Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Hukuman


__ADS_3

Sandra membawakan secangkir kopi untuk Johan. Wanita itu tak bicara apapun saat kopi hitam itu disajikan dihadapannya.


"Terimakasih ya," ucap Johan dengan senyum manis.


"Sama-sama," jawabnya datar sembari beranjak ke dapur.


Ayah dan anak itu ngobrol sembari di temani kopi buatan istri mereka masing-masing. Tak berselang lama sarapan telah tersaji. Alia datang untuk memanggil kedua lelaki itu.


"Papa, Mas Hanan, ayo kita sarapan dulu!" ucap Alia.


"Baiklah, ayo kita sarapan," ucap Johan beranjak, dan di ikuti oleh Hanan.


Mereka makan dengan tenang, tak ada percakapan yang serius. Sandra banyak diam hanya berfokus pada makanan yang ada di piringnya.


"San, besok Sonya dan Shella akan kembali ke Singapore. Mereka ingin kamu, Hanan dan Alia menginap disana," ucap Johan saat selesai makan.


"Nanti aku akan temui mereka, tapi aku tidak janji untuk bisa tidur disana," jawab Sandra datar.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi jika kamu berubah pikiran, kamu bisa hubungi aku. Dengan senang hati aku akan menjemputmu," jawab Johan masih dengan senyuman.


"Tidak perlu repot menjemputku. Aku bisa datang sendiri."


"Apakah Sandraku benar-benar sudah menjadi wanita mandiri? Apakah dirimu tidak membutuhkan Pria baik yang selalu ada untukmu?" tanya Johan menggoda wanita itu.


"Aku sudah lama menjadi wanita mandiri, bahkan aku sudah tak membutuhkan Pria manapun untuk menjadi pelindungku."


"Tapi cinta masih butuh 'kan?" tanya Johan kembali dengan senyum menggoda.


"Ya, tapi cinta dari seorang lelaki yang juga mencintai aku, lelaki yang bisa menjaga perasaanku. Bukanya lelaki egois sepertimu!" tekannya dengan nada tinggi. Sandra beranjak dari ruang makan itu.


"Sandra, tunggu!" Johan segera mengejar langkah wanita itu.


Sementara itu Hanan dan Alia hanya bisa menghela nafas pelan . Tak tahu harus bagaimana dengan hubungan kedua orangtuanya.


"Kenapa sekarang Ibu bisa marah begitu lama pada Papa? Apakah benar Ibu sudah tak mencintai Papa?" tanya Hanan pada sang istri.


"Aku rasa Ibu masih sangat mencintai Papa. Namun, beliau harus membentengi diri sendiri agar tak kecewa untuk yang kedua kalinya," jawab Alia sembari mengemas piring kotor yang ada di meja makan.


Sementara itu pasangan yang sudah tak muda lagi itu sedang berdebat di kamar.

__ADS_1


"Sandra, ayolah aku mohon. Udah dong marahnya. Aku minta maaf atas segala kesalahanku," ucap Johan masih berusaha meluluhkan hati sang istri.


"Jo, aku sudah katakan bahwa aku ingin kita berpisah. Aku sudah menghapus perasaan yang selama ini aku simpan untukmu. Aku ingin memulai hidup baru dengan lelaki yang bisa mencintaiku. Aku sudah lelah mengejar cinta secara sepihak. Aku juga ingin dicintai!" tegas Sandra yang membuat Johan terpaku.


"Apakah lelaki yang kamu maksud adalah Angga?" tanya Johan menatap tajam.


"Bukan urusanmu. Jika memang dialah lelaki yang terbaik itu, kenapa tidak?" jawab Sandra yang membuat Johan semakin menyorot tajam.


Johan berjalan menghampiri dimana Sandra berdiri sehingga wanita itu mundur kebelakang saat tubuhnya semakin dekat. Tanpa ba-bi-bu, Johan segera meraih tengkuk Sandra dan melu matnya penuh gairah.


"Hmmp!" Sandra memukul dada Johan saat dadanya tak mempunyai pasokan udara.


"Johan, apa-apaan sih kamu!" kesalnya sembari melepaskan pagutannya.


"Itu hukuman bagimu! Berani sekali kamu mencintai orang lain. Dengar Sandra, aku tidak akan membiarkan Pria lain mendekatimu!" ucap Johan sembari meninggalkan wanita itu yang masih mengatur nafasnya.


