
Saat Hanan dan Hendra sedang ngobrol membahas kedua orangtuanya, berbeda dengan kedua wanita ini.
Resha memberi kabar bahagianya pada Alia. Dan tentu saja membuat Alia ikut senang dan mendo'akan yang terbaik untuk sahabatnya itu.
"Semoga nanti lahirannya lancar, sehat debay dan ibunya," ucap Alia.
"Aamiin, terimakasih ya Alia. Semoga kamu segera menyusul ya," balas Resha yang mendapat senyum tipis dari Alia.
"Kenapa wajahmu begitu, Alia? Di Amini dong," ujar Resha.
"Resha, apakah aku boleh konseling lagi padamu?" tanya Alia tampak ragu.
"Tentu saja, Alia. Kamu boleh menceritakan segala masalahmu padaku. Sekarang katakan?"
Alia menghela nafas dalam, ia sedikit ragu untuk menceritakan masalahnya. Ia tak tahu bagaimana hubungannya dengan Hanan saat ini. Rasa takut dan traumanya selalu saja hadir saat Hanan mulai menyentuhnya, itulah yang membuatnya bingung.
"Res, aku tidak tahu bagaimana dengan hubungan aku dan Mas Hanan saat ini. Jujur, aku masih takut dan trauma. Aku ingin menjalani kehidupan normal layaknya pasangan suami istri seperti yang lainnya," jelas Alia.
"Alia, kamu harus bisa melawan rasa takut itu. Kamu tidak perlu lagi mengingat masalalu. Yang perlu kamu lakukan saat ini, ialah meresapi segala kasih sayang dan cinta yang diberikan oleh suamimu. Kamu yakinkan hatimu bahwa Mas Hanan benar-benar mencintaimu. Ayo lakukan, aku percaya kamu pasti bisa," ucap Resha.
"Bagaimana cara memulainya, Resha?" tanya Alia bingung.
"Kamu tidak perlu memulai, kamu hanya perlu menyambutnya dengan segala keyakinan hati dan penuh kebahagiaan."
"Apakah kamu yakin aku bisa?"
"Tentu saja. Aku yakin kamu pasti bisa bila kamu bersungguh-sungguh."
Alia menghela nafas dalam. Ia mencoba mengatur nafasnya yang terasa sedikit sesak kala membayangkan Pria itu menyentuhnya.
"Baiklah, aku akan mencobanya. Terimakasih ya, kamu adalah sahabat terbaikku," balas Alia tersenyum lega.
"Sama-sama, Alia. Semoga kamu akan selalu bahagia."
Alia tersenyum sembari mengaminkan Do'a dari sahabatnya. Sementara itu Hanan dan Hendra sedang ngobrol ngalur ngidul. Setelah membahas mengenai kedua orangtuanya, Hendra menayangkan tentang hubungan Hanan dan Alia.
"Ngapain kamu natap aku begitu?" tanya Hanan kala sahabatnya tersenyum aneh padanya.
"Bagaimana hubungan kamu dan Alia? Apakah sudah ada kemajuan?" tanya Hendra kepo.
Hanan menghela nafas pelan. "Ada, cuma sedikit," jawab Hanan datar.
__ADS_1
"Kenapa? Apakah usahamu terlalu cetek?"
"Entahlah, aku hanya tidak ingin membuatnya takut. Dan sepertinya Alia masih menyimpan rasa trauma."
"Hmm, sabar ya. Aku yakin suatu saat semuanya akan kembali semestinya."
"Semoga saja ya. Ngomong-ngomong, usaha kamu gimana?" tanya Hanan yang jauh ketinggalan.
"Wish, tak perlu kamu khawatirkan. Bahkan hasil dari usahaku itu akan memberimu seorang keponakan," timpal Hendra yang membuat Hanan terkesiap.
"Kamu serius, Hen?"
"Iyalah, kamu kira aku ini lelaki apaan."
"Alhamdulillah, selamat ya, Bro." Hanan mengulurkan tangannya dan disambut bahagia oleh Hendra.
"Terimakasih ya, Han. Aku berharap semoga kamu dan Alia segera menyusul, dan di titipkan seorang malaikat kecil lagi."
"Aamiin... Semoga Do'a kamu di dengar oleh Tuhan."
Setelah cukup lama mereka ngobrol penuh kehangatan, kini pasangan suami istri itu pamit pulang, karena hari sudah beranjak sore.
Di perjalanan, Hanan merubah alamat tujuannya, yaitu ke sebuah rumah dinas Dokter yang di sediakan oleh RS.
