Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Hukuman dari sang istri


__ADS_3

"Johan...!" teriak Sandra dengan mimik wajah sangar.


"Ibu!" ujar Hanan sembari menutup mulutnya, dan ia menatap sang Papa yang tampak menelan air liur dengan kasar.


"Hehe... Sorry, Pa. Sepertinya aku tidak bisa ikut campur dalam masalah ini," ucap Hanan yang segera ingin beranjak.


"Mau kemana kamu, Hanan?" bentak Sandra pada putranya. Ia merasa bahwa Hanan memberi dukungan penuh kepada ayahnya sehingga Pria baya itu semangat untuk melakukan kecurangan.


"Ah, Bu. Aku mau tidur, soalnya sudah ngantuk," jawab Hanan sedikit gugup.


"Diam disana!"


"Tapi, Bu?"


"Ibu bilang diam!"


Seketika Johan tersenyum melihat sang anak juga mendapat imbasnya. Lagipula ini semua memang karena Hanan, coba saja dia tak menanyakan hal itu, maka Sandra tidak akan mendengar segala kejujurannya.


Sandra berjalan menghampiri Johan yang tampak pasrah. Tatapan wanita itu begitu menyala seakan ingin menelannya bulat-bulat.


"S-sayang, aku b-bisa jelaskan," ucap Johan terbata-bata.


BUGH! BUGH! BUGH!


"Bisa-bisanya kamu mencurangi segala kesepakatan yang telah kita buat, Johan!" ucapnya sembari memukuli tubuh suaminya bertubi-tubi.


"Sayang, Sayang. Dengarkan aku dulu!" ucap Johan sembari menangkis dengan kedua tangannya.


"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan! Aku sudah dengar semuanya!" ujar wanita itu masih memukuli suaminya.


"Hanan, kenapa kamu diam saja? Bantu Papa Hanan!" teriak Johan merasa kesal melihat perangai anak lelaki satu-satunya itu. Hanan hanya tersenyum melihat sang ayah mendapat pukulan dari sang ibu.


"Hei, anak bodoh. Ayo bantu aku!" teriak Johan yang merasa kewalahan.


"Hahaha... Gimana ya, Pa. Habisnya Papa curang sih," jawab Hanan dengan santai.


Seketika Sandra menghentikan tangannya yang sedang memukuli Johan. Kini tatapan wanita itu beralih pada putranya yang tadi terdengar dengan tawa renyah.


Plakk!


Sebuah tamparan mendarat di kepala Dokter kandungan itu. Seketika Hanan ternganga. Rasanya tidak percaya baru kali ini ia mencoba terkena tangan sang Ibu.


"Bu, kenapa aku di pukul? Ini kan kesalahan Papa," protesnya sembari mengusak kepala yang terasa sakit karena tamparan sang Ibu.


"Tentu saja kamu juga mendapat hukuman, karena kamu mendukung kecurangan Papamu!" bentak Sandra yang kembali ingin melayangkan tangannya.


"Eh, eh. Ampun, Bu!" ucap Hanan sembari menangkup kedua telapak tangannya untuk meminta pengampunan dari wanita yang telah melahirkannya.


Johan yang melihat kejadian itu tak kuasa menahan tawa seakan rasa sakit terkena cubit, pukul dan gigitan istrinya hilang seketika.


"Kalian sama saja! Johan, ikut aku!" titah Ibu negara dengan angkuhnya berjalan mendahului kedua lelaki beda generasi itu.

__ADS_1


Johan dan Hanan saling tatap. "Ini semua gara-gara kamu," ucap Johan menatap malas.


"Kenapa aku yang di salahkan. Itu semua perbuatan Papa. Siapa suruh udah tua masih saja pengen tambah anak," jawab Hanan yang membuat Johan refleks mendorong kepala putranya.


"Tidak seru bekerja sama denganmu," geram Johan. Ia mengira putranya akan membantunya untuk menjelaskan kepada ibunya, tetapi dia malah tertawa melihat penderitaannya.


Johan mengejar langkah sang istri sembari merayu wanita itu. Namun, sayangnya Sandra tak luluh sedikitpun, hatinya masih kesal dengannya.


"Sayang, dengarkan penjelasan aku dulu," ucap Johan mensejajarkan langkahnya.


"Diam, Johan!" bentak Sandra menatap garang.


"Ya baiklah." Johan pasrah, ia tak tahu hukuman apa yang akan di lakukan oleh sang istri.


Setibanya di kamar, Sandra duduk di sofa dengan melipat kedua tangannya di dada.


Johan ikut menjatuhkan bokongnya di samping Sandra dengan hati was-was.


