Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Dinner


__ADS_3

"Johan, please... Jangan bicara seperti itu. Aku sangat malu bila di dengar oleh anak-anak," ucap Sandra dengan wajah melas dan bercampur malu.


"Hahaha... Baiklah baiklah. Ayo duduk dulu." Johan membawa Sandra untuk duduk di Sofa yang ada di kamar itu.


Mendadak suasana menjadi kaku. Kedua insan itu tak tahu harus berbuat apa.


"San, kita jalan yuk," ajak Johan memecahkan suasana.


"Jalan, Mau kemana? Ini sudah malam," jawab Sandra ragu.


"Ayo ikut aku. Kamu belum makan 'kan?" ucap Johan sembari meraih tangan Sandra.


Sandra menggelengkan kepala. "Belum," jawabnya ikut berdiri.


"Ayo kita cari makan." Johan membimbing wanita itu untuk keluar dari kamarnya.


Kini mobil yang dikendarai Johan telah bergabung dengan kendaraan yang lainnya di jalan raya. Sandra hanya diam, ia tak tahu lelaki itu mau membawanya kemana.


"Selama di sini sudah pergi kemana saja?" tanya Johan sembari fokus mengemudi.


"Nggak kemana-mana. Aku hanya sibuk di RS," jawab Sandra jujur.


"Kalau begitu aku akan membawamu makan di suatu tempat. Anggap saja ini adalah kencan pertama kita," ucapnya yang membuat Sandra sedari tadi mati gaya.


"Jo, kamu kenapa bertingkah seperti anak muda yang sedang pacaran? Kita ini sebentar lagi akan menjadi Oma dan opa," ucap Sandra yang membuat Johan terkekeh.


"Emangnya kalau kita sudah mempunyai cucu, tidak boleh lagi bermesraan? Lagipula kita belum terlalu tua. Emang usia kamu sekarang berapa sih?" tanya Johan menatap sesat, lalu kembali fokus menatap badan jalan yang sedang di lalui oleh kendaraannya.


"Empa delapan, jalan empat sembilan," jawab Sandra datar.


"Ah, itu masih muda. Berarti kita hanya beda dua tahun ya," balas Johan.

__ADS_1


Sandra tak lagi menyahut. Ia hanya fokus menatap ke luar dari kaca mobil. Meskipun ia berusaha untuk bersikap sewajarnya, tetapi perasaan bahagia yang dirasakan dalam hatinya tak bisa di tampik. Momen seperti ini sedari dulu ia harapkan.


Johan benar, sepertinya ia harus menyingkirkan rasa malu itu terlebih dahulu. Demi menjemput asa yang tertinggal setelah puluhan purnama ia lalui seorang diri tanpa kehadiran lelaki yang ada disampingnya itu.


Johan menghentikan mobilnya di Peterseli Kitchen, yaitu restoran yang menyajikan hidangan nasional dan internasional. Restoran itu di dekorasi dengan gaya industrial.


Pria itu sengaja memilih meja yang ada di lantai dua. Tempat itu bergaya lesehan, dengan view memperlihatkan indahnya kota bertuah yang terkenal dengan kebersihannya.


"Mau makan apa?" tanya Johan menatap wajah cantik wanita itu dengan lekat.


Sandra membaca menu hidangan yang ada di hadapannya, lalu memilih beberapa makanan yang rasanya belum pernah ia coba.


Sembari menunggu hidangan, pasangan yang tak muda lagi itu menatap indahnya gemerlap lampu dari kota. Hembusan angin malam menerpa di wajah mereka. Tanpa diduga, Johan merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha Sandra sebagai bantalan.


Seketika Sandra menjadi entah saat mendapat prilaku seperti ini. Tempat ini memang mempunyai ciri khas tersendiri, dan meja lesehan itu bersifat privat.


"Sayang, maafkan aku yang telah membuat hatimu sedih dan kecewa. Ternyata menjarak darimu membuat aku gamang. Kehadiranmu mampu menenangkan jiwaku," ucap Johan sembari menenggelamkan wajahnya di perut sang istri.


Sandra tak mampu bicara apapun. Tangannya mengusap rambut hitam legam yang belum terlihat penuaan di mahkota itu.


