Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Keputusan Sandra


__ADS_3

"Hanan, Sandra, jangan pergi! Baiklah, aku minta maaf!" ucap Johan saat Hanan menuntun tangan ibunya untuk meninggalkan kediaman itu.


"Tidak perlu meminta maaf, Pa. Jika kehadiran Ibuku tak dihargai, maka aku tidak akan membiarkannya menjadi bodoh dihadapan Pria yang selama ini dicintainya!" balas Hanan menatap marah.


"Hanan, apa maksudmu? Kami tidak pernah ada hubungan apa-apa sedari dulu. Kami hanya berteman sedari kecil," ucap Johan yang di balas dengan senyum senjang oleh Hanan.


"Hng! Mungkin itu menurut Papa, tapi tidak dengan perasaan ibuku. Tentu saja Papa tidak pernah tahu apa yang dia pendam selama ini. Karena Papa hanya berfokus dengan cinta sejati Papa, yaitu anak konglomerat yang membuat Papa menjadi sukses!"


"Cukup, Hanan! Jangan melibatkan Ratih dalam hal ini!" ucap Johan sedikit meninggikan suaranya.


"Tentu saja aku melibatkannya, karena dialah sumber dari penderitaan Ibuku. Bahkan Ibu rela hidup sendiri hanya untuk berharap cinta dari Papa, tapi lihatlah sekarang, bahkan saat sudah menjadi istri dari Bapak Johan Lesmana-pun Ibuku tidak bahagia..."


"Cukup, Hanan! Cukup, Nak. Hentikan perdebatan ini!" potong Sandra yang tak mampu menahan sesak di dadanya.


"Tidak, Bu! Papa harus tahu sebesar apa rasa cinta yang Ibu miliki untuk dirinya."


"Tidak, itu semua tidak benar, Hanan. Apa yang dikatakan Papamu memang benar, kami tidak mempunyai perasaan apapun," sangkal Sandra yang membuat Hanan terkekeh kecil.


"Sudah cukup membohongi diri Ibu sendiri selama ini. Apakah ibu tidak capek? Aku sudah tahu semuanya, Bu," jawab Hanan yang membuat mata Sandra membesar.


"Hanan, kamu?"


"Ya, maafkan aku, Bu. Aku telah membaca segala coretan tinta yang Ibu tuang di buku diary itu. Semua tentang, Johan dan Johan. Tapi lihatlah sekarang, apakah lelaki yang selama ini ibu cintai memperlakukan Ibu dengan baik?" tanya Hanan yang membuat Sandra tak mampu menahan air matanya.


Sementara itu Johan hanya terpaku mendengar segala pernyataan yang di kemukakan oleh anak lelakinya.


"Ayo sekarang kita pulang. Alia, ayo pulang!" Hanan membawa Sandra dan Alia keluar dari rumah mewah itu.


Johan dan yang lainnya hanya terdiam sepi tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun.


Di perjalanan pulang Sandra hanya diam dengan lelehan air mata yang masih setia menetes. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Apakah ia harus menyerah begitu saja? Tapi rasanya begitu sakit berharap balasan cinta pada orang yang tak menginginkannya.


"Ibu, jangan sedih. Kalau Oma sedih, nanti dedek bayinya juga ikutan sedih," ucap Alia sembari menaruh tangan ibu mertuanya di perutnya yang masih datar.


"Apa! Kamu hamil, Alia?" tanya Hanan dan Ibunya hampir bersamaan.


Wanita cantik itu tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku belum yakin sih, tapi rasanya aku sedang hamil, Mas, karena aku sudah telat beberapa minggu," jawabnya tersenyum gaje.

__ADS_1


Sandra menghapus air matanya. "Dasar anak nakal, bisa-bisanya kamu memberi kami harapan yang belum pasti," ucap Sandra mengusak rambut panjang anak menantunya itu dengan kekehan kecil. Sejenak ia bisa melupakan kesedihannya.


Hanan yang sedang fokus mengemudi, ia juga tersenyum gemas melihat tingkah istrinya. Memang beberapa hari ini tingkah istrinya itu lebih manja dan sering malas-malasan.


Dikediaman Pak Dirut, suasana tampak hening. Sonya dan Shella tak berani untuk menyapa sang Papa. Begitu juga para suami mereka. Terlihat sekali bahwa lelaki baya itu sedang gusar.


Johan tak menyentuh makanan yang ada di meja makan. Ia segera beranjak meninggalkan anak-anaknya disana. Hatinya menjadi entah saat mendengar segala ungkapan perasaan Sandra, walaupun kata-kata itu dilontarkan dari mulut putranya sendiri. Tapi, Sandra tak membantah saat Hanan mengatakan sejujurnya.


Apakah benar Sandra sudah memiliki perasaan sejak lama? Ah entahlah, kepala lelaki baya itu mendadak berdenyut memikirkan masalah yang ada.


Sudah beberapa hari berdiam diri dirumah, pagi ini Sandra sudah kembali bersiap untuk tugas. Wanita itu berusaha untuk mendengarkan segala nasehat putranya. Ia harus bisa mengendalikan perasaannya yang tak bertuan itu.


"Pagi...," sapanya pada anak dan menantunya.


"Pagi kembali, Bu. Wah, pagi ini Ibu terlihat cantik sekali," seru Alia.


