
"Maksud Prof Johan?" tanya Hanan tak paham.
"Hanan, saya sudah tahu kesulitan yang sedang kamu alami sekarang. Jadi, mulai sekarang kamu dan Alia tinggalah dirumah saya."
"Terimakasih atas kebaikan, Prof, tapi, jika boleh saya meminta. Maka lebih baik saya dan Alia tinggal di rumah dinas saja," ucap Hanan mencoba menawar, karena baginya lebih nyaman bila tinggal berdua tanpa harus merepotkan orang lain.
"Tidak tidak, kamu dan Alia tinggal dirumah saya saja," jawab Johan tak mengizinkan. "Kamu tidak perlu merasa sungkan, Hanan, karena dirumah tidak ada siapapun. Kedua anak-anak saya tinggal di luar negeri. Dan istri saya sedang menjalani pengobatan di Singapore. Jadi, saya akan senang bila kamu dan Alia tinggal bersama saya. Terkadang saya merasa kesepian. Saya harap kamu dan Alia tidak keberatan memenuhi keinginan saya," ujar Pria itu dengan penuh harap.
Hanan menatap Alia untuk meminta persetujuan dari wanita itu. Bagaimanapun ia akan mengutamakan kenyamanannya.
"Sayang, apakah kamu mau?" tanya Hanan.
"Aku akan ikut kamu, Dok. Asalkan kamu tidak keberatan," jawab Alia yang mengembalikan semuanya pada Hanan.
Hanan menatap lelaki baya itu. "Baiklah, Prof, kalau begitu kami akan ikut bersama, Prof Johan," jawab Hanan menyetujui permintaan lelaki itu.
"Alhamdulillah, ayo sekarang kita pulang," ajak Johan yang begitu bersemangat untuk membawa pasangan itu pulang kerumahnya.
"Hei, kamu sudah mau pulang?" tanya Hendra yang berpapasan dengan mereka.
"Ya, aku dan Alia tinggal di kediaman Prof Johan," jawab Hanan tampak begitu sungkan.
"Oh, semoga kamu dan Alia betah ya tinggal disana," ucap Hendra seperti memberi dukungan.
"Baiklah, kalau begitu kami jalan dulu ya, Hen. Untuk sementara waktu Hanan akan cuti, tolong urus izinnya," titah Prof Johan pada Hendra.
"Baik, prof. Akan saya laksanakan."
"Dan jangan lupa secepatnya kirim hasil pemeriksaan kemaren pada saya," ucap Johan mengingatkan kembali.
"Baik, Prof!"
Kini pasangan itu sudah sampai di kediaman direktur utama RS. Rumah yang begitu mewah dan tampak asri. Alia mengamati perkarangan rumah sebelum masuk kedalamnya.
"Ayo masuk, Hanan, Alia," seru Johan pada pasutri itu.
"Terimakasih, prof," jawab Hanan sembari menggandeng tangan sang istri.
__ADS_1
"Bik! Bibik!" panggil Johan pada Art dirumah.
"Ya, Tuan!" seorang Art menghampiri mereka.
"Apakah kamar untuk Hanan dan istrinya sudah di persiapkan?"
"Sudah, Tuan."
"Baiklah, tolong antarkan mereka," titah Pria baya itu.
"Baik, mari, Pak Hanan, Bu Alia," ucap Bibik dengan ramah.
"Pergilah istirahat ke kamar kalian. Jika kamu dan Alia butuh sesuatu, kamu bisa katakan pada Bibik," ucap Johan mempersilahkan Hanan dan Alia menempati kamar mereka.
"Baik, prof. Sekali lagi terimakasih," jawab Hanan begitu sungkan. Entahlah, hatinya masih merasa aneh dengan sikap Dirut itu yang begitu baik padanya.
Hanan dan Alia menempati kamar yang telah di sediakan untuk mereka. Kamar yang telah di desain begitu apik dan mewah.
"Sini, Dek," ucap Hanan menepuk sisi tempat duduknya, ia melihat istrinya yang masih terpaku menatap keindahan desain kamar itu.
"Dok, kenapa Pak Dirut begitu baik?" tanya Alia masih bingung.
"Aku, aku harus panggil apa?" tanya Alia bingung.
"Seperti aku panggil kamu, yaitu panggil "Sayang," ucap Hanan yang membuat wajah Alia bersemu.
"Tidak mau," jawab Alia memalingkan wajahnya.
"Kenapa tidak mau, Dek?" tanya Hanan sembari menggengam tangan Alia. Namun, wanita itu segera menarik tangannya. Terlihat masih ada rasa takut di wajahnya.
