Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Kisah masa lalu


__ADS_3

Menunggu selama 45 menit, akhirnya pesanan dokter Obgyn itu datang juga. Hanan segera membayar dan memberikan sedikit tips untuk Abang ojolnya.


"Dek, ayo sini makan," ucap Hanan membawa Alia untuk duduk di sofa bersamanya.


Hanan segera membantu wanita itu untuk turun dari ranjang, lalu membimbingnya.


"Aku bisa jalan sendiri, Dok, tolong bawakan tiang infusnya saja," ucap Alia merasa kurang nyaman saat tubuh lelaki itu begitu mepet.


Hanan tak membantah senyamannya saja, ia tidak ingin membuat sang istri merasa tidak nyaman saat bersamanya.


"Dok, sepertinya aku juga tidak perlu di pasang infus lagi. Tolong buka infusnya," ucap Alia yang ikut-ikutan ingin melepaskan cairan bening itu.


"Tidak, Sayang, kamu besok baru boleh di lepas infusnya. Soalnya kondisi kamu masih lemah," sahut Hanan tak mengizinkan.


Alia tak membantah, ia mengikuti saran lelaki itu. Dengan perlahan ia menduduki sofa empuk itu.


"Ayo makan, Dek." Hanan menyerahkan kotak makanan pada Alia.


"Aku tidak lapar, kan sudah bilang, aku cuma mau minum lemon hangat saja," tolak Alia sembari menaruh kembali kotak makanan itu.


"Dek, makan sedikit saja. Sayang makanannya harus di buang," ucap Hanan.


"Kasih ke perawat kamu saja, Dok," balas Alia.


"Kalau begitu aku juga tidak mau makan. Yaudah makanannya biar aku kasih ke perawat yang tugas di luar," sahut Hanan bersiap mengemas kotak-kotak makanan itu kedalam kantong plastik.


"Masya Allah, Dok, kenapa harus diberikan semua? Kan kamu belum makan?" Alia menahan tangan Pria itu.


"Nggak pa-pa, Sayang, makannya besok saja. Sekarang kita ngobrol sambil minum saja," jawab Hanan yang membuat Alia menjadi serba salah.


"Yaudah yaudah, ayo kita makan." Akhirnya Alia mengalah. Sungguh ia tidak tahu bagaimana sikap suaminya yang sebenarnya. Apakah seperti itu mode marahnya? Ah benar-benar lelaki yang sulit di tebak perangainya.


"Kamu serius, Dek?" tanya Hanan dengan senyum sumringah.


"Iya," jawab Alia sedikit cemberut.


"Yang ikhlas dong, Sayang. Kalau nggak mau makan juga nggak pa-pa."

__ADS_1


"Iya, aku mau makan Dok," jawab Alia berusaha meyakinkan dan memasang senyum manis.


"Nah gitu dong, istri Sholeha," timpal Hanan dengan senyum khasnya.


Pasangan itu makan dengan tenang. Selesai makan mereka duduk sebentar dan kembali ngobrol, tetapi hanya obrolan ringan-ringan saja.


Merasa sudah mengantuk, Alia terlebih dahulu kembali naik keatas tempat tidurnya untuk menemui mimpinya. Sementara Hanan masih duduk disana memainkan ponselnya.


Pria itu menatap istrinya yang sudah terlelap. Ia tersenyum beranjak dari tempat duduknya, lalu menarik tempat tidurnya menyatukan dengan tempat tidur Alia. Hanan menyatukan tempat tidur mereka.


Kini Pria itu berbaring tepat di belakang Alia. Dengan rasa takut ia mencoba melingkarkan tangannya di pinggang Alia. Tak perlu lama Hanan telah berada di alam mimpi, mungkin karena begitu nyaman sehingga membuatnya mudah menemui kantuk.


Pagi sekitar jam tujuh pagi Hanan membuka netranya. Ia begitu terkesiap saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.


"Prof Johan!" sentak Hanan begitu terkejut.


"Pagi dokter Hanan, sepertinya nyaman sekali tidur kamu. Mungkin karena memeluk sang pujaan hati ya," kelakar Prof Johan sehingga membuat Hanan tersenyum salah tingkah.


Alia yang merasa ada suara berisik, ia membuka mata. Seketika ia terkesiap karena merasa tubuhnya merasa terbelenggu.


