Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Desakan Johan


__ADS_3

"Hei, kenapa melamun? Ayo masuklah," ucap Johan membuyarkan lamunan Sandra.


"Ah tidak apa-apa." Sandra segera menduduki bangku bagiannya.


Johan memilih sebuah Cafe yang tak begitu jauh dari RS. Sebenarnya Pria itu ingin mengunjungi Rumah sakitnya yang ada di luar kota. Namun, pertemuannya dengan Sandra membuatnya harus menunda dulu rencananya.


Kembali Pria itu memperlakukan Sandra dengan istimewa. Ia menarik sebuah kursi untuk di duduki oleh teman seperjuangannya, yaitu sama-sama dari sebuah yayasan, dan sama-sama pula mendapatkan beasiswa di sebuah universitas.


"Jangan terlalu lalu memanjakan aku," celoteh Sandra dengan senyum senjang.


"Karena aku tahu bahwa kamu adalah wanita yang manja," jawab Johan yang masih mengingat bagaimana sikap manja wanita itu dari dulu.


"Tapi sekarang aku sudah menjadi wanita mandiri, bahkan aku sudah terbiasa sendiri, sehingga aku lupa dengan perhatian dari seorang lelaki," timpalnya yang membuat Johan terdiam dengan tatapan dalam.


"Maksud kamu? Apakah kamu masih sendiri? Jangan bilang kamu tidak laku, atau tidak ada orang yang mau?" ucap Johan menatap penuh selidik.


BUGH!


"Enak saja ngomong aku tidak laku. Kamu kira aku ini barang," celetuk Sandra memukul bahu Johan.


"Hahaha... Nggak, ini aku serius mau nanya. Bagaimana kehidupanmu sejak kurang lebih tiga puluh tahun kita berpisah. Apakah kamu sudah menikah?" tanya Johan serius.


Sandra hanya diam, ia bingung harus bicara apa pada lelaki yang sampai kini masih membelenggu hati dan pikirannya, sehingga ia tak mampu menerima cinta lelaki manapun.


"San, halo!" ucap Johan melambaikan tangannya di depan wajah Sandra.


"Ah ya, ada apa?" tanya Sandra sedikit gugup.


"Kamu tidak dengar aku bicara apa?"


"Maaf maaf, tolong ulangi lagi."


"Apakah kamu sudah menikah?" tanya Johan begitu penasaran.


"T-tentu saja sudah," jawab Sandra berbohong.

__ADS_1


Ya, sejak ia memilih pergi dari kehidupan Pria itu, hingga saat ini dirinya masih sendiri. Entahlah, Sandra tak memikirkan untuk mencari pendamping sebelum ia dapat menemukan kembali putranya yang di serahkan oleh pihak panti asuhan kepada pasangan yang tidak mempunyai anak.


Hingga saat ini Sandra belum berhasil menemukan pasangan itu. Sejenak ia berpikir untuk meminta bantuan kepada Johan. Tapi, bagaimana jika Johan tahu yang sebenarnya.


"Kamu sudah memiliki berapa orang anak?" tanya Johan begitu kepo dengan kehidupan sahabat sedari kecilnya.


"Satu," jawab Sandra dengan nafas sesak bila mengingat kembali putranya yang ia titipkan di panti asuhan untuk sementara waktu. Namun, saat ia datang kembali ingin menjemputnya, ternyata pihak yayasan itu telah memberikan kepada orang. Dan Sandra mencoba mencari alamatnya, tetapi mereka telah meninggalkan kota itu.


Sandra benar-benar buntu informasi tentang anaknya, tetapi ia tak ingin menyerah begitu saja, hingga saat ini ia masih berusaha untuk mencari.


"San, apakah kamu bahagia?" tanya Johan.


"Kenapa emangnya? Jika aku tidak bahagia apakah kamu mau membahagiakan aku?" kelakar Sandra yang membuat Johan terdiam.


"Hahaha... Nggak usah serius Amad wajahnya. Aku bercanda tau," ucap Sandra sembari menimpuk lelaki itu dengan tissue yang ada diatas meja mereka.


"Ah, aku kira kamu serius."


"Ya nggaklah. Mana mungkin aku mau merusak hubungan kamu dan Ratih. Oya, Ratih dan anak-anakmu apa kabarnya?"


