
Hanan mengejar Alia. Wanita itu menuju teras yang ada di belakang RS. Tangisnya tetiba pecah saat rasa takut menghantui pikirannya.
"Dek, kamu kenapa?" Hanan segera membawa Alia masuk kedalam pelukannya saat mereka sedang duduk di kursi yang ada di teras RS itu.
Alia membalas pelukan Pria itu dengan erat. "Mas Hanan, jangan pernah tinggalkan aku, dan jangan berubah perasaanmu padaku," cicitnya tersedu sedan.
"Hei, apa yang kamu katakan? Siapa yang akan meninggalkanmu? Percayalah, perasaanku tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Hanya kamu wanita satu-satunya yang aku cintai," ucap Hanan sembari merenggangkan pelukan, lalu merangkum kedua pipi wanita itu dan menatap begitu dalam.
"Mas, aku takut..."
"Takut kenapa, Sayang?" tanya Hanan lembut sembari melabuhkan sebuah kecupan di kening sang istri.
"Aku takut bahwa kamu suatu saat nanti akan jatuh cinta pada Nova. Karena dia begitu mencintaimu. Dan bagaimana jika nanti kisah cinta kita menyamai Ibu dan Papa?" ucapnya menjabarkan rasa takut yang merasuki benaknya.
"Sayang..." Hanan membawa Alia kembali dalam pelukannya. Tangan Pria itu mengusap punggung Alia dengan lembut sembari mengecup puncak kepalanya berulang kali. "Dengarkan aku, Dek. Tolong jangan menyamakan kisah ibu dan Papa, karena sedari kecil mereka telah bersama. Sedangkan aku dan Nova hanya di kenalkan oleh kedua orangtua angkatku. Jadi tidak ada jalannya untuk bisa seperti hubungan Papa dan Ibu. Dan kamu juga tidak boleh lupa bahwa hubungan mereka telah menghadirkan aku ke dunia ini. Jadi stop untuk menyamakannya," jelas Hanan yang membuat hati wanita itu menjadi lebih tenang.
Alia sudah bisa kembali bernafas lega. Apa yang dikatakan Hanan memang benar bahwa hubungan Hanan dan Nova hanya di jodohkan oleh kedua orangtua angkatnya. Sedangkan Papa dan Ibu sudah bersama sejak mereka dari kecil. Bahkan menempuh pendidikan mereka juga di universitas yang sama.
Alia menatap manik indah lelaki itu dengan dalam. "Kamu janji tidak akan pernah tinggalkan aku dan anak kita ya. Sungguh aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpa dirimu," ucap Alia dengan wajah penuh harap.
Hanan meletakkan tangannya diatas kepala wanita itu. "Aku janji tidak akan pernah meninggalkan kamu, dan aku janji akan selamanya ada disampingmu hingga tembilang yang akan memisahkan kita," janji Pria itu dengan serius dan seperti sebuah sumpah yang sedang ia lafaskan.
Alia tersenyum penuh haru sembari melebur kedalam pelukan sang suami. "Terimakasih ya, Mas. Aku sangat mencintai kamu, dan sayang banget," lirihnya dengan tangis bahagia.
"Aku juga sangat menyayangi kamu, Dek. Sekarang jangan sedih lagi ya. Ayo kita makan siang sekarang. Kamu pasti belum makan 'kan?" ucap Hanan kembali mencuri kecupan di pipi wanita hamil itu.
"Baiklah, aku udah lapar banget. Tapi aku pengen makan katsu, Mas," rengeknya dengan manja.
"Oh, jadi anak Papa lagi pengen sesuatu? Ok, ayo kita cari sekarang," ucap Hanan menyapa buah cintanya sembari mengusap perut Alia.
__ADS_1
"Ok, Papa. Ayo kita jalan sekarang," jawab Alia menirukan suara anak kecil yang membuat Hanan gemas. Pria itu mengusak rambut istrinya dengan sayang sembari membantu untuk berdiri.
Jika Hanan dan Alia sedang berbahagia mengarungi biduk rumah tangganya, tak jauh beda dengan kedua orangtuanya. Dan begitu juga adik-adiknya yang sudah kembali ke kota tempat suami mereka bertugas.
***
Berbeda dengan pasangan yang tak lagi muda itu. Johan dan Sandra baru saja menempati sebuah rumah minimalis yang sengaja ia beli di sebuah kota kecil yang berada di kota Swiss.
Johan sengaja memilih tempat itu, karena suasananya sangat asri dan damai. Dan rumah yang mereka tempati tidak jauh dari laut. Suasananya benar-benar membuat mereka bahagia menikmati bulan madu yang tertunda.
