
Kini mobil yang ditumpangi pasutri itu sudah berhenti di depan gapura pemakaman umum. Ini kali pertama Alia menyambangi kediaman abadi putrinya.
Alia mengikuti langkah Hanan yang membawanya menuju sebuah makam bayi mereka. Alia tertegun saat melihat gundukan kecil yang ada dihadapannya. Perlahan wanita itu berjongkok.
"Anak Mama apa kabar? Mama kangen banget sama kamu, Nak. Kamu pasti sudah tenang di pangkuan sang khalik. Tunggu Mama di surga ya, Nak," ucap wanita itu sembari mengecup batu nisannya dengan deraian air mata.
Hanan juga ikut berjongkok disampingnya
Tangannya merangkul bahu Alia. "Jangan sedih ya, putri kita sudah tenang disana. Kamu harus ikhlas," ucap Hanan membawa Alia dalam pelukannya.
"Kangen banget, Mas..," lirih wanita itu sembari menghapus air matanya. Alia tidak boleh lagi larut dalam kesedihan, ia sudah merelakan kepergian buah hatinya.
"Kita kirim Do'a ya, semoga kelak kita dapat bertemu kembali dengannya," ucap Hanan yang mendapat anggukan dari Alia.
"Anak Papa yang tenang disana ya. Sampai kapanpun kamu akan selalu ada dalam hati Papa dan Mama. Semoga nanti Allah mempertemukan kita lagi di surga," ucap Hanan mengecup batu nisan putrinya.
Setelah cukup lama berbincang dengan batu nisan putri mereka, Hanan dan Alia mengakhiri dengan untaian Do'a.
"Ayo, Sayang. Ini sudah hampir siang. Kamu jadi kerumah Resha?" tanya Hanan sembari membantu Alia untuk berdiri.
"Jadi, Mas. Aku sudah kangen sama Resha. Tapi, apakah kamu tidak ingin bertemu dengan ibu? Kasihan Ibu, Mas, beliau tampak begitu sedih," bujuk wanita itu pada sang suami.
"Nanti saja, Dek, aku butuh waktu untuk meyakinkan hatiku," jawab Hanan datar.
"Baiklah, aku berharap kamu segera memberi penjelasan agar hati mereka tenang."
"Akan aku pikirkan nanti." Hanan segera berjalan mendahului sang istri. Entah kenapa hatinya masih sulit untuk berdamai dengan kenyataan.
Alia hanya menghela nafas dalam. Ia tahu bahwa suaminya masih butuh waktu untuk hal itu.
Hanan kembali memesan taksi online untuk mengantarkan mereka ke kediaman pasangan Dokter itu.
"Hai, Alia! ya Allah aku kangen banget sama kamu," seru Resha begitu senang menyambut kedatangan temannya yang sudah hampir satu minggu tak ia temui.
"Aku juga kangen sama kamu. Kamu apa kabar, Resha? Kenapa wajahmu terlihat pucat sekali?" tanya Alia sembari memegang kedua pipi Resha.
"Aku tidak kenapa-kenapa, Alia. Nanti aku ceritakan padamu, ada kabar bahagia," jawab Resha tersenyum senang.
"Serius? Ah aku sudah tidak sabar mendengarkannya."
__ADS_1
"Ayo sekarang kita masuk dulu. Eh, Mas Hanan, maaf sampai lupa, hehe... Ayo masuk Mas," ajak Resha yang hampir melupakan kehadiran suami sahabatnya itu.
"Hendra belum pulang?" tanya Hanan mengikuti langkah duo wanita itu.
"Belum, Mas. Mungkin bentar lagi pulang. Ayo duduk dulu biar aku buatkan minum."
Hanan dan Alia segera duduk, sementara itu Resha menuju dapur membuatkan minum untuk tamunya.
Tak berselang lama terdengar suara ucapan salam dari seseorang. pasangan itu segera menjawabnya. Ternyata Hendra yang pulang.
"Wah, ada tamu spesial nih," ucap Hendra yang segera menjatuhkan bokongnya di sofa yang berhadapan dengan pasangan itu.
"Kenapa tuh wajah kusut amad?" tanya Hendra menatap Hanan.
"Nggak kenapa-napa," jawab Hanan datar.
Hendra menatap Alia sembari menaikkan sebelah alisnya, Pria itu sedang meminta penjelasan pada Alia mengenai mood sahabatnya yang terlihat sedang buruk.
Alia hanya menaikkan kedua bahunya. Ia tidak berani mengatakan mengenai masalah yang sebenarnya.
