Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Mengetahui yang sebenarnya


__ADS_3

Sandra masih diam tak mengeluarkan sepatah katapun. Ia bingung harus memulai dari mana. Tetiba dadanya terasa sesak dan netranya memanas, ada cairan kristal menetes di kedua pipinya.


"Hei, kenapa kamu menangis? Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah semuanya ada kaitannya dengan kejadian malam itu?" tanya Johan yang telah menduga sebelumnya.


"Jo, aku bingung harus memulainya dari mana," ucap Sandra dengan suara tercekat.


"San, ayo ceritakan padaku. Agar aku bisa membantu masalahmu," jawab Johan serius.


"Apakah kamu sudah siap mendengarkan semuanya? Aku hanya tidak ingin memberimu masalah dan merusak kebahagiaanmu," lirih Sandra.


"San, apakah kamu tidak percaya denganku? Bukankah dulu kita sudah pernah berjanji untuk saling membantu apapun masalah yang sedang kita hadapi, dan tapi kenapa kamu harus pergi? Kenapa kamu tak ingin membagi masalahmu padaku?"


"Tapi masalah ini adalah masalah kita berdua," balas Sandra yang membuat Johan membatu.


"Apa maksud kamu?"


"Kejadian malam itu membuatku hamil."


DEG!


"K-kamu hamil?" tanya Johan begitu gugup dan jantungnya berdegup tak beraturan.


"Ya, aku hamil Jo."


Johan meraup wajahnya penuh frustasi. "Kenapa kamu harus pergi Sandra? Kenapa kamu tak mengatakan padaku? Apa yang ada dalam benakmu!" ungkap Johan menyorot tajam.


"A-aku tidak ingin merusak kebahagiaanmu dan Ratih. Malam itu aku sengaja menghubungimu untuk membicarakan tentang kehamilanku. Namun, kamu datang membawa Ratih dan mengatakan rencana pernikahan kalian. Aku mengurungkan niatku untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku memilih menepi dari kehidupanmu," jelas Sandra dengan air mata yang masih setia menetes.


"Astaghfirullah. Sandra, kenapa kamu lakukan hal itu. Seandainya aku tahu tentang kehamilanmu, maka aku tidak akan mungkin melepaskan tanggung jawabku walau apapun yang akan terjadi. Aku benar-benar menyesali kejadian malam itu. Sungguh minuman keras itu telah merusak hidupmu," sesal Johan dengan wajah penyesalan.


Johan menatap sekeliling tempat mereka duduk. Terlihat banyak mata yang sedang memperhatikan mereka. Pria baya itu segera memanggil kasir untuk membayar, setelah itu ia meraih tangan Sandra untuk membawanya pergi dari sana.

__ADS_1


"Johan, kita mau kemana lagi? Aku ingin kembali ke RS," ucap Sandra sedikit tidak nyaman saat di tatap oleh banyak mata.


"Kita harus mencari tempat yang nyaman untuk membahas masalah ini," sahut Johan tak menghiraukan tatapan orang.


Kini mereka sudah duduk di bangku mobil. Namun, Johan tak lantas menjalankan mobilnya. Ia masih menatap Sandra yang masih belum berhenti menangis.


"Sandra, berhentilah menangis. Aku benar-benar minta maaf atas kesulitan yang kamu hadapi sendiri. Sekarang katakan dimana anak kita?" tanya Pria itu sembari menghapus air mata Sandra. Sesaat hati wanita itu menghangat. Namun, segera ia kubur perasaan itu ke dasar kalbunya.


Sandra hanya diam dengan menunduk. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan yang baginya begitu pilu.


"San, aku ingin bertemu dengannya. Aku akan meminta maaf karena sudah mengabaikannya, aku akan menjelaskan bahwa aku benar-benar tidak tahu yang sebenarnya," ucap Johan kembali penuh harap.


"A-aku tidak tahu dia dimana sekarang, Johan. Hiks..." Tangis wanita baya itu semakin pecah.


"Apa maksud kamu, Sandra?" tanya Johan tak mengerti.


"Satu bulan setelah aku melahirkan, aku menitipkan bayiku di panti asuhan untuk sementara waktu, karena aku ingin melanjutkan studiku yang hanya tinggal satu semester lagi. Aku berniat akan mengambilnya kembali setelah aku selesai wisuda. Namun, setelah aku kembali, pihak panti asuhan itu telah memberikan pada pasangan yang tak mempunyai anak. Aku benar-benar hampir gila, Jo. Hingga saat ini aku masih mencari keberadaan putraku," jelas Sandra dengan isakan pilu.


