
Selesai makan, keluarga kecil itu ngobrol di ruang keluarga dengan penuh kehangatan. Banyak yang mereka ceritakan dari hal-hal kecil hingga masalah besar, yaitu tentang hubungan Hanan dan Alia.
Sandra baru mengetahui bahwa hubungan putranya dan Alia berawal dari kesalahan. Namun, ia mencoba untuk memahami segala apa yang telah terjadi.
Sandra tak bisa menyalahkan segala takdir, ia sangat bersyukur karena putranya itu penuh tanggung jawab.
"Ibu selalu berdo'a, semoga rumah tangga kalian akan selalu bahagia. Semoga cinta segera tumbuh diantara kalian," ucap Sandra mendoakan yang terbaik.
"Lebih tepatnya untuk Alia, Bu," timpal Hanan sembari menatap istrinya yang tertunduk.
"Kenapa begitu?" tanya Sandra yang belum tahu bahwa putranya itu sudah mencintai Alia sejak awal bertemu.
"Karena cintaku sudah lama bersemi sejak pandangan pertama," jawab Hanan.
"Jadi, kamu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama?"
"Ya, aku sangat mencintai istriku yang cantik ini," jawab Hanan sembari merangkul bahu Alia. Jangan ditanya bagaimana perasaan wanita itu sekarang, sungguh jantungnya bertalu-talu.
"Ya, kamu harus sabar. Karena apa yang dialami Alia itu tidak mudah baginya. Alia butuh waktu untuk meyakinkan hatinya. Tapi, ibu yakin bahwa anak Ibu ini adalah seorang lelaki yang penuh kasih sayang. Ibu berharap Alia dapat segera keluar dari rasa trauma itu," jelas Sandra dengan senyum lembut.
"Terimakasih, Ibu dan Mas Hanan bisa memahami diriku. Aku akan berusaha untuk keluar dari hal itu," timpal Alia tersenyum sungkan.
"Pelan-pelan saja, Nak. Kamu perlu meyakinkan hatimu. Percayalah, Hanan tidak akan pernah menyakitimu."
"Baik, Bu." Alia mengangguk paham. Tak bisa dipungkiri apa yang dikatakan Ibu memang benar adanya. Selama ini Hanan sangat memperlakukannya dengan baik dan penuh kesabaran.
"Aku boleh tanya sesuatu sama Ibu?" tanya Hanan
"Hmm, tentu saja," jawab Sandra tenang.
"Kenapa ibu sampai sekarang masih sendiri? Kenapa Ibu tidak menikah? Jangan bilang bahwa ibu masih mencintai Papa?" tanya Hanan sembari menatap curiga pada sang Ibu.
"Aih, kamu ini sok tahu sekali. Tentu saja bukan," jawab Sandra sembari membuang tatapannya.
Hanan masih menatap wajah ibunya dengan lekat, lalu merubah posisi duduknya yang sudah berada di tengah-tengah kedua wanita itu.
"Sekarang katakan apa yang membuat ibu di usia segini masih hidup sendiri? Apakah aku perlu mencarikan Papa baru untuk Ibu?" tanya Hanan dengan senyum jahilnya.
__ADS_1
"Dasar anak nakal. Kamu kira Ibumu ini wanita yang tidak laku," balas Sandra mencubit hidung mancung putranya dengan gemas.
"Tentu saja aku berpikir seperti itu. Seharusnya diusia Ibu sekarang ada pasangan yang akan menemani, agar Ibu tidak merasa sepi," tutur Hanan menatap serius.
Sandra hanya tersenyum mendengar ucapan putranya. "Jangan bicarakan tentang sepi, Nak. Tiga puluh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Karena ibu sudah terbiasa akan hal itu. Toh, nyatanya ibu baik-baik saja," jawab Sandra sembari mengusak rambut Pria tampan itu.
"Iya aku tahu, Bu. Tapi, apakah Ibu tidak ingin mengakhiri kesendirian ibu? Aku ingin melihat ibu bahagia bersama pasangan Ibu."
"Bagi Ibu kehadiranmu dan Alia sudah cukup membuat Ibu bahagia. Untuk saat ini Ibu tidak ingin apapun selain selalu bersamamu."
Kata-kata Sandra membuat Hanan begitu tersentuh. Ia kembali memeluk sang Ibu.
"Tapi, aku ingin bertanya sesuatu. Tolong Ibu jawab dengan jujur," ucap Hanan sembari memeluk wanita baya itu.