"Ibu mau kemana?" tanya Hanan sembari memperhatikan penampilan sang ibu sudah rapi dan cantik.


"Ibu mau ke RS. Sepertinya sudah cukup untuk memikirkan ucapanmu," jawab Sandra sembari menduduki sebuah kursi yang berhadapan dengan putranya.


"Seperti katamu. Ibu akan mengabaikan hal yang membuat hati ibu sakit. Tenanglah, Ibu akan baik-baik saja," jawabnya dengan yakin.


"Ibu yakin? Ibu tidak akan membohongi perasaan Ibu sendiri 'kan?" tanya Hanan kurang yakin.


"Ibu yakin, Nak. Ibu akan buktikan bahwa ibu bisa untuk menghapus perasaan ini. Sekarang prioritas Ibu hanya kamu dan Alia. Tapi, jangan meminta Ibu untuk mengabaikan adik-adikmu. Ingatlah, Hanan. Darah lebih kental daripada air. Ini hanya tentang perasaan Ibu yang tak terbalaskan, tetapi kamu tidak boleh membenci ayah dan adik-adikmu. Sampai kapanpun kalian adalah saudara," nasehat Sandra pada anaknya.


Hanan menghela nafas dalam. "Baiklah, tapi Ibu harus janji padaku untuk tidak menyiksa batin Ibu lagi. Aku akan mencarikan Ibu seorang lelaki tampan dan yang baik," ucapnya yang membuat Sandra gemas.


Wanita itu terkekeh geli mendengarnya, lalu mengusak kepala putranya. "Dasar anak nakal. Untuk saat ini Ibu tidak butuh siapapun. Ibu akan fokus dengan pekerjaan dan menimang cucu, itupun jika benar Alia sedang hamil," jawab Sandra.


"Ibu, ayolah. Jangan terlalu berharap, kemaren aku hanya bercanda untuk menghibur Ibu saja," sambung Alia tampak cemas.


"Hahaha... Kenapa wajahmu melas begitu? Tenanglah, feeling seorang Ibu itu tidak pernah salah. Nanti minta suamimu memeriksa agar apa yang Ibu sangkakan menjadi nyata," ucap Sandra yang membuat Hanan dan Alia saling pandang.


"Benarkah? Darimana Ibu tahu? Aku saja yang Dokter kandungan tidak begitu peka," timpal Hanan.


"Hanan, Ibu dulu saat hamil kamu persis seperti Alia. Ibu tidak merasakan apapun, Ibu suka makan dan ngemil. Dan Ibu juga suka sekali tidur. Lihatlah tubuh Alia sudah semakin berisi," jelas Sandra.

__ADS_1


"Semoga saja apa yang kita harapkan menjadi kenyataan. Kalau tidak, aku akan berusaha lebih giat lagi," ujar lelaki itu yang mendapat cubitan kecil dari sang istri.


"Apaan sih kamu ngomong begitu sama Ibu," ucap Alia begitu geram.


"Awwhh, sakit, Dek. Nyubitnya semangat banget." Pria itu meringis menahan perih akibat belaian halus yang diberikan Alia.


Sandra hanya terkekeh. "Sudah sudah, ayo kita sarapan. Nanti kita telat ke RS."


Sementara itu Johan tak bersemangat melakukan apapun, waktu sudah beranjak siang. namun, ia masih betah menyendiri di bilik sembari mengingat ucapan anak-anaknya yang merasa kecewa atas sikapnya pada Sandra.


Sudah beberapa hari ia tak mendapatkan kabar apapun dari wanita yang berstatus sebagai istrinya. Ia ingin menanyakan kabarnya pada Hanan saat di RS, tetapi urung karena putranya itu tak menunjukkan sikap bersahabat. Pria itu tampak acuh dan dingin saat dirinya menyapa.


Johan segera bangkit dari tempat duduknya, lalu bersiap untuk pergi. Rencananya ia ingin menemui Sandra untuk meminta maaf.


Sesampainya di kediaman itu, Johan tak menemukan siapapun disana. Rumah itu sepi. Mendadak pikiran kacau. Apakah Hanan telah membawa Sandra pergi?


Johan segera menghubungi nomor istrinya, namun tak ada jawaban. Akhirnya ia memutuskan ke RS untuk menemui Hanan.


Setibanya di RS, netranya menatap wanita yang sedang ia cemaskan berjalan bersama seorang perawat untuk melakukan visit pagi.


"Sandra!" panggil Johan dengan langkah lebar menyongsong sang istri.


"Johan!" kembali jantung wanita itu berdebar saat berhadapan dengan lelaki itu. Sungguh begitu besar pengaruh kehadiran Pria itu. Namun, Sandra sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak lagi berharap.


"San, ayo kita bicara," ucapnya lebih lunak dari yang biasanya.


"Maaf, aku sedang sibuk," jawab Sandra acuh.


"Hei, aku yang punya RS ini. Siapa yang berani menegur dirimu?" ucap Johan yang dengan angkuh.


"Dan aku ini hanya seorang dokter yang bekerja di RS ini, maka aku harus bekerja profesional dan aku harus bertanggung jawab dengan pekerjaanku. Permisi!" Sandra segera berlalu dari hadapan lelaki itu.


Johan hanya termangu saat mendengar ucapan Sandra. Kenapa sikap wanita itu berubah seratus delapan puluh derajat?


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2