
Akhirnya setelah sekian purnama Sandra dan Johan kembali mengulang rasa yang tertinggal. Sandra memeluk erat tubuh suaminya dengan senyum kebahagiaan.
"Apakah kamu puas?" tanya Johan sembari mengecup bibir wanita itu dengan lembut.
Sandra hanya menjawab dengan anggukan dan senyum malu. Johan semakin gemas melihat ekspresi wajah wanita itu.
"Jo, kenapa kamu lepaskan di dalam? Aku sudah katakan bahwa aku tidak mau hamil," rengek Sandra sembari mencubit kecil pinggang suaminya.
"Tenanglah, Sayang. Besok kamu minum KB darurat saja. Beres kan?" ucap Johan dengan senyuman.
"Tapi janji hanya sekali ini ya. Aku tidak ingin mengkonsumsi pil itu seringkali, karena efeknya tidak baik," jawab Sandra memperingati.
"Baiklah, Sayang. Tapi untuk malam ini kita bebas melakukannya 'kan?" ucap Johan yang kembali merusuh di tubuh polos istrinya.
"Johan, nanti dulu. Aku masih capek," ujar Sandra dengan suara manjanya.
"Tapi aku sudah tidak bisa menahannya." Johan tak menghiraukan permintaan wanita itu. Tangannya masih aktif menjamah bagian sensitifnya.
Sandra tak mampu lagi berkata saat tangan kekar itu kembali membuatnya melayang. Sandra benar-benar tidak menyangka bahwa stamina dan keperkasaan Johan tak bisa di ragukan. Sungguh dirinya yang masih minim pengalaman dibuat kewalahan.
Pasangan yang berusia matang itu menghabiskan malam dengan berbagi kenikmatan dan kepuasan. Entah jam berapa mereka menemui mimpi disaat tubuh mereka benar-benar tak berdaya lagi.
Jika Johan dan Sandra sedang menikmati momen indah itu. Namun berbeda dengan Hanan dan kedua adiknya.
Anak-anak pasangan Dokter itu sudah sampai di rumah utama. Hanan dan Alia juga ikut karena ingin melihat bagaimana hubungan ayah dan ibunya saat ini. Apakah mereka berhasil membuat pasangan baya itu berdamai? Atau malah sebaliknya hubungan mereka bertambah runyam.
"Bik, Ibu dan Papa sudah lama pergi?" tanya Sonya pada asisten rumah tangganya.
"Sudah, Mbak. Kira-kira jam delapan tadi," jawab Bibik jujur.
"Hah! Jam delapan?" ucap Hanan sedikit terkejut sembari menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam.
Hanan dan adik-adiknya saling pandang. "Papa dan Ibu kemana ya, Bang?" tanya Shella yang di jawab dengan gerakan bahu oleh Hanan.
"Eh, Bik." Hanan kembali bertanya saat Bibik hendak beranjak.
"Ya, Mas Hanan?"
"Apakah tadi mereka terlibat pertengkaran?" tanya Hanan khawatir.
"Siapa, Mas? Apakah Bapak dan Ibuk?" tanya Bibik memastikan agar ia tidak salah menjawab.
"Ya, benar."
"Tidak, Bibik tidak dengar ada pertengkaran. Malahan Bibik melihat mereka begitu mesra saat keluar. Bapak menggandeng tangan Ibuk dengan mesra," jelas Bibik lebih detail.
__ADS_1
Hanan dan kedua adiknya hanya tersenyum tipis. "Hah, ternyata usaha kita tidak sia-sia," ucap Hanan sembari merangkul bahu Alia.
"Ya, semoga saja Papa dan Ibu berdamai. Agar kami tenang untuk kembali lagi ke Singapore," sambung Sonya.
"Yasudah, sekarang mari kita istirahat. Biarkan orangtua itu menghabiskan malam. Sekarang kita yang harus istirahat dengan tenang," timpal suaminya Shella.
Mereka segera menuju kamar masing-masing. Hanan dan Alia juga menempati kamar yang pernah mereka huni sebelumnya.
"Tidur, Mas," ucap Alia yang melihat suaminya masih sibuk dengan laptopnya.
"Eh, ya bentar lagi, Dek," ucap Hanan yang segera menyudahi pekerjaannya.
Hanan menyimpan benda pipih itu, lalu ikut merebah di samping sang istri. "Dek, udah tidur?" ucap Pria itu sembari memeluk dengan penuh kasih sayang.
"Hampir, Mas," jawab Alia dengan mata begitu berat.
"Aku mau minta pendapat kamu, Dek."
Alia yang hendak terlelap segera membuka mata saat suaminya ingin curhat. Tentu saja sebagai seorang istri ia harus mendengarkan segala keluh kesah suaminya. Paling tidak untuk menjadi pendengar setia.
"Pendapat apa itu, Mas?" tanya Alia merenggangkan pelukannya.
"Papa memintaku untuk memimpin segala rumah sakitnya. Papa minta aku untuk berhenti praktek. Bagaimana menurut kamu?" tanya Hanan meminta pendapat wanita kesayangannya itu.