"Aku ingin bertemu ibu, Dek," jawab Hanan yang mendapat senyum bahagia dari sang istri.
"Alhamdulillah, aku seneng banget, Mas," ucap Alia sembari memegang tangan Hanan.
Sesaat tatapan mereka bertemu. Hanan mengecup tangan Alia dengan mesra.
"Mas, malu dilihat Pak supir," cicit wanita itu tersenyum merona.
"Kenapa harus malu, kita ini pasangan halal," timpal Hanan yang ditanggapi dengan gelengan oleh Alia, meskipun jantungnya berasa tidak nyaman.
Kini mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti di sebuah rumah yang terlihat cukup asri dan nyaman.
Hanan tampak ragu untuk menemui wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.
"Ayo Mas..," ucap Alia sembari sedikit menarik tangan sang suami.
Sementara itu di teras rumah tampak seorang wanita paruh baya yang berpenampilan masih menarik dan cantik sedang memperbaiki tanaman hiasnya.
__ADS_1
Sandra tak menyadari kehadiran putranya bersama sang menantu. Ia masih fokus menyiram dan memotong dahan-dahan yang mati.
"Assalamualaikum, Bu," ucap Alia dan di ikuti oleh Hanan dengan suara pelan.
"Wa'alaikumsalam... Alia, Hanan!" seru wanita itu dengan senyum bahagia. Sandra segera menghampiri mereka. "H-hanan, kamu datang, Nak," ucapnya dengan suara bergetar.
"Bu, m-maafkan aku," lirih Hanan dengan suara tercekat.
"Tidak, Nak. Kamu tidak pernah salah, jangan meminta maaf," ucap Sandra yang sudah berderai air mata.
Hanan tak kuasa menahan rasa haru serta merta memeluk sang ibu. "Aku rindu padamu, Ibu. Tolong jangan tinggalkan aku lagi," ucap lelaki itu begitu manja.
"Hiks... Anak Ibu, sumpah demi apapun Ibu sangat merindukan kamu, Nak. Tidak akan pernah, ibu tidak akan pernah meninggalkanmu lagi," ucap wanita itu dengan tangis bahagia mendekap erat tubuh putranya penuh kerinduan.
Hanan meresapi pelukan sang ibu, sungguh ia rindu dengan kasih sayang yang begitu tulus seperti saat ini. Tak menghilangkan segala jasa dan kasih sayang ibu angkatnya, yaitu Evi. Namun, sungguh terasa berbeda dengan kasih sayang dari seorang Ibu kandung yang tanpa pamrih pada anaknya.
Hanan melerai pelukannya. "Ibu jangan sedih ya, mulai sekarang kita akan selalu bersama."
"Terimakasih ya, Nak. Sungguh ibu sangat bahagia. Terimakasih kamu sudah memaafkan kesalahan ibu," ucap Sandra menghapus air mata bahagianya.
Hanan hanya mengangguk sembari merangkul bahu sang Ibu.
"Ayo sekarang kita masuk. Alia, ayo masuk, Nak," ajak Sandra pada anak dan menantunya.
Jika Sandra sedang menikmati momen indah bersama anak dan menantunya, lain dengan Johan yang baru saja mendapat telpon dari putrinya yang meminta dirinya untuk menjemput sang Mama.
Hari itu juga Johan bertolak ke Singapura setelah mendapat kabar bahwa sang istri tak ingin lagi menjalani perawatan di RS yang ada disana.
Setibanya di Singapura, Johan segera menuju kediaman putrinya, karena sang istri telah pulang ke kediaman anaknya.
"Papa, kenapa tidak mengabari aku kalau sudah sampai?" tanya Sonya sembari menyalami tangan sang ayah.
"Maaf, Papa tidak kepikiran. Mana Mama kamu? Kenapa dia keras kepala sekali," ucap Johan sedikit kesal dengan istrinya.
"Mama ada di kamar, aku sudah berusaha membujuknya, tetapi Mama tidak mau," jawab Sonya menjelaskan.
"Baiklah, biar Papa yang bicara." Johan segera menuju kamar istrinya.
"Mas, kamu udah sampai? Kenapa cepat sekali," seru Ratih dengan senyum sumringah melihat kehadiran lelaki yang sangat ia cintai.
"Kenapa? Apakah kamu terkejut? Bahkan aku lebih terkejut lagi saat kamu memutuskan segala pengobatanmu," jawab Johan menatap dalam.
__ADS_1
Bersambung.....
Happy reading 🥰