
Setelah melalui proses pemakaman, kini jasad Ratih telah di kebumikan. Johan masih betah duduk bersimpuh dihadapan pusara merah itu.
"Pa, ayo kita pulang, Papa jangan terlalu larut dalam kesedihan. Sekarang Mama sudah tenang, karena Mama sudah tak merasakan sakit lagi," ucap Sonya meraih tangan sang ayah untuk membawanya pulang. Pria itu terlihat sangat kehilangan. Sementara Hanan dan Sandra hanya menatap dari jarak beberapa meter.
Dengan pelan Johan berdiri, lalu melangkahkan kaki mengikuti langkah kedua putrinya. Sementara Sandra dan Hanan masih berusaha untuk tetap sabar menemani lelaki itu.
Setibanya dikediaman mereka, Johan segera masuk kedalam kamarnya. Hatinya kembali lara saat menatap ranjang dimana tempat sang istri selalu berbaring disana.
"Kenapa kamu begitu cepat meninggalkan aku, Ratih. Aku tidak tahu bagaimana diriku tanpamu nantinya," gumam lelaki itu dalam keseorangan.
***
Malam ini adalah malam ketiga keluarga itu mengadakan yasinan dengan warga setempat. Selesai acara, Hanan membawa sang ibu untuk pulang ke kediaman mereka.
"Bu, ayo kita pulang," ajak Hanan.
"Pulanglah, Nak. Ibu tidak mungkin meninggalkan ayahmu dalam keadaan berduka seperti ini," jawab Sandra yang membuat Hanan tak habis pikir.
"Tapi, Bu?"
"Tidak apa-apa, kamu pulanglah bersama Alia. Percayalah, ibu akan baik-baik saja," ujar Sandra meyakinkan sang putra.
"Ibu yakin?" tanya Hanan.
"Ya, ibu yakin."
Hanan tak bisa bicara apapun lagi. Ia segera membawa Alia untuk pulang ke kediaman mereka. Saat Hanan dan Alia hendak keluar dari rumah itu, mereka berpapasan dengan Sonya.
"Abang dan Kak Alia mau kemana?" sapa wanita itu dengan senyum ramahnya.
"Kami pulang dulu," jawab Hanan datar.
"Kenapa tidak tidur disini saja?"
"Tidak, terimakasih." Hanan segera membawa Alia pergi.
__ADS_1
Sonya hanya menatap kepergian sang kakak. Ia merasa bahwa Hanan belum bisa menerima dirinya dan Shella sebagai adiknya. Atau lelaki itu tidak setuju bila ayah mereka menikah dengan Bu Sandra.
Sandra membuatkan secangkir kopi hitam untuk suaminya, lalu menuju kamar dimana Johan masih betah disana.
"Bu, aku sudah membeli makanan. Kita makan bareng ya," ucap Shella yang berpapasan dengan ibu sambungnya itu.
"Ah baiklah, ibu panggil Papamu dulu ya," jawab Sandra dengan senyum hangat seorang Ibu.
"Hmm, baiklah. Aku tunggu ya." Wanita itu segera berlalu menuju meja makan.
"Maaf, apakah aku boleh masuk?" tanya Sandra saat berdiri diambang pintu yang sudah terbuka setengah.
Johan menatap sekilas. "Masuklah," jawabnya singkat sembari meraup wajahnya dengan lembut.
"Ini aku buatkan kamu kopi," ucap Sandra sembari menaruh cangkir kopi itu diatas meja yang ada dihadapan Johan.
"Terimakasih." Lelaki itu kembali menjawab seperlunya saja.
"Kamu belum makan sedari pagi, ayo kita makan dulu. Shella telah membeli makanan untuk kita makan bersama," ajak Sandra.
"Jo, ayolah. Kamu tidak boleh larut seperti ini dalam kesedihan. Aku tahu kamu sangat kehilangan, tapi Ratih juga akan sedih bila melihat keadaan kamu seperti ini."
"Keluarlah, Sandra. Tinggalkan aku sendiri," jawab Johan yang kembali membuat hati wanita itu terasa ngilu. Namun, ia mencoba untuk tetap sabar.
"Baiklah, jika kamu ingin sesuatu katakan padaku." Sandra segera berlalu dari kamar lelaki baya itu.
Sandra menuju meja makan untuk bergabung dengan kedua putrinya. Wanita itu terlihat tenang meskipun hatinya sedih.
"Bu, Papa mana?" tanya Sonya.