"Baiklah, tanyakan."
"Apakah Ibu mencintai Papa?" tanya Hanan yang membuat Sandra melerai pelukannya.
"T-tidak," jawabnya berbohong.
"Benarkah?"
"Tapi, jawaban Ibu meragukan," timpal Hanan.
"Hei, anak nakal. Ayo sekarang istirahatlah. Ayo bawa istrimu. Alia pasti sudah mengantuk," ucap wanita itu segera mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ah, Ibu payah. Baiklah jika Ibu tidak ingin berkata jujur padaku. Aku akan mencari tahunya nanti," sahut Hanan yang di iringi dengan kekehan kecil sang ibu.
Hanan dan Alia pamit masuk kedalam kamar mereka untuk istirahat. Sementara itu Sandra masih duduk seorang diri di ruang keluarga.
Sebuah pesan masuk di ponselnya. Ia segera memeriksa.
[San, kamu dan Hanan jangan pulang dulu ke kota Ujung B, karena Ratih ingin bertemu denganmu] Johan.
"Ratih ingin bertemu, Ada apa? apakah dia tahu yang sebenarnya?" gumam wanita dalam keseorangan. Mendadak jantungnya tidak aman, ada rasa was-was. Padahal ia tak ingin lagi hadir diantara mereka.
Cukup lama wanita baya itu duduk seorang diri, akhirnya ia memutuskan untuk istirahat, karena besok ia harus bertugas, dan memenuhi keinginan Ratih yang akan bertemu dengannya.
__ADS_1
"Ayo istirahat, Dek," ajak Hanan karena melihat sang istri masih berdiam diri didepan lemari pakaian. Wanita itu tampak bingung harus berbuat apa. Ia membuka lemari pakaian itu, lalu mengambil sesuatu.
Hanan hanya menatap heran gelagat sang istri yang tidak seperti biasanya.
Alia masuk kedalam kamar mandi. Wanita itu berdiri di depan cermin. Ia kembali mengingat ucapan Resha. Dan sebuah paper bag yang di berikan Resha telah berada di hadapannya.
Dengan jantung berdebar Alia mengeluarkan sebuah pakaian minim bahan itu dari paper bag. Ia mencoba mengatur nafas.
"Apakah aku harus menggunakan pakaian seperti ini? Bagaimana jika nanti Mas Hanan mentertawakan aku?" ucapnya dalam keseorangan.
Tok! Tok!
"Dek! Kamu lagi ngapain didalam? Kenapa lama sekali?" seru Hanan dari luar.
"Iya sebentar, Mas!" jawab wanita itu yang segera mengambil bathrobe, lalu melampisi pakaian seksinya.
Alia kembali mengatur nafas sebelum keluar dari kamar mandi. "Kamu pasti bisa Alia, dia itu suamimu. Sudah waktunya kamu memberikan haknya," ucap wanita itu meyakinkan diri sendiri.
Dengan perlahan Alia membuka pintu kamar mandi, seketika dihadang oleh sosok lelaki itu yang telah berdiri dihadapannya.
"Kamu ngapain lama sekali dikamar mandi, Dek? Apakah kamu sakit perut?" tanya Hanan sedikit cemas. Dan ia juga melihat wanita itu mengenakan bathrobe, sejak kapan Alia tidur menggunakan handuk mandi itu.
"T-tidak," jawab Alia tersenyum kaku.
Hanan menatap heran melihat tingkah sang istri malam ini. Tak biasanya wajahnya merah merona begitu.
"Yasudah, ayo kita istirahat sekarang," ajak Hanan sembari meraih tangan Alia.
Hanan membimbing sang istri untuk menempati tempat tidurnya. Setelah memastikan Alia berbaring dengan nyaman, ia menyelimuti seperti biasanya, setelah itu ia akan menempati Sofa sebagai tempat istirahatnya. Karena selama ini Alia masih belum berani berbagi tempat tidur dengannya.
"Selamat istirahat, Sayang, semoga mimpi indah," ucap Hanan sembari meninggalkan jejak sayang di kening Alia.
"Mas Hanan," ucap Alia meraih tangan Pria itu sehingga langkahnya urung.
"Ya, Sayang?" jawab Hanan menghadap pada Alia yang kembali duduk.
"Tidur disini saja," pintanya dengan wajah merona.
__ADS_1
Bersambung....
Happy reading 🥰