
"Boleh aku duduk disini?" tanya Hanan sedikit ragu.
Alia hanya mengangguk sembari bergeser sedikit menjarak dari Pria itu. Hanan segera duduk di samping Alia.
"Alia, aku minta maaf karena sudah meninggikan suaraku," ucap Hanan dengan tulus.
"Tidak perlu minta maaf, Dok, karena itu salahku..."
"Tidak, Sayang, aku yang salah," ucap Hanan memotong ucapan Alia sembari menggengam tangannya.
Alia terkesiap saat tangannya di genggaman erat oleh Pria yang ada disampingnya. Seketika jantungnya berdegup kencang. Alia menatap kedua manik indah itu.
"Alia, aku mohon jangan tinggalkan aku, karena saat ini aku hanya punya kamu. Kamu sudah tahu semuanya tentang aku 'kan? Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Alia," ucap Hanan memohon dengan penuh pengharapan.
"T-tapi bagaimana kita bisa hidup bersama tanpa ada rasa cinta diantara kita," jawab Alia yang membuat Hanan menatap wajah Alia semakin dalam.
"Alia, bolehkah aku jujur tentang perasaanku yang sebenarnya?" tanya Hanan yang dijawab dengan anggukan oleh Alia.
"Sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, yaitu saat pertama kali kamu datang sebagai pegawai laundry. Aku sudah menyukaimu Alia," ucap Hanan mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya.
"B-bohong, kamu bohong 'kan? jika kamu mencintaiku, mana mungkin kamu tega melakukan hal buruk padaku," jawab Alia yang sudah menitikkan air mata.
"Alia, sumpah demi apapun, saat itu aku benar-benar dalam pengaruh obat perangsang. Aku di kerjai oleh teman saat menghadiri party atasan kami di RS. Saat itu aku benar-benar tidak berdaya Alia," lirih Hanan dengan wajah melas.
Alia mengalihkan pandangan sembari menghapus air matanya. "Aku tidak percaya dengan semua ucapanmu. Jika kamu mencintaiku, kenapa kamu tidak mau bertanggung jawab atas kehamilanku?" tanya Alia kembali. Sebenarnya ia berusaha untuk melupakan peristiwa pahit itu. Namun, saat Hanan mengatakan telah jatuh cinta saat pandangan pertama, rasanya sangat bohong. Kenapa dia menolak untuk menikahinya.
"Alia, saat kamu datang waktu itu, aku baru saja bertengkar hebat dengan kedua orangtuaku. Dan aku sedang berada dalam ancaman mereka. Aku mengakui bahwa aku salah, karena aku masih takut kehilangan apa yang sudah aku dapatkan, yaitu jabatan sebagai seorang direktur di perusahaan mereka, dan aku juga tidak ingin kehilangan gelar sebagai seorang Dokter, sehingga aku tak bisa berpikir jernih. Tapi, percayalah Alia, sungguh setelah dirimu pergi aku sangat menyesal dan kehilangan. Pada akhirnya aku menyerah, aku memilih meninggalkan segalanya demi dirimu," jelas Hanan dengan suara tercekat. Penyesalan itu terlihat nyata di wajahnya.
Alia memberanikan diri untuk menatap wajah suaminya dengan seksama. Ia tak tahu harus bagaimana menyikapi. Ingin rasanya ia marah, tetapi semuanya telah berlalu. Rasanya tidak ada gunanya bila mengungkit peristiwa silam. Kini lelaki itu telah membuktikan segala pengorbanan dan cinta yang tulus dia berikan untuknya.
"Dek, aku mohon tolong maafkan aku. Aku rela melakukan apapun demi dirimu. Sekarang katakan apa yang harus aku lakukan untuk dirimu?" ucap Hanan dengan wajah menghiba.
__ADS_1
"Bawa aku pergi dari kota ini, Dok, aku ingin melupakan segala kenangan pahit yang pernah terjadi dalam hidupku. Apakah kamu mampu melakukan itu demi diriku?" ucap Alia memberikan syarat yang begitu sederhana.
"Tentu saja, Sayang, kita akan pergi dari kota ini. Kita akan memulai hidup baru. Aku juga tidak ingin lagi mengingat kenangan pahit itu. Apalagi sekarang setelah aku mengetahui yang sebenarnya bahwa aku adalah seorang anak yatim-piatu. Sungguh rasanya begitu sakit Alia," ucap Hanan tampak begitu sedih.