"Ah, Papa masih belum mau makan. Dia bilang ingin ngopi dulu. Ayo kita makan duluan. Nanti biar ibu yang menyediakan makanannya," jawab Sandra bersikap baik-baik saja.
"Bu, maafkan sikap Papa bila membuat Ibu sedih," ucap Sonya. Entah darimana wanita itu tahu, mungkin sesama wanita, maka instingnya tak bisa dibohongi.
Sandra tersenyum sembari menggengam tangan wanita itu. "Ibu tidak apa-apa, Nak, karena Ibu memahami. Papa hanya perlu waktu. Wajar bila dia merasa sangat kehilangan, karena Mamamu adalah wanita yang paling dicintainya."
__ADS_1
"Terimakasih ya, Bu, terimakasih sudah banyak berkorban untuk almarhum Mama. Aku berharap keluarga kita akan kembali utuh. Tapi, sepertinya Bang Hanan tidak menyukai kami," ucap Sonya dengan wajah sedih.
Sandra tersenyum lembut. "Abang kamu tidak seperti itu, mungkin dia sedang lelah. Percayalah, justru dia yang merasa tidak pantas untuk menjadi kakak kalian," jawab Sandra pada kedua wanita itu.
"Kenapa tidak pantas? Kami justru bahagia saat Mama bercerita bahwa kami mempunyai seorang Kakak laki-laki, jadi kami merasa ada yang melindungi," timpal Shella.
"Sudah jangan pikirkan soal itu. Percaya sama Ibu, semua akan berjalan semestinya. Abang dan Papa hanya butuh waktu saja." Wanita baya itu berusaha meyakinkan kedua putrinya.
"Baiklah, kalau begitu mari kita makan," ucap Sonya mengakhiri pembicaraan mereka.
Bila Sandra sedang berbaur dengan kedua anak sambungnya, berbeda dengan Hanan yang malam ini sulit menemui kantuknya.
Hanan bangun dari pembaringan, ia menatap sang istri yang telah terlelap begitu pulas. Tangannya terulur mengusap kepala wanita yang dulu pernah ia sakiti sehingga membuatnya mengalami guncangan jiwa.
Hanan mengecup kening dan bibir Alia dengan lembut, setelah itu memperbaiki selimut agar tidurnya semakin nyama.
Hanan berjalan menuju balkon kamarnya. Hembusan angin malam terasa sangat dingin. Pria itu duduk sembari menatap lurus kedepan. Kembali ia mengingat tentang sang ibu.
Ternyata hal itu yang membuat lelaki berumur tiga puluh tahun itu tak bisa memejamkan mata, ia memikirkan ibunya yang begitu sabar dalam menghadapi sikap sang ayah. Apakah benar bahwa ibunya itu memang mencintai ayahnya sejak lama?
Hanan segera berdiri dari duduknya, ia kembali menutup pintu balkon. Pria itu menuju kamar Sandra. Ia harus mencari tahu sesuatu.
Hanan sedikit ragu untuk membuka lemari pakaian ibunya. Namun, rasa penasaran mendorongnya untuk mencari sesuatu. Hanan mencari-cari di dalam lemari itu, tak ada petunjuk apapun yang ia dapatkan. Tetapi saat ia hendak menutup pintu lemari itu kembali, netranya melihat sebuah laci kecil.b
Hanan segera membuka laci itu. Ia menemukan dua benda yang terlihat sebuah album dan diary. Hanan mengambilnya, lalu duduk di ranjang sang Ibu.
Pertama ia membuka album kecil itu, dan memperhatikan foto-foto yang ada disana. Terlihat jelas gambar ibu dan ayahnya. Dan diantara foto-foto kedua orangtuanya, ia juga melihat ada seorang wanita yang sudah ia kenal, yaitu ALM Bu Ratih.
Hanan segera membuka diary sang Ibu. Buku curhatan itu terlihat sudah begitu jadul. Hanan membaca coretan tinta yang di tuang oleh sang Ibu.
Seketika Pria itu terpaku saat menemukan kalimat-kalimat yang membuatnya tak percaya. Ternyata ayahnyalah yang membuat ibunya betah hidup sendiri. Apakah karena itu ibunya rela berkorban demi melihat sang ayah selalu bahagia bersama wanita lain yang dicintainya. Sementara dia rela memendam perasaan itu sendiri, begitu besar rasa cinta itu sehingga dia tidak memberi kesempatan lelaki lain untuk menempati hatinya.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1