Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Salah mengartikan


__ADS_3

"Johan, apa hasilnya? Kenapa kamu tersenyum begitu?" tanya Sandra heran melihat ekspresi wajah suaminya yang tampak sumringah.


"Sayang, apakah kamu sudah tidak datang bulan?" tanya Johan yang membuat Sandra terkesiap dan menutup mulutnya.


"Johan, apakah aku sudah menopause?" tanya Sandra yang hampir membuat Johan terbahak. Kecemasannya yang tadi menjadi ambyar gegara wanita itu salah mengartikan.


Padahal tadi Johan sudah menyiapkan segala alasan demi meyakinkan bahwa kehamilan Sandra sudah kehendak Tuhan.


"Ah, ya ampun. Itu berarti aku sudah tidak bisa lagi melayani hasratmu seperti biasanya. Tapi, jika aku sudah menopause, kenapa akhir-akhir ini nafsuku terasa semakin membara? Apakah ini tanda untuk terakhir kalinya?" tanya wanita kembali. Terlihat sekali raut wajah kecewanya.


Johan tak tahu harus bicara apa. Ia hanya menatap istrinya yang sedang dalam kegelisahan saat menghadapi masa kekeringannya.


"Johan, kenapa kamu diam saja? Aku tahu kamu pasti kecewa apa yang sedang aku alami 'kan? Apakah kamu ada niat untuk menikah lagi?" tanya Sandra yang membuat Johan semakin gemas.


Johan tak lantas menjawab, ia merapikan kembali alat Dokternya, lalu menyimpan ketempat semula.


Johan duduk di samping sang istri yang masih tampak sedih. Tangannya menggenggam tangan Sandra dengan lembut. "Sayang, kamu itu salah mengartikan pertanyaanku," ucap Johan sembari mencuri kecupan di pipinya.


"Maksud kamu? Aku memang sudah tak datang bulan hampir dua bulan ini," jawab Sandra begitu adanya.


"Ya, tapi bukan berarti kamu sudah menopause juga. Kamu itu masih muda dan subur. Jadi masih jauh untuk menopause," jelas Johan.


"Lalu, apa yang membuat aku tidak datang bulan?" tanya wanita itu masih tidak menyadari.


"Sayang, kita memang sudah sepakat untuk tidak mempunyai anak lagi, tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain. Dan kamu...."


"Apa Johan?" tanya Sandra saat Johan menghentikan ucapannya. "Apakah aku hamil?" tebak wanita itu dengan benar.


Johan memasang wajah serius penuh drama. "Ya, Sayang. Kamu sedang hamil," jawabnya masih wajah peduli.


Sandra menggeleng cepat. "Nggak, itu nggak mungkin, Jo! Mana mungkin aku bisa hamil. Bukankah kita sudah menggunakan pengaman setiap kali melakukannya?" tanya Sandra masih tak percaya.


"Tapi memang itu kenyataannya, Sayang. Sekarang ini kamu hamil," jawab Johan.


Sandra menyorot lelaki yang ada di sampingnya seakan tatapan mengintimidasi. "Apakah kamu pernah memperkosaku saat aku sedang terlelap?" tanyanya yang membuat Johan tak mampu menahan tawa.

__ADS_1


"Hahaha.... Ya Allah, kenapa pikiranmu seburuk itu terhadapku, Sayang." Johan memeluk wanita itu dengan hati gemas dan sangat bahagia.


"Ya, tapi kenapa aku bisa hamil Johan? Hiks, aku benar-benar malu dengan anak-anak. Aku yakin ini semua pasti kerjaan kamu?" ujar Sandra dengan tangis manjanya sembari memukul dada lelaki matang itu.


"Hei, tenanglah. Kenapa kamu harus menangis? Bukankah seharusnya kita bahagia karena Tuhan memberikan kepercayaan lagi untuk kita memiliki anak," ucap Johan berusaha menenangkan hati sang istri yang sedang gundah gulana.


"Tapi, aku malu di umurku yang segini masih hamil, Jo. Dan bagaimana pula dengan tanggapan anak-anak," jawab Sandra sembari masuk kedalam pelukan sang suami.


"Kenapa harus malu, Sayang. Bahkan anak-anak sangat menginginkan adik kecil. Jadi kamu tidak perlu malu. Mereka pasti bahagia," jelas Johan masih berusaha meyakinkan wanita itu.


Sandra melerai pelukannya, ia menatap wajah suaminya dengan dalam. "Apakah kamu yakin?" tanyanya meminta dukungan penuh dari lelaki yang sebenarnya biang kerok dari apa yang sedang ia alami.


"Aku sangat yakin, Sayang. Hanan dan Alia pasti senang."


"Bagaimana dengan Sonya dan Shella?"


"Apalagi mereka. Karena sampai sekarang mereka masih belum mempunyai anak. Tentu saja mereka akan bahagia bila mempunyai seorang adik lagi. Sudahlah, tidak perlu di pikirkan," ucap Johan merasa lebih tenang saat melihat istrinya sudah tak lagi memberontak.


"Ah, akhirnya aku aman," gumam Pria itu dalam hati sembari menyunggingkan senyum manis.


"Hamm, baiklah. Kalau begitu aku pikirkan dulu," jawab Johan masih mempertimbangkan keinginan Sandra.


Saat mereka masih membahas tentang kehamilan Sandra. Terdengar suara ponsel wanita itu berdering. Johan segera meraihnya, lalu melihat siapa yang menelepon.


"Siapa, Jo?" tanya Sandra.


"Hanan."


"Apa?"


"Iya, Hanan. Kenapa kamu harus kaget begitu saat putramu menghubungi?" tanya Johan dengan senyuman.


"Bawa sini. Kamu diam saja, jangan sampai berita ini sampai pada mereka terlebih dahulu," ujar Sandra menginterupsi lelaki itu untuk tutup mulut. Ia tahu bagaimana dengan godaan anaknya yang akan membuat dirinya malu.


"Yaya, baiklah. Ayo sekarang angkat teleponnya."

__ADS_1


Sandra segera menerima panggilan video call dari putra dan anak menantunya.


"Assalamualaikum, Bu," sapa Hanan dan Alia.


"Wa'alaikumsalam... Tumben kamu telpon Ibu jam segini? Apakah kamu tidak ke RS?" tanya Sandra pada anaknya.


"Aku sudah pulang, Bu. Disini sudah jam dua siang. Oya, Papa mana?" tanya Hanan.


"Ini disamping Ibu," jawab Sandra sembari menggeser camera ponselnya hingga memperlihatkan bahwa ayah anaknya itu.


"Wih, nyaman banget nih pengantin baru, jam segini masih di tempat tidur aja," ledek Hanan pada sang Ayah.


"Oh, tentu dong. Berkat usaha keras Papa, maka hasilnya benar-benar memuaskan, dan sekarang ibumu...." jawab Johan yang segera mendapat cubitan dari Sandra.


"Ibu kenapa, Pa?" tanya Alia yang begitu keppo.


"Ah, itu ibumu kurang sehat badan," jawab Johan sembari menahan perih karena mendapat cubitan yang tidak main-main rasanya.


"Oh. Oya, Bu, Pa. Kami ingin memberi kabar bahwa minggu depan kami akan mengadakan acara tujuh bulanan. Apakah Papa dan Ibu bisa pulang?" tanya Hanan.


"Loh, sudah tujuh bulanan aja. Ya Allah, berarti sebentar lagi cucu Ibu akan lahir. Hmm, bagaimana ya?" ucap Sandra berpikir sejenak.


"Ibu dan Papa harus pulang. Kalau nggak aku pasti akan sedih," rengek Alia.


Sandra dan Johan saling pandang. Johan mengangguk memberi isyarat bahwa mereka akan datang.


"Baiklah, Sayang. Ibu dan Papa akan pulang," jawab Sandra yang membuat pasangan itu tersenyum bahagia.


"Yeeee... Aku senang sekali. Jangan lupa bawain aku oleh-oleh ya, Bu," ucap Alia kegirangan.


"Tenanglah, Papa dan Ibu sudah menyediakan sebuah hadiah istimewa buat kamu dan yang lainnya," jawab Johan yang mendapat tatapan tajam dari sang istri.


"Hei, kenapa ibu selalu begitu menatap Papa? Apakah ada rahasia yang sedang kalian sembunyikan dari kami?" tanya Hanan merasa curiga dari tatapan ibunya pada sang Ayah.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2