"Maafkan aku yang tidak bisa menghargai cinta tulus darimu. Aku tahu ini tidak mudah bagimu merelakan aku hidup bersama wanita lain, sedangkan kamu harus menahan perasaan itu sendiri. Sungguh aku akan menyesal seumur hidup bila aku tak mampu mendapatkan maaf darimu," balas Johan sembari menggengam tangan Sandra, lalu membawanya dalam kecupan.


"Ya, dulu aku begitu terluka dan kecewa saat dirimu mengatakan, bahwa kamu akan menikah dengan wanita yang kamu cintai. Disaat itulah aku mencoba untuk memahami, aku harus berkorban demi kebahagiaanmu. Maka aku memilih untuk pergi dari kehidupanmu. Tetapi, aku tidak pernah menyesali kehadiran Hanan di rahimku. Karena walaupun dirimu tak bisa aku miliki, tetapi aku bisa mempunyai buah cinta darimu. Meskipun kejadian itu tidak di sengaja, tetapi aku bahagia bisa mempunyai anak dari lelaki yang aku cintai," ungkap Sandra dengan netra berkaca-kaca.


Johan kembali duduk dan menatap wajah wanita yang begitu mencintainya. Rasanya ia begitu bodoh bila mengabaikan wanita yang selama ini mengorbankan perasaan demi kebahagian dirinya dan Ratih.


"Sayang, maafkan aku." Johan tak mampu menahan haru, ia membawa wanita itu masuk kedalam pelukannya.


"Johan, aku mohon cintai aku. Aku ingin menjadi seperti wanita yang lainnya. Aku ingin dicinta dan mencintai," ucap Sandra dengan isakan sembari mendekap erat tubuh lelaki itu seperti sedang meluapkan rasa rindu yang selama puluhan tahun ia pendam sendiri.


"Aku mencintaimu, Sayang. Mulai sekarang dan sampai kapanpun kita akan selalu bersama. Terimakasih telah begitu besar mencintai aku," ucap Johan mengecup puncak kepala istrinya berulang kali.

__ADS_1


Sandra melerai pelukannya, ia menatap wajah tampan lelaki yang ada dihadapannya. "Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku," ucapnya masih dengan tangisan.


Johan kembali menggenggam tangan wanita itu. "Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu. Kita akan menghabiskan sisa usia bersama. Seandainya Tuhan masih mengizinkan kita mempunyai anak lagi, apakah kamu masih mau?" tanya Johan yang kembali membuat Sandra menggeleng malu.


"Tidak, Johan. Aku malu dengan anak-anak," jawabnya yang kembali melebur dalam pelukan sang suami.


"Hahaha... Baiklah, kalau begitu mari kita menikmati hari tua bersama cucu-cucu kita," ucap Johan terkekeh melihat tingkah sang istri.


"Itu lebih baik. Kita sudah mempunyai tiga orang anak, menurutku itu sudah cukup. Ditambah nanti cucu-cucu kita yang akan hadir," jawab Sandra setuju.


"Hmm, baiklah. Tetapi kamu juga tidak akan menunda malam pertama kita, bukan? Dan aku juga sudah mempersiapkan tempat bulan madu kita. Aku ingin kita melupakan pekerjaan sesaat, kita harus mempunyai waktu berdua," jelas Johan.


"Kita mau kemana?" tanya Sandra tak paham.


"Kamu ikut saja. Aku sudah mengurus semuanya. Kita akan berkeliling dunia," jawab Johan serius.


"Tapi siapa yang akan mengurus pekerjaanmu?"


"Apakah kamu lupa bahwa sudah ada penerus generasi Johan Lesmana. Hanan yang akan mengurusnya, dan ada Dr. Iqbal yang akan membimbing," jawab Johan.


"Baiklah, aku akan ikut maumu," jawab Sandra pasrah.


"Jangan mauku saja, maumu juga dong. Biar sama-sama enak," ucap Johan tersenyum nakal sembari mencuri kecupan di bibir wanita itu.


"Johan!" seru wanita itu saat kelakukan Pria baya itu tertangkap oleh pelayan restoran yang masuk membawa pesanan mereka.


"Biarkan saja, mereka juga pernah mengalami yang namanya jatuh cinta," bisik Johan dengan wajah santai tanpa dosa.


"Tapi kita bukan lagi pasangan muda seperti mereka," protes wanita itu.


"Tidak apa-apa, anggap saja ini puber kedua. Abaikan mereka, cukup fokus dengan diriku saja, maka duniamu akan selalu bahagia," jawab Johan benar-benar membuat Sandra tak mampu bicara.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2