"Aakh!" pekiknya sembari membuang tangan Hanan. Ternyata pria itu belum melepaskan pelukannya meskipun sudah bicara dengan Prof Johan, hal itu yang membuat Hendra sedari tadi ingin rasanya menimpuk kepala sahabatnya itu.


"Dokter! Kenapa kamu bisa tidur disini?" tanya Alia yang hanya fokus mengintrogasi suaminya tanpa menatap siapa saja yang ada di ruangan itu.


"Ssttt... Diamlah Alia, ada Pak Dirut disini," bisik Hanan yang membuat Alia segera menatap arah tatapan Hanan.


Alia membatu dengan wajah memerah saat melihat sudah ada Hendra dan Resha, dan juga seorang lelaki paruh baya, terlihat begitu berwibawa, dan ketampanan di wajahnya belum lekang dimakan waktu.


"Selamat pagi, Alia! Benar nama kamu Alia?" tanya Prof Johan menyapa.


"B-benar, Pak," jawab Alia sedikit gugup.


"Bagaimana keadaan kalian pagi ini? Apakah sudah membaik?" tanya Prof Johan. "Maaf saya baru sempat menjenguk," ucapnya begitu baik.


"Alhamdulillah kami sudah baik-baik saja, Prof. Terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk datang," sahut Hanan dengan ramah.


Saat mereka sedang ngobrol, masuklah seorang Dokter penyakit dalam senior mereka, yaitu Dokter Sandra.

__ADS_1


"Selamat pagi Dokter Hanan!" sapa wanita itu yang di minta oleh Hendra untuk memeriksa kondisi pasangan itu.


"Sandra!" ucap Johan begitu terkejut melihat kehadiran wanita baya itu.


"Johan! Kamu ada keperluan apa disini? Apakah kamu juga tugas disini?" tanya Sandra tak kalah terkejut.


"San, sejak kapan kamu tugas di RS ini? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Johan sangat penasaran dengan kehadiran sahabat lamanya di RS miliknya.


"Aku disini hanya sementara waktu untuk menggantikan Dokter Mona yang sedang cuti. Aku tugas tetap di RS ujung batu," jelas wanita itu.


"Ah, sepertinya kita harus bicara," ucap Johan yang begitu semangat membawa Sandra untuk ngobrol berdua.


"T-tapi, aku belum memeriksa Dr Hanan dan istrinya," sahut Dr Sandra sedikit sungkan.


"Tidak masalah, kan sudah ada Dr Hendra. Benar kan, Hen?" tanya Prof Johan.


"Ah benar sekali, Prof. Tidak apa-apa, Bu San, biar saya saja yang memeriksa mereka," sambung Hendra membenarkan.


Sandra tampak sungkan. Namun, ia tak bisa menolak permintaan sahabatnya yang memiliki kenangan indah dalam hidupnya.


"Jo, kita mau bicara dimana?" tanya Sandra yang mendapat tatapan lekat dari Johan.


"Yang jelas di tempat yang nyaman untuk bicara, tentunya kamu tidak mau mengulang kisah lama?" gurau Johan yang membuat langkah Sandra terhenti.


"Hahaha... Hei, tenanglah. Aku hanya bercanda," ucap Johan sembari menepuk bahu Sandra pelan.


"Jo, bagaimana kehidupanmu dan Ratih?" tanya Sandra pelan sembari mensejajarkan langkahnya.


"Alhamdulillah aku dan dan Ratih baik-baik saja. Kami di karuniai dua orang Putri. Kamu sendiri? Oya, San, kamu kenapa menghilang tiba-tiba, dan kamu juga tidak menghadiri pernikahan aku dan Ratih. Apakah kamu marah padaku?" tanya Johan sembari membukakan pintu mobil untuk Sandra.


"Ah, t-tidak. Mana mungkin aku marah. Sudahlah, bukankah kita sudah sepakat untuk melupakan kejadian yang sama-sama tak di sengaja," jawab Sandra. Namun, diwajahnya tampak menyimpan beban berat yang sedang ia sembunyikan.


"Lalu, kenapa kamu menghilang secara tiba-tiba. Dan kamu juga tidak menghadiri pernikahan aku dan Ratih," ujar Johan.


"Bagaimana caranya aku menjelaskannya, Jo. Apakah aku harus jujur padamu bahwa peristiwa semalam itu menghasilkan seorang anak," ucap wanita baya itu dalam hati.


Bersambung....

__ADS_1


Nb. Ikuti saja alurnya ya😉


Happy reading 🥰


__ADS_2