
"Bagaimana keadaannya? Apakah Papamu dirawat?" tanya Sandra. Terlihat kecemasan yang luar biasa dari raut wajahnya
"Papa tidak ingin dirawat di RS, Bu. Papa minta di rawat dirumah saja," sambung Shella dengan wajah sendu penuh drama.
"Kenapa bodoh sekali dia? Kalau begitu kalian makanlah. Ibu akan membawanya ke RS," ucap Sandra yang segera masuk kedalam kamar untuk mengambil sweater, karena diluar cuaca sedang mendung.
"Ibu tidak ikut makan bersama kami dulu?" tanya Hanan pada sang Ibu.
"Tidak, kalian saja yang makan. Ibu akan mengurus Papa kalian dulu," jawab Sandra yang sudah bersiap untuk pergi.
"Kalau begitu biar aku antar Ibu." Hanan kembali menawarkan jasa untuk mengantarkan wanita baya itu.
"Tidak usah, kamu makanlah bersama adik-adikmu. Ibu sudah telpon supir," tolak Sandra.
"Baiklah, kalau begitu Ibu hati-hati. Kabari kami jika Papa sudah di RS," pesan Hanan yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Sandra.
Sementara itu di kediaman utama, Johan sedang membereskan biliknya. Pria baya itu membuka beberapa album pernikahannya bersama Ratih, dan mengemas barang-barang Ratih yang masih ada di dalam lemari. Dan memasukkan semuanya kedalam boks besar untuk di berikan pada yang membutuhkan.
Semua ia lakukan bukan berarti tidak mencintai almarhumah sang istri. Namun, ia harus menjaga perasaan Sandra. Ia harus bisa memulai kehidupan baru bersama wanita yang dulu ia anggap sebagai sahabat baiknya.
"Ratih, maafkan aku. Aku hanya tidak ingin hidup selalu dalam bayang-bayanganmu. Biarkan aku bahagia bersama wanita pilihanmu. Tapi percayalah, dirimu akan selalu ada tempat spesial dalam hatiku. Biarkan aku menghabiskan sisa usiaku bersama Sandra dan anak-anak kita. Tenanglah di alam sana," ujar Johan sembari mengecup gambar almarhum sang istri, lalu menyimpannya kedalam boks untuk di simpan ke dalam gudang.
Sandra sampai di kediaman Professor Johan Lesmana. Ia bergegas masuk untuk menyambangi kamar Pria itu.
"Bik, apakah Bapak baik-baik saja?" tanya Sandra yang berpapasan dengan Art rumah itu.
"Ya, Bapak baik-baik saja, Buk," jawab Art itu dengan wajah biasa saja. Tak terlihat ada kejadian buruk yang menimpa pada majikannya.
"Bukankah dia mengalami kecelakaan? Apakah parah?" tanyanya kembali.
"Kecelakaan? Tidak, Bapak terlihat baik-baik saja. Dan beliau sedang mengemasi barang-barang mendiang Bu Ratih. Dan ini Bibik mau menyimpannya di gudang," jelas sang Bibik yang terlihat sedang memangku sebuah boks.
Seketika Sandra terdiam. "Johan, kamu sudah mempermainkan aku!" gumamnya dalam hati dengan geram.
__ADS_1
Sandra segera menyambangi kamar lelaki baya itu untuk membuat perhitungan.
Tok! Tok!
"Johan, buka pintunya!" teriak Sandra dari luar.
Johan yang sedang duduk bermenung atensinya teralihkan oleh suara yang sudah tak asing lagi di indra pendengarannya.
"Sandra, tumben sekali dia datang kesini. Apakah dia sedang merindukanku?" ucap lelaki baya itu tersenyum sumringah. Ia segera membukakan pintu. Namun, saat pintu itu terbuka.
BUGH! BUGH! BUGH!
"Hei... Hei, apa-apaan kamu ini?" tanya Johan sembari menahan tangan wanita itu yang sudah bertubi-tubi memukuli dadanya.
"Kau berpura-pura bodoh, hah!" Sandra kembali memukulinya.
"Astaghfirullah, ada apa ini, Sandra? kenapa kamu datang marah-marah seperti ini?" tanya Johan sungguh tak mengerti, kenapa istrinya menjadi brutal padanya?
"Kau masih menanyakan lagi kenapa? Setelah kau membohongi aku!" bentak Sandra dengan nafas turun tak beraturan.
