Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Menikah


__ADS_3

"Mas, menikahlah dengan Sandra, tolong penuhi permintaanku," lirih wanita itu dengan suara lemah.


"Ratih, kamu ini bicara apa? Kenapa kamu meminta hal yang tak mungkin bisa aku lakukan!" ucap Johan dengan tegas.


"Kenapa, Mas? Bukankah kamu dan Sandra dulu saling mencintai?"


"Bicara apa kamu ini, Ratih. Pokoknya aku tidak bisa!" tekan Johan dengan tegas.


Seketika hati Sandra terasa perih. Ternyata benar bahwa Johan tidak pernah mencintainya.


"Ratih, apa yang dikatakan Johan benar. Kamu tidak perlu melakukan hal itu. Percayalah, kamu pasti akan segera sembuh," sambung Sandra.


Ratih menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak Sandra, kamu dan Mas Johan harus menikah. Tolong penuhi permintaanku untuk terakhir kalinya," jawab Ratih masih menginginkan kedua insan itu untuk menjadi pasangan halal.


"Aku tidak mau!" Johan segera meninggalkan ruangan itu dengan hati gusar. Bagaimana mungkin ia menikah dengan wanita lain, sementara istrinya dalam keadaan kritis.


Kini hanya tinggal Sandra dan Ratih yang ada di dalam ruangan itu. Sandra tak tahu harus bagaimana menyikapi hal seperti ini.


"Sandra, aku mohon tolong bicara dengan Mas Johan agar dia mau menikah denganmu. Sungguh aku ingin mati dengan tenang," ucap Ratih yang membuat Sandra tak habis pikir dengan keinginan wanita itu.


"Ratih, kamu tidak perlu melakukan hal itu. Aku juga tidak ingin Johan merasa terpaksa."


"Tapi kamu sudah berjanji denganku, Sandra, kamu jangan mengingkarinya."


Sandra tak bisa bicara lagi. Bagaimana ia bicara pada Johan. Wanita baya itu menghela nafas pelan penuh rasa frustasinya.


"Baiklah, nanti aku coba untuk bicara dengan Johan." Akhirnya Sandra menyanggupi, meskipun hatinya sangat menolaknya. Namun, ia sudah berjanji akan memenuhi keinginan wanita itu.


Johan memilih duduk di taman yang ada di RS itu untuk menepi sesaat. Sungguh ia tak pernah berpikir bahwa Ratih akan memintanya untuk menikahi Sandra.


Sandra menghampiri lelaki itu yang sedang duduk melamun seorang diri. Langkahnya menjadi ragu untuk mendekat. Namun, permintaan Ratih membuatnya harus bicara dengan Johan.


"Kamu disini?" sapa Sandra sembari duduk di samping Johan.


"Aku tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Ratih," ucap Johan menghela nafas berat.


"Johan, sebenarnya aku juga keberatan menerima permintaan Ratih, tetapi, aku tidak tega untuk menolaknya," ujar Sandra meminta pengertian lelaki itu.


Johan menatap wajah wanita yang ada di sampingnya dengan dalam. "Apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu?"

__ADS_1


"Demi memenuhi keinginan Ratih, aku bersedia. Tapi kamu tidak perlu khawatir, kita tidak perlu melibatkan perasaan di pernikahan itu. Aku tahu bahwa hatimu hanya untuk Ratih. Dan mana tahu setelah kita menikah, Ratih bisa kembali sembuh, dan kita juga bisa akhiri pernikahan itu," ucap Sandra yang terdengar senjang.


"Baiklah, tapi bagaimana aku menjelaskan kepada anak-anak?" tanya Johan tampak bingung.


"Ayo sekarang bicarakan pada Ratih," ajak Sandra memberi solusi.


Wanita itu berasa menjatuhkan harga dirinya saat ia meminta seorang lelaki untuk menikahinya. Ia kembali berkorban untuk Ratih, yaitu anak dari orang yang telah membuatnya menjadi sukses dalam menggapai cita-cita.


Saat mereka ingin beranjak untuk kembali ke ruangan Ratih, terdengar ponsel Johan berdering. Pria itu menilik siapa orang yang menghubunginya. Johan sedikit terkesiap saat melihat nama Putri bungsunya yang menghubungi.


"Ya, Nak?"


"Papa dimana? Aku dan kak Sonya sudah disini," ucap Shella.


"Maksud kamu?" tanya Johan tidak mengerti.


"Aku dan kak Sonya sudah di ruangan Mama," jawabnya yang membuat jantung Johan semakin berdegup tak beraturan.


"Ah baiklah, Papa akan segera kesana." Johan segera memutuskan panggilan dari putrinya.


"Kenapa?" tanya Sandra.


