
"Selamat pagi...," seru Sandra memasuki ruang rawat itu.
Ratih segera membalikkan tubuhnya menghadap pada asal suara yang baru saja masuk. Kini tatapan mereka bertemu.
"Sandra!"
"Ah, R-Ratih," jawab Sandra masih gugup.
Ratih segera duduk dan menerima uluran tangan wanita yang dulu juga sahabatnya. Ratih memeluk Sandra penuh kerinduan.
"Aku kangen banget sama kamu, Sandra. Kamu kenapa baru datang sekarang?" tanya Ratih masih memeluk Sandra.
"Maaf, aku tidak tahu bahwa kamu tinggal disini," jawab Sandra semakin merasa bersalah.
"Kamu jahat sekali," ucap Ratih sembari melerai pelukannya.
"Maafkan aku," ucap Sandra kembali. Sepertinya wanita itu hanya mampu mengucapkan kata maaf.
"Aku akan memaafkanmu. Tapi, ada syaratnya," jawab Ratih
"Syarat? Syarat apa?" tanya Sandra bingung.
"Kamu harus merawatku hingga sembuh. Jika aku tidak sembuh, maka berjanjilah untuk mengambil segala tanggung jawabku," jelas wanita itu yang membuat Sandra semakin tidak paham.
"Apa maksud kamu, Ratih?"
"Nanti saja aku jelaskan secara rinci, sekarang tugas kamu adalah menjadi Dokter dan sekalian teman untukku."
Sandra tak bisa menolak. Syukurlah jika Ratih tidak mengetahui yang sebenarnya. Tak mengapa ia menerima permintaan wanita itu. Nanti setelah Ratih sembuh, ia dan Hanan akan segera kembali ke kota asalnya.
Saat mereka sedang ngobrol, terdengar suara seseorang yang baru saja masuk, yaitu Johan. Pria matang itu menenteng begitu banyak makanan di tangannya.
"San, kamu sudah disini? Kalian lagi ngobrol apa nih?" tanya Johan menatap kedua wanita itu silih berganti.
"Biasalah, Mas, sedang cerita masalalu. Masa-masa kuliah dulu. Aku sedang mencari tahu kenapa sahabat baikku ini tetiba menghilang dari peredaran," jawab Ratih yang menohok pada Sandra. Terlihat wajah Johan dan Sandra berubah ekspresi.
"Kok wajah kalian terlihat aneh begitu?" tanya Ratih menatap kedua insan itu.
"Hah! Nggak, aneh apaan. Ayo kita sarapan dulu," potong Johan mengalihkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
Akhirnya mereka sarapan bersama. Banyak yang mereka bicarakan di sela-sela makan. Sandra mencoba untuk tetap tenang menjawab segala pertanyaan dari Ratih.
Selesai makan, terdengar suara Hanan. Pria itu memasuki kamar rawat yang dimana Ibunya juga ada di sana. Sebenarnya Hanan berniat ingin menemui Johan untuk membicarakan soal pemindahan tugas dirinya. Namun, ia menemui istri Dirut yang sudah ia kenal, tetapi hanya kenal sekedarnya saja.
"Ah maaf jika saya mengganggu," tutur Hanan berlagak biasa saja dan tidak mengenali Sandra.
"Tidak apa-apa, Nak. Masuklah. Kamu ingin menemui siapa?" tanya Ratih dengan nada begitu lembut.
"Maaf, Bu Ratih, saya ingin bicara dengan Prof Johan sebentar," jawab Hanan menatap Pria baya itu.
"Baiklah, kalau begitu mari keruangan saya," sahut Johan yang ingin segera beranjak. Namun, langkah ayah dan anak itu terhenti saat seseorang memasuki ruangan itu.
"Permisi!" Sapa seseorang yang membuat Johan dan Hanan menatap tajam ke arah orang itu.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Johan dengan nada dingin.
"Prof Johan, saya ingin menanyakan tentang pemutusan kontrak secara sepihak. Kenapa anda melakukan hal itu?" tanya Bimo pada direktur utama RS itu.
"Pemutusan kontrak secara sepihak? Apa maksud kamu?" tanya Johan tak mengerti.
"Tapi memang itu kenyataannya. Karena pihak RS anda telah menghentikan pelayanan farmasi kami, dan telah diganti oleh perusahaan lain!" jelas Bimo dengan nada sedikit jengkel karena melihat sikap berlagak pura-pura bodoh Johan yang mengatakan tidak tahu.
