Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Bertemu Ratih


__ADS_3

Malam ini pasangan itu tidur dengan nyaman saling memberi kehangatan. Entah berapa kali mereka mengulangi sehingga membuat mereka lelah dan tidur dengan nyenyak.


Pagi telah menjelang, Alia bangun terlebih dahulu. Wanita itu merasakan seluruh tubuhnya pegal dan remuk.


"Ya ampun, gini amad rasanya," keluhnya sembari meregangkan otot-ototnya.


Alia melihat Hanan yang masih begitu pulas. Wajah tampan itu semakin mempesona. Perlahan tangannya mengusap pipi Hanan dengan lembut dan senyum terukir di bibir tipisnya.


"Mas, bangun. Ayo mandi dan sholat," ucapnya masih mengusap wajah Pria dewasa itu.


"Hmm... Udah jam berapa, Sayang?" jawab Pria itu menggeliat malas dengan mata yang masih terpejam.


"Sudah jam lima, Mas, nanti waktu sholatnya kelewatan."


Hanan membuka matanya, senyum manis ia ukirkan untuk kekasih halalnya. Pria itu bangun, lalu memeluk Alia dan mengecup seluruh wajahnya.


"Kenapa wajahmu kuyu begitu?" tanya Hanan tersenyum nakal.


"Ish, pake nanya kenapa lagi. Ini semua karena kamu," jawab Alia menatap malas.


"Hahaha... Gitu amad, siapa suruh dirimu membuatku candu," jawab Hanan dengan kekehannya.


"Udah ah, aku mau mandi dulu," ujar wanita itu pura-pura cemberut, ia segera ingin berdiri, tetapi tangan Hanan menahannya.


"Ayo sini, biar aku yang gendong." Hanan segera menggendong tubuh seksi itu.


"Mas, aku bisa jalan sendiri. Aku tidak mau mandi bareng," tutur Alia meronta ingin diturunkan.


"Kenapa tidak mau, Dek?"


"Nggak mau, nanti kamu rusuh," jawabnya menatap malas.


"Hehe... Nggak, Sayang. Asalkan dirimu tidak tergoda," jawab Hanan dengan kekehan kecil.

__ADS_1


"Janji ya, Mas?" tekan Alia.


"Iya, aku janji." Hanan meneruskan langkahnya menuju kamar mandi.


Kini pasangan itu mandi bersama saling membantu menyabuni pada bagian-bagian yang tak bisa di jangkau. Hanan menepati janjinya, mereka benar-benar mandi, dan tak ada terjadi adegan dewasa disana.


Selesai mandi, Alia menyediakan pakaian untuk ibadah suaminya. Karena Hanan sudah terbiasa ibadah di masjid berjamaah.


"Berangkat ke masjid dulu ya, Dek," pamit Pria itu sembari mengecup kening sang istri.


"Iya, hati-hati." Alia menyalami dengan takzim.


Selesai sholat subuh, Alia segera menuju dapur untuk menyediakan sarapan. Wanita itu tampak begitu semangat.


"Wah, kayaknya pagi ini sarapannya spesial nih," seru Hanan yang sudah berpakaian rapi. Rencananya Hanan akan mulai bertugas kembali, rasanya sudah lama sekali ia meninggalkan pekerjaannya.


"Iya, pagi ini aku masak nasi goreng spesial untuk kamu. Tapi, kok kamu udah rapi, Mas? Kamu mau kerja?" tanya Alia sembari menata hidangan.


"Iya, aku mau mulai praktek lagi, Dek," jawabnya sembari menduduki bangku bagiannya.


"Kayaknya ibu masih di kamar deh, Mas. Mungkin Ibu kecapean, jadi agak telat bangun. Biar aku coba panggil sebentar ya," sahut Alia. Namun, langkahnya terhenti karena orang yang dibicarakan sudah menghampiri mereka.


"Selamat pagi kesayangan Ibu, maaf ya Ibu telat bangun," ujarnya tersenyum manis sembari mengecup pipi anak dan menantunya. Memang wanita baya itu tadi malam sulit menemui kantuknya karena gelisah membayangkan pertemuannya dengan Ratih hari ini. Ada rasa cemas yang tak berkesudahan. Ia takut jika Ratih mengetahui yang sebenarnya, dan ia tidak mau dikatakan perusak hubungan Johan dan Ratih.


"Tidak apa-apa, Bu, ayo Ibu duduklah. Hari ini aku buat nasi goreng spesial untuk sarapan kita," ucap Alia sembari menarik kursi untuk sang Ibu mertua.


