
"Jadi kamulah orang yang hampir saja membunuh anak dan menantu saya?" ucap Sandra yang baru mengetahui ibu angkat putranya, karena selama ini Hanan tak pernah mau memberitahu saat Sandra ingin bertemu dengan Evi.
Hanan bukan tak ingin mempertemukan mereka, tetapi ia tak ingin lagi ada kegaduhan. Bagi dirinya dan Alia masalah itu sudah selesai.
"Maafkan saya, saya tahu salah," lirihnya menatap wanita baya yang tampak masih cantik.
"Untung saja kamu sudah meminta maaf, dan saya masih menghargai kebaikanmu yang telah merawat dan membesarkan anak saya. Andai saja kamu bukanlah ibu angkat Hanan, maka saya akan membuat perhitungan denganmu!" tegas Sandra dengan wajah datar.
Apalagi wanita itu moodnya sedang tidak baik, tetapi ia mencoba berjiwa besar untuk memaafkan.
"Sekali lagi maafkan saya. Pantas saja Hanan begitu baik dan penyayang, karena sikapnya mendominan padamu. Terimakasih telah memaafkan saya," ucap Evi dengan tulus.
"Baiklah, mari lupakan masalah yang pernah ada. Semua sudah menjadi masalalu. Dan aku harap ucapan maafmu itu tulus."
Sandra mengulurkan tangannya menerima kehadiran Evi untuk menjadi bagian dari putranya. Walau bagaimanapun juga, wanita itu telah berjasa mengambil alih peran dirinya untuk Hanan.
Kedua Ibu itu saling berpelukan. Dan begitu juga Bimo memohon maaf pada Johan. Kedua keluarga itu berdamai. Hanan dan Alia sangat bahagia melihatnya.
Kini keluarga itu sudah ngobrol, Bu Sandra dan Mama Evi sedang berbincang bercerita tentang masalalu bagaimana pasangan yang tak di karuniai keturunan itu bisa mengadopsi putranya.
Sedangkan Papa Johan, Bimo, Hanan, juga Hendra sedang ngobrol membahas tentang bisnis. Akhirnya Johan menerima kembali perusahaan Bimo bekerja sama dengan RSnya.
Menurut lelaki matang itu dia lebih nyaman bekerja sama dengan Bimo daripada perusahaan temannya yang telah ia ketahui menyukai istrinya.
Jangan lupakan wanita muda-muda itu sedang ngobrol membahas tentang bayi. Sonya dan Shella begitu gemas dengan baby Emyr, yaitu bayi Resha dan Hendra.
"Res, cerita dong pengalaman kamu saat lahiran," ucap Alia pada sahabat baiknya itu.
"Ngapain harus di ceritakan, Alia. Nanti kamu bisa merasakannya sendiri," jawabnya yang tak ingin berbagi.
"Kok kamu begitu? Sahabat macam apa kamu." Alia memberengut.
"Hahaha... Gitu amad ngomongnya. Aku tuh bukan nggak mau cerita, Alia. Tapi kata Mas Hendra, aku tidak boleh menceritakan apa yang pernah aku alami saat melahirkan, karena takutnya mengganggu pikiran kamu. Alia, percaya sama aku. Setiap wanita pasti akan melalui bagaimana proses melahirkan. Mau itu Caesar, ataupun normal. Kita pasti akan merasakan. Nah, lebih baik mulai sekarang kamu lebih mempersiapkan mental dan semangat menyambut kehadiran malaikat kecilmu," terang Resha panjang lebar.
"Kira-kira sakit nggak, Res?" tanya Alia yang masih saja penasaran.
__ADS_1
"Tentu saja, karena yang enak itu saat proses membuatnya," jawab Resha yang mendapat timpukan dari Alia.
"Kalian sudah bisa merasakan proses melahirkan, nah bagaimana aku yang sangat berharap sekali agar aku segera nyusul," timpal Sonya.
"Insya Allah, kita sama-sama berdo'a ya. Semoga tahun depan Allah berikan kepercayaan. Semangat pejuang garis dua!" ujar Resha menyemangati.
Keluarga itu tampak bahagia, tak ada lagi masalah menimpa keluarga besar itu. Mereka hanya menunggu kelahiran cucu pertama, dan kelahiran anak bungsu mereka.
