
Johan segera meraih tangan Sandra, lalu sedikit memaksa untuk masuk kedalam mobilnya. Wanita itu tak bisa menolak, ia juga tak ingin menjadi bahan tontonan oleh orang-orang yang ada di parkiran.
Dengan hati kesal Sandra menduduki kursi bagiannya yang ada di samping Johan. Pria baya itu tampak acuh tanpa memperdulikan kemarahan istrinya. Sejenak otaknya berpikir. Jika ia tak ada rasa, tapi kenapa hatinya terasa sakit saat melihat istrinya berjalan dengan lelaki lain?
"Lain kali kabari aku jika kamu ingin pergi dengan seseorang. Meskipun dia adalah teman lama," ucap Johan yang membuat Sandra menatap tak percaya. Apakah telinganya salah mendengar ucapan lelaki ini?
"Apa urusanmu? Aku ingin jalan dengan siapapun bukan urusanmu," jawab Sandra ketus.
"Tentu saja menjadi urusanku, karena kamu itu istriku." Lelaki itu itu menjawab begitu tenang.
"Bukankah kamu sendiri yang menginginkan aku agar tak mengganggu kehidupanmu lagi?"
"San, aku tidak pernah mengatakan hal itu."
"Ya, kamu memang tak pernah mengatakan hal itu. Namun, sikapmu yang menginginkan aku menjauh dari kehidupanmu."
"Tidak, Sandra. Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya butuh waktu saja." Johan masih berusaha untuk menjelaskan.
"Tapi ucapanmu membuatku menyadari bahwa aku memang tidak pantas menjadi istrimu. Baiklah, Johan. Kamu menginginkan kita akan tetap menjadi sahabat untuk selamanya, bukan? Kalau begitu mari kita berpisah, agar status hubungan tidak ada yang berubah," ucap Sandra yang membuat Johan menginjak pedal rem secara mendadak.
"Sandra, apa yang kamu ucapkan? Aku tidak menginginkan perpisahan. Ayolah, Sandra. Tolong beri aku waktu untuk meyakinkan hatiku," ujar Johan tidak setuju dengan permintaan sang istri.
"Tapi aku sudah memutuskan untuk bercerai darimu."
"Tidak! Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu!" jawab Johan dengan tegas.
"Terserah padamu. Keputusanku sudah bulat."
Johan mendengus kesal sembari menjalankan mobilnya kembali. Otaknya tak habis pikir, kenapa Sandra dengan mudah meminta berpisah? Apakah Angga telah membuatnya jatuh cinta? Tapi, bukankah Sandra sudah mencintainya sejak lama? Kenapa sekarang begitu mudahnya menghapus perasaan itu hanya karena pertemuannya dengan Angga.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan Angga mengambil istriku. Apa kurangnya aku dari lelaki itu?" Johan bergumam dalam hati. Otaknya masih berpikir bagaimana caranya untuk membujuk istrinya itu agar membatalkan niatnya.
Setibanya dirumah, Sandra segera turun tanpa bicara ataupun berbasa-basi untuk menawarkan suaminya mampir terlebih dahulu. Namun, tak masalah bagi Johan. Tanpa diminta ia mengikuti langkah wanita itu.
"Mau ngapain kamu?" tanya Sandra menatap kesal.
"Tentu saja masuk kedalam rumah. Aku lapar dan ingin mandi," jawab Johan acuh sembari mendahului langkah istrinya.
__ADS_1
"Ck, apa sih maunya dia?" kesal Sandra meneruskan langkahnya.
"Papa! Tumben Papa kesini?" sapa Alia saat berpapasan dengan ayah mertuanya.
"Ya, mulai sekarang Papa akan tinggal disini," jawab Johan dengan yakin.
"Hah! Papa serius? Wah, aku senang sekali. Jadinya kita tambah rame dong." Wanita itu tersenyum senang saat mendengar ayah mertuanya ingin tinggal bersama mereka.
Sandra yang mendengar ucapan Johan segera protes tak terima. "Apa-apaan kamu? Sana pulang. Aku tidak mau tinggal satu rumah denganmu. Lagipula aku dan Hanan akan pulang ke ujung batu," timpal Sandra.
"Aku juga akan ikut," jawab Johan dengan santainya melenggang masuk kedalam kamar Sandra.
"Johan, kamu mau ngapain? Aku tidak mau satu kamar denganmu!" Sandra menahan lelaki itu saat ingin masuk kedalam kamarnya.