"Ratih dalam pengobatan? Dia sakit apa?" tanya Sandra sangat terkejut.


"Kangker rahim, setahun belakangan baru terdeteksi penyakitnya. Kamu kan tahu bahwa Ratih sedari dulu paling malas berurusan dengan medis jika tak terlalu mengkhawatirkan sakitnya," jelas Johan kembali.


"Semoga cepat sembuh kembali ya. Kamu harus selalu memberinya semangat," ucap Sandra ikut prihatin atas penyakit yang menimpa istri sahabatnya itu.


"Aamiin, terimakasih ya."


"Sama-sama." Sandra menyesap minumannya. Sebenarnya ia ingin minta tolong pada Johan, tetapi, sepertinya lelaki itu banyak pikiran karena istrinya sedang di rawat di luar negeri, maka ia mengurungkan niatnya. Sandra tak ingin menambah masalah dalam hidup Johan sehingga mengabaikan istrinya yang sedang sakit keras.


"Jo, sepertinya obrolan kita cukup sampai disini dulu ya. Aku harus kembali bertugas karena pasienku hari ini begitu banyak," jelas Sandra ingin mengakhiri obrolan mereka.


"Baiklah, tapi kita masih bisa ngobrol lagi 'kan? Dan kamu masih berhutang penjelasan padaku," sahut Johan yang membuat Sandra mengerutkan keningnya.


"Hutang penjelasan?" tanyanya tak paham.

__ADS_1


"Ya, sedari tadi kamu tidak menjawab apa alasan kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar saat itu. Padahal aku mencoba mencari keberadaan kamu. Dan aku mendatangi universitas kamu yang di London, tetapi pihak kampus bilang kamu telah pindah, dan meminta di privasi alamat kampus kamu yang baru," ujar Johan yang membuat Sandra kembali terdiam mendengar penjelasan lelaki itu.


Sandra tak menyangka bahwa Johan akan mencarinya. Dan sekarang ia sedang bingung harus menjawab apa. Apa yang akan ia katakan?


"Sandra, kenapa kamu selalu diam saat aku menanyakan hal itu? Ayo katakan padaku, San!" desak Johan.


"Ah, aku sudah terlambat. Aku akan pergi sekarang," ucap Sandra sembari berdiri ingin beranjak. Namun, langkahnya terhenti saat Johan menarik tangannya.


"Tunggu dulu, Sandra! Kamu harus menjelaskan semuanya!" ucap Johan dengan tegas.


"Jo, aku akan menceritakannya nanti. Karena jam praktek aku sudah di mulai," sahut Sandra mencoba menjelaskan.


"Gantikan dengan Dokter yang lain, atau Dokter Hendra," balas Johan tak ingin dibantah.


"Jo, mana bisa begitu. Aku tidak ingin mendapat masalah dari atasanku. Aku tidak ingin di katakan Dokter yang tak bertanggung jawab," cicit Sandra masih mencari alasan untuk lepas dari pertanyaan lelaki itu. Rasanya ia belum mampu untuk mengatakan yang sebenarnya. Apalagi sekarang ini Ratih sedang membutuhkan perhatian dari Johan.


"Duduk!" titah Johan pada Sandra dengan tatapan mengunci dan tak bisa di bantah.


"Tapi, Jo..."


"Duduk! Biarkan aku yang mengurus surat perizinanmu," jawab Johan dengan tegas yang membuat Sandra tak mampu berkutik.


Johan mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu menghubungi salah seorang yang tentu saja Sandra mengenali nama orang yang di panggil oleh Johan.


"Iqbal, tolong gantikan jadwal Dokter Sandra dengan Dokter yang lainnya untuk hari ini," ucap Johan.


"Baik, Pak!" jawab direktur RS itu.


"Jo, k-kamu?" tanya Sandra tampak bingung.


"Ya, akulah pemilik RS itu. Sekarang kamu tahu sedang bicara dengan siapa? Kamu tidak perlu khawatir jika aku yang memintamu untuk tetap duduk disini," jelas Pria itu yang membuat Sandra tak bisa berkutik.


Sandra tak bisa mengelak lagi. Apakah ia harus jujur saja dengan segalanya? Tapi, bagaimana jika Johan murka padanya. Ah entahlah, ia juga mempunyai alasan tersendiri.


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2