Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
ENDING


__ADS_3

Johan masih berlagak acuh, meskipun ia ingin sekali memeluk wanita itu. Namun, ia berusaha untuk menahan keinginannya demi membuat hati Istrinya luluh.


"Johan, kenapa kamu diam saja? Aku mual bau asap rokokmu!" Sandra meraih rokok yang masih terselip di jari lelaki itu, lalu memadamkan dengan cara menginjak dengan sendal yang di gunakannya.


"Hei, kenapa kamu membuangnya?" tanya Johan masih mendrama.


"Aku tidak suka. Kenapa kamu tidak memikirkan aku. Kamu bilang kamu akan menyayangi aku, tapi lihatlah. Kamu bahkan mengacuhkan aku. Padahal saat hamil seperti ini aku butuh kasih sayang. Aku berasa sama saja saat hamil Hanan. Hiks... Aku benci sama kamu!"


Sandra segera meninggalkan Johan. Dan tentu saja lelaki itu tidak akan membiarkan sang istri larut dalam kesedihan. Johan mengikuti langkah Sandra masuk kedalam kamar mereka.


Johan melihat Sandra menangis sembari menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Dengan perlahan ia berbaring di sampingnya, lalu memeluk dengan erat.


"Aku sangat menyayangi kamu, aku cinta. Mana mungkin aku tega menyakiti perasaanmu. Tetapi apa yang aku lakukan hanya untuk meluluhkan hatimu. Aku sungguh kewalahan menghadapi sikapmu saat marah. Kenapa kamu begitu keras sekali," ucap lelaki itu mendekap dengan sayang.


Sandra mengubah posisi tidurnya menghadap pada Johan. "Aku marah karena kamu tukang bohong," rutunya dengan tangan tak bisa diam. Sandra memukul dada lelaki matang itu.


"Tapi, aku bohong karena kebaikan kita, Sayang," jawab Johan dengan tenang.


"Mana ada demi kebaikan bersama. Ini kebaikan kamu. Karena kamu mengingkari janji kita."


"Itu janji kamu, Sayang. Aku dari awal sudah katakan ingin mempunyai anak lagi darimu. Kenapa kamu tidak bisa memenuhi keinginan aku. Apa yang membuatmu malu? Aku mampu memenuhi segala kebutuhan kamu dan anak-anak. Meskipun kita mempunyai anak puluhan, aku pastikan kalian tidak akan pernah kekurangan. Kamu tahu Hanan hanya anak lelaki satu-satunya, apakah kamu tidak memikirkan bagaimana anak itu lelahnya mengurus RS sakit kita yang sudah memiliki enam cabang.


Johan menjabarkan alasan kenapa ia ingin mempunyai anak lagi di usia mereka yang sudah tak lagi muda.


Sandra terdiam tak berani menatap wajah serius lelaki itu. Sebenarnya apa yang dikatakan Johan benar. Hanan butuh saudara lelaki untuk membantunya mengurus RS sang suami.


"Tapi bagaimana jika nanti yang lahir perempuan?" tanya Sandra ragu.


"Kalau begitu kita usaha lagi hingga dapat anak laki-laki," jawab Johan santai.


Sandra benar-benar gemas mendengar ucapan lelaki itu. Johan tersenyum nakal sembari melabuhkan kecupan di keningnya.


"Ck, apaan sih kamu ngomong begitu." Sandra kembali hendak memutar tubuhnya.


"Eh, jangan marah lagi. Jangan sampai aku menghukummu malam ini," ujar Johan menahan tubuh istrinya agar tetap di dalam dekapannya.


"Kamunya nyebelin," jawab wanita itu memberengut.


"Hahaha... Baiklah, Sayang. Aku janji, apapun yang Allah berikan, mau anak perempuan atau laki-laki. Kita tetap bersyukur dan aku tidak akan memintamu untuk mempunyai anak lagi. Tapi please, jangan di permasalahkan lagi tentang kehamilanmu saat ini. Nanti anak kita sedih karena ibunya tidak senang dengan kehadirannya," ucap Johan yang membuat Sandra mengangguk cepat.


Sebenarnya wanita itu bukan tidak bahagia dengan kehadiran calon anak yang ada di rahimnya, tetapi ia hanya merasa kesal dengan sang suami yang telah mencuranginya.


"Baiklah, aku tidak akan membahas hal ini lagi. Tapi kamu harus jawab pertanyaanku," ucap Sande menyetujui.


"Pertanyaan apa, Sayang?"

__ADS_1


"Kenapa kamu merokok? Sejak kapan kamu jadi pecandu?"


"Aku tidak candu dengan rokok, tetapi aku candu padamu."


"Johan, aku serius!" kesal wanita itu menatap malas.


"Haha... Aku serius, apakah aku terlihat pecandu rokok? Itu rokok sequrity yang aku minta. Aku sudah katakan bahwa itu semua untuk meluluhkan hatimu," jelas Johan yang membuat Sandra menggeleng kecil.


"Dasar tukang drama," rutunya.


"Biarin, yang penting usahaku berhasil. Sudah jangan pikirkan. Ayo kita tidur sekarang." Johan kembali memeluk wanitanya dengan penuh kasih sayang.


Sandra membalas pelukan hangat dan paling nyaman. Bagaimana mungkin ia mampu pisah ranjang dengannya. Sungguh pesona lelaki matang itu membuatnya tak berdaya.


***


Tak terasa waktu dua bulan begitu cepat berlalu. Hari ini adalah hari yang paling bahagia bagi pasangan muda itu.


Akhirnya Alia dan Hanan dapat merasakan menjadi orangtua untuk anaknya yang baru saja lahir ke dunia ini.