Karena hari sudah malam, maka semua kerabat dan sanak saudara telah pulang. Hanan dan Alia juga memasuki kamar mereka untuk berbersih dan istirahat.
Sedangkan Johan dan Sandra masih perang dingin. Lelaki matang itu merasa frustasi menghadapi tingkah istrinya yang belum memberinya maaf.
"Mau ngapain?" tanya Sandra saat Johan hendak merebah di sampingnya.
"Mau tidur, Sayang," jawabnya mesra.
"Eh, siapa yang ngizinin kamu tidur disini? Aku tidak mau berbagi tempat tidur denganmu," ujar Sandra sembari menggeser tubuhnya menguasai ranjang yang berukuran king size itu.
"Jika tidak mau berbagi tempat tidur, bagaimana berbagi peluh denganku," jawab Johan tersenyum menggoda.
"Jangan mimpi kamu. Puasa sampai baby kita lahir," jawab Sandra segera membelakangi Johan.
"Tidur, Johan. Aku sudah ngantuk," jawab Sandra dengan suara berat.
"Aku mau tidur dimana, Sandra?"
"Terserah, asal jangan ditempat tidur ini."
"Kamu serius sudah tidak ingin lagi tidur bersamaku?" tanya Johan frustasi sembari meraup wajahnya.
Sandra tak menjawab pertanyaan lelaki itu. Ia sebenarnya hanya ingin menghukumnya satu malam lagi.
"Fine, kalau begitu mulai sekarang kita pisah ranjang," ujar Pria itu yang segera beranjak dari kamar.
Sandra yang hampir terlelap segera membuka matanya, mulutnya ingin memanggil Johan, tetapi sayangnya lelaki itu sudah keluar dari kamar.
__ADS_1
"Dia benaran marah? Nggak, aku nggak mau harus pisah ranjang!" Sandra segera beranjak menyusul sang suami. Ia tak ingin kemarahan Johan menjadi serius.
Sandra mencari keberadaan Johan, ruang tamu dan ruang keluarga telah ia telusuri, tetapi tak ia temui.
"Dimana dia tidur?" gumamnya dalam keseorangan.
"Oh, mungkin di kamar tamu." Sandra segera menuju kamar tamu. Namun, sosok yang ia cari tak juga ada disana.
"Kemana dia? Apakah dia tidak tidur dirumah ini?" tanya Sandra kebingungan.
"Johan! Jo!" panggilnya.
Sandra hendak keluar dari kamar tamu, tetapi ia melihat pintu balkon kamar itu terbuka. Wanita itu gegas melangkah kesana.
Dengan ragu ia membuka pintu itu dengan sempurna. Terlihat Johan sedang duduk seorang diri. Dan yang membuat Sandra tak habis pikir. Johan sedang menghisapp sebatang rokok.
Sejak kapan lelaki itu merokok? bukankah selama ini dia tidak merokok? Apakah Johan sedang frustasi.
"Jo?" panggil Sandra dengan rasa was-was.
Johan tak menyahut dan tak pula menatapnya. Apakah sekarang giliran lelaki itu yang marahan?
Sandra menghampiri ayah anaknya itu dengan perasaan entah. Tetiba saja hatinya sedih saat di cueki oleh lelaki yang dicintainya. Sandra takut bila nanti sikap Johan kembali dingin padanya.
"Johan, aku minta maaf," ucap wanita itu dengan suara tercekat. Namun, ekspresi wajah Johan tetap sama, yaitu datar, dan dingin.
Johan menghirup asap nikotin itu dengan dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan tanpa mempedulikan wanita itu yang sedang berdiri dihadapannya.
"Jo, jawab! Kenapa kamu diam saja!" Sandra mengguncang bahu suaminya, karena kesal merasa diacuhkan.
"Jangan ganggu aku, Sandra. Bukankah kamu sendiri yang ingin kita tetap seperti ini," jawabnya acuh.
"Aku tidak menginginkan hal seperti ini. Tapi, kenapa kamu jadinya marah benaran. Hiks Hiks..." Tangis wanita itu pecah. Dan kenapa sekarang kamu merokok? Aku tidak suka bau asap rokok itu," celotehnya masih terisak.
Johan merasa tak tega melihat istrinya yang sudah menangis sesenggukan. Ia memalingkan wajahnya dengan senyum tipis. "ternyata usahaku berhasil," gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung....
Happy readingš„°