Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Makan malam


__ADS_3

"Aku, aku sudah tidak ingin lagi dirawat disini, Mas," jawab Ratih tampak tenang.


"Kenapa? Apa yang salah? Bukankah kondisi kamu sudah mulai membaik?" tanya Johan sembari menghampiri sang istri, lalu duduk disampingnya.


"Karena itu aku ingin dirawat di RS kita saja."


"Tapi, Ratih?"


"Sudahlah, Mas. Aku tidak ingin berdebat. Aku hanya ingin menjalani pengobatan di RS kita."


Johan tak bisa bicara, ia tahu betul bagaimana sikap sang istri bila sudah keukuh dengan pendiriannya, maka tak bisa di bantah.


"Kenapa, Mas? Apakah kamu tidak suka aku dekat denganmu?" tanya Ratih yang membuat Johan tak mengerti.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Sayang. Tentu saja aku senang bila selalu dekat denganmu. Tapi, aku hanya khawatir dengan kondisi kamu."


"Mas, kamu itu seorang Dokter dan Professor, tapi kenapa kamu ragu dan tidak mampu menangani penyakit istrimu sendiri?"


"Ratih, mungkin aku mampu bila mengobati penyakit para pasienku. Tapi, sungguh aku tak mampu bila menangani orang yang aku cintai. Rasa takutku begitu besar, aku tidak bisa fokus bila melihat kamu dalam kesakitan. Itulah alasan yang sebenarnya kenapa aku lebih menyerahkan pengobatanmu pada orang lain," jelas Johan sembari membawa sang istri kedalam pelukannya.


"Tapi, aku yakin bahwa kamu bisa melakukan itu, Mas," ucap Ratih membalas pelukan suaminya.


"Tidak, aku tidak ingin gagal dalam mengobatimu. Aku tidak ingin menyesal seumur hidupku."


"Kamu pasti bisa, Mas. Seandainya kamu gagal, setidaknya kamu sudah pernah berjuang. Aku ikhlas bila mati di tanganmu, Mas."


"Jangan katakan hal itu, Ratih. Aku tidak suka!" sanggah Johan sedikit merenggangkan pelukannya.


"Kenapa, Mas? Apakah kamu takut kehilanganku?" tanya wanita itu dengan tatapan sendu.


Johan merangkum kedua pipi wanita itu. "Hei, kamu bicara apa? Tentu saja aku sangat takut kehilanganmu."


"Kalau begitu izinkan aku untuk menjadi pasienmu," pinta Ratih pada suaminya dengan wajah memohon.


Johan kembali menghela nafas dalam. "Baiklah, tapi kamu harus janji untuk sembuh," sahut Johan menyanggupi permintaan sang istri.


"Hmm, aku akan berusaha, tapi kamu tidak boleh memaksa bila aku tak mampu."


"Kalau begitu kamu akan tetap menjalani pengobatan disini."

__ADS_1


"Eh, mana boleh begitu," protes wanita baya itu tak terima.


"Kalau begitu kamu harus berjanji padaku dulu."


"Yaya, baiklah. Aku janji."


"Good, kalau begitu besok kita pulang."


Ratih tersenyum menatap wajah sang suami yang masih terlihat tampan di usianya yang tak lagi muda. sikap tegas dan wibawanya yang selalu membuatnya takjub dan jatuh cinta sehingga ia sedikit egois untuk memiliki Pria itu seutuhnya.


"Mas, boleh aku tanya sesuatu?"


"Tentu saja, tanyakanlah." Johan kembali memeluknya dengan erat dan mengecup puncak kepalanya berulang kali.


"Mas, seandainya aku pergi terlebih dahulu darimu, apakah kamu akan mencari penggantiku?"


"Kamu tidak akan pernah pergi meninggalkanku. Jadi, hanya kamulah istriku satu-satunya," jawab Johan yang tak memberi jawaban yang di inginkan oleh Ratih.


"Mas, aku serius!" desak wanita itu melerai pelukannya.


"Aku juga serius, Sayang. Bukankah kita sudah pernah berjanji akan menghabiskan waktu bersama dan menimang cucu-cucu kita diwaktu senja. Jadi, aku harap kamu tak melupakan janji itu," balas Johan yang membuat hati Ratih ngilu.


"Ya, aku berharap semua keinginan kita terwujud. Namun, kita juga tak boleh lupa bahwa segala takdir yang telah di tentukan oleh Allah. Hanya satu pesanku padamu. Jika aku meninggal, aku mengizinkanmu untuk menikah kembali dengan wanita yang kamu cintai."


***


Kini Hanan dan Alia sudah tinggal bersama dengan sang ibu di rumah dinasnya. Rencananya Sandra ingin memboyong anak dan menantunya pulang ke kota tempatnya bertugas. Karena disana sudah ada rumahnya sendiri. Sandra ingin menghabiskan waktunya bersama keluarga kecilnya.


Malam ini Alia dan Sandra sedang sibuk menyediakan makan malam. Senyum bahagia tampak terukir di bibir kedua wanita yang berbeda generasi itu. Hanan hanya memperhatikan mereka dari ruang keluarga sembari memainkan ponselnya.


"Alia, boleh Ibu tanya sesuatu?" ucap Sandra sembari menyajikan hidangan diatas meja.


"Boleh, Bu."


"Apakah kamu mau ikut Ibu ke kota tempat Ibu dinas?" tanya wanita baya itu.


"Semuanya terserah Mas Hanan, Bu. Aku akan ikut kemanapun suamiku membawaku."


"Kira-kira Hanan mau nggak ya, ikut Ibu?"

__ADS_1


"Tentu saja dia mau, Bu."


"Ada apa nih? Kok sebut-sebut nama aku?" tanya Hanan yang sudah berada dihadapan mereka.


"Ah, Nak, ibu sedang meminta pendapat istrimu. Apakah kamu dan Alia mau ikut Ibu tinggal di kota tempat Ibu bertugas? Soalnya disana kita sudah mempunyai rumah sendiri. Dan kamu juga bisa tugas di RS yang sama dengan Ibu," jelas Sandra pada putranya.


"Hmm, tentu saja aku mau, Bu. Bukankah kita sudah berjanji untuk selalu bersama. Aku akan ikut kemanapun ibuku pergi," jawab Hanan sembari memeluk sang ibu dari belakang, dan meletakkan dagunya di pundaknya yang membuat Sandra tak mampu berkata-kata.


Wanita baya itu tersenyum penuh haru sembari mengusap kepala sang putra. "Terimakasih ya, Nak. Ibu benar-benar bahagia."


"Kalau bahagia, kenapa Ibu harus menangis?" ucap Hanan menghapus air mata ibunya. "Ayo sekarang kita makan, aku sudah lapar nih."


"Ah baiklah, ayo kita makan sekarang." Sandra membawa anak dan menantunya makan.


Alia mengisi piring bagian Hanan beserta lauk pauknya. Wanita itu ikut bahagia melihat ibu dan anak itu saling menyayangi.


"Ayo makan, Mas," ucap Alia tersenyum lembut.


"Terimakasih, Sayang." Hanan menyantap makanannya dengan lahap.


Sementara Sandra memperhatikan dengan senyum bahagia. Do'a terbaik selalu ia panjatkan agar rumah tangga mereka langgeng untuk selamanya.


"Kalian tidak ada keinginan untuk punya baby lagi?" tanya Sandra yang membuat Alia tersedak seketika.


Uhuk! Uhuk!


"Minum dulu, Dek." Hanan menyodorkan segelas air putih pada istrinya.


"Maaf jika pertanyaan ibu membuatmu tidak nyaman," sesal Sandra.


"Ah tidak, Bu, aku tersedak bukan karena itu. Ya, kami sedang masa proses. Benar kan, Mas?" ucap Alia yang membuat Hanan ikut tersedak.


Entahlah, entah kenapa bibir Alia mengatakan hal seperti itu pada Ibu mertuanya, sehingga mendapat senyum sumringah dari wanita baya itu.


"Wah, semoga saja prosesnya berjalan lancar, dan segera Ibu mendapatkan kabar bahagia itu," sambung Sandra begitu senang.


Hanan menatap sang istri yang sudah berkeringat dingin. Bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis. Apakah ini bertanda bahwa wanita itu sudah mulai bisa menerima dirinya?


"Aamiin, semoga Do'a ibu di kabulkan. Benar kan, Sayang?" ucap Hanan pada Alia.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2