Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Permintaan Ratih


__ADS_3

Setelah pertarungan sengit, kini pasangan itu telah terlelap dengan nyaman saling memberi kehangatan, hingga pagi menjelang.


Pagi ini seperti biasanya Alia sudah berkutat di dapur untuk menyediakan sarapan.


"Selamat pagi, Sayang, Ibu!" seru Sandra menghampiri anak menantunya dengan senyum manisnya.


"Selamat pagi, Bu, loh, ibu mau ke RS juga?" tanya Alia yang melihat sang ibu mertua masih mengenakan Snelli dokternya.


"Iya, sepertinya keberangkatan kita di tunda dulu," jawab Sandra sembari membantu menyajikan masakan yang sudah di tata dalam piring.


"Kenapa, Bu?" tanya Alia tidak paham.


"Nanti Ibu ceritakan ya, ayo kita sarapan dulu."


Alia hanya mengangguk paham mengikuti langkah wanita itu menuju meja makan.


Setelah menduduki bangku masing-masing, Hanan menyusul ke meja makan sembari menyapa kedua wanita kesayangannya.


"Selamat pagi...," ucapnya tak lupa meninggalkan jejak sayang di pipi ibu dan sang istri.


"Pagi, Nak. Ayo duduklah," sahut Sandra mempersilahkan sang anak untuk duduk.


Hanan menarik sebuah kursi yang bersebelahan dengan Alia, lalu menerima piring yang sudah di terisi makanan.


Keluarga kecil itu makan dengan tenang. Di sela-sela makan, Sandra membicarakan tentang permintaan Johan untuk menunda keberangkatan mereka.


"Han, sepertinya Ibu harus menunda dulu keberangkatan kita," ucap Sandra pada putranya.


"Kenapa, Bu?" tanya Hanan tak mengerti.


"Karena Bu Ratih tak ingin Ibu tinggalkan, dan Papamu juga meminta agar ibu menemani Bu Ratih untuk beberapa hari ini," jelasnya sembari fokus dengan makanannya.


"Baiklah, terserah Ibu saja, aku ikut keputusan Ibu," jawab Hanan begitu pengertian.


"Selamat pagi!" sapa seseorang yang membuat mereka mencari asal suara itu.


"Papa, tumben pagi-pagi sudah disini?" ucap Hanan pada Pria baya itu.


"Ya, Papa sengaja datang untuk menjemput Ibumu. Apakah kalian merasa terganggu?" tanya Johan merasa sungkan.


"Tentu saja tidak, kenapa Papa bicara seperti itu? Ayo ikut gabung sarapan bersama kita," ajak Hanan.


"Ayo, Pa, aku tadi masak banyak," timpal Alia sembari membukakan piring untuk ayah mertuanya.


Johan menatap Sandra, sepertinya lelaki itu merasa tidak enak dengan ibu dari anaknya itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu menatapku begitu? Ayo duduklah," ucap Sandra dengan wajah biasa saja.


"Apakah kamu merasa keberatan jika aku duduk diantara kalian?" tanya Johan.


"Hei, kamu ini bicara apa? Kenapa aku harus keberatan, karena kami ini juga keluargamu," jawab Sandra.


Johan tersenyum simpul. "terimakasih ya." Pria itu segera menduduki bangku disamping Sandra.


Hanan menatap ayah dan ibunya silih berganti. Andai saja mereka adalah pasangan suami istri, maka ia sangat bahagia. Namun, ia tak bisa menyalahkan takdir yang hanya menjadikan mereka sebagai sahabat.


"Hei, kenapa kamu menatap kami seperti itu?" tanya Johan pada putranya.


"Ah tidak apa-apa, aku melihat Papa tampan sekali pagi ini," jawab Hanan memang benar adanya. Walaupun Pria itu sudah tak lagi muda, tetapi karismanya masih terlihat nyata.


"Jangan bicara seperti itu, ini hanya tinggal sisanya saja, karena ketampananku sudah beralih padamu," timpal Johan yang membuat mereka terkekeh.


Sandra juga ikut tersenyum kecil, netranya masih saja mencuri-curi pandang pada lelaki yang ada disampingnya.


Keluarga itu makan bersama dengan di iringi canda tawa penuh kekeluargaan. Baru kali ini Hanan merasa mempunyai keluarga yang utuh. Karena selama ia menjadi anak di keluarga Bimo, ia tak pernah merasakan hal seperti ini, ia akan bicara seperlunya saja, keluarga itu terlalu dingin dan kaku baginya.


"Baiklah, sekarang Papa sudah kenyang. Terimakasih banyak atas hidangannya yang sangat enak ini, ternyata menantu Papa ini pandai memasak. Papa yakin Hanan pasti semakin mencintaimu," ujar Johan pada Alia.


"Ya ampun, pujian Papa sungguh terlalu, aku rasa masakanku biasa-biasa saja. Yang paling pinter masak itu Ibu," jawab Alia.


"Benarkah? Tapi sayang sekali Ibumu tidak ada yang akan memuji masakannya, karena dia tidak ada pasangan," balas Johan tersenyum mengejek.


"Hahaha... Benarkah? Aku tunggu undanganmu secepatnya," jawab Johan dengan kekehannya.


Sandra hanya menatap malas. Wanita itu segera beranjak untuk menuju RS. Namun, saat Sandra dan Johan baru saja ingin masuk kedalam kendaraannya, suara ponselnya berdering.


"Ya, ada apa?" tanya Johan pada orang yang menghubunginya.


"Prof, kami ingin memberitahu bahwa keadaan Bu Ratih kritis," ucap orang itu.


"Apa! Baiklah aku akan segera kesana!"


"Ada apa, Jo?" tanya Sandra penasaran.


"Ratih kritis," jawabnya dengan wajah cemas.


"Astaghfirullah, ayo sekarang kita ke RS!" Sandra tak kalah terkejut.


Setibanya di RS, Johan dan Sandra segera menuju ruang ICU. Dokter yang menangani menjelaskan kondisi Ratih yang tiba-tiba mengalami kejang.


"Jadi bagaimana kondisi istri saya sekarang?" tanya Johan begitu cemas.

__ADS_1


"Nyonya Ratih masih belum sadarkan diri, tapi kami sudah memberikan tindakan, semoga segera sadar," jawab Dokter itu.


Johan tak lagi menanggapi, ia segera masuk kedalam ruangan itu. Hatinya merasa sedih dan sangat risau melihat kondisi wanita yang telah dua puluh sembilan tahun hidup bersamanya.


Johan menggenggam tangan sang istri dengan lembut, lalu mengecupnya.


"Sayang, dari semula aku sudah katakan bahwa dirimu tidak bisa berobat disini, aku tidak mampu menangani penyakitmu," lirih Johan dengan suara tercekat.


"Mas Johan," panggil wanita itu yang membuat Johan terkesiap.


"Sayang, kamu sudah bangun? Apa yang kamu rasakan? Mana yang sakit?" tanya Johan beruntun sembari mengecup kening wanita itu.


"Mas, Sandra dimana?" ucap Ratih tak menghiraukan pertanyaan suaminya.


"Sandra, tadi ada diluar," jawab Johan.


"Aku ingin bicara padanya."


"Baiklah, aku akan panggilkan." Johan bergegas keluar dari ruangan itu untuk memanggil Sandra.


"Johan, bagaimana keadaan Ratih?" tanya Sandra yang telah menghadang di depan pintu dengan wajah gelisah.


"Alhamdulillah, Ratih sudah sadar," jawab Johan dengan tenang.


"Alhamdulillah ya Allah." Sandra mengucapkan syukur dan merasa lega.


"Sandra, Ratih ingin bertemu denganmu."


"Ah baiklah." Sandra segera masuk kedalam ruangan itu dan di ikuti oleh Johan.


Sandra menemui sahabatnya terbaring lemah diatas bad pasien, dengan tubuh yang terpasang alat medis. Ratih tersenyum lembut saat menemui Sandra dihadapannya.


"Maaf telah membuatmu repot," ucap Ratih dengan suara lemah.


"Jangan bicara seperti itu, aku tidak merasa di repotkan. Kamu harus semangat untuk sembuh," jawab Sandra menggengam tangan Ratih.


"Tidak, San. Aku sudah capek. Ini saatnya kamu memenuhi keinginanku."


"Ratih, jangan bicara seperti itu, aku yakin kamu pasti bisa sembuh."


"Jangan paksa aku lagi, Sandra, aku ingin kamu dan Mas Johan segera menikah," jawabnya yang membuat Johan terkesiap dengan jantung berdebar.


"Ratih, apa yang kamu bicarakan? Jangan bicara ngaco kamu!" sanggah Johan tak terima.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2