Alia hanya bisa bengong melihat perseteruan antara kedua pasangan halal yang sudah tak muda lagi. Namun, karena mereka tergolong orang senang, maka terlihat masih gagah dan cantik. Apalagi Bu Sandra yang selama ini hanya hidup sendiri, wajahnya masih terlihat fresh dan awet muda.
"Unik, bukan?" tanya Hanan yang sudah berdiri disampingnya.
"Mas, lihatlah ibu begitu garang. Apakah hubungan mereka akan baik-baik saja?" tanya Alia dengan wajah cemas. Tentu saja sebagai anak mereka tidak menginginkan kedua orangtuanya berpisah.
"Tenanglah, biarkan Papa berjuang untuk meluluhkan hati wanita yang terabaikan selama puluhan tahun olehnya. Anggap saja ini adalah hukuman untuk Papa," jawab Hanan sembari merengkuh pinggang istrinya.
"Aku yakin, kamu kira Ibu orangnya setega itu. Apalagi dengan lelaki yang amad dicintainya. Ibu hanya sedang memberi pelajaran kecil pada lelaki pujaannya."
"Ish, kamu ini sudah seperti peramal saja." Alia mencubit kecil pinggang suaminya.
"Aku memang peramal, tapi peramal cinta. Hahaha... "
Alia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang tampak senang melihat ibunya memberi pelajaran pada sang Ayah.
"Sudahlah, jangan pikirkan tentang orangtua yang sedang di mabuk cinta itu. Ingatlah, kamu harus menjaga kesayanganku dengan baik," ucap Hanan sembari mengusap perut datar Alia.
Wanita itu tersenyum bahagia. "Baiklah, ayo aku siapkan makan siang untuk kamu dan Papa."
Hanan mengikuti langkah istrinya menuju dapur. Pria itu duduk manis dengan memainkan ponselnya sembari menunggu sang istri menyediakan makan siang.
Sementara itu di kamar, Sandra masih mengomeli Pria baya itu karena begitu acuh dengan segala larangannya.
__ADS_1
"Johan, kamu bisa dengar apa yang aku katakan, bukan?" tanya Sandra menatap kesal.
"Aku dengar, Sandra. Kamu tidak perlu berteriak seakan aku tuli. Kenapa sekarang kamu pemarah seperti ini? Mana Sandra yang dulu begitu manis dan lemah lembut saat bicara?" tanya Johan sembari mengusak rambutnya yang basah dengan handuk yang di pinjamkan oleh istrinya.
"Jangan berharap lagi Sandra yang dulu. Karena Sandra yang dulu terlalu bodoh, sehingga sekarang dia tidak akan melakukan hal sama lagi," jawabnya datar.
Johan tak lagi menyahut, ia mendekati wanita itu yang sedang duduk di pinggir ranjang. Johan merundukkan tubuhnya sehingga wajahnya berhadapan dengan wajah Sandra.
"Apakah benar? Kalau begitu aku akan berusaha untuk melunakkan hatimu agar kembali menjadi Sandra yang memiliki hati yang lembut dan bersikap manis," ucap Johan dengan senyum Pepsodent, sehingga hembusan nafas yang beraroma mint dapat tertangkap di indra penciuman wanita itu.
Kembali jantung Sandra berdegup tak seirama. Namun, ia berusaha untuk menekan perasaan itu. Ia harus menjadi wanita yang punya pendirian. Ia tak ingin lagi di kecewakan oleh lelaki itu untuk kesekian kalinya.
"Awas, Johan!" Sandra mendorong tubuh lelaki itu agar menjarak darinya.
Johan hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang tak bisa menyembunyikan wajah malunya.
Tok! Tok!
"Papa! Ibu!" panggil Hanan dari luar.
"Ya, Nak!" sahut Sandra yang bergegas membukakan pintu.
"Lama sekali buka pintunya?" tanya Hanan sembari menatap penampilan ayahnya yang baru saja selesai mandi. Jangan bilang bahwa lelaki itu telah berhasil merayu ibunya.
"Tumben sekali siang-siang begini Papa mandi?" tanya Hanan menatap curiga.
"Kenapa? Apakah hanya kamu saja yang bisa melakukannya?" tanya Johan balik.
"Ck, apa sih yang kalian bahas? Jangan mikir yang aneh-aneh kamu, Hanan!" sanggah Sandra yang segera meninggalkan ayah dan anak itu disana.
Hanan tersenyum menatap sang Ayah. Johan berusaha untuk tetap tenang, meskipun hatinya sedikit malu.
"Ngapain kamu senyum-senyum?" tanya Johan datar.
"Cuma mau bilang. Selamat berjuang lebih keras lagi, Papa. Hehe..." Hanan segera mendahului Johan untuk menuju meja makan.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