Johan memeluk Sandra dari belakang saat wanita itu sedang mencuci piring.
"Apakah kamu suka tempat ini, Sayang?" tanya Johan sembari meletakkan dagunya di pundak sang istri.
"Aku sangat suka. Tempatnya begitu nyaman dan tentram," jawab Sandra dengan jujur, tetapi wanita itu tak mengalihkan perhatian dari pekerjaannya untuk mencuci peralatan makan yang baru saja mereka gunakan.
Johan yang merasa diacuhkan, ia segera membalikkan tubuh wanita itu hingga menghadap padanya.
"Emang kenapa dengan serba baru, Jo?" tanya Sandra tidak paham.
"Kamu kenapa masih saja polos sih, Dek?" tanya Johan yang membuat Sandra menjadi geli dengan panggilan itu.
"Johan, berhenti memanggilku dengan panggilan itu," protesnya dengan senyum merona.
"Kenapa emangnya? Tenanglah, Alia dan Hanan tidak akan mendengarnya. Aku tahu kamu tidak ingin aku memanggilmu seperti Hanan memanggil Alia 'kan?" tebak Johan dengan benar.
"Johan, apakah kamu tidak malu dengan umur kita. Kenapa kamu selalu saja membuatku malu," keluh wanita itu
"Sayang, kenapa kamu harus malu? Apa yang salah dengan umur? Bahkan banyak pasangan ringkih namun mereka tetap mesra hingga tua. Apalagi umur kita masih lima puluhan. Aku rasa itu tidak terlalu tua," jawab Johan sesuai fakta yang pernah ia temui.
__ADS_1
"Baiklah, disini kita boleh bersikap seperti layaknya pengantin baru pada umumnya. Tetapi jika kita sudah kumpul bersama anak-anak lagi, maka aku minta kamu jaga sikap," ujar Sandra memberi ultimatum pada suaminya.
"Ok, aku setuju." Johan menyetujui dengan cepat.
"Ayo sekarang cuci tangan kamu."Johan membantu mencuci tangan Sandra yang masih ada busa.
"Johan kita mau ngapain?" tanya Sandra saat lelaki itu menariknya untuk menuju kamar.
"Sayang, kita harus mencoba suasana baru di kamar. Aku ingin membuat kesan indah agar prosesnya segera membuahkan hasil," jawab Johan yang membuat Sandra menghentikan langkahnya.
"Proses? Proses apa maksud kamu?" tanyanya curiga.
"Ah, maksud aku proses bulan madu kita. Ayolah jangan banyak tanya lagi," ajak Johan tak sabaran.
Sandra sudah tahu apa yang diinginkan oleh sang suami, maka ia pasrah dan menikmati segala sentuhan yang membuatnya tak bisa pungkiri bahwa lelaki itu sangat pandai membuatnya bergetar dan membuat aliran darahnya mengalir deras saat sesuatu menjalar di sekujur tubuhnya.
Saat Johan ingin melakukan pada inti permainan itu, tetapi gerakannya terhenti saat Sandra memintanya untuk menggunakan pengaman. Karena wanita itu tak ingin lagi kejadian itu terulang kembali.
"Tenanglah, Sayang. Aku tidak akan melepaskannya di dalam," bisik Johan dengan suara berat.
"Aku tidak mau, Johan. Aku tidak percaya dengan kata-katamu," jawab Sandra masih enggan untuk melakukan penyatuan sebelum melihat dengan nyata bahwa sang suami menggunakan pengaman.
"Yaya, baiklah, aku akan menggunakan." Johan segera mengambil benda keramat yang telah ia sediakan sejak jauh-jauh hari. Dan tentu saja lelaki itu telah merencanakan dengan serapi mungkin agar usahanya tidak gagal.
Johan mengenakan sarung karet yang telah ia bocorkan terlebih dahulu, agar salah satu benihnya bisa tumbuh subur di dalam sepetak sawah milik sang istri.
Bersambung....
NB. Hai, raeder yang Budiman. Mumpung novel ini beberapa bab lagi mau tamat. Maka author sudah punya novel baru. Kira-kira disini pernah mampir di novel aku yang berjudul (Kutukar diriku demi sebuah keadilan) Nah, apakah ada yang ingat dengan Zafran? Kisah ini menceritakan perjalanan cinta Dokter Zafran dan seorang wanita, yang tak lain adalah Ibu dari pasiennya sendiri.
__ADS_1
Yuk mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak ya🙏😊🤗 Terimakasih.