"Jangan dekat-dekat denganku," intrupsi wanita itu sembari menggeser untuk menjauh dari Johan.


"Tapi, Sayang?"


"Tidak ada tapi-tapian!" potong Sandra dengan kesal.


Johan terdiam sembari mengamati wajah sangar singa betinanya itu. Sandra pun menoleh.


"Sekarang jelaskan padaku kecurangan apa yang telah kamu lakukan sehingga benihmu bisa subur di rahimku?" tanya Sandra masih mode marah.


BUGH!


Sandra menimpuk lelaki itu menggunakan bantal sofa. "Tentu saja aku ingin tahu seperti apa kecuranganmu itu. Ayo Johan, jelaskan!" titahnya.


"Yaya, baiklah." Johan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung harus memulainya dari mana.


"Cepat Johan!"


"I-iya. Sebenarnya, waktu kamu minta di belikan pil kontrasepsi..."


"Apa?" tanya Sandra penasaran.


"Aku menukarnya dengan pil penyubur kandungan," jawab Johan dengan wajah melas.


"Terus?"


"Terus, pengaman yang aku gunakan telah aku bocorkan terlebih dahulu," ucap pria itu dengan jujur.


Jangan ditanya bagaimana ekspresi wajah Sandra saat mendengar pengakuan suaminya yang benar-benar meresahkan.


"Johan...!" pekik Sandra sembari memukuli bantal sofa itu pada suaminya.


"Ampun, Sayang. Udah dong!" mohon Johan sembari menangkis dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Aku benci sekali sama kamu, Johan!" serunya sembari meninggalkan lelaki itu, lalu naik keatas tempat tidurnya.


Johan tak ingin membiarkan kemarahan wanita hamil itu berlarut-larut. Ia ikut menepati ranjang itu.


"Aku tidak mau melihat kamu. Tidur diluar sana!" usir Sandra seraya melemparkan bantal guling pada Johan.


"Tapi, Sayang?"


"Cepat Johan! Aku masih kesal sama kamu!"


"Serius kamu tidak ingin tidur sama aku? Bagaimana jika baby nyariin Papanya?" ucap Johan masih berusaha membujuk.


"Biarin, pokoknya aku tidak mau tidur sama kamu," jawab Sandra yakin.


Johan menghela nafas dalam. "Baiklah, jika kamu kangen aku, maka dengan senang hati aku akan memelukmu dengan nyaman," ucap Johan sembari melangkah keluar dari kamar.


Johan menuju kamar tamu sebagai tempatnya istirahat. Lelaki itu berjalan dengan mengendap-endap agar tak ketahuan oleh Hanan.


"Semoga saja anak itu sudah tidur. Bisa jatuh harga diriku jika diketahui olehnya. Ah, aku benar-benar tidak menyangka bahwa ini semua akan terjadi padaku. Nasib seorang ayah yang memperjuangkan anaknya," gumam lelaki itu sembari melihat kiri dan kanan.


Seketika langkahnya terhenti saat pijar lampu menerangi ruangan itu. Johan melihat Hanan sudah berdiri dengan bersedakap tangan di dada.


"Ck, kenapa malam ini sial banget," rutu Johan menatap malas pada Hanan.


"Papa, ngapain bawa-bawa bantal segala?" tanya Hanan curiga.


"Ini, Papa mau tukar bantal yang ada di kamar tamu, karena ini bantalnya kurang nyaman," jawab Johan jelas berbohong.


"Kamu sendiri kenapa belum tidur?" tanya Johan sembari mengamati wajah putranya yang tampak kusut.


"Ck, pake nanya lagi. Ini semua gara-gara Papa," jawab Hanan dengan nada jengkel.


"Kenapa nyalahin Papa?"


"Ya tentu saja, karena Alia sedari tadi ngomel karena aku cerita kena tempeleng sama Ibu, dan Alia tambah memarahiku, katanya tindakanku memang salah karena telah membantu Papa," jelas Hanan yang di tanggapi oleh senyum sumringah oleh sang Ayah.


"Malas senyum lagi," ujar Hanan menatap malas.


"Sudahlah, terima saja nasibmu. Memang kamu di takdirkan untuk menjadi sekutuku," jawab Johan sembari merangkul pundak putranya menggiring ke kamar tamu.


"Mau ngapain, Pa?"


"Tentu saja tidur. Kita tidur disini malam ini. Ayo cepat tidur, karena besok acaramu," ajak Johan yang membuat Hanan masih bingung.


"Papa juga di hukum ibu?"


"Hehe... Jangan tanya lagi, Nak. Ayo sekarang tidur."


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2