"Kenapa kamu ceroboh sekali, Sandra! Beraninya kamu menitipkannya pada orang lain, padahal kamu tahu aku ayahnya masih hidup!" bentak Johan sembari mencengkeram lengan Sandra sedikit kuat karena terbawa arus emosi jiwa yang meluap.


"Jo, aku hanya tidak ingin merusak kebahagiaanmu. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana hancurnya hati Ratih saat mengetahui yang sebenarnya. Tolong bantu aku untuk mencari putraku, Jo. Maafkan aku. Hiks..."


Johan melepaskan cengkraman tangannya, ia menghela nafas dalam sembari beristighfar dalam hati. Tak seharusnya ia meluapkan kekesalannya pada Sandra. Ia tahu Sandra sudah berkorban demi membiarkan dirinya dan Ratih bahagia.


"Siapa orang yang telah mengadopsi anak kita?" tanya Johan dengan nada datar.


"Dari keterangan pihak panti asuhan itu, mereka pengusaha sukses. Suaminya bernama Bimo Handoyo. Aku sudah mencari alamat rumah mereka yang masih satu kota dengan panti asuhan itu. Namun, rumah itu telah di jual. Mereka telah pindah. Dan tak ada yang tahu mereka pindah kemana," jelas Sandra.


"Bimo Handoyo?" tanya Johan memastikan.


"Ya, apakah kamu mengenali pasangan itu?" tanya Sandra tampak berharap.

__ADS_1


Sesaat Johan berpikir, apakah Bimo yang dimaksud adalah ayahnya Dokter Hanan, yang tak lain perusahaan farmasi juga bekerja sama dengan rumah sakitnya?


Dan Johan juga mengingat cerita Hendra yang mengatakan bahwa Hanan sedang ada masalah dengan kedua orangtuanya. Tapi, Hendra tidak menjelaskan masalahnya apa, karena Pria itu menjaga kode etik. Hendra berpikir biarkan Hanan sendiri yang menjelaskan pada atasan mereka, karena itu menyangkut urusan pribadinya.


Johan kembali meraup wajahnya dengan pelan. Kembali ia menatap wanita yang ada disampingnya. Tangannya terulur mengusap bahu Sandra dengan lembut.


"Tenanglah, aku akan mencari tahu dimana keberadaannya. Apakah anak kita seorang putra?" tanya Johan mencoba untuk membuat Sandra agar tak merasa bersalah.


Kembali Sandra mengingat bayi mungil yang dulu ia titipkan. Senyum membingkai di bibirnya. "Ya, dia seorang bayi yang begitu tampan. Sungguh aku sangat merindukannya, Jo. Hiks hiks..."


Johan tak sampai hati sehingga meraih tubuh wanita itu masuk kedalam pelukannya. Wanita baya yang masih terlihat sangat cantik dan masih seperti dulu.


"Tenanglah, jangan menangis lagi. Aku berjanji akan menemukannya. Aku harap kamu tetap bertugas disini terlebih dahulu hingga aku berhasil menemui putra kita," ucap Johan mencoba menenangkan wanita itu.


"Terimakasih ya, Jo. Maaf sudah merepotkanmu," jawab Sandra sembari melerai pelukannya. Ia tak ingin terbawa perasaan. Mengingat sekarang Ratih sedang sakit, dan ia tak ingin dikatakan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Niatnya hanya meminta pertolongan lelaki itu untuk menemui anaknya, karena biar bagaimanapun itu juga darah daging Johan.


"Jangan bicara seperti itu, karena dia juga putraku," jawab Johan yang segera menjalankan mobilnya untuk menuju RS sakitnya.


Setibanya di RS, Johan dan Sandra kembali menyambangi kamar rawat Hanan dan Alia. Entah kenapa sejak mendengar penjelasan Sandra, Johan merasa hatinya semakin tertarik oleh Dokter muda yang selama ini memang teristimewakan daripada dokter-dokternya yang lain.


"San, menurut kamu Dokter Hanan itu orangnya seperti apa?" tanya Johan di sela langkah mereka menuju lift.


"Dia anak baik, sangat sopan, dan begitu menyayangi istrinya. Aku baru tahu bahwa istrinya baru sembuh dari gangguan jiwa. Aku dengar cerita rekan-rekannya yang mengatakan bahwa Hanan begitu sabar merawat Alia, bahkan dia tidak malu membawa Alia kemanapun walau dalam keadaan sakit," jelas Sandra yang juga bersimpati dengan lelaki itu.


"Ya, kamu benar. Apakah kamu tidak merasa sikap dan wajahnya ada kemiripan diantara kita berdua?" tanya Johan yang membuat langkah Sandra terhenti.


"Apa maksud kamu, Johan?"


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2