"Terimakasih, Sayang." Hanan mengecup wajah istrinya berulang kali.


"Alhamdulillah, apakah bayi kita baik-baik saja, Mas?" tanya Alia yang baru saja sadar dari obat bius, karena wanita itu melahirkan melalui Caesar.


"Alhamdulillah, bayi kita sehat tanpa kurang suatu apapun."


"Mas, apa orangnya?"


"Tentunya teman aku," jawab Hanan tersenyum bahagia.


"Cowok, Mas?"


"Hmm, dia sangat tampan seperti aku," jawab lelaki itu begitu pede.


"Aishh, kenapa percaya diri sekali. Dia itu putraku juga."


"Haha... Iya aku percaya bahwa keturunanmu sudah tak diragukan lagi." Hanan kembali memberi ciuman gemas pada wanita cantik itu.


"Selamat malam!" seru Ibu dan Papa baru saja datang. Sebenarnya tadi mereka sudah datang saat Alia menjalani operasi.


"Ibu, Papa!" sahut Alia tersenyum bahagia.


"Selamat ya, Nak. putramu tampan sekali," ucap Ibu sembari mengecup kedua pipi anak menantunya.


"Terimakasih, Bu. Aku juga sangat bahagia. Semoga nanti persalinan Ibu berjalan lancar," ujar Alia.

__ADS_1


"Aamiin..."


Mereka mengaminkan. Tetapi pasangan baya itu sudah memutuskan untuk kembali ke Swiss, karena sudah sepakat untuk melahirkan disana.


"Selamat ya, Nak. Papa selalu mendoakan agar cucu Papa sehat selalu." Johan mengusap kepala Alia, dan memeluk putranya.


"Terimakasih, Papa. Tapi kenapa Papa dan Ibu harus kembali ke Swiss? Kenapa tidak disini saja?" tanya Hanan merasa berat harus berpisah dengan kedua orangtuanya.


"Ini semua demi permintaan dan demi kenyamanan Ibumu. Biarkan Papa dan Ibu menghabiskan waktu dengan suasana baru."


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan Papa dan Ibu."


Saat mereka sedang ngobrol, suster masuk membawa bayi mungil yang sudah haus sejak tadi puasa. Kini saatnya bayi itu belajar agar bisa di kenyangkan dengan sumber sang Ibu.


"Masya Allah, tampan sekali kamu, Nak," ucap Alia begitu bahagia menerima bayinya, dan mengecupnya penuh haru.


Alia segera mengajarkan bayi itu untuk mendapatkan sumber kehidupannya. Sementara Hanan dan Papa ngobrol di luar.


Sandra masih membantu ibu baru itu cara memberi ASI eksklusif. Alia benar-benar bahagia bisa mendapatkan ibu mertua yang begitu menyayanginya.


"Ibu, kenapa tidak disini saja," rengek wanita itu begitu manja.


Sandra tersenyum sembari mengusap kepalanya. "Jangan manja, sudah punya anak seperti ini. Meskipun Ibu disana, tetapi kita tetap berkomunikasi. Kamu bisa tanyakan apa saja pada ibu."


"Tapi tidak seru kalau tidak ada ibu disini. Soalnya Mas Hanan suka jahil. Kalau ada Ibu biar sering di marahi," jawab Alia yang membuat ibu terkekeh.


"Tapi jahilnya masih batas normal 'kan? Bahkan nanti hal itulah yang paling kita rindukan saat dia tak ada disisi kita. Hanan itu sangat mirip dengan Papa perangainya. Tetapi percayalah, dia adalah lelaki yang sangat penyayang," ucap Ibu yang dibenarkan oleh Alia.


"Ibu benar, aku sangat bahagia bisa bertemu dengan Mas Hanan, meskipun awal hubungan kami di mulai dari kesalahan, tetapi Mas Hanan adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab. Terimakasih Ibu, karena telah melahirkan putra sebaik Mas Hanan," ucap Alia sembari menggengam tangan Sandra dengan mata berkaca-kaca.


Sandra tersenyum lembut. "Terimakasih juga telah menjadi istri yang terbaik untuk putra ibu. Semoga kalian selalu bahagia dunia dan akhirat."


Alia mengaminkan Do'a sang Ibu. Kedua perempuan itu saling berpelukan.


"Oya, apakah kalian sudah punya nama untuk cucu tampan ibu ini?" tanya Sandra sembari menoel pipi gembul bayi yang baru beberapa jam lahir kedunia ini.


"Sudah, Bu," jawab Hanan yang baru saja masuk. "Namanya. Baby Shaka Lesmana," ujar Hanan.


"Nama yang bagus. Papa suka, semoga baby Shaka Lesmana kelak menjadi lelaki yang gagah, pemberani. Dan pastinya jadi anak Sholeh."


Mereka benar-benar bahagia dengan kehadiran cucu pertama. Dan di tambah lagi kabar bahagia yang beberapa minggu lalu bahwa Sonya sedang mengandung. Sungguh lengkap kebahagiaan keluarga Dokter itu.


.


TAMAT

__ADS_1


Alhamdulillah akhirnya tamat juga kisah Mas Hanan. Terimakasih banyak atas dukungan para raeder semua. Dan untuk kelanjutan kelahiran anak bungsu Papa Johan dan Bu Sandra, nanti ada ekstra part ya😊 Sekali lagi author ucapkan terimakasih banyak untuk raeder semuanya 🙏🙏🤗🥰


Semoga masih berkenan mampir di novel baru author yang berjudul "Dibuang Suami Dinikahi Dokter Anakku" 🙏🥰


__ADS_2