"Kedua putriku sudah berada di ruangan Ratih," jawab Johan sembari menghela nafas dalam.


"Tidak. Apakah mungkin Ratih?" tanya Johan bingung.


"Sudahlah, ayo temui mereka sekarang." Sandra membawa Johan untuk kembali ke ruang rawat Ratih.


Setibanya mereka di ruangan itu, Sandra tak kalah terkejut saat menemui Hanan dan Alia juga ada disana. Sandra juga melihat dua orang wanita yang masih muda, tentu saja ia sudah firasat bahwa mereka adalah putri Johan dan Ratih.


"Kenapa kalian datang tidak mengabari Papa?" tanya Johan sembari memberikan tangannya.


"Maaf, Pa, ini semua Mama yang meminta. Apakah Papa dan Bu Sandra hari ini juga akan menikah?" tanya Sonya berwajah datar.


Johan menghela nafas kasar, ternyata ini semua telah direncanakan sejak jauh-jauh hari oleh Ratih. Ia menatap istrinya yang tersenyum lembut.


"Sejak kapan Mamamu merencanakan semua ini?" tanya Johan pada kedua putrinya.


"Dua hari sebelum Papa datang menjemput Mama di Singapura. Mama sudah menceritakan semuanya kepada kami. Ternyata kami mempunyai seorang Kakak laki-laki," jelas Sonya sembari menatap Hanan.

__ADS_1


Johan dan Sandra saling pandang. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa Ratih sudah mengatakan kepada kedua putrinya.


"Maafkan Papa, Nak," ucap Johan dengan suara tercekat.


"Papa tidak perlu minta maaf, semula kami memang merasa kecewa. Namun, kami menyadari bahwa itu semua bukanlah keinginan Papa dan Bu Sandra. Kami sudah menerimanya, Pa."


"Sonya dan Shella sudah menerima, bagaimana dengan dirimu, Nak? Apakah kamu merestui ayah dan ibumu menikah?" tanya Ratih pada Hanan yang sedari tadi hanya diam tanpa ekspresi.


"Semuanya aku serahkan kepada ibu, aku tidak ingin ibu merasa terpaksa nantinya," jawab Hanan menatap sang ibu. Pria itu dapat merasakan bahwa hati wanita yang telah melahirkannya sedang tidak baik-baik saja.


"Kamu jangan khawatir, Nak, ibumu sudah menyetujuinya, benar kan, Sandra?" tanya Ratih.


"Ah ya, t-tentu saja," jawab Sandra gugup.


Setelah sepakat, akhirnya Ratih meminta Sandra dan Johan menikah malam itu juga di RS. Sandra tidak tahu apakah ia harus bahagia atau sedih, karena bisa menikah dengan lelaki yang selama ini ia cintai. Namun, yang membuat hatinya sedih, karena Johan tidak mencintainya.


Malam ini Sandra sudah mengenakan pakaian pengantin sederhananya, dengan dibantu oleh Alia.


"Masya Allah... Ibu cantik sekali. Terlihat masih muda," seru Alia tersenyum girang sembari memperbaiki makeup ibu mertuanya.


Sandra hanya tersenyum tipis, jantungnya berdegup tak beraturan. Rupanya seperti rasanya saat menjadi pengantin. Ditambah lagi ia akan di halalkan oleh lelaki yang selama ini ia simpan rapi dalam relung kalbunya.


"Apakah sudah siap?" tanya Hanan yang sudah berada di ambang pintu.


"Sudah, lihat Ibu sangat cantik, Mas," ucap Alia pada suaminya.


"Benarkah?" Hanan segera mendekat pada sang ibu. Pria itu berdiri di belakang Sandra.


"Wow, very beautiful. Ayah pasti terpesona," goda Hanan sembari merundukkan tubuhnya, lalu meletakkan dagunya di pundak ibunya.


"Jangan bicara seperti itu, ayahmu tidak akan terpesona, karena baginya yang tercantik itu adalah, Bu Ratih," gumam Sandra sembari mengusak rambut sang putra.


"Apakah ibu tidak yakin dengan pernikahan ini?" tanya Hanan sembari memperhatikan raut wajah Sandra dari pantulan cermin.


"Apakah kamu kira ibu tega mengurak janji yang telah di sepakati?"


"Tapi untuk apa bila Ibu nantinya tidak bahagia. Aku tahu Ibu hanya tidak tega menolak permintaan Bu Ratih sehingga ibu mengorbankan kebahagiaan ibu sendiri," ujar Hanan merasa iba.


"Hei, kenapa wajahmu sedih begitu. Tenanglah, selagi kamu dan Alia masih bersama ibu, maka ibu akan selalu bahagia," jawab Sandra mencoba membesarkan hati putranya.

__ADS_1


Bersambung.....


Happy reading 🥰


__ADS_2