"Masya Allah, kayaknya enak banget nih. Kamu selain cantik, juga pintar masak rupanya," puji wanita itu pada anak menantunya.


"Ah Ibu bisa aja." Alia tersenyum malu sembari mengisi piring mereka.


"Kamu mau tugas, Han?" tanya Sandra pada putranya.


"Iya, Bu, aku juga mau bicara dengan Prof Johan agar mengizinkan aku pindah ke RS yang sama dengan Ibu," jawab Hanan yang sedikit terdengar aneh saat dia kembali memanggil lelaki baya itu dengan sebutan "Prof Johan"

__ADS_1


"Hanan, kenapa kamu memanggilnya dengan sebutan itu?" tegur Sandra.


"Kenapa? Apakah ada yang salah? Ya, aku tahu dia adalah ayah biologisku. Tapi, hukum agama kita menjelaskan bahwa anak yang hadir diluar nikah tidak bernasab. Aku menyadari hal itu, maka aku tidak akan mengganggu ketenangan Keluarga beliau. Biarkan beliau tetap bahagia dengan keluarganya. Aku cukup bahagia bersama Ibu dan istriku," jelas Hanan yang membuat hati Sandra bagaikan tercubit.


"Maafkan Ibu ya, Nak. maaf atas kesalahan yang Ibu lakukan sehingga hadirnya dirimu tanpa nasab," lirih Sandra mengehentikan suapannya.


"Jangan merasa bersalah seperti itu, Bu, aku tidak menyalahkan Ibu maupun Prof Johan, karena semuanya tanpa kalian rencanakan. Sudahlah, aku tidak mau membahas hal itu lagi. Ayo sekarang habiskan makanan Ibu. Nanti kita terlambat," ucap Hanan menyudahi pembahasan mereka.


Sandra hanya mengangguk pelan. Ia segera menghabiskan sarapannya, walaupun tak bisa ditampik bahwa hatinya selalu ngilu bila membahas masalalu itu.


***


Pagi ini Sandra dan Hanan sudah mulai beraktivitas seperti semula. Hanan sudah mulai sibuk dengan para pasien-pasiennya yang tak lain adalah para Ibu-ibu hamil, dan lain sebagainya yang bermasalah dengan organ dan rahim.


Sedangkan Sandra masih sibuk menangani para pasiennya yang menderita bermacam penyakit dalam. Meskipun ia masih berstatus sebagai Dokter pengganti bagi rekannya yang sedang cuti. Namun, wanita yang berusia empat puluh sembilan tahun itu tetap bertanggung jawab penuh dan sangat sabar mendengarkan segala keluhan para pasiennya.


"Dok, pagi tadi ada pasien baru yang rawat inap masuk jam lima pagi," jelas perawat sembari menyerahkan filenya.


"Oh, apakah pasien sudah diagnosa penyakitnya?" tanya Sandra belum membuka map yang ada dihadapannya.


"Sepertinya sudah, Dok," jawab perawat itu segera undur dari ruangan wanita baya itu.


Sandra segera membuka file itu untuk membaca riwayat penyakit pasien barunya. Seketika matanya membelalak saat membaca nama pasien itu.


"Ratih, kenapa dia minta aku yang merawatnya?" gumam wanita itu dalam kesendirian. Kembali jantungnya berdegup kencang. Entah kenapa Sandra selalu saja berada dalam ketakutan. Sebenarnya apa yang ia takutkan? Karena Hanan hadir sebelum mereka menikah. Dan selama ini ia sudah berusaha menghilang dari kehidupan mereka.


Sandra berusaha mengatur nafasnya agar lebih tenang sebelum ia menemui wanita yang dulunya juga pernah akrab dengannya. Setelah merasa cukup tenang, Sandra segera menunju kamar rawat istri Dirut RS itu.


Dengan langkah pasti Sandra menuju ruangan VVIP itu. Ia berusaha menekan segala rasa takutnya. Ia meyakinkan hati bahwa dirinya bukanlah wanita perusak rumah tangga orang. Ia akan bicara pada Johan agar segera bisa kembali ke tempatnya semula bersama Hanan dan Alia. Tujuan utamanya ialah untuk menemui putranya yang hilang. Dan kini ia sudah bertemu, maka ia harus segera meninggalkan kota itu agar tak ada kesalahpahaman diantara mereka.


Sandra membuka pintu kamar itu dengan perlahan. Terlihat seorang wanita sedang berbaring menghadap ke arah dinding.


"Selamat pagi..."

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2