Sandra terduduk di kursi rias, ia menatap wajahnya di pantulan cermin. Tangannya mengusap bibirnya dengan lembut. Ciuman panas yang diberikan lelaki itu membuat jantungnya kembali berdegup tak beraturan.


"Aku benci dengan perasaan ini!" gumamnya geram sendiri.


Sandra segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, ia juga harus bersiap ke RS.


Pagi ini Hanan baru saja sampai di RS, sedikit terlambat karena harus bicara dengan sang Ibu.


"Bang Hanan!" panggil seseorang yang membuat Hanan segera menoleh.


"Sonya! Ada apa?" tanya Hanan pada adik keduanya itu.


"Bang, aku dan Mas Febrian ingin konsultasi dan menjalani pemeriksaan. Soalnya kami sudah tiga tahun menikah, tetapi belum mempunyai keturunan," jelas Sonya pada sang kakak.


"Sudah tentukan dokternya?" tanya Hanan.


"Sudah, aku sudah boking dua hari yang lalu, yaitu sama Abang," jawab Sonya tersenyum.


"Kenapa harus denganku? Cari dokter yang lain saja!" ucap Hanan yang merasa entah saat menangani pasien dari saudaranya sendiri.


"Kenapa Abang menolak? Sebegitu bencinya Abang padaku? Jika Abang kecewa dan marah pada Papa ataupun almarhum Mama, tolong jangan marah juga padaku dan Shella. Kami hanya butuh seorang Kakak yang bisa melindungi," lirihnya dengan berderai air mata.


"Hei, kenapa kamu berpikir seperti itu. Abang tidak marah padamu sama sekali." Hanan segera meraih wanita itu masuk kedalam pelukannya. "Bukan begitu maksud Abang, Dek. Kamu itu adalah adikku. Rasanya agak aneh untuk memeriksa ke hal yang mengarah ke pribadi. Begini saja, kamu lakukan pemeriksaannya dengan Dokter Obgyn wanita, nanti hasilnya Abang yang menerangkan. Bagaimana?" tanya pria itu meminta persetujuan dari adiknya.

__ADS_1


"Abang yakin hasil pemeriksaannya akan sama dengan Abang?" tanya Sonya sembari merenggangkan pelukannya.


"Tentu saja. Bahkan dia lebih senior dari Abang."


"Baiklah kalau begitu."


"Lagian kamu dan Febrian kenapa harus periksa disini? Bukankah di Singapore lebih bagus pemeriksaannya?" tanya Hanan membawa kedua adiknya itu ke ruang prakteknya.


"Sebenarnya..." Sonya menghentikan ucapannya.


"Sebenarnya apa?" tanya Hanan menatap dalam.


"Aku hanya ingin dekat dengan Abang. Karena selama kami disini Abang tidak pernah datang, ataupun mengundang aku dan Shella datang ke kediaman kalian," jawab Sonya yang membuat hati Hanan tersentil.


Ternyata selama ini dia melupakan kehadiran kedua adik perempuannya. Mungkin karena dia lebih fokus dengan perasaan sang Ibu.


"Sonya, Abang minta maaf. Nanti malam datanglah ke rumah, Abang akan beritahu Alia dan ibu agar kita bisa makan malam bersama."


"Benarkah? Yee, aku senang sekali. Kami pasti datang. Benar kan, Mas?" tanyanya pada sang suami.


"Ya tentu saja. Kami sangat senang bisa kembali berkumpul dengan keluarga yang ada disini," jawab Febrian ikut senang.


"Jadi bagaimana? Apakah kamu ingin meneruskan pemeriksaannya?" tanya Hanan kembali pada pembahasan pertama.


"Nggak jadi deh, Bang. Aku periksa di Singapore saja."


"Jadi kamu kesini?"


"Ya, aku kesini cuma ingin bicara dengan Abang. Dan aku juga ingin membahas tentang Papa dan Ibu."


Merasa tidak enak bicara di ruang praktek, maka Hanan membawa Sonya dan Febrian ke kantin agar mereka bisa bicara lebih leluasa. Hanan meminta jadwalnya diundur satu jam kedepan.


Sementara itu Sandra baru saja datang, ia kembali berpapasan dengan Dirut RS itu. Seketika wajahnya bersemu saat kejadian pagi tadi melintas di benaknya. Sandra berusaha untuk tetap tenang. Ia mengira lelaki itu akan menyapa dirinya. Namun, dugaannya salah. Johan berlalu begitu saja dengan wajah datar.


Johan masih merasa kesal dengan ucapan istrinya yang mendambakan lelaki lain.


Bersambung...


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2