"Han, kamu tidak ingin bicara denganku?" tawar Hendra.
"Baiklah, ayo kita duduk di teras belakang," ajak Hanan. Sepertinya ia butuh menukar pendapat pada sahabatnya itu.
"Sayang, aku ngobrol sebentar sama Hendra di teras ya," pamit Hanan pada Alia.
"Ya, Mas. Lama juga nggak pa-pa. Biar aku dan Resha mempunyai banyak waktu untuk ngobrol," jawab Alia tersenyum manis.
"Bisa aja kamu." Hanan mengusak rambut wanita itu, lalu meninggalkannya di ruang keluarga.
Ya, untuk saat ini Hanan hanya berani berlaku sedemikian pada istrinya. Ia melihat Alia masih menyimpan rasa trauma. Maka dari itu Hanan harus sabar menunggu hingga hati Alia benar-benar siap menerima kehadirannya lahir dan batin.
"Hen, apakah kamu tahu sesuatu tentang diriku?" tanya Hanan membuat Hendra menghentikan gerakan tangannya yang ingin menyeruput kopinya.
"Maksud kamu?" tanya Hendra tidak paham.
Hanan tersenyum sembari menatap lurus kedepan. "Aku sudah tahu siapa orangtua kandungku yang sebenarnya," jelas Hanan.
"Hah! Kamu serius?" ucap Hendra berlagak tidak tahu.
__ADS_1
"Hmm, Mereka adalah, Dokter Sandra dan Prof Johan."
"Oh ya ampun, kamu serius, Han?" Hendra masih mendrama.
"Kamu lihat aku sedang bercanda?" tanya Hanan sedikit kesal.
"B-bukan begitu maksud aku."
Hanan menatap Hendra yang berwajah biasa saja. "Kok ekspresi wajah kamu biasa saja?" tanya Hanan curiga.
"Terus, aku harus bermuram durja gitu?"
"Bukan gitu juga."
"Han, seharusnya kamu bersyukur karena bisa menemukan kedua orangtuamu. Kamu harus bisa menerima kenyataan ini. Aku yakin mereka juga tak menginginkan hal seperti ini. Namun, semuanya telah terjadi," ucap Hendra memberi nasehat pada sahabatnya.
"Sepertinya kamu sudah mengetahui hal yang sebenarnya?" tanya Hanan menatap heran.
"Ya, aku sudah mengetahuinya dari Prof Johan, alias ayahmu," sahut Hendra.
"Jadi waktu itu?"
"Ya, darah yang aku ambil itu untuk tes DNA. Prof Johan menceritakan semuanya padaku. Dan saat hasilnya keluar, aku merasa bersyukur akhirnya sahabatku ini telah menemukan kedua orangtua kandungannya."
"Tapi, itu semua tidak mudah bagiku, Hen," balas Hanan sembari meraup wajahnya dengan lembut.
"Aku tahu itu tidak mudah bagimu, tapi, apakah kamu dapat memikirkan bagaimana Ibumu berusaha mencari keberadaanmu selama puluhan tahun. Namun, setelah bertemu, kamu bersikap seperti ini? Percayalah Han, ibumu tidak membuang dirimu, dia hanya menitipkan untuk sementara waktu, karena kamu tahu bahwa kedua orangtuamu itu adalah yatim piatu. Tak ada Keluarga yang bisa mereka minta tolongi."
Hendra masih berusaha memberi pengertian pada sahabatnya, karena ia tak tega melihat kesedihan Dr Sandra saat bercerita dengannya di RS.
"Apakah kamu bercerita dengan ibuku?"
"Ya, Bu Sandra memintaku untuk bicara denganmu. Aku melihat ada kesedihan yang mendalam di hatinya. Bahkan Bu Sandra rela hidup sendiri demi terus mencari keberadaan putranya. Dia tidak ingin menikah sebelum berhasil menemukan anaknya. Bagi Bu Sandra hanya kamulah harapan satu-satunya."
Hanan menghela nafas dalam, hatinya merasa tersentuh saat mendengar pengorbanan ibunya yang rela hidup sendiri demi mencari keberadaan dirinya.
"Baiklah, aku akan bicara nanti sama Ibu." Akhirnya hati Pria itu luluh juga.
"Alhamdulillah... Semoga kamu selalu bahagia. Ayo berdamai dengan keadaan, dan mari raih kebahagiaanmu," balas Hendra yang di aminkan oleh Hanan.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