan segera menduduki kursi kebesarannya. Ia segera membuka topik pembahasan.


"Baiklah, terimakasih semua rekan-rekan yang telah hadir di ruangan ini. Saya selaku direktur utama RS xxx, ingin mengundurkan diri. Karena itu saya sudah mempunyai pemimpin baru untuk RS ini. Yaitu, Putra saya. Dr. Hanan Lesmana. Dialah yang akan mengambil alih tugas saya. Jadi mulai sekarang apapun kendala dan laporan tentang RS ini, maka Hananlah yang akan mengurusnya," jelas Johan pada staf dan jajarannya.


Hanan berdiri saat namanya disebut sebagai pemimpin baru di RS ayahnya. Pria dewasa itu memperkenalkan diri sembari menerima uluran tangan para rekannya yang memberikan ucapan selamat padanya.


"Terimakasih untuk rekan-rekan yang telah menerima saya dengan baik. Semoga kedepannya saya bisa menyesuaikan diri lagi. Dan mengemban amanah besar dari Papa dengan baik," ucap Hanan dengan senyum dan sikap wibawanya.


"Selamat ya, Dokter Hanan. Hopefully it can work well," ucap Dokter Iqbal sebagai wakil direktur RS itu.


"Thank you very much," jawab Hanan sembari bersalaman erat.


Hanya tiga puluh menit rapat di gelar. Kini para staf dan Dokter telah kembali menjalankan aktivitas mereka masing-masing.

__ADS_1


Johan membawa Hanan untuk menuju ruangannya. Dan tentu saja tak ketinggalan Nyonya Johan yang selalu ia bawa.


"Mulai sekarang kamulah yang akan menempati ruangan ini. Selamat bertugas, semoga dalam pimpinanmu membuat kualitas RS kita kedepannya jauh lebih baik lagi," ucap Johan menyerahkan ruangan tempat ia bekerja selama ini.


"Aamiin... Semoga saja, Pa."


"Apakah hari ini Papa sudah tak ingin lagi menempati ruangan ini? Setidaknya mengajari hal yang belum aku mengerti," ucap Hanan yang melihat Papa dan ibunya hendak keluar dari ruangan itu.


"Jika ada yang kamu tidak mengerti, kamu bisa tanyakan via online," jawab lelaki itu tersenyum santai.


Hanan menatap kedua orangtuanya silih berganti. Terlihat sedari tadi tangan Johan tak terlepas dari pinggang Sandra.


"Kalian sedang mabuk cinta?" celetuk Hanan begitu gemas melihat tingkah ABG tua itu. Benar-benar mengalahkan dirinya yang masih tergolong muda.


"Jangan tanyakan hal itu lagi, Hanan. Biarkan Papa dan ibumu mengulang kisah lama yang selama ini sempat terabaikan. Kami ingin menikmati masa-masa yang tertinggal," jawab Johan sembari mengecup pipi Sandra di depan putranya.


Hanan hanya bisa menggelengkan kepala. "Baiklah, semoga adikku segera launching," ujar Hanan menggoda pasangan yang sedang dimabuk kepayang itu.


"Apaan sih kamu, Hanan. Ibu sudah tak berminat lagi untuk mempunyai bayi," jawab Sandra tak suka mendengar ucapan anaknya.


"Benarkah? Tapi Papa terlihat begitu semangat," balas Hanan menatap raut wajah ayahnya yang sumringah.


Sandra juga ikut menatap wajah Pria yang ada di sampingnya. "Apaan kamu senyum-senyum begitu? Pokoknya aku tidak mau," tegasnya menatap kesal.


"Papa tidak sedang PHP 'kan?" tanya Hanan curiga dengan gerak gerik ayahnya.


"Gimana ya, terpaksak! Habisnya ibumu begitu keukuh dengan pendiriannya. Sedangkan Papa masih pengen nambah adikmu satu lagi. Papa pengen punya bayi laki-laki, agar nanti ada temanmu yang akan mengelola segala usaha kita," ucap Johan seakan membenarkan tuduhan Hanan.


"Dasar licik," cibir Hanan tersenyum senjang.