"Heh!" Sandra meraih kerah baju lelaki itu dengan sorot menyala. "Kamu sengaja bersandiwara dengan menyuruh Shella dan Sonya mengatakan bahwa kamu kecelakaan, iya 'kan?" tekan Sandra dengan geram.
"Astaghfirullah..." Pria itu kembali beristighfar mendengar pernyataan Sandra. "Terus, kamu begitu cemas dan segera ingin tahu keadaan ku, begitu?" tanyanya dengan senyum senang.
BUGH!
Sandra kembali melayangkan sebuah pukulan di dada lelaki itu. "Jangan besar kepala kamu! Aku justru datang kesini ingin mentertawakan dirimu!" sangkalnya sembari membuang muka.
Johan tersenyum, lalu meraih tubuh wanita itu masuk kedalam pelukannya. "Aku sangat bahagia saat dirimu berbohong seperti ini," ucapnya mendekap dengan erat.
Sandra hanya terdiam. Ini kali pertama ia merasakan pelukan dari seorang suami yang selama ini ia cintai. Jika sebelum-sebelumnya Johan pernah memeluknya, tetapi pelukan itu tak lebih bentuk seorang sahabat yang sedang menenangkan dirinya.
Dengan perlahan tangan lembut itu membalas pelukan dari Pria yang begitu ia cintai. "Kenapa kamu tega membohongi aku, aku benar-benar takut kehilanganmu untuk yang kedua kalinya. Hiks..." Tangis Sandra pecah dalam pelukan sang suami.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak membohongi dirimu, Sayang. Tapi ini semua prilaku anak-anakmu. Sungguh aku tidak tahu hal ini," jawab Johan sembari merenggangkan pelukannya. Ia mengusap air mata yang jatuh di kedua pipi wanitanya.
"Kamu bohong, kenapa kamu tidak datang untuk makan malam bersama?" tanya Sandra masih tidak percaya.
"Aku sengaja tidak datang, karena aku ingin memberimu waktu. Sikapmu tadi siang membuat aku menepi sesaat agar dirimu nyaman tanpa gangguan diriku," jelas Johan dengan jujur.
"Berarti ini semua bukanlah idemu?"
"Tentu saja bukan. Sudahlah, jangan marahi mereka. Seharusnya kita berterima kasih karena mereka telah berhasil memperbaiki hubungan kita," sahut Johan.
"Siap bilang hubungan kita sudah membaik? Aku belum memaafkanmu," timpal Sandra yang membuat wajah Johan berubah murung seketika.
"Ayolah, Sandra. Aku mohon maafkan segala kesalahanku. Beri aku waktu untuk membuktikan bahwa aku bisa membuatmu bahagia. Aku benar-benar ingin kita menjalani hubungan ini dengan damai."
"Bagaimana jika nanti hatimu tetap tidak bisa menerima kehadiranku dalam hatimu?" tanya Sandra dengan ragu.
"Jangan bicara seperti itu. Jika saat ini dirimu tak ada dalam hatiku, maka aku tidak akan mungkin memperjuangkan hubungan kita sampai sejauh ini. Aku sudah menyingkirkan semua barang-barang Ratih. Itu semua aku lakukan karena aku ingin hidup bahagia denganmu tanpa ada bayangan masalaluku," jelas Johan begitu serius.
Seketika Sandra terdiam dan menatap netra yang ada di hadapannya. "Apakah kamu yakin?"
"Aku sangat yakin, Sayang," jawab Johan yang membuat hormon remaja Sandra hampir melompat keluar.
"Jangan bicara mesra seperti itu. Ngalah-ngalahin anak-anak saja," ucap Sandra dengan wajah merona.
"Hahaha... Biarkan saja. Umur boleh tua. Tetapi jiwa tetap muda. Bahkan aku masih mampu berikan Hanan adik," ucap Johan yang membuat Sandra benar-benar geli.
"Johan!" mata wanita itu melotot.
"Kenapa, Sayang? Bukankah kamu masih subur? Sebagai seorang Dokter, tentu saja kamu menjalani hidup sehat. Dan aku juga masih sehat wal Afiat. Jadi tidak ada salahnya kita memberikan paman atau Tante kecil untuk anak Hanan nanti," ucap Johan yang semakin membuat Sandra tak bisa bicara. Rasanya ia begitu malu bila ada anak-anaknya yang mendengar.
"Kenapa diam? Apakah malam ini kita sudah bisa memulai prosesnya? Kebetulan cuaca begitu mendukung," ucap Johan dengan senyum sumringah.
Bersambung.....
__ADS_1
Happy reading 🥰