"Iqbal, temui saya sekarang!" titah Johan
"Baik, Prof."
Tak berselang lama Iqbal menghadap pada atasannya. Iqbal dan Bimo saling pandang dengan raut wajah tak menyenangkan.
"Katakan padaku apa yang membuatmu memutuskan kerja sama kita dengan perusahaan Pak Bimo?" ucap Johan dengan tenang.
"Karena menurut saya pelayanan farmasi mereka sangat jelek, dan banyak pengaduan yang saya terima dari para pasien mengenai pelayanan mereka begitu buruk dan lelet," ucap Iqbal menjelaskan alasannya.
"Jangan mengada-ada kamu, Dokter Iqbal. Bukankah selama ini pihak kami sudah bekerja dengan baik. Sungguh alasanmu tidak masuk di akal!" sentak Bimo menatap kesal dengan kepala rumah sakit itu.
Johan menatap kedua lelaki itu yang sedang beradu argument. Tak ada yang mau mengalah.
"Tapi memang itu kenyataannya, saya tidak akan mengambil tindakan bila semua tidak terbukti dengan mata kepala saya sendiri!" balas Iqbal.
"Omong kosong! Kenapa baru sekarang kamu mengatakan hal itu?"
__ADS_1
"Sudah, cukup!" bentak Johan menengahi kedua petinggi di RS itu. Sementara Hanan dan yang lainnya hanya menyaksikan perseteruan mereka. Hanan sebenarnya juga merasa janggal dengan tindakan yang dilakukan oleh Dokter Iqbal. Ia sangat tahu bahwa kinerja perusahaan ayah angkatnya itu selama ini baik-baik saja.
Apa yang membuat Iqbal mengambil tindakan yang merugikan pihak perusahaan Bimo.
"Iqbal, sekali lagi saya tanyakan padamu. Katakan dengan sejujurnya ada apa sebenarnya? Kenapa kamu sama sekali tidak membicarakan hal ini dengan saya?" ucap Johan dengan tegas.
Iqbal terdiam saat Johan mendesak dirinya. Namun, terdengar suara seseorang yang menjawab.
"Aku yang menyuruh Dokter Iqbal untuk melakukan semuanya," jawab Ratih yang membuat semua orang diruangan itu menatap padanya.
"Kamu? Ada apa ini, Ratih??" tanya Johan tak abis pikir.
"Ya, karena saya sudah tidak menginginkan perusahaannya bekerja sama dengan RS kita," jawab Ratih enteng.
"Hng! Benarkah begitu? Atau jangan-jangan kamu merasa terancam bila saya masih bekerja sama dengan RS mu?" timpal Bimo tersenyum senjang.
Bimo menatap Ratih dengan tajam. Sepertinya Pria itu sudah mengenal Ratih sejak lama.
"Apa maksud kamu?" tanya Johan tak mengerti ada apa sebenarnya. Dan kenapa dalam hal ini Ratih ikut andil memberi perintah pada staf-nya.
"Baiklah, jika kamu memulai genderang ini Nyonya Johan," sambung Bimo kembali dengan seringai jahatnya.
"Hei, apa-apaan ini? Katakan! Ada masalah apa kamu dan istri saya?!" bentak Johan merasa tidak sabar.
"Lebih baik kamu tanyakan sendiri pada istrimu itu! Jika dia tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya, maka aku bersedia mencurahkan secara detail," jawab Bimo.
Johan menatap Ratih untuk meminta penjelasan. Namun, wanita itu tidak berani membalas tatapannya.
"Apa ini, Ratih?" tanya Johan mencoba untuk tetap tenang.
"Tidak ada apa-apa, Mas. Jangan percaya dengan ucapannya. Lebih baik sekarang suruh dia keluar dari ruangan ini!" sanggah Ratih.
"Hahaha... Kenapa? Apakah kamu takut bahwa suamimu dan Dokter Sandra mengetahui yang sebenarnya? Hmm?" Bimo tertawa dengan memojokkan wanita yang sedang menderita penyakit berbahaya itu.
Seketika Johan dan Sandra saling pandang saat mendengar ucapan Bimo. Mereka benar-benar tidak mengerti ada apa yang sebenarnya?
Bersambung.....
Happy reading 🥰
__ADS_1