"Hahaha... Do'akan usaha Papa berhasil dan endingnya tidak menjadi masalah oleh ibumu," ucap Johan dengan kekehannya.


"Ya, baiklah. Semoga apa yang Papa harapkan tersemogakan," jawab Hanan dengan Do'a tulus.


Johan tersenyum senang sembari menepuk pundak putranya. "Terimakasih atas pengertianmu. Kamu benar-benar putraku yang bijaksana."


Hanan hanya tersenyum tipis. Ayah dan anak itu segera keluar dari ruangan Dirut. Hanan menuju ruang prakteknya. Sementara Johan menyambangi ruang praktek sang istri, yaitu poli penyakit dalam.


Saat Johan masuk kedalam ruang praktek sang istri, ia melihat Sandra sedang memeriksa pasiennya yang berbaring di bad pemeriksaan.


"Prof Johan!" seru perawat yang melihat kehadiran orang nomor satu di RS itu.

__ADS_1


"Sus, berikan filenya pada saya. Sekarang keluarlah," titahnya pada sang perawat.


"Baik, Prof.'


Perawat itu segera keluar dari ruangan itu. Sementara Sandra masih fokus dengan pemeriksaannya pada si pasien.


"Mari silahkan duduk kembali, Pak," ucap Sandra dengan senyum ramah.


"Terimakasih, Dok." Pasien laki-laki itu segera duduk kembali di kursi yang berhadapan dengan Sandra.


"Menurut pemeriksaan saya, Bapak mengalami tuberkulosis, yaitu infeksi saluran pernapasan yang di sebabkan oleh adanya bakteri Mycobacterium," jelasnya pada sang pasien.


"Apakah penyakit ini berbahaya, Dok?"


"Jika segera di tangani maka insyaallah dapat kita obati secara dini. Saya akan memberikan obat yang akan Bapak konsumsi untuk jangka satu minggu. Setelah obat itu habis, Bapak kembali kontrol, nanti kita cek kembali," jelas Sandra dengan serius.


"Baik, terimakasih Bu Dokter," ucap lelaki itu tersenyum ramah. Netranya menatap kagum kepada wanita yang ada dihadapannya.


Johan mengamati lelaki itu dengan wajah tidak suka saat melihat istrinya yang di pandang begitu lekat oleh pasiennya.


"Baik, ini resep obat untuk Bapak bawa ke farmasi. Apakah ada yang ingin Bapak pertanyakan lagi?" tanya Sandra berusaha untuk membuat para pasiennya nyaman dengan pelayanannya.


"Ah, begini, Bu Dokter. Apakah saya bisa meminta nomor Bu Dokter? Agar saya bisa menanyakan secara langsung bila ada hal yang tak saya mengerti," ucap pasien itu.


"Maaf, Pak. Rumah sakit kami telah mengadakan layanan untuk konsultasi secara online melalui sebuah aplikasi. Maka Bapak bisa gunakan cara itu. Dan kami tidak mengizinkan pemberian nomor pada pihak pasien. Jika terlalu penting maka bisa membuat janji melalu pihak pendaftaran terlebih dahulu," sambung Johan dengan tegas.


"Ah baiklah, Pak. Kalau begitu saya permisi."


"Ya, mari... Semoga cepat sembuh," jawab Johan berusaha tetap ramah lingkungan.


"Jo, kamu sejak kapan disana?" tanya Sandra yang baru menyadari.


"Itu tidak penting. Sekarang kamu berdiri," titah Johan yang membuat Sandra bingung.


"Maksud kamu? Suster mana?" tanyanya tak melihat ada wanita muda yang tadi mendampinginya.


"Aku sudah menyuruhnya pergi. Sekarang kamu yang pegang ini." Johan memberikan file pasien yang antri di luar.


"Johan, kamu apaan sih?"


"Jangan banyak tanya, Sayang, kamu yang ambil peran suster. biar aku yang melakukan pemeriksaan terhadap para pasienmu. Setelah tugas kita selesai, kita harus segera berkemas. Aku sudah pesan tiket pesawat," ujar Johan yang membuat Sandra tak habis pikir.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2