"Jika semua RS kamu yang handle, apakah kamu tidak begitu repot? Dan kamu juga belum mempunyai keahlian tentang itu. Menurut aku lebih baik kamu berfokus pada satu RS. Kalau bisa RS pusat saja. Jadi kamu jangan berhenti praktek terlebih dahulu. Kasihan juga para pasien yang sudah nyaman dengan kamu," usul Alia. Tetapi ia juga tak bisa menahan jika keinginan suaminya sudah begitu bulat.
"Ayo sekarang kita tidur," ajak Alia kembali masuk kedalam pelukan suaminya.
"Kira-kira Papa dan Ibu kemana ya, Dek?" tanya Hanan sembari memeluk wanita itu dengan erat.
"Ya ampun, Mas, jangan hiraukan. Biarkan mereka menikmati waktu berdua. Ibu pasti bahagia karena perasaannya sudah terbalaskan oleh Papa," jawab Alia masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Hanan.
"Apakah mereka akan memberi kita adik?" tanya Hanan yang membuat Alia kembali membuka matanya.
"Mas, kamu ini kenapa mikirinya yang aneh-aneh saja. Jikapun iya, nggak ada salahnya. Toh masih banyak orang yang lebih tua dari mereka mempunyai anak kecil," jawab Alia begitu memahami.
"Yang benar saja, masa iya kamu dan Ibu harus sama-sama hamil," balas Hanan keberatan.
"Tidak apa-apalah, biar nanti anak kita punya teman."
"Ya Allah, Dek. Kamu kok ngedukung banget."
"Terus, aku harus ikutan tak setuju, begitu? Mas, kamu kan tahu bahwa Ibu baru menemui kebahagiannya bersama Papa. Masa kita tega mematahkan angan-angannya. Jika itu bisa membuat mereka bahagia, kenapa tidak?"
"Begitukah?" tanya Hanan mencoba memahami.
__ADS_1
"Hmm, kita sebagai anak jangan pernah menjadi penghalang kebahagiaan mereka. Lagipula Papa dan ibu mau punya anak sepuluh tidak akan ada orang yang mencela. Toh dalam segi apapun mereka mampu."
"Yaya, baiklah. Aku setuju dengan pendapatmu. Kalau begitu aku juga ingin mempunyai anak yang banyak darimu. Biar garis keturunan Johan Lesmana semakin berkembang biak," jawab Hanan sembari mengusak wajahnya di dada Alia.
"Mas, jangan begitu. Geli Mas..." Wanita itu merengek saat tangan suaminya mulai merusuh manja di tubuhnya.
"Sayang, boleh ya," ucap Hanan dengan mupeng.
"Mas, kamu tidak ada capeknya ya, setiap malam aku selalu digempur masih saja tidak puas," ucap wanita itu sembari mencubit pipi suaminya dengan geram.
"Ayolah, Sayang. Dirimu selalu membuatku candu. Aku tidak akan pernah merasa puas."
Alia tak bisa menolak jika suaminya sudah merusuh seperti itu. Alia menerima segala sentuhannya, sehingga malam ini mereka kembali mengarungi gelombang cinta.
***
Pagi-pagi sekali Johan dikejutkan oleh vibrasi ponselnya yang menggangu tidurnya. Ia segera menilik siapa orang yang berani menelponnya sepagi ini.
"Hanan! kenapa anak ini menelpon pagi-pagi begini?" tanya Johan dalam hati.
"Assalamualaikum, Papa!" seru Pria itu di ujung sambungan.
"Ya, ada apa, Nak?" jawab Johan dengan suara berat.
"Papa membawa Ibuku kemana? Kenapa tak mengabari kami kalau mau malam pertama?" ucap Hanan yang membuat Johan tersenyum tipis sembari mengusap wajahnya.
"Kalau kamu sudah tahu kenapa kamu masih bertanya lagi? Bahkan Papa akan membawa ibumu ke luar negeri."
"Hah! Papa serius? Jadi sekarang Papa dan Ibu tidak disini?"
"Sudahlah jangan banyak tanya. Tunggu kami pulang. Nanti kita bicara lagi. Jangan lagi menghubungi nomorku."
"Eh, Pa. Tunggu dulu!"
Tut! Tut!
Sambungan telah di putus secara sepihak oleh Pak Dirut. Dasar anaknya itu mengganggu tidurnya saja. Apakah dia tidak tahu bahwa mereka begitu lelah setelah melewati malam panjang dengan penuh gelora asmara.
Johan tersenyum tipis sembari menatap wajah istrinya yang masih tertidur pulas. Sepertinya Sandra benar-benar Oleng saat mengimbangi hasratnya yang sudah lama menumpuk dalam jiwa dan raga.
"Sayang, ayo bangun." Johan membangunkan Sandra saat subuh menjelang.
"Hmm... Aku masih ngantuk, Johan," gumam Sandra masih enggan membuka matanya.
"Tapi sudah adzan, Sayang. Ayo kita mandi dan sholat subuh dulu. Habis itu kamu boleh meneruskan tidur," ucap Johan sembari membelai rambut istrinya dengan lembut.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