Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Pengakuan Ratih


__ADS_3

"Keluar kamu dari ruangan ini, Bimo!" usir Ratih menatap tajam.


"Hahaha... Kalau aku tidak mau emangnya kenapa?" tantang Bimo dengan tawanya.


"Sudah cukup! Sekarang jelaskan padaku ada apa sebenarnya? kenapa tadi kamu membawa-bawa nama Sandra?" potong Johan yang sudah tidak sabar mendengarkan penjelasan dari kedua orang itu.


"Bagaimana Nyonya Ratih? Apakah aku yang menjelaskan, atau kamu sendiri?" tanya Bimo masih dengan seringai jahatnya.


Ratih menatap Johan dan Sandra dengan raut wajah cemas. Ia sudah tidak bisa menyembunyikan semuanya. Seharusnya tidak secepat ini mereka tahu. Namun, karena Bimo tak bisa menutup mulutnya, maka ia harus menjelaskan sekarang juga.


"Sekarang keluarlah dari ruangan ini. Aku akan mengatakan yang sebenarnya," ujar Ratih pada Bimo.


"Oh tidak. Aku tidak akan keluar sebelum aku mendengar sendiri kejujuranmu. Bisa-bisa kamu akan mengkambing hitamkan aku," balas Bimo tak mau mengalah.


Ratih menghela nafas dalam, ia mencoba mengatur nafasnya yang terasa sesak, dan lidahnya begitu kelu.


"Sebenarnya, akulah yang menyuruh Bimo mengadopsi Hanan."


"Apa!" ucap Johan dan Sandra bersamaan.


"K-kamu?" tanya Johan.


"Ya, aku sudah tahu tentang Hanan. Sejak Sandra menghilang waktu itu, aku mencari tahu yang sebenarnya. Dan setelah aku tahu bahwa Sandra hamil anak kamu, maka aku membantu memuluskan rencana Sandra untuk menjauh darimu. Walau tanpa sepengetahuannya," ucap Ratih dengan suara tertahan. Wanita itu sudah tak kuasa menahan air matanya.


Sandra menyorot tajam kepada wanita itu. Hatinya benar-benar kesal dan sakit atas pengakuannya.


"Tega sekali kamu, Ratih! Kenapa kamu tega memisahkan aku selama berpuluh tahun dengan putraku! Apakah dengan pengorbananku masih belum cukup sehingga kamu tega memisahkan aku dengan Anakku?!"

__ADS_1


"Ya, aku tahu tindakan yang aku lakukan adalah salah, Sandra. Tapi, apakah kamu memikirkan bagaimana hancurnya hatiku saat mengetahui bahwa ada anak diantara kalian. Meskipun aku tahu bahwa kejadian itu tidak kalian sengaja. Tapi sungguh aku sangat takut kehilangan Mas Johan. Aku sengaja melakukannya agar kalian tak mempunyai kesempatan untuk bersatu. Maafkan aku bila sudah se egois ini," lirih Ratih berlinangan air mata.


"Aku benar-benar tidak menyangka bahwa hatimu sejahat ini. Aku hanya menginginkan anakku. Dan karena itulah aku sengaja menjauh dari kalian, tapi ternyata itu belum cukup buatmu. Kenapa kamu berpikir picik seperti itu. Seandainya aku menginginkan Johan, maka aku tidak perlu pergi dari kalian!" balas Sandra dengan netra berkaca-kaca.


"Sandra, aku mohon maafkan aku. Maaf bila rasa cintaku yang begitu besar sehingga tidak memikirkan perasaanmu. Tapi, percayalah Sandra, aku selalu memantau perkembangan putramu bahkan aku yang membiayai semua kebutuhan Hanan. Aku sengaja meminta Bimo dan istrinya untuk merawat Hanan. Namun, setelah aku tahu bahwa mereka ingin mencelakainya, maka dari itu aku memutuskan kerja sama ini," jelas Ratih masih berurai air mata.


"Aku benar-benar kecewa padamu Ratih. Karena keegoisanmu, maka anakku telah kehilangan figur seorang Ibu. Dan aku, bahkan tanganku ini tak bisa merawat anak yang telah bersusah payah kurawat sejak dari kandungan. Aku benar-benar kecewa padamu, Ratih!"


"Ayo Hanan, kita pergi dari sini," ucap Sandra sembari meraih tangan Hanan untuk membawanya keluar dari ruang rawat itu.


"Sandra, Tunggu dulu! Sandra maafkan aku!" panggil Ratih. Namun, tak di hiraukan oleh Sandra.


Setelah Sandra dan Hanan pergi, kini tinggal Johan dan Ratih disana, sedangkan Bimo juga telah meninggal ruangan itu.


Johan menatap Ratih dengan dingin. Ia juga kecewa atas sikap Ratih yang begitu egois tanpa memikirkan perasaan Sandra.


"Aku tidak habis pikir, hanya karena mementingkan perasaanmu, maka kamu tega melakukan hal itu," ujar Johan kecewa.


"Aku tahu bahwa aku salah, Mas, please... jangan membenciku. Aku hanya takut kehilanganmu. Hiks..." Tangis wanita kembali pecah.


"Istirahatlah, aku masih ada urusan," ucap Johan yang tak ingin lagi membahas tentang itu. Ia segera keluar dari ruang rawat isterinya.


Kini hanya tinggal Ratih sendiri masih menangis dalam penyesalan. "Kenapa mereka tidak bisa memahami perasaanku? Apakah begitu besar kesalahan yang telah aku lakukan?" ucapnya dalam keseorangan.


Johan membawa Hanan dan Sandra untuk bicara di ruangannya. Ia tahu bahwa Sandra sangat kecewa atas sikap Ratih.


"Sandra, aku tahu kamu sangat marah dan kecewa atas sikap Ratih. Tapi, tolong maafkan kesalahannya," ucap Johan meminta pengertian wanita yang juga Ibu dari anaknya.

__ADS_1


"Jo, aku tidak ingin lagi membahas masalah itu. Sekarang aku dan Hanan akan kembali ke kota Ujung batu. Biarkan aku dan anakku hidup disana. Aku tidak menginginkan apapun, sekarang aku hanya ingin hidup tenang bersama keluarga kecilku," jelas Sandra yang berusaha berlapang dada untuk melupakan masalah yang pernah ada.


"Baiklah jika memang itu sudah keputusanmu dan Hanan. Aku akan mengurus surat pemindahan tugas Hanan. Dan aku juga akan menyerahkan rumah sakit itu atas nama Hanan," tutur Johan.


"Maaf, Prof. Saya menolaknya. Biarkan saya menjalani kehidupan semestinya. Tolong jangan memberikan yang bukan hak saya," potong Hanan yang membuat Johan merasakan hatinya sedih saat putra kandungnya memanggil begitu formal.


"Hanan, kenapa kamu bicara seperti ini? Aku ini ayahmu. Dan apa yang aku berikan memang sudah menjadi hakmu," ucap Johan dengan wajah sedih.


"Ya, aku memang anak biologis Prof Johan, tapi prof Johan teidak mempunyai hak untuk memberikan aku harta ataupun nafkah, karena aku hadir bukan dari hubungan halal," ucap Hanan yang membuat pria baya itu sulit menelan air ludahnya.


Sungguh kata-kata Hanan membuat hatinya semakin sedih.


"Hanan, memang benar semua yang kamu ucapkan. Tapi, Nak, walaupun papa tak mempunyai tanggung jawab atas dirimu, tolong izinkan papa melakukan kewajiban sebagai seorang ayah yang ingin membahagiakan anaknya. Sungguh papa sangat bahagia bisa memilikimu. Walaupun kehadiranmu tanpa papa ketahui. Namun, papa tidak pernah menyesali, bahkan papa bahagia memilikimu. Papa mohon, tolong terima papa sebagai ayahmu kandungmu," ucap Johan yang ingin segera berlutut dikaki Hanan.


"Pa, apa yang papa lakukan? Tolong jangan seperti ini," ucap Hanan merasa bersalah.


"Tidak, Nak, berjanjilah untuk tak membenciku," ucap Johan dengan mata berkaca-kaca.


Hanan tak kuasa menahan haru, pertahanannya runtuh. Ia tak tega melihat kesedihan lelaki yang telah menghadirkannya ke dunia ini. Hanan memeluk dengan erat, tak terasa air matanya jatuh seketika.


"Aku tidak pernah membenci papa, aku hanya mencoba untuk menerima kenyataan ini," ucap Hanan pilu.


"Papa tahu kenyataan ini sangat menyakitkan bagimu, tapi, sungguh kami tidak pernah menginginkan hal seperti ini terjadi padamu. Tapi, sungguh papa sangat menyayangi kamu, sama seperti papa menyayangi kedua adikmu. Tolong jangan paksakan dirimu menjadi orang lain dalam hidup papa, sampai kapanpun tidak akan pernah bisa merubah kenyataan bahwa dirimu adalah darah dagingku," ucap Johan memeluk putranya dengan erat.


Sandra hanya terpaku sembari menahan haru. Wanita itu juga meneteskan air matanya saat melihat momen haru antara kedua lelaki itu.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2