"Ah maaf." Hanan sedikit menjarak.
"Aku, aku panggil Mas saja," ucap Alia dengan wajah malu.
"Itu lebih baik. Terimakasih ya, Sayang," jawab Hanan dengan senyum bahagia.
***
__ADS_1
Beberapa hari tinggal di rumah Pak Dirut tanpa ada kegiatan apapun membuat Hanan merasa bosan. Pagi ini ia sudah berniat untuk kembali bertugas.
Sementara itu Johan yang baru saja mendapat kiriman hasil tes DNA dari Hendra. Dengan jantung berdegup tak beraturan ia membaca hasilnya dengan teliti. "Positif" Bahwa Hanan adalah putra kandungnya.
Johan terduduk lemas diatas sofa yang ada di kamarnya. Ia masih berusaha mengatur nafasnya yang terasa sesak. Benar-benar tak menyangka bahwa dirinya mempunyai seorang putra dari wanita yang dia anggap sebagai sahabatnya. Namun, siapa sangka kejadian malam itu menghadirkan seorang anak.
Ya, kejadian itu berawal saat Johan sedang merayakan hari kelulusannya di strata dua. Johan memang tergolong mahasiswa teladan, banyak prestasi belajar yang ia raih.
Karena bujuk dan rayuan para teman-temannya, maka Johan dan Sandra mengikuti mereka menenggak minuman keras, sehingga mereka mabuk. Johan dan Sandra sama-sama tak menyadari telah melakukan hal yang diluar nalar mereka.
Kini mereka mempunyai seorang anak dari peristiwa semalam itu. Dan yang membuat Johan gamang ialah, bagaimana jika Hanan mengetahui yang sebenarnya. Ia takut jika anak itu akan murka dan tak menerima kehadiran mereka. Tentu saja Hanan merasa mereka telah tega menelantarkannya sehingga ia tumbuh dalam pengasuhan orang lain.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana jika anak itu tidak menerima kenyataan ini?" gumam Johan dalam keseorangan. "Aku harus bicara pada Sandra."
Johan menghubungi Sandra, ia ingin membicarakan tentang Hanan. Berawal wanita itu menolak, karena ia tak ingin terlalu banyak berinteraksi dengan Johan, ia tak ingin ada gosip diantara mereka.
"Maaf, Jo, hari ini aku sedang banyak urusan," tolak Sandra dengan halus.
"San, kita harus bicara sekarang. Ini soal anak kita," balas Johan yang membuat Sandra terkesiap.
"Maksud kamu?"
"Ayo temui aku di tempat biasa." Johan menutup panggilannya.
Pria baya itu bergegas keluar dari kamarnya. Namun, ia berpapasan dengan Hanan yang sudah rapi ingin berangkat ke RS.
"Loh, kamu mau kemana, Nak?" tanya Johan begitu lembut bak seorang ayah pada anaknya, rasanya Hanan begitu rindu mendengar pertanyaan seperti itu, karena selama ia menjadi anak dari keluarga Bimo, tak pernah sekalipun lelaki itu memanggilnya sedemikian.
"Ah, saya ingin ke RS hari ini, Prof," jawab Hanan.
"Siapa yang mengizinkanmu? Sekarang kamu kembali temani Alia. Jika kamu bosan, kamu bisa menggunakan mobil ataupun fasilitas yang lainnya. Kalian bisa pergi jalan-jalan. Atau begini saja, biar Papa pesankan kalian tiket pesawat. Kamu dan Alia pergilah berlibur ke manapun kamu mau," ucap Johan yang membuat Hanan terdiam, otaknya masih mencerna segala ucapan dan panggilan yang di lontarkan oleh Pak Dirut padanya.
"Maaf, Prof, sepertinya Prof salah menyebut sesuatu," ucap Hanan meluruskan.
"Tidak, mulai sekarang kamu panggil saya, "Papa" Karena saya sudah menganggapmu dan Alia sebagai anak sendiri," balas Johan yang mendapat senyum aneh dari Hanan.
"Miris sekali ya, beginikah nasib seorang anak yatim-piatu yang hanya mendapat kasih sayang dari orang lain?" gumam pria itu mentertawakan dirinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung....
NB. Maaf ya, author lagi tak semangat karena karya ini tak seperti yang author bayangkan🥺😩. Namun, demi janjiku. maka aku akan tetap menamakannya. Terimakasih buat raeder yang sudah memberi dukungan hingga saat ini🙏🤗