Sebenarnya itulah salah satu alasan kenapa Alia membawa Hanan pergi dari kota yang banyak menyimpan kenangan pahit dalam hidupnya. Alia tahu Hanan begitu terluka setelah mengetahui yang sebenarnya. Ia ingin menjadi penguat untuk lelaki yang sebenarnya dulu sangat ia cintai. Namun, semenjak peristiwa itu, ia harus meyakinkan hatinya kembali untuk melabuhkan cintanya pada Pria itu.
"Baiklah, mari kita memulai hidup yang baru. Tolong beri aku waktu untuk meyakinkan hatiku, kamu tahu ini tidak mudah bagiku. Aku harus menata hatiku kembali," jelas Alia.
"Aku akan selalu sabar menunggu Alia. Terimakasih untuk maaf yang telah kamu berikan. Aku akan selalu berdo'a agar hatimu segera menerima cintaku." Hanan berharap hati wanita itu segera ikhlas menerima perasaannya.
Alia hanya mengangguk dan mengukir senyum lembut. "Sekarang ayo istirahat kembali, Dok, ini sudah larut malam," ucap Alia mengakhiri pembahasan mereka.
"Tapi, aku lapar Alia," jawab Hanan dengan wajah melas.
"Oh iya, kamu sedari tadi belum makan 'kan? Terus bagaimana?" tanya Alia juga bingung.
"Tidak apa-apa, aku delivery saja. Kamu mau makan apa?"
"Tapi aku tidak mau makan sendiri. Kamu harus temani aku," jawab Pria itu ngeyelan.
"Baiklah baiklah, aku akan menemani kamu makan. Aku hanya ingin minum lemon hangat saja," ucap Alia mengalah.
"Oke, aku pesan dulu ya." Hanan turun dari tempat duduknya untuk mengambil ponselnya yang ada di nakas tempat tidurnya, lalu memesan melalui salah satu aplikasi.
Selesai order makanan. Hanan kembali menghampiri Alia yang masih duduk menjuntai diatas ranjangnya.
"Dek, tolong buka infusku," ucap Hanan yang membuat Alia terkesiap.
"Tapi, aku tidak bisa melakukannya karena aku bukan orang kesehatan," jawab Alia sama sekali tidak berani.
"Aku akan mengajarkan, sini tangan kamu." Hanan meraih tangan Alia, lalu mengajarkan caranya mencabut jarum infus yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Dok, sungguh aku tidak berani."
"Ayolah, Dek. Aku tidak bisa bebas bergerak," ucap Hanan tak mau dibantah.
Alia tak bisa menolak, dengan rasa was-was ia mencabut jarum infus yang ada di punggung tangan Pria itu.
"Kenapa tidak minta tolong perawat saja. Aku benar-benar takut," omel wanita itu.
"Aku tidak ingin orang lain menyentuhku. Aku hanya ingin di sentuh olehmu. Mungkin kamu bukan Dokter ataupun perawat, tetapi kamu adalah sumber kesehatan bagiku. Menatap senyummu saja kesehatan jantungku semakin bertambah," ucap Pria itu yang membuat wajah Alia bersemu.
"Apaan sih, Dok. Nggak usah begitu ngerayunya," cicit Alia menatap malas.
"Eh, serius Dek. Ayo dong senyum lagi," ucap Hanan semakin jadi menggoda sang istri.
Alia hanya menggelengkan kepala sembari fokus dengan pekerjaan yang begitu sulit baginya, namun bagi tenaga medis pastilah hal yang mudah.
"Gini?" tanya Alia mengikuti arahan Dokter kandungan itu.
Hanan tak menjawab, tetapi hanya fokus menatap wajah cantik yang ada dihadapannya. Sungguh kecantikan wanitanya semakin bertambah-tambah sehingga ia mengabaikan pernyataannya.
"Dokter!" seru Alia sembari memukul bahu Hanan
"Ah ya, Sayang?" jawab Pria itu senyum gaje.
"Kenapa menatapku seperti itu? Lihat kesini. Tuh kan berdarah," ucap Alia begitu panik saat bekas jarum itu mengeluarkan darahh.
"Tidak perlu panik begitu, Dek. Itu tidak sakit. Tinggal kasih plaster saja," ucap